
Hari begitu cepat berlalu, kini hubungan Tirta dan Ana kian dekat. Tirta makin sering datang ke kediaman Abidzar. Bila dulu ia datang untuk menyambangi Freya, namun kini ia datang ke sana untuk menemui Ana.
"Na, di dekat tempat tinggalku ada pasar malam lho, kamu main ke sana nggak?" tahta Tirta sambil rebahan di tempat tidurnya. Ya, mereka bicara melalui sambungan telepon.
"Beneran? Wah, asik tuh!" seru Ana terdengar girang. "Emang aak mau main ke tempat begituan?" tahta Ana penasaran. Bukankah pasar malam itu cenderung digemari kalangan menengah ke bawah. Kalau kalangan atas alias orang kaya biasanya lebih suka ngemoll. Mana mau mereka berdesak-desakan di kerumunan seperti itu. Panas, engap, bau, kumuh, ada saja alasan mereka lontarkan. Meskipun Tirta bukan orang kaya-kaya amat, tapi ia tahu keluarga Tirta merupakan keluarga cukup berada. Apalagi laki-laki metroseksual seperti Tirta, ia ragu laki-laki yang sangat menjaga penampilan itu mau berdesakan dengan banyak orang di pasar malam.
"Emangnya kenapa? Kamu pikir aku nggak mau, begitu? Kalau aku nggak mau, mana mungkin aku nawarin kamu, Na."
"Oh iya juga ya." Ana terkekeh pelan membuat Tirta ikut terkekeh sambil membayangkan wajah manis Ana.
"Ya udah, besok malam aku jemput. Jangan makan dulu ya! Kita makan di luar aja, sekalian," ucap Tirta yang kini telah duduk bersila di atas ranjang.
"Siap bos," seru Ana.
"Sekali-kali panggil sayang kek. Siap, Sayang. Gitu."
"Ogah. Wkwkwk ... " Lalu tanpa basa-basi, Ana menutup panggilan itu sambil cekikikan. Tirta tentu saja terkejut karena panggilannya ditutup sepihak oleh Ana. Tapi ia tidak marah. Ia justru tersenyum setelahnya.
Keesokan harinya, seperti perkataan Tirta, laki-laki itu telah berdiri di teras rumah Abidzar. Dengan mengenakan kaos polo berwarna putih dan celana kargo selutut membuat penampilan Tirta lebih muda beberapa tahun dari usianya. Belum lagi rambut yang biasa tampak klimis dibiarkan tertata tak beraturan, hanya dirapikan dengan tangan, tapi tetap terkesan menawan. Ana yang baru saja muncul dari ambang pintu sampai terkesima melihatnya. Jantung Ana seketika morat-marit. Ana sampai khawatir bagaimana kalau Tirta mendengar degup jantungnya yang begitu kencang.
Tak jauh berbeda dengan Ana, Tirta pun terkesima dengan penampilan Ana. Padahal gadis itu hanya mengenakan tank top yang dilapisi outer rajut dan skinny jeans. Satu hal yang tak terduga adalah warna pakaian mereka yang senada tanpa mereka berjanjian. Ana mengenakan tank top berwarna putih dan outer serta skinny jeans berwarna hitam. Mereka juga sama-sama mengenakan sepatu kets berwarna putih. Ana mengikat rambutnya tinggi membuat leher jenjangnya terekspose. Tirta sampai menelan ludahnya sendiri melihat apa yang seharusnya tidak ia nikmati itu. Tapi bagaimana ia bisa menutup mata, bila pemandangan indah itu tersaji di depan mata. Sayang untuk dilewatkan.
"Cantik," puji Tirta reflek. Ana yang mendengar pujian itupun tersipu.
__ADS_1
"Aak juga ... terlihat tampak," cicit Ana dengan pipi bersemu merah. Sebenarnya ia malu mengucapkan itu, tapi lidahnya reflek saja membalas ucapan Tirta.
Lalu tanpa sungkan Tirta menggenggam tangan Ana dan membawanya ke mobil. Ia membukakan pintu untuk Ana. Ia juga meletakkan telapak tangannya di atas kepala untuk mencegah kepala Ana membentur atap mobil. Perlakuan Tirta begitu manis. Membuat Ana tak mampu menyembunyikan kekaguman dan kebahagiaannya.
Setelah itu, Tirta mengitari mobilnya dan masuk ke kursi kemudi. Setelah seat belt mereka terpasang, Tirta pun segera melajukan mobilnya menuju pasar malam yang Tirta maksud.
Hanya butuh waktu tak sampai satu jam, mobil Tirta telah tiba di parkiran dimana pasar malam diadakan.
Para pengunjung tampak mulai ramai. Kelap-kelip lampu beraneka warna menghiasi malam di sana membuat perasaan Ana ceria bukan kepalang.
Jika boleh jujur, ia sangat menyukai suasana pasar malam. Ia memiliki kenangan tersendiri di pasar malam. Kenangan masa kecilnya yang indah. Setiap di tempatnya dulu diadakan pasar malam, maka ayah dan ibunya akan mengajaknya ke sana. Memainkan setiap permainan, menaiki bianglala, dan hampir semua permainan akan ia coba ditemani sang ayah. Masa-masa itu merupakan masa paling membahagiakan bagi Ana.
"Na, kamu kenapa?" tanya Tirta lembut saat melihat mata Ana berkaca-kaca.
"Kalau ingin menangis, menangislah. Pundak ku selalu siap untuk jadi sandaranmu. Tapi jangan lap ingus pake bajuku ya. Biar nangis, harus tetap cantik. Lap ingusnya harus pakai tisu atau sapu tangan." Awalnya Ana terkesima dengan kata-kata Tirta, tapi saat mendengar kelanjutannya membuat Ana kesal.
"Nyebelin." Sungut Ana membuat Tirta terkekeh.
"Tuh, mending gini, cantik," puji Tirta sambil merapikan poni gadis tersebut yang berantakan tertiup angin. "Tapi aku serius, kalau kau butuh teman cerita, butuh sandaran, aku selalu siap untukmu. Ingatlah, apapun yang terjadi, ada aku yang selalu sedia untukmu." Ujar Tirta tulus dengan seulas senyum manis membuat dada Ana menghangat. Makin hari, ia menemukan kenyamanan yang tak biasa pada diri laki-laki tersebut. Bolehkah ia mulai berasumsi kalau dia sebenarnya telah mulai jatuh hati pada laki-laki tersebut?
"Makasih ya, Aak."
Tirta mengangguk dengan senyum tak lepas dari bibirnya, "sekarang ... kita mau main apa dulu?"
__ADS_1
"Emmm ... masuk rumah hantu dulu gimana?" tawar Ana.
Tiba-tiba wajah Tirta memucat. Bukan. Bukan dia takut dengan hantu. Tapi dia punya pengalaman buruk dengan rumah hantu. Saat SD ia pernah ditinggal sendirian dan terkurung di salah satu ruangan rumah hantu. Melihat wajah pucat Tirta, Ana mengurungkan niatnya. Ia pikir Tirta takut dengan hantu, padahal tidak. Tirta bahkan suka menonton film horor.
"Ah, nggak jadi deh. Aku mau naik bianglala aja, aak..Mau?" Tirta mengangguk lega. "Tapi sebelum itu, menangin aku sebuah boneka dulu di sana." Tunjuk Ana pada salah satu permainan yang memberi boneka beruang super besar sebagai hadiahnya. Tirta pun setuju. Mereka lantas segera menghampiri permainan itu yang ternyata cukup sulit. Tapi perjuangan Tirta tak sia-sia sebab Tirta berhasil mendapatkan boneka yang Ana mau.
Mereka lantas memainkan beberapa permainan lainnya yang kemudian ditutup dengan naik bianglala. Mereka tampak seperti sepasang kekasih yang sangat bahagia.
"Na, kita makan di cafe Starla aja yuk?" tawar Tirta.
Ana menimbang sesaat, "tapi bukannya itu jauh dari sini ya?"
"Nggak masalah. Kan nggak begitu jauh dari rumah Abi. Jadi selesai makan, kamu bisa langsung aku anterin pulang."
"Ya udah deh, terserah Aak aja."
Setelah mendapatkan persetujuan, mereka pun segera menunju cafe Starla. Setibanya di sana, mereka langsung memesan aneka makanan dan minuman. Perut mereka terasa begitu lapar. Meskipun di pasar malam tadi mereka sempat makan jagung bakar dan bakso bakar, tapi ternyata belum afdol kalau belum makan nasi. Indonesia banget memang. Istilahnya, belum makan kalau belum makan nasi.
Setelah selesai makan, mereka lanjut berbincang sambil tertawa. Binar bahagia terlihat jelas di netra mereka berdua. Tapi semua itu hanya sementara. Binar itu seketika redup saat seseorang yang tidak ingin Ana temui tiba-tiba telah berdiri di hadapannya membuat mata Ana terbelalak dengan jantung berdebar kencang.
...***...
...HAPPY READING 😍😍😍...
__ADS_1