
"Ma, mama," teriak Arifin saat memasuki rumah mewahnya. Ya, rumah mewah. Rumah yang ia beli menggunakan uang hasil korup selama bekerja di perusahaan Abra Corp.
"Ada apa sih, Pa? Pulang-pulang, teriak-teriak." Protes ibu Erin sambil menutup majalah yang ia baca. Matanya mendelik kesal saat kesensitifannya terganggu.
"Mama segera bereskan barang-barang berharga kita dari perhiasan, berkas-berkas aset berharga kita, pokoknya semuanya segera bereskan. Pokoknya malam ini juga Mama harus berangkat ke luar negeri. Nanti saat kondisinya sudah kondusif, papa akan segera menyusul Mama." Tukas Arifin sambil menyeret tangan istrinya agar segera masuk ke dalam kamar.
"Lho, lho, lho, emangnya kenapa, Pa? Kenapa Papa suruh Mama ke luar negeri sendirian? Mama nggak mau." Ketus Laila-istri Arifin.
Arifin menghela nafas kasar, "Ma, sepertinya Abraham mulai curiga kalau Papa selama ini telah melakukan kecurangan jadi tadi siang Abraham mengerahkan tim audit perusahaan lain untuk mengaudit laporan keuangan perusahaan. Kalau sampai kecurangan Papa selama ini terbongkar, bisa-bisa harta kita habis disita, Ma. Bukan hanya itu, Papa pasti akan masuk penjara dan orang-orang di sekitar Papa yang turut menikmati kucuran dana pun akan ikut terseret. Apa Mama mau hal itu terjadi?" Papar Arifin membuat Laila memelototkan matanya.
"Yang benar aja, Pa? Jadi selama ini Papa udah melakukan korupsi? Duh, Pa, Papa gimana sih? Kok nggak hati-hati. Kalau kita tertangkap, gimana? Gimana nasib Erin juga."
"Kalau Erin Papa yakin, mereka nggak akan ganggu gugat. Bagaimana pun, Erin itu menantu kesayangan mereka. Yang penting sekarang Mama selamatkan aset-aset kita dulu."
"Lagian sih, Papa kok nggak hati-hati."
"Papa itu selalu hati-hati. Entah bagaimana Abraham bisa mencium kecurangan Papa." Kesal Arifin sambil menurunkan koper besar dari atas lemari. Lalu ia membantu istrinya memasukkan perhiasan-perhiasan mahal koleksi istrinya beserta berkas-berkas kepemilikan berbagai macam aset mulai dari apartemen, tanah, pertokoan, dan lain-lain.
"Tapi Mama memangnya harus kemana? Kita kan nggak punya keluarga di luar negeri?" tanya Laila bingung.
"Ck ... Mama kan bisa jalan-jalan. Mau ke mana kek, terserah Mama lah. Kayak biasanya aja. Keliling Eropa juga nggak masalah. Asal Mama dan aset-aset kita aman." Ucap Arifin. "Nah, ini kartu debit simpanan Papa. Papa buat atas nama almarhum bik Ijah. Mama bisa pakai ini buat senang-senang dan ingat ... jangan kembali sebelum Papa suruh. Pakai ponsel ini. Ponsel lama buang saja. Mungkin sekitar 2 atau 3 hari lagi, Papa akan nyusul."
Setelah membereskan segala keperluannya, Arifin pun segera mengantarkan Laila ke bandara
Tak kalah panik dengan kedua orang tuanya, Erin pun sedang dilanda kepanikan sebab tidak terima Ryan memutuskannya begitu saja. Dan yang lebih tidak ia terima, Ryan mengatakan akan menikah dengan perempuan lain. Jelas saja Erin merasa benar-benar marah. Setelah perjuangannya selama ini lalu Ryan ingin meninggalkannya begitu saja, Erin jelas saja tidak terima.
__ADS_1
Belum lagi masalahnya dengan Abidzar yang tak kunjung mereda. Abidzar masih mendiamkannya meskipun ia telah mencoba mendekati suaminya tersebut.
"Aaargh ... Mas Abi kemana sih? Kok nomornya nggak aktif-aktif?" Geram Erin. Ia melemparkan ponselnya ke atas ranjang. Sudah beberapa panggilan ia lakukan, tapi selalu saja operator yang menjawab. "Ini semua gara-gara jalaang sialan itu. Gara-gara dia, Mas Abi jadi berubah." Gigi Erin bergemeretak. Ia benar-benar kesal saat ini.
Erin yang sedang kesal, makin emosi saat melihat postingan Ryan di layar ponselnya. Ia memposting foto Rio sedang tertidur di perlukan seorang perempuan. Sayangnya Erin tidak bisa melihat wajah perempuan tersebut sebab Ryan menutup wajah perempuan itu dengan stiker bentuk hati. Makin panaslah Erin. Erin yang sedang kesal, makin kesal hingga membanting benda apa saja yang ada di dekatnya. Ia benar-benar tidak terima Ryan membuangnya begitu saja dan memilih perempuan lain.
"Sial. Brengsekkk. Aaargh ... " Erin menjambak rambutnya frustasi.
Ingin menghilangkan kekesalannya, Erin lantas menghubungi Meylin untuk mengajaknya nongkrong di club malam langganan mereka seperti biasa.
"Halo Mey, nongkrong yuk! Gue lagi butek nih." Ucap Erin saat panggilannya diangkat Meylin.
"Sorry, Rin, gue nggak bisa." Ucap Meylin pelan nyaris berbisik membuat Erin heran.
"Loe lagi ngapain sih pake bisik-bisik segala? Owh, atau loe lagi kencan, hm?"
"Hah, maksud loe?" tanya Erin bingung.
"Mami minta gue buruan married sama anak temennya. Tapi anak temennya itu udah punya anak kecil."
"Dia duda? Loe kok mau sih?"
Meylin terdiam. Ingin dia memberi tahu siapa laki-laki yang dijodohkan dengannya itu, tapi ia urungkan. Biarlah nanti Erin tahu sendiri, pikirnya.
"Bukan. Dia bukan duda. But he is my first love karena itu gue mau."
__ADS_1
"Ya ya ya, whatever. Jadi beneran nih loe nggak bisa?"
"Yes, sorry ya. Ajak Lisa aja sana. Jangan Rana. Dia kan lagi tekdung." Saran Meylin sambil terkekeh.
"Okey, bye." Setelah menutup panggilan, Erin pun mencoba menghubungi Lisa.
"Sa, clubing yuk!"
"Oke. Gue emang lagi otw ke sana." Erin tersenyum girang. Ia pun segera bersiap setelah menutup panggilan itu.
Di club malam, Erin dan Lisa berjoged sesuka hati. Mereka sudah hampir mabuk karena tidak henti-hentinya meminum cairan memabukkan. Dengan memakai pakaian super seksi, mereka meliuk-liuk di lantai dansa membuat mata semua lelaki nyaris keluar dari rongganya. Tak sedikit yang mencoba mendekati. Keduanya yang memang sudah cukup mabuk membiarkan saja para lelaki hidung belang yang mencoba mencari kesempatan menyentuh mereka sesuka hati.
"Hai baby, sendiri, hm?" goda seorang laki-laki hidung belang sambil mere mas bokong sintal Erin.
"Menurutmu?" Erin yang kesadarannya sudah mulai menipis tampak menikmati apa saja yang ingin laki-laki itu lakukan. Erin justru membalas dengan mengalungkan tangannya di leher sang laki-laki.
"Sepertinya kau sedang galau. Butuh aku puaskan?"
"Yakin kau bisa memuaskan ku?" goda Erin sambil memainkan ujung jarinya di jakun lalu turun ke dada laki-laki itu.
"Sangat yakin. Itupun bila kau mau." Bisiknya sensual sambil meraba-raba.
Erin yang diperlakukan seperti itu, merasa melayang. Ia pun mengangguk membuat laki-laki itu tersenyum lebar karena berhasil memerangkap mangsanya. Sementara itu, Lisa pun tak kalah mabuk. Dia pun sudah masuk ke perangkap laki-laki lain yang juga telah mengincarnya sejak tadi.
...***...
__ADS_1
Baru bisa update, kepala othor benar-benar nyut-nyutan. Semoga aja besok siang udah reda jadi bisa update lagi. 😵💫😵💫😵💫😵💫😵💫😵💫😵💫😵💫😵💫
...HAPPY READING 😍😍😍...