
"Bi, Freya nggak tinggal di rumahmu lagi ya?" tanya Tirta tiba-tiba membuat Abidzar yang baru saja menyalakan laptop mengangkat wajahnya.
"Ngapain kamu tanya-tanya Freya? Ingat Ta, dia itu istriku. Sekarang sedang mengandung anakku juga. Udahlah, lupakan Freya. Masih banyak gadis-gadis lain yang bisa kamu dapatkan." Peringat Abidzar. Wajahnya yang sejak tadi sumringah, tiba-tiba berubah masam.
"Ya, 'kan kali aja kamu jadi lepasin dia entar, kan aku bisa siap-siap meluluhkan hatinya." Jawab Tirta enteng.
"Jangan mimpi. Mau sampai kapanpun aku nggak akan lepaskan Freya. Lagian apa kamu tega misahin Freya dengan anaknya?"
"Ya nggak tega sih. Tapi kan kalau jadi sama aku, aku bisa sering mempertemukan mereka. Aku akan bawa Freya ke rumahmu jadi dia tetap bisa bertemu dengan anaknya dan aku bisa dapatkan ibunya. Hahahah ... "
Plakkk ...
Sebuah map plastik berwarna merah cerah tepat mendarat di wajah Tirta membuat laki-laki yang tadi tertawa bahagia seketika membeliakkan matanya.
"Sakit dodol." Salak Tirta yang dibalas Abidzar dengan mata melotot tajam.
"Loe kalau mau jadi pebinor kira-kira dong. Bini sepupu sendiri mau diembat, dasar gila loe."
Tirta malah terkekeh. Meskipun ia memang memiliki rasa dengan Freya tapi tentunya ia tidak segila itu ingin merebut istri sepupunya sendiri. Apalagi ia tahu betapa sepupunya itu mencintai Freya selama ini. Ia hanya suka saja menggoda sepupunya itu. Melihatnya marah dan cemburu merupakan sesuatu yang menyenangkan. Apalagi selama ini ia tidak memiliki sesuatu yang bisa ia jadikan bahan untuk menggodanya. Tapi sekarang ia sudah memiliki kelemahan dari sepupunya itu. Apalagi kalau bukan segala hal yang berhubungan dengan Freya.
"Ya kali sesuai perjanjian, kamu mau lepasin dia."
"In your dream." Ketus Abidzar membuat Tirta nyengir kuda.
"Btw, ngapain kamu ngajakin Araav ketemu, Bi? Ada sesuatu yang penting kah?" tanya Tirta. Beberapa saat yang lalu Abidzar baru saja bertentangan dengan Araav. Abidzar dan Araav memang berteman, tapi tidak sedekat itu sampai harus melakukan pertemuan. Apalagi pertemuan ini dilakukan secara privat.
Abidzar mengangguk, "bokap mencium aroma-aroma penggelapan dana di perusahaan. Jadi bokap minta rekomendasi tim audit yang anti sogokan tentunya untuk mengaudit perusahaan."
__ADS_1
"Tumben minta cariin elu? Biasanya juga dikit-dikit Om Arifin." Setahu Tirta memang Arifin adalah tangan kanan Abraham jadi apa-apa selalu meminta Arifin mengurusnya.
"Justru itulah yang membuat papa memutuskan untuk bekerja sama dengan perusahaan audit yang lain. Petinggi Flexibel Audit itu kan teman dekat Papa Arifin, sedangkan sumber kecurigaan itu sendiri adalah papa Arifin."
"Hah? Serius kamu, Bi?"
Abidzar mengedikkan bahunya pertanda ia pun sama bingungnya. Namun tidak mungkin kan ayahnya menuduh sembarangan tanpa ada bukti yang jelas. Kalau sampai ayahnya bertindak, artinya apa yang ayah mertuanya itu lakukan sudah tidak bisa ditolerir lagi.
Entah bagaimana kelanjutan permasalahan ini kelak. Yang pasti, ayah mertuanya pasti akan benar-benar marah saat mengetahui tiba-tiba ayahnya mengganti tim audit tanpa sepengetahuannya. Ayah mertuanya bukan orang bodoh, ia pasti sadar kalau ia tengah dicurigai. Tapi bila memang ia
tidak bersalah, tentu ia takkan takut menghadapinya, bukan? Mau tim audit diganti berapa kali pun, kalau kita tidak bersalah, tentu kita akan tenang-tenang saja.
Sementara Abidzar kembali memeriksa berkas-berkas di atas mejanya, di kediaman orang tuanya tengah kedatangan Erin. Ia datang ke sana tentu saja untuk menemui Freya. Ia tahu hari ini ibu mertuanya memiliki pertemuan rutin di sebuah yayasan. Jadi ia bisa melenggang masuk ke rumah itu dengan santai tanpa perlu mengkhawatirkan apapun.
"Non Erin, mau cari nyonya besar?" tanya Bi Atin saat melihat kedatangan Erin.
"Oh, non Freya, di kamar den Abi, Non. Mau bibik panggilkan?" tawar bi Atin. Dalam hati Erin mendengkus. Ia kesal mengapa Abidzar menempatkan Freya di dalam kamarnya, bukan di kamar tamu.
Erin menggeleng, "biar saya langsung ke sana sendiri." Ucapnya tak acuh. Kemudian Erin melangkahkan kakinya menuju ke lantai atas dimana kamar Abidzar berada.
Setelah berdiri di depan pintu kamar Abidzar, Erin langsung memutar handel hingga pintu terbuka. Erin kembali mendengkus saat melihat Freya tengah tiduran di sofa bed sambil menonton televisi. Ia pun menutup pintu kembali dan mendekati Freya yang ternyata sedang tertidur.
Erin tersenyum sinis, lalu ia melihat sebotol air mineral tergeletak di atas meja. Ia mengambilnya, membuka tutupnya, dan menuangkan airnya tepat di wajah Freya membuat Freya tersentak dengan gelagapan sebab air yang ikut terhirup melalui hidung.
Erin tertawa puas melihat wajah Freya yang merah padam karena air yang masuk ke dalam hidungnya.
Di saat bersamaan, Abidzar yang merasa merindukan Freya pun membuka layar laptopnya. Kemudian ia membuka aplikasi yang menghubungkan kamera cctv di kamarnya dengan laptop miliknya. Saat aplikasi terbuka, bola mata Abidzar seketika melebar sempurna. Ia tak menyangka Erin bisa bersikap sekasar itu dengan Freya. Bahkan Erin bisa tertawa lebar tanpa beban melihat Freya yang kesulitan bernafas karena air yang masuk ke hidung.
__ADS_1
"Bagaimana? Enak?" Ejek Erin masih dengan tawa berderai dari bibir bergincu merah terang miliknya.
"Kau apa-apaan, Rin? Kenapa kau menyiram ku?" Desis Freya setelah menyeka kasar air di wajahnya dengan lengan baju miliknya.
"Kamu nanyeak? Kamu bertanyea-tanyea? Masih mau pura-pura bodoh? Pura-pura polos? Dasar pelakor jahanamm!"
"Siapa yang pelakor, hah? Jangan sembarangan menuduhku sebagai pelakor sebab aku tak pernah merebut suami siapapun, termasuk suamimu." Hardik Freya yang emosinya mulai terpantik. Dia diam, bukan berarti bisa terus diperlakukan semena-mena. Dia diam, bukan berarti takut. Dia diam hanya enggan membuat masalah. Dia diam hanya karena berusaha sabar.
Mata Erin membulat. Ia tak menyangka, Freya bisa membalasnya seperti dahulu.
"Lihat, Freya yang sebenarnya akhirnya muncul juga. Sepertinya kau sudah lelah berpura-pura menjadi orang baik, begitu kah?"
"Berpura-pura? Aku bukanlah kau yang gemar berpura-pura. Kau yang menyeretku masuk ke dalam rumah tanggamu, lalu kau yang bertindak seolah paling tersakiti? Kau pun menuduhku merebut suamimu? Apa kau amnesia? Kau lah yang membujukku untuk menikah dengan suamimu, tapi sekarang kau menyebutku pelakor? Bahkan kau dengan entengnya memfitnah ku di depan Mas Abi. Kau ... " Desis Freya dengan jari telunjuk mengacung ke depan wajah Erin. Rahangnya mengeras. Ia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. "Kau benar-benar keterlaluan, Rin."
"Apa katamu? Aku keterlaluan? Hey, yang keterlaluan itu kamu. Aku memang memintamu menikah dengan Mas Abi dan mengandung anaknya, tapi bukan merebut perhatiannya? Lalu lihat kini, semua berpaling padamu, kau senang bukan? Ah, kau pasti senang sekali. Kau memang sangat senang menjadi pusat perhatian semua orang. Tapi kau lupa dengan siapa kau berhadapan. Aku adalah Erin. Mudah bagiku untuk menghancurkan mu. Aku pastikan akan membuat Mas Abi kembali membencimu seperti dulu." Ucapnya sambil menyeringai.
Sontak saja Freya mengerutkan keningnya. Pun Abidzar yang masih menonton melalui layar laptopnya. Untung saja kamera cctv yang ia pasang juga bisa merekam audio jadi ia bisa mendengar dengan jelas apa yang Erin ucapkan.
"Apa maksudmu?" tanya Freya bingung.
Erin lantas melipat kedua tangannya di depan dada. Ditatapnya Freya dengan tatapan jumawa.
"Sangat mudah membuat Mas Abi membencimu. Sama seperti yang aku lakukan di masa lalu. Kau ingat surat cinta yang pernah seorang anak laki-laki super cupu berikan padamu di saat SMA?" Freya menyipitkan mata menunggu penjelasan Erin selanjutnya. "Surat itu hilang bukan? Asal kau tahu, akulah yang mencurinya, menempelnya di mading, menulis balasannya. Hahahaha ... Setelah itu laki-laki super cupu menghilang karena semua orang membully-nya. Dia pergi dengan dendam dan sakit hatinya. Kau tahu siapa laki-laki itu?" Erin kembali menyeringai. "Dia adalah Mas Abi. Dan seperti itulah aku akan kembali membuat Mas Abi kembali membencimu. Yah, mungkin saat ini dia telah memaafkan mu. Berhubung kau sedang hamil saat ini jadi mungkin dia sudah mencoba memaafkan mu. Tapi akan aku pastikan dia akan kembali membencimu. Bahkan mengusirmu. Kau ... tunggu saja tanggal mainnya. Silahkan kau nikmati kebahagiaan sesaat mu saat ini sebab sebentar lagi, semua akan segera berakhir. Aku pastikan itu."
Setelah mengucapkan itu, Erin pun segera membalikkan badannya. Meninggalkan Freya yang masih tercengang mendengar kenyataan yang baru saja ia dapatkan. Begitu juga dengan Abidzar. Ia tak menyangka, Erin sudah mempermainkan hidupnya sejak dahulu. Entah permainan apa lagi yang akan atau sudah ia lakukan? Tapi yang lebih penting saat ini adalah, ia harus menjaga Freya lebih ekstra. Ia khawatir Erin melakukan hal tak terduga yang bisa menyakiti Erin dan calon anaknya.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 😍😍😍...