Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
Masa lalu Erin


__ADS_3

"Sayang, bagaimana ini, mama dan papa tidak menyetujui hubungan kita?" Ucap Erin tergugu di pelukan kekasihnya. Erin dan kekasihnya telah saling mengenal sejak masih menjadi calon Maba. Lambat laun mereka pun menjalin hubungan kekasih karena memang mereka saling mencintai.


Setelah tamat kuliah, kekasihnya bekerja sebagai staf biasa di sebuah perusahaan. Suatu hari, kekasih Erin menyatakan ingin melamar Erin dari keluarganya, tapi ternyata keluarganya menentang hubungan keduanya dengan alasan Erin telah dijodohkan.


"Aku juga bingung, sayang. Sungguh, aku tidak ingin kehilangan kamu. Aku sangat mencintaimu, Rin."


"Aku juga."


"Tapi kita tidak mungkin menentang orang tuamu. Andai aku terlahir menjadi orang berada, mungkin papa mu akan menerima ku menjadi suamimu."


"Sayang, begini saja, bagaimana kalau kau buat aku hamil? Aku yakin, papa nggak akan bisa nolak lamaran kamu lagi kalau tau aku hamil. Mau nggak mau papa pasti terpaksa setuju dan menikahkan kita." Ucap Erin yakin.


"Tapi sayang ... "


"Nggak ada tapi-tapian, sayang. Kita harus melakukan itu. Demi cinta kita. Aku nggak mau pisah dari kamu."


"Aku pun juga nggak mau. Tapi apa kamu yakin dengan cara ini papa kamu akan nerima aku?"


"Aku yakin. Lagian, mana ada sih orang yang mau menerima perempuan yang hamil anak orang lain menjadi calon menantunya."


"Kamu benar. Baiklah. Semoga dengan cara ini, mama dan papamu mau menerima hubungan kita."


2 bulan kemudian,


"Ma, Pa, aku hamil." Ucap Erin tepat setelah mereka menyelesaikan makan malam mereka.


Jelas saja mendengar pengakuan tak terduga itu membuat ayah Erin murka.


Brakkk ...


"Dasar perempuan murahan. Siapa laki-laki yang menghamili mu, hah? Apakah laki-laki bajingaan itu?" Bentak ayah Erin.


"Dia bukan bajingaan, Pa. Dia kekasih Erin. Dia laki-laki yang Erin cintai. Dan Erin hanya mau menikah dengannya."


"Cinta cinta, cinta ta i kucing." Sentak ayah Erin. "Gugurkan anak sialan itu, Papa tak mau tahu menahu."

__ADS_1


"Nggak. Aku nggak mau. Dia adalah buah cintaku dengan kekasihku. Pokoknya aku nggak mau. Aku hanya akan menikah dengannya, bukan dengan anak bos papa yang cupu itu."


"Siapa bilang dia cupu? Kau tahu, dia bukan Abidzar yang cupu seperti yang kau kenal dulu. Dia sekarang tampan, bahkan lebih tampan dari bajingaan itu. Kalau kau menikah dengannya, kau bukan hanya akan mendapatkan lelaki kaya raya, tapi juga tampan."


"Papa jangan bohong. Mana mungkin laki-laki cupu itu tiba-tiba menjadi tampan." Tolak Erin.


Lalu ayah Erin pun mengambil ponsel dan membuka layarnya. Lalu ia menyodorkan ponselnya yang menunjukkan foto seorang laki-laki tampan. Dia tak lain adalah Abidzar.


"Dia ... "


"Ya, dia adalah calon suamimu. Kau tahu, sudah sekian lama Papa menunggu momen ini untuk menjodohkan mu dengannya. Lalu kau dengan bodohnya hamil anak laki-laki lain, bodoh. Pokoknya kau harus menggugurkan anak itu. Titik."


"Nggak. Aku nggak mau membunuh calon buah hatiku. Aku nggak mau jadi pembunuh. Ma ... "


Erin menoleh ke arah ibunya yang sejak tadi diam.


"Pa, Erin benar, kita tidak bisa membunuh anak itu. Itu salah, Pa. Selain itu, aborsi itu memiliki risiko, Pa. Mama tidak mau terjadi sesuatu pada putri kita, Pa. Pa, ingat, Erin putri kita satu-satunya." Ibu Erin mengiba, berharap suaminya membatalkan niatnya mengugurkan kandungan Erin.


"Baiklah. Begini saja, Papa beri kau dua pilihan, pertama, tinggalkan laki-laki itu dan Papa akan biarkan kau mengandung anak itu. Tapi setelah anak itu lahir, kau serahkan dia ke bajingaan itu sebab Papa tetap akan menjodohkan mu dengan Abidzar. Dan pilihan kedua, bila kau tetap ingin mempertahankan anak itu dan juga bajingaaan itu, silahkan angkat kaki dari rumah ini. Tapi sebelum itu, papa akan menghancurkan kekasihmu itu beserta seluruh keluarganya. Silahkan kau pilih! Keputusan ada di tanganmu."


Jelas saja Erin membeliakkan matanya. Ia tak menyangka ayahnya akan membuat pilihan yang keduanya sama-sama menyulitkan dan menakutkan. Namun tetap ia harus memilih.


"Tapi Pa, meskipun Erin memilih menyerahkan anaknya, apa Papa pikir Abidzar takkan menyadarinya kelak. Ingat Pa, Erin itu bukan hanya sudah tidak perawan lagi, tapi setelah melahirkan, tentu akan ada perbedaan yang mencolok." Tutur ibu Erin tak yakin dengan rencana suaminya.


"Masalah itu bisa diatur. Setelah Erin melahirkan nanti, Papa akan mengirimnya ke Singapura untuk melakukan operasi selaput dara. Mumpung Abidzar masih melanjutkan pendidikannya 2 tahun lagi di Inggris, jadi Erin bisa memulihkan tubuhnya agar tampak seperti gadis lagi." Putus ayah Erin.


...***...


"Halo ... "


"Mama ... "


"Halo sayang, kok bangun sih?"


"Mama kok pelgi ndak bilang-bilang sih? Tadi Lio cali-cali Mama tau." Protes anak laki-laki bernama Rio tersebut. Ya, tadi siang Erin mengunjungi Rio di rumahnya. Karena hari sudah menjelang malam, Erin pun bergegas pulang. Lebih tepatnya setelah ia menidurkan anak laki-laki tersebut.

__ADS_1


"Maaf ya, Sayang. Mama harus pulang. Kapan-kapan Mama bobok di sana deh."


"Mama kok pulangnya ndak ke lumah Lio sih? Lio kan juga pingin kayak teman-teman Lio, tinggal sama-sama mama papanya. Bisa tidul baleng juga." Ujar Rio sendu.


Hati Erin terasa teriris. Ia pun sakit dengan kenyataan ini.


Sebuah tangan tampak mengusap punggung Rio. Mata anak laki-laki itu yang semula sendu seketika memerah. Tangisnya pecah. Batin Erin dan laki-laki yang tengah mengusap punggung anak laki-laki itupun ikut terluka.


"Sudah. Jangan kau cemaskan keadaan Rio. Biar Rio jadi urusanku. Aku takut suamimu melihat ini." Ucap laki-laki itu saat tahu Erin sedang berada di kamarnya.


"Mas Abi tidak pulang."


Laki-laki itu terdiam. Ia pun meminta putranya tidur lebih dulu. Setelahnya ia melanjutkan pembicaraannya dengan Erin. Paham kalau laki-laki itu menunggu kalimat selanjutnya, ia pun memberitahunya.


"Dia menemani istri keduanya di rumah sakit."


"Rin."


"Ya."


"Sampai kapan aku harus menunggu? Kasihan Rio. Selain dia butuh kasih sayang yang utuh dari orang tuanya, dia pun butuh status yang jelas. Tidak lama lagi Rio akan bersekolah. Kau pasti paham, untuk mendaftar sekolah sekarang membutuhkan identitas yang lengkap." Ujar laki-laki itu yang sudah berusaha bersabar sekian tahun lamanya.


"Tapi sayang, kau tahu sendiri, Papa bisa murka kalau aku sampai berpisah dengan Mas Abi."


"Lalu bagaimana dengan aku dan Rio? Kau tahu, tak selamanya kau bisa menyembunyikan fakta ini. Sedalam-dalamnya kau mengubur bangkai, baunya pasti akan tercium juga. Begitu pula rahasia kita ini, lama-kelamaan pasti akan terkuak."


Erin bergeming. Lidahnya tiba-tiba kelu. Ia pun membenarkan ucapan laki-laki itu. Tapi bila ia jujur, ia yakin, Abidzar dan keluarganya pasti takkan mengampuninya. Begitu juga ayahnya. Sudah pasti nyawa anak dan kekasih hatinya pun akan ikut terancam sebab ayahnya memang pernah mengancamnya akan menyakiti laki-laki itu berikut keluarga pun termasuk cucunya sendiri bila ia sampai mengungkap rahasia ini. Ayahnya memang kejam. Bila ditanya dari mana turunnya watak keras, angkuh, dan kejam dirinya, maka ia akan menjawab dengan lantang dari ayahnya.


"Rin ... "


"Ya."


"Aku beri kau waktu 2 bulan. Bila sampai hari itu kau belum membuat keputusan, maafkan aku, maka aku terpaksa menerima wanita yang orang tuaku jodohkan padaku. Bukan untukku. Tapi aku terpaksa melakukan itu demi anak kita."


Setelah mengucapkan itu, laki-laki itupun memutus panggilan itu. Kaki Erin lunglai seketika. Ia terduduk di lantai dengan pikiran kalut. Haruskah ia benar-benar melepaskan laki-laki itu sebab ia pun tak sanggup hidup miskin dengan laki-laki tersebut yang hanya bekerja sebagai karyawan biasa.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 😍😍😍...


__ADS_2