
"Ada yang ingin bertemu denganmu," ujar sipir penjara yang bertugas hari itu. Erin yang sedang membaca buku tuntunan sholat wajib pun menoleh. Setelah beberapa bulan ditahan di lapas tersebut, ia memang beberapa kali mendapatkan kunjungan. Saat awal-awal dulu Freya dan Abidzar. Setelahnya Ryan beberapa kali mengunjunginya.
Ya, beberapa waktu lalu mantan suami dan madunya itu pernah mendatanginya. Meskipun Abidzar bersikap dingin padanya, tapi Freya justru bersikap hangat dan ramah. Lalu kini ada orang lagi yang mencari dirinya. Siapa itu? Apakah Ryan lagi? Entahlah, Erin tak bisa menerka-nerka.
"Siapa pak?" tanya Erin sambil menutup bukunya. Tapi sipir itu hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban kalau ia pun tak tahu. Ia baru beberapa hari bertugas di lapas tersebut jadi ia belum tahu tamu-tamu yang kerap berkunjung ke lapas tersebut. Erin pun gegas berdiri dan mengikuti langkah sang sipir masuk ke sebuah ruangan tertutup yang ternyata di sana telah duduk seorang pria dengan wajah tertunduk.
Erin pun melangkahkan kakinya dengan jantung berdegup kencang. Ia sangat mengenali pemilik tubuh itu. Meskipun ia menundukkan wajahnya, tapi ia masih sangat mengenalinya. Tidak sedikit waktu yang mereka lewatkan bersama, jadi sudah tentu ia sangat hafal sosok itu dengan baik.
"Ryan ... " gumam Erin dengan bibir bergetar dan nafas tercekat. Ia tak menyangka sosok itu masih mau menemui dirinya. Padahal ia kerap menghindari kedatangan laki-laki tersebut, tapi ternyata ia tetap gigih mengunjunginya.
Laki-laki yang diduga adalah Ryan itupun mendongakkan kepalanya. Lalu ia tersenyum. Senyum manis yang selalu berhasil meluluhlantakkan hatinya.
"Hai Rin, apa kabar?" tanya Ryan basa-basi. Yah, hanya sekedar basa-basi sebab dari penampilan Erin pun ia tahu bagaimana keadaan ibu dari anaknya tersebut. Tak jauh berbeda dari terakhir kali ia menemuinya. Mungkin sekitar satu bulan yang lalu ia mendatangi lapas untuk melihat wanita yang masih bertahta di hatinya tersebut.
Erin tersenyum tipis, kemudian duduk di seberang Ryan. Terdapat sebuah meja kecil sebagai pembatas mereka.
"Seperti yang kau lihat, aku ... baik-baik saja," jawab Erin yang tentu saja sebuah dusta. Ryan tahu itu, tapi ia tak mau terlalu banyak bertanya yang mana hanya akan membuat Erin merasa makin tak nyaman.
Erin menatap lekat wajah Ryan. Terlihat kantung matanya menghitam. Raut kelelahan terlihat jelas membuat Erin bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa telah terjadi sesuatu?"
Ryan menghela nafas berat, "Rio ... dia sakit."
Wajah Erin seketika pias. Rasa cemas menggelayuti benaknya. Biarpun ia kerap bersikap tak acuh, tapi sebenarnya dalam hati kecilnya yang terdalam, ia sangat-sangat menyayangi putranya. Buah cintanya dengan sang mantan kekasih. Mantan kekasih yang sejujurnya hingga kini masih meraja di hati.
"Rio sakit. Sakit apa? Apa dia sakit parah? Kenapa ia bisa sakit? Cepat jawab, Ryan! Jangan diam saja!" sentak Erin tak sabaran.
Air mata menetes dari mata kedua insan tersebut. Terdapat luka berbalut cinta di netra keduanya.
__ADS_1
"Dia sebenarnya hanya demam. Menurut dokter, diberi obat pun bisa menurunkan panasnya. Tapi yang jadi masalah bukan itu."
Ryan menjeda ceritanya. Ia menghela nafas panjang sambil menatap lekat wajah sang pujaan hati.
"Kenapa diam? Lanjutkan ceritamu. Apa yang jadi masalahnya? Kenapa kau tampak begitu gelisah? Ryan, sebenarnya apa yang terjadi?" cecar Erin benar-benar penasaran.
"Rio ... dia ... merindukanmu. Dia jatuh sakit karena merindukanmu, ibunya. Aku harus apa, Rin? Aku bingung. Aku tak tau harus melakukan apa? Dia sangat merindukanmu. Aku ... aku harus apa, Rin? Aku harus apa?"
Ryan terisak. Begitu pula Erin. Ia menyesalkan apa yang terjadi pada dirinya. Seandainya ia tidak berbuat sesuatu yang melanggar hukum atau tidak melakukan perbuatan tercela, sudah pasti ia akan selalu ada untuk anaknya. Seandainya ia sadar lebih awal akan kesalahannya, sudah pasti pula ia akan memiliki kesempatan untuk turut andil akan tumbuh kembang sang putra.
Tapi kini, menyesal pun percuma. Nasi telah menjadi bubur. Segalanya telah terlanjur terjadi. Waktu tak mungkin ia putar kembali. Ia hanya bisa menjalani hari-harinya di lapas seraya menebus kesalahannya.
"Maafkan aku, Ryan. Maafkan aku. Seandainya aku tidak egois. Seandainya aku bisa bersikap bijak dan tidak serakah, sudah tentu kita akan terus bersama, membesarkan Rio bersama-sama. Dan Rio pun pasti akan tumbuh sehat seperti anak-anak lainnya. Maafkan aku. Semua ini salahku. Semua akibat kebodohan, keserakahan, dan keegoisanku sehingga Rio yang harus menanggungnya. Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku ... "
Erin meraung pilu. Sama seperti Ryan, ia pun tak ingin putranya melihat keadaannya yang seperti ini. Jadi ia harus apa? Apa yang bisa ia lakukan untuk kesembuhan anaknya?
Melihat Erin tergugu pilu, Ryan lantas berdiri. Ia mendekati Erin dan berjongkok di hadapannya. Diambilnya tangan Erin dan digenggamnya erat.
Erin menggeleng dengan tegas, Ryan tak salah pikirnya. Justru ia berterima kasih karena Ryan masih menghargainya sebagai ibu dari Rio. Mungkin kalau laki-laki lain yang mengalami apa yang Ryan alami, sudah pasti ia akan sangat membenci dirinya. Jangankan memberikan kabar, menemui pun sudah pasti enggan. Bahkan bisa jadi, selamanya ia akan dipisahkan dari buah hatinya. Dilarang bertemu hingga hanya ada rasa rindu yang kian menyiksa kalbu.
"Nggak. Kamu nggak salah. Justru aku berterima kasih padamu karena kau masih menganggap aku sebagai ibu Rio. "
Ryan mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Erin, "tak perlu berterima kasih sebab mau sampai kapanpun fakta kau adalah ibu kandung Rio takkan pernah berubah. Aku memang kecewa padamu, tapi aku pun tak mungkin menjauhkan mu dari Rio. Aku tidak bisa berbuat sekejam itu."
"Ryan ... " Erin kian tergugu saat menatap lekat netra laki-laki yang kerap ia sakiti itu. Entah seberapa banyak luka yang telah ia torehkan pada Ryan, tapi laki-laki itu selalu saja memaafkannya tak peduli sebesar apa kesalahannya.
Melihat sisi rapuh Erin, membuat Ryan tak kuasa menahan sesak di dalam dada. Sisi rapuh yang tak pernah ia
lihat selama ini, kini justru jadi pemandangan yang kerap ia lihat setiap kali bertemu. Dimulai sejak salam perpisahannya sebelum Erin menyerahkan diri saat itu. Lalu setelahnya, setiap kali bertemu, ia kerap melihat air mata itu.
__ADS_1
Ryan lantas menarik pundak Erin dan mendekapnya erat. Tubuh Erin bergetar dalam pelukan Ryan. Keduanya lantas menangis bersama. Keduanya merasakan luka yang sama. Tapi tak ada yang bisa mereka lakukan selain menjalaninya.
"Ssstt ... udah ya! Jangan menangis lagi!"
"Rio, Yan, bagaimana dengan Rio? Kasihan dia. Ini salahku. Semua salahku."
"Ssst ... Udah ya! Waktu kita tidak banyak. Aku tidak ingin melihatmu selalu menangis. Aku ingin mengenangmu dengan senyuman yang menawan, bukan tangisan yang menyakitkan," ucapnya setelah melepaskan pelukannya. Lalu ia menyeka air mata Erin dengan punggung tangannya. "Rin, bagaimana kalau kau membuat rekaman seolah-olah kau sedang ada pekerjaan di tempat yang jauh."
Erin mengerutkan keningnya, bingung. Lalu Ryan pun menjelaskan apa yang harus Erin lakukan. Erin pun bergegas melakukan apa yang Ryan instruksikan.
...***...
"Hai sayang," panggil Ryan pada Rio yang sedang memainkan rubik di tangannya.
Rio lantas mengangkat wajahnya sambil tersenyum.
"Papa," seru Rio.
"Anak papa lagi ngapain? Udah minum obat?"
"Rio lagi main ini. Rio juga udah minum obat. Tadi Rio nggak mau minum, tapi kata nenek nanti mama marah terus nggak mau pulang. Jadi Rio minum deh obatnya," adu Rio pada Ryan. Ibu Ryan yang mendengarnya lantas terkekeh.
"Wah, anak papa pinter!" puji Ryan.
"Iya dong. Kan Rio udah makan terus minum obat, terus mamanya mana? Rio mau ketemu mama, Pa. Mama mana?" pinta Rio dengan mata berbinar. Ia telah menantikan momen dimana ia bisa bertemu dengan ibu kandungnya.
Ryan lantas mengusap puncak kepala Rio dengan lembut.
"Maaf ya nak, papa belum bisa membawa Mama pulang. Papa juga belum bisa mempertemukan kalian berdua sebab ... "
__ADS_1
"Papa jahat. Papa bilang mau bawa mama pulang, tapi mana? Mama nggak ada. Papa bohong. Papa pembohong," teriak Rio.