Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
Karma?


__ADS_3

Keesokan harinya, jagad dunia maya tampak riuh dengan 2 berita besar. Pertama kedatangan suami Erin ke kantor polisi untuk melaporkan istrinya sendiri atas kasus pencemaran nama baik dan penipuan serta kasus penangkapan asisten pribadi CEO Abra Corp di rumah selingkuhannya. Yang mana sang aspri sendiri merupakan besan dari sang CEO. Yang lebih mengejutkan, putri dari sang Aspri adalah perempuan yang tengah viral karena pengakuannya yang mendapatkan pengkhianatan, perlakuan tak menyenangkan, dan kekerasan dalam rumah tangga. Bagaimana tidak heboh, sebab kemungkinan ayah dan anak tersebut akan segera mendekam di balik jeruji besi.


Di kediamannya, Erin tampak shock saat melihat berita tersebut ditayangkan. Meskipun pihak kepolisian belum merilis kasus tersebut, tapi kemungkinan besar dalam 1x24 jam ia akan segera dijemput untuk menjalani interogasi.


Menurut pengakuan Abidzar, apa yang Erin sampaikan tidaklah benar. Ia hanya playing victim. Para jurnalis berbagai media mendapatkan informasi mengenai Erin yang selama hampir 3 tahun ini telah menipu keluarga besar Abidzar. Tanpa pengetahuan Abidzar dan keluarganya, ternyata Erin telah memiliki seorang anak dari mantan kekasihnya. Bahkan yang lebih parah Erin masih menjalin hubungan dengan kekasihnya di belakang abizar hal itulah yang membuat hubungan keduanya menjadi merenggang.


Tak ayal, orang-orang yang kemarin nyinyir dan julid terhadap Abidzar dan Freya menjadi malu sendiri. Mereka sudah menyumpah serapah dan mencaci maki dengan segala jenis umpatan. Bahkan sampai segala isi kebun binatang pun ikut terlontar. Tapi sebagai dari mereka masih gengsi untuk mengaku salah. Apalagi belum ada penjelasan dari pihak kepolisian mengenai kasus tersebut.


"Kurang ajar kalian semua," raung Erin. Ia pun melemparkan remote televisi yang ada di tangannya ke arah televisi hingga membuat layar 65 inci yang menggantung di dinding retak seribu.


"Bagaimana kalau aku ditangkap? Nggak. Aku nggak mau." Gumamnya. Ia pun mencoba menghubungi ayahnya. Ia belum tahu mengenai kabar sang ayah yang telah ditangkap kemarin sore. Tapi sayang, yang menjawab panggilannya justru operator. Hati Erin makin tak karu-karuan. Jantungnya berdegup dengan kencang. Sampai-sampai siapapun yang dilihatnya dijadikannya sasaran kemarahannya.


Tok tok tok ...


Pintu kamarnya diketuk.


"Siapa?" teriak Erin dengan nafas memburu. Erin pun membuka kasar pintu hingga membentur dinding. Melihat wajah Erin yang begitu jelas sedang tak baik-baik saja membuat Mina mengkeret menjauh. Ia bahkan menelan ludahnya sendiri karena gugup. Ia pun sudah melihat berita Abidzar yang melaporkan Erin, istrinya sendiri. Ia juga sudah melihat berita penangkapan ayah Erin. Sudah pasti nyonyanya tersebut sedang frustasi sehingga marah-marah seperti itu.


"Ini saya, Nya, Mina. Sarapan sudah siap." Ucap Mina begitu pintu terbuka.


"Kenapa kamu liatin saya begitu? Kau ingin menertawakan ku yang dilaporkan ke polisi, iya? Dasar pembantu brengsek." Maki Erin membuat jantung Mina mencelos.


"Sa-saya tidak menertawakan nyonya kok. Sungguh."

__ADS_1


"Sudah . Tak perlu berkelit. Kalian semua sama saja. Brengsekkk. Kalian semua brengsekkk." Pekik Erin membuat Mina ketakutan dan segera berlari kencang sebelum Erin lebih mengamuk lagi.


Di lantai bawah, Ana tersenyum menyeringai, "enak?" ejek Ana.


Mata Mina melotot, tapi enggan menimpali. Ia kesal. Padahal selama ini ia selalu berpihak pada nyonyanya. Lalu sekarang, masalah yang menimpanya merupakan buah dari perbuatannya sendiri, tapi ia justru melampiaskannya pada orang lain.


"Sepertinya nyonya kesayanganmu itu akan segera gila. Semoga kau tidak ikut-ikutan gila, Min. Kalau iya, wah aku senang sekali dong." Tukas Ana sambil mengedipkan sebelah matanya membuat Mina dongkol.


...***...


Bingung sekaligus takut, membuat Erin melajukan mobilnya menuju ke rumah orang tuanya. Tapi setibanya di sana, ia tak menemukan kedua orang tuanya. Bahkan rumahnya begitu sepi dengan lampu depan menyala. Teras dan kaca diselimuti debu yang cukup tebal. Pun pekarangan rumah yang tertutup dedaunan kering membuat Erin sadar rumahnya telah lama ditinggal.


Jelas saja Erin kebingungan sebab ia tak tahu kemana kedua orang tuanya. Mereka tak ada memberikan kabar ataupun pesan sama sekali. Erin kembali mencoba menghubungi baik ayah maupun ibunya, tapi panggilannya selalu saja dijawab operator.


Erin menghempaskan bokongnya di kursi kayu yang ada di teras. Ia meraup wajahnya frustasi.


Erin menghembuskan nafas kasar. Hidupnya benar-benar kacau saat ini. Kedua orang tuanya menghilang entah kemana. Meninggalkannya tanpa kabar berita sama sekali. Bila biasanya ia memiliki tempat untuk bertukar cerita, yaitu para sahabatnya. Tapi sekarang, tak ada satupun dari mereka yang bisa ia andalkan.


Menurut kabar terakhir yang ia dengar, Lisa dalam keadaan kritis karena percobaan bunuh diri yang ia lakukan. Lalu Rana seperti terkena gangguan mental. Dia hanya terus melamun, terkadang menimang bantal, menganggapnya sebagai calon anaknya yang telah tiada. Lalu Meylin, ia telah benar-benar memutuskan tali persahabatannya dengan Meylin. Ia senang sebab ia akhirnya berhasil menggagalkan pernikahannya dengan Ryan.


"Semua gara-gara jalaang itu," geram Erin yang masih saja menyalahkan Freya. Entah otaknya sudah geser atau bagaimana, ia menyalahkan segala apa yang terjadi padanya dengan Freya. Mungkin dia perlu diruqiyah untuk mengeluarkan jin, setan, iblis yang bersemayam di dalam hati dan jiwanya atau dibawa ke rumah sakit jiwa untuk memeriksakan otaknya. Hahaha ...


Dengan emosi yang membara, Erin mengendarai mobilnya membelah jalanan pagi menjelang siang itu menuju kediaman orang tua Abidzar. Tujuannya tentu saja ingin memberikan pelajaran pada Freya. Tapi kenyataan tak sesuai harapan. Setibanya di depan gerbang, penjaga rumah tak mau membukakan pintu gerbang membuat Erin makin murka.

__ADS_1


"Buka gerbangnya, brengsekkk!" Teriak Erin yang sudah turun dari dalam mobilnya.


"Maaf nona, den Abi memerintahkan kami untuk tidak membukakan pintu gerbang untuk Anda," jawab Penjaga rumah paruh baya itu.


"Jangan mengada-ada. Aku ini menantu pemilik rumah ini. Aku tahu, kau pasti dibayar jalaang itu 'kan agar tidak membukakan pintu untukku," sinis Erin tanpa sopan santun sama sekali membuat penjaga rumah bernama pak Tono itu mengusap dada.


"Tidak, non. Tapi den Abi sendiri yang memerintahkan. Lebih baik Anda pulang, menurut den Abi, Anda sudah tidak diterima di sini lagi." jawab jawab pak Tono jengkel. Sebenarnya dia pun jengah berhadapan dengan Erin sebab sejak dulu Erin selalu semena-mena. Tak ada sopan santun sekali dengan yang lebih tua. Lain bila ia sedang di hadapan suaminya atau kedua mertuanya, maka ia akan berlagak sang malaikat yang begitu baik hati dan lemah lembut. Sungguh pintar sekali aktingnya. Ia bersyukur akhirnya keburukan Erin terkuak juga. Bukan hanya keburukan, tapi juga kebusukan. Pak Tono sampai tak habis pikir ada perempuan seperti Erin. Kalau Erin adalah anaknya, mungkin sudah lama ia coret dari KK. Biarkan saja ia terlunta-lunta di jalanan. Biar jera. Tapi apakah mungkin perempuan seperti Erin akan jera? Itu yang menjadi tanda tanyanya dalam hati.


"Kurang ajar. Sialan kalian semua. Bukan nggak aku bilang. Kalau tidak, aku aman menabrak gerbang ini sampai terbuka." Ancam Erin tak main-main. Tapi pak Tono hanya menjalankan perintah. Ia tak bergeming, berusaha mengabaikan ancaman Erin.


Erin yang benar-benar kesal pun melakukan apa yang ia katakan. Ia masuk ke dalam mobil dan menggeber mobilnya menimbulkan suara raungan yang memekakkan telinga. Jarak gerbang yang cukup jauh membuat tak ada yang menyadari kekacauan di depan gerbang. Dengan hati dongkol, Erin pun benar-benar menabrakkan mobilnya. Tapi gerbang itu ternyata sangat kokoh. Meski agak penyok, tapi tetap bisa berdiri kokoh. Justru mobilnya lah yang tampak ringsek.


Erin yang kesal karena tidak dipedulikan sama sekali lantas menepikan mobilnya kembali. Menunggu kesempatan kalau saja ada mobil yang masuk sehingga ia bisa segera ikut masuk.


Mengusir rasa suntuk, ia pun kembali membuka sosial medianya. Kini beritanya kian heboh, pun berita Abidzar yang melaporkan dirinya. Bukan hanya itu, kini semua orang juga tampaknya berlomba-lomba mencari informasi tentang dirinya sampai seketika matanya terbelalak saat melihat video vulgar dirinya saat melayani orang yang memerasnya beberapa waktu lalu.


"Ke-kenapa video ini ada di sini? Ba-bagaimana bisa? Bukannya kata orang itu, videonya telah dihapus? Brengsekkkk. Sialan. Dia ternyata menipuku. Bagaimana ini?" raungnya frustasi. Makin hancurlah nama baiknya. Jantungnya berdegup kencang. Bagaimana ia bisa menghadapi dunia nila kebusukannya benar-benar terkuak?


Dengan tangan bergetar, Erin terus menggulirkan layar. Berita mengenai dirinya yang kerap mabuk-mabukkan di club malam, check in hotel dengan Ryan, dan terakhir saat ia check in hotel dengan laki-laki tak dikenalnya itu pun beredar.


Erin mencelos. Baru saja kemarin ia mengungkapkan kebusukan Meylin, lalu hari ini kebusukannya lah yang terungkap. Tak cukup di situ saja, Erin melihat berita penangkapan ayahnya di kediaman selingkuhannya atas kasus penggelapan dana perusahaan dan money laundry.


Dunia Erin seketika runtuh. Bagaimana bisa masalah menghampirinya bertubi-tubi seperti ini? Inikah karma atas segala perbuatan buruknya selama ini???

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 😍😍😍...


__ADS_2