Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
107 S2


__ADS_3

"Kita mau kemana, Aak?" tanya Ana saat telah berada di dalam mobil. Tirta tampak berpikir sebab ia pun sebenarnya belum memiliki rencana apapun. Yang penting ia bisa jalan berdua saja dengan Ana. Sudah. Itu saja. Sesimpel itu memang. Yang otw bucin ya gitu, bisa berduaan saja dengan orang yang disukai rasanya sudah sangat-sangat membahagiakan. Apalagi bisa menghabiskan waktu dan usia bersama, uh pasti lebih bahagia lagi.


Membayangkan itu, Tirta jadi mesem-mesem sendiri. Ia sampai lupa kalau Ana sedang bertanya dan ia belum menjawabnya.


"Aak ... Aak Tirta, ngelamunin apa sih? Ditanya sampai nggak jawab. Malah senyam-senyum nggak jelas." Ketus Ana membuat Tirta tersadar dari lamunannya.


"Eh, iya, apa sayang," Tirta keceplosan memanggil Ana Sayang. Jelas saja Ana terperangah dengan darah berdesir-desir. "Duh, keceplosan deh! Tapi nggak papa kan! Aku kan serius sayang sama kamu, jadi nggak masalah kan panggil sayang," ujar Tirta seraya terkekeh.


"Sayang, sayang, pala lu peyang," cibir Ana membuat Tirta terkekeh gemas. Apalagi saat melihat Ana mencebikkan bibirnya. Ukh, bikin gemes deh! Rasanya pingin gue cium, tapi takut dikeplak. Tirta terkekeh sendiri.


"Tadi kamu nanya kita mau kemana ya? Emmm ... " Saat sedang kembali berpikir, terdengar kumandang adzan Maghrib dari masjid yang tak jauh dari posisinya. "Kita pikirin mau kemananya nanti aja ya! Kita shalat dulu. Kamu nggak lagi halangan kan?" Tirta menoleh ke arah Ana dan gadis itupun menggeleng kemudian mengangguk setuju.


Setelah itu, Tirta membelokkan mobilnya masuk ke sebuah halaman parkir masjid yang tampak mulai dipenuhi jama'ah sekitar. Masjid itu tidak begitu besar, tapi jama'ahnya cukup banyak. Membuat masjid itu tampak dipenuhi orang-orang yang hendak menunaikan ibadah shalat Maghrib.


Kurang dari 30 menit kemudian, Tirta dan Ana telah kembali keluar dan masuk ke dalam mobil.


"Emmm ... mau nonton?" tawar Tirta.


"Nonton apa? Ada film baru apa ya di bioskop sekarang?" gumam Ana yang memang tidak mengetahui film yang sedang tayang di bioskop saat ini.


"Kamu suka film jenis apa?"


"Kalau aak suka film jenis apa?" Ana justru bertanya balik.


"Kok malah nanya balik sih?"


"Soalnya bingung." Ana menggaruk pelipisnya sambil terkekeh kecil.


"Jujur nih, kalau aku suka anime." Ujarnya seraya tergelak. Ana mau tak mau ikut tersenyum. "Kekanakan yak?"


"Siapa? Nggak kok. Apalagi anime sekarang itu tontonannya agak berat. Banyak misteri yang bikin otak mesti mikir keras."


"Atau kamu mau nonton film Korea? Tapi ada nggak ya?"


"Eh aak, ada film One piece nih, aak suka?" Seru Ana setelah mengecek daftar film di bioskop melalui ponselnya.


"Wah, beneran? Tapi gimana kamu? Aku kan yang ajak nonton, masa' malah nonton tontonan yang aku suka. Entar kamunya bosan."


"Nggak kok. Aku juga suka anime." Ana melebarkan senyumnya. Manis banget. Batin Tirta seraya menahan degupan luar biasa di dadanya.


"Ba-baguslah kalau gitu. Jadi kita nonton One piece?" Tiba-tiba Tirta gugup.


Mendengar nada gugup dari Tirta membuat Ana tergelak, "kok tiba-tiba gugup gitu sih?"


Tirta menggaruk-garuk pelipisnya, "soalnya kamu ... manis banget kalau lagi tertawa seperti tadi," ucap Tirta gugup dengan ekor mata memperhatikan ekspresi wajah Aga yang telah memerah. Ada sebuah senyum kecil tertahan yang Tirta tangkap. Ya, memang Ana tersenyum kecil. Pujian itu kenapa sungguh terasa manis hingga menggelitik perutnya sih?


"Gombal."

__ADS_1


"Aku serius. Ngapain juga gombal."


"Aku pesan tiketnya aja dulu deh," Ana mencoba mengalihkan perhatian Tirta.


"Pakai hp ku saja," Tirta menyodorkan ponselnya kepada Ana. Ia juga menyebutkan password hp-nya. Bukan hanya itu, Tirta juga menyebutkan pin kartu kreditnya yang terdaftar di ponsel miliknya. Ana sampai terperangah, sepercaya itu Tirta padanya sampai hal yang privasi seperti itupun diberitahukannya.


"Aak kok ngasi tau aku sih? Dari password, pin. Bukannya itu privasi ya?" tanya Ana heran. Jangankan yang pacaran, yang suami istri saja terkadang masih rahasia-rahasiaan masalah pin dan password. Seolah tak mau privasi mereka terganggu. Tapi Tirta justru sebaliknya. Padahal status mereka apa sih? Pacar bukan apalagi pasangan suami istri. Masih jauh banget.


"Emangnya kenapa? Dengan calon istri sendiri kok rahasia-rahasiaan." Jawab Tirta acuh tak acuh. Secara tidak langsung Tirta telah mengklaim Ana sebagai calon istrinya.


"Calon istri? Idih, calon istri dari Hongkong. Percaya diri banget kalau aku bakal jadi calon istri aak."


"Percaya diri dan optimis itu perlu. Aku berani bilang kayak gini karena yakin kalau kaulah jodohku. Eeyaaa ... " Ana terbahak mendengarnya.


Sesampainya di mall dimana mereka akan menonton, Tirta langsung memarkirkan mobilnya. Setelah itu, ia buru-buru turun dan membukakan pintu untuk Ana.


"Masih ada satu jam lagi sebelum filmnya tayang, enaknya kita ngapain ya?" tanya Tirta sambil menoleh ke arah Ana yang juga menoleh ke arahnya


"Apa ya?" Ana berpikir.


"Mau makan sesuatu?" tawar Tirta.


"Boleh juga. Gimana kalau makan dimsum?" Ana menunjuk ke arah restoran dimsum menggunakan dagunya. Tirta pun menoleh kemudian mengangguk setuju. Mereka lantas melangkahkan kaki menuju restoran dimsum tersebut dan mulai memesan setelah duduk di dalam sana.


Setelah pesanan diantar, mereka pun mulai menyantap makanan mereka dengan lahap sambil sesekali bercerita dan bercanda.


"Tirta ... " seru seorang perempuan membuat Tirta dan Ana pun menoleh. "Ya, ampun, kok kita ketemu terus sih? Kayaknya ini sinyal-sinyal jodoh deh. Hehehe ... " ujar perempuan itu yang langsung saja mengambil tempat duduk tepat di samping Tirta. Tirta terperangah, sedangkan Ana mengerutkan keningnya melihat sosok perempuan cantik itu..


'Apa tak ada sedikitpun perasaanmu padaku?' Tirta membatin dengan hati yang mulai gerimis.


"Eh, sorry kil, gue terkejut aja loe tiba-tiba ada di sini juga. Sama siapa loe?" Melihat Ana tampak biasa saja, membuat Tirta mencoba membuat peruntungan dengan merespon Melan dengan baik.


"Kal kil kal kil, gue manggil nama loe baik-baik malah dipanggil dekil lagi dekil lagi," protes Melan dengan bibir mengerucut.


"Lha, apa salahnya? Loe nggak ingat apa loe tiba-tiba chat gue panggil Nyet, jadi giliran dong."


"Eh, btw loe sama siapa? Adik loe ya?" tanya Melan yang penasaran dengan sosok Ana. Melan tahu Tirta memiliki seorang adik perempuan karena itu ia mengira Ana adalah adiknya. "Hai, kenalin, gue temen Tirta, Melan," ujar sambil mengulurkan tangannya ke arah Ana. Ana pun menyambut tangan itu dan mereka pun bersalaman.


"Ana."


"Kalian habis ini mau ke mana? Gue sebenarnya mau nonton, tapi temen gue mendadak batalin rencana kami gara-gara ortunya sakit," ucap Melan dengan wajah cemberut.


"Kami juga mau nonton. Loe nonton apa?" tanya Tirta sambil melirik Ana yang tampak begitu santai. Cemburu dong, cemburu dong! Alamak, cemburu kek! Gerutu Tirta dalam hati.


"Aku mau nonton One piece, kalian?"


"Wah, kita sama kak!" timpal Ana ceria.

__ADS_1


"Wah, asik dong, kita bisa nonton sama-sama, boleh kan Ta!" Melan tiba-tiba merangkul tangan Tirta, tapi lagi-lagi Ana tampak santai. Gerimis di hati Tirta makin deras.


'Ya ampun, apa kamu nggak punya rasa sedikitpun sama aku sih, Na?'


"Ya udah, ayo!" Kesal karena Ana tampak menghiraukannya, Tirta pun membiarkan Melan bergelayut di lengannya. Kepalang basah, biarin ajalah pikirnya. Kesal juga lama-lama diabaikan.


"Tapi selesaikan dulu makannya. Atau perlu aku bantuin habisin?" Tanpa permisi, Melan lantas mengambil sumpit di tangan Tirta dan mengambil dimsum kemudian melahapnya. Lalu Melan mengambil lagi dan mencocolnya ke saus yang ada kemudian menyodorkannya ke mulut Tirta. Tirta pun membuka mulut dan memakannya. Mereka lantas makan sambil bercerita berbagai hal termasuk membahas masa lalu mereka saat masih berseragam putih abu-abu. Keduanya tampak begitu menikmati perbincangan mereka sampai mengabaikan keberadaan Ana yang lambat laun mulai berubah.


20 menit sebelum film dimulai, Tirta pun segera beranjak dari tempat duduknya diikuti Melan dan Ana. Melan sejak tadi terus menggandeng Tirta.


"Dek, kakak kamu masih single kan? Gimana, aku cocok nggak sama kakak kamu ini?" Melan memainkan alisnya meminta pendapat pada Ana yang mulai kesal. Tapi sebisa mungkin ia berekspresi ceria di hadapan kedua orang itu.


"Oh, cocok kok! Cocoooook bangeeeet." Ana tersenyum misterius. Tapi Tirta tidak menyadarinya. Hatinya kadung kesal karena Ana tidak mencoba meralat sangkaan Melan tentang dirinya yang dikira adiknya.


"Tuh, Ta, adikmu aja bilang kita cocok banget. Kamu kan jomblo, aku jomblo, kenapa kita nggak jadian aja?"


"Emmm ... gimana ya?" Tirta melirik Ana yang memutar bola matanya jengah. "Eh, kita beli popcorn dulu aja gimana?" Tirta mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.


"Kamu benar. Dek, tolong beliin popcorn dan minumannya ya! Nih uangnya," Melan lantas menyerahkan lembaran merah pada Ana membuat wajah Ana berubah masam. Dengan jalan sambil menghentakkan kaki, Ana pergi dari hadapan Tirta dan Melan. "Dek, aku popcorn nya rasa caramel ya! Minumnya latte dingin, Tirta juga. Itu minuman favoritnya." pekik Melan lagi membuat Ana yang mulai menjauh mengepalkan tangannya.


Setelah melihat punggung Ana menjauh, kedua orang itu pun tergelak kencang. Mereka bertos ria.


Ya, sebelum menjemput Ana tadi, Tirta sempat berkirim pesan dengan Melan. Ia bertanya tentang banyak hal termasuk bagaimana cara meluluhkan hati seorang perempuan. Tirta juga menceritakan tentang dirinya yang menyukai seorang gadis, tapi gadis itu sepertinya tidak memiliki perasaan apapun padanya. Oleh sebab itu, Melan memberi saran untuk membuat Ana cemburu. Caranya dengan ia ikut bergabung saat mereka jalan bersama. Tirta pun setuju. Berharap Ana cemburu melihat kedekatannya dengan Melan. Tapi kenyataan tak sesuai ekspektasi, Ana tampak biasa saja.


"Dia kayaknya biasa aja tuh, Lan!" gumam Tirta dengan wajah ditekuk.


"Ini awalnya aja. Santai. Jangan terlalu jadi beban. Semua butuh proses. Yang penting akting kita kudu lebih meyakinkan siapa tahu, sepulang dari sini dia mau jadi pacar loe. Hahaha ... "


Tirta mencebikkan bibirnya, "nggak yakin gue."


"Cih, dasar lemah, dasar payah, dasar cemen juga," ejek Melan.


"Loe ya kalau ngatain suka bener." Tirta tergelak.


"Yaelah, gue pikir dikatain bakal marah, eh malah membenarkan."


"Mau gimana lagi, gue pun merasa gue lemah banget."


"Kasihan. Yang jomblo akut ya gitu. Maklumlah, masih amatir jadi baru gini aja udah frustasi banget," ejek Melan.


Tirta memberengut masam, "sialan loe."


Mereka lantas tertawa bersama. Di saat yang sama, Ana muncul dengan wajah ditekuk masam.


"Nih, popcorn dan minuman kalian," seru Ana seraya menyodorkan popcorn dan minuman Tirta dan Melan.


"Thanks ya, dek. Calon adik ipar yang baik," ucapnya seraya tersenyum penuh arti. Berbanding terbalik dengan wajah Ana yang ditekuk masam.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 😍😍😍...


__ADS_2