Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
89


__ADS_3

"Mas bagian isi polibag dengan tanah aja, urusan menanam bunganya, biar aku aja," ujar Freya sembari membuang daun-daun yang sudah menguning. Freya ingin menanam bunga di pekarangan rumah. Melihat apa yang dikerjakan istrinya itu, Abidzar pun jadi ingin ikutan membantu. Mumpung hari libur soalnya jadi ia ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan istrinya.


"Sayang, sini deh!" panggil Abidzar yang justru tak merespon ucapan Freya. Freya lantas menoleh dan tiba-tiba saja Abidzar menyelipkan sekuntum mawar merah di balik telinga Freya. Freya yang mendapatkan perlakuan manis itu sontak saja tersipu sampai-sampai pipinya memerah bagai kepiting rebus.


"Mas apaan sih! Ada-ada saja," gumam Freya sambil tersipu malu.


"Tapi suka 'kan?" goda Abidzar sambil mengerlingkan sebelah matanya.


"Udah ah, kapan selesainya ini kalau Mas gangguin mulu. Dari pada ngerecokin, mending Mas pergi sana. Gangguin aja, bantuin kagak."


"Iya, iya, ini Mas bantu," ujar Abidzar yang kemudian mengisi beberapa polibag dengan tanah yang dibeli dari penjual tanaman. Menurut penjual tanaman, tanah itu sudah di diberi pupuk jadi mereka tak perlu bersusah payah memberi pupuk lagi. Kemudian polibag itu Abidzar serahkan kepada Freya. Freya lantas mulai menanam bibit tanaman yang juga dibelinya dari penjual bunga keliling.


Freya tersenyum lantas ia pun menyelipkan sekuntum mawar putih di balik telinga Abidzar. Abidzar lantas menoleh kemudian mereka terkekeh bersamaan.


"Mas cantik kalau kayak gitu," ujar Freya yang sudah terkekeh.


"Apa? Cantik? Yang benar saja, Mas laki-laki tulen lho. Kamu sendiri sudah membuktikannya kan seberapa gagahnya suamimu ini," tukas Abidzar dengan suara sedikit keras membuat wajah Freya memerah karena malu.


"Mas, mulutnya itu ih ... lemes banget. Malu tau." Bagaimana tidak, mereka menanam bunga tak jauh dari gerbang masuk. Di sana tampak pak Tono yang sedang menyeruput kopinya. Pak Tono sampai menyemburkan kopinya gara-gara ucapan suaminya itu.


Abidzar acuh tak acuh saja. Ia malah tersenyum lebar membuat Freya mengerucutkan bibirnya.


"Mas kan bilang fakta, kenapa malu?"


"Ckckck ... emang Mas nggak tau malu. Yang dibilangin wajah kok nyasar ngomongin perihal ranjang, dasar asbun."


"Asbun?" Abidzar bingung.


"Asal bunyi." Abidzar terkekeh lantas mencubit pipi Freya gemas.


"Mas, ih, tangan Mas kan kotor kok pegang-pegang pipi aku sih?" omel Freya. Sifat dasarnya perlahan-lahan mulai muncul. Tak ada rasa canggung lagi. Abidzar senang melihat perubahan istrinya itu yang kian terbuka padanya.


"Abisnya gemes. Jadi pingin gigit."

__ADS_1


"Astaga, Mas kayaknya kamu perlu diruqiyah deh!"


"Emangnya aku kesurupan," decak Abidzar ngomel.


"Iya, Mas kayaknya emang kesurupan. Kesurupan jin bucin." Freya tergelak sendiri setelah mengucapkan itu. Tak ayal, tawa itupun menular pada Abidzar. Menikmati waktu, berduaan, sungguh menyenangkan.


Keduanya tampak saling menggoda, saling mengganggu, tawa keduanya menunjukkan betapa mereka sangat bahagia saat ini membuat seseorang yang berdiri di balik pagar merasa miris dengan dirinya sendiri. Seorang perempuan tampak memakai jaket hoodie yang menutup kepala, masker, dan kaca mata hitam, berdiri di balik pagar dengan mata menatap Freya dan Abidzar yang sedang berbahagia tanpanya.


Dia adalah Erin. Entah apa yang membawanya kemari. Maksud hati menghancurkan, tetapi kenapa justru dia yang dihancurkan?


Dengan hati yang hampa, Erin kembali ke mobilnya yang terparkir agak jauh dari rumah itu. Ia melajukan mobilnya ke tempat semalam ia memarkirkan mobilnya. Semalaman ia tidur di mobil. Untung saja ia memiliki persediaan masker jadi ya bisa mampir sebentar ke toko pakaian untuk membeli beberapa potong pakaian. Ia juga menumpang membersihkan diri di sana sambil berganti pakaian. Erin tak mau menginap di hotel sebab ia yakin hal tersebut justru mempermudah polisi menemukannya.


Di dalam mobil, Erin menelungkupkan wajahnya di atas kemudi. Tak lama kemudian, sebuah ketukan menyadarkannya.


"Assalamu'alaikum, Neng."


"Wa'alaikumussalam, pak. Ada apa ya?" tanya Erin heran saat ada seorang bapak-bapak memakai peci dan sarung menyapanya.


"Ah, eng-nggak kok, pak."


"Lho, kalau nggak kok dari semalam Neng tidur di sini? Bahaya lho perempuan sendirian di tempat yang nggak begitu ramai kayak gini."


Erin menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dilihat-lihat sepertinya bapak itu tidak mengenalinya. Sebenarnya wajar saja dia tak kenal, namanya pak Sugeng. Dia adalah marbot di masjid yang tak jauh dari tempat mobil Erin diparkiran. Pak Sugeng tak suka menonton televisi jadi ia tidak tahu siapa itu Erin.


"Neng kayaknya sedang banyak masalah? Kalau mau cerita, Monggo, mampir ke gubuk bapak di sana. Ada istri bapak juga biar nyaman kalau mau cerita." Pak Sugeng menggestur ke arah rumah yang tak jauh dari posisinya. Entah bagaimana, Erin pun mengikuti perkataan bapak itu dan mampir ke rumahnya.


"Jadi Neng ini siapa? Kok tidur di mobil sampai semalaman?" tanya pak Sugeng yang kini sudah duduk dengan istrinya. Mereka duduk dengan lesehan. Ada meja kecil untuk meletakkan minuman dan makanan. Mereka menjamu Erin dengan beberapa potong singkong goreng dan teh manis. Seumur hidup Erin tak pernah memakan singkong goreng. Teh pun ia tak mau yang sembarangan. Semuanya harus yang premium untuk menjaga tubuhnya agar tetap bagus. Tapi entah kenapa, kali ini ia sangat ingin mencicipi singkong goreng tersebut. Jadi tanpa sungkan, ia menyantap singkong goreng tersebut dengan lahap.


'Hmmm ... ternyata singkong goreng itu enak, ya. Pantas saja bi Asih doyan bener goreng singkong buat cemilan dia.' batin Erin bermonolog.


"Eh, maaf pak, Bu, singkong gorengnya enak, jadi nggak dengar bapak tadi tanya apa." Erin malu sendiri karena keenakan makan singkong goreng sampai tidak mendengar pertanyaan pak Sugeng.


Pak Sugeng dan Bu Tira terkekeh, "monggo, dinikmati kalau enak."

__ADS_1


"Udah pak. Cukup. Terima kasih." Ucap Erin malu-malu tapi mau.


"Ya udah, bapak ulang pertanyaan bapak, hadi Neng ini siapa? Kok tidur di mobil sampai semalaman?" ulangnya lagi.


Erin menarik nafas kemudian menghembuskannya, "saya ... Erin pak. Saya orang kota yang agak jauh dari sini."


"Lho, kalau begitu, kenapa bisa nyasar kemari? Dari rupa-rupanya kayaknya Neng sedang memiliki permasalahan berat?"


Mendengar pertanyaan sarat perhatian itu membuat Erin senang. Sebenarnya Erin malu untuk bercerita, tapi ia sudah tidak memiliki tempat bercerita lagi. Segalanya ia telan seorang diri. Melihat kedua orang yang sepertinya memiliki hati baik itu membuat Erin tak kuasa menahan sesaknya. Matanya memerah kemudian tangisnya pun pecah membuat kedua suami istri itu kebingungan.


"Lho, lho, lho, kok nangis Neng? Apa pertanyaan bapak salah ya? Kalau iya, maafin bapak ya, Neng. Neng nggak perlu cerita apapun kalau berat untuk menceritakannya."


Dengan wajah berurai air mata, Erin menggeleng cepat.


"Bukan, pak. Bukan itu. Aku hanya ... hanya senang saja akhirnya ada yang menanyankan tentang diriku."


Kedua suami istri itu saling pandang. Mereka semakin yakin, tamu mereka itu memiliki permasalahan yang pelik sampai-sampai membuatnya harus melarikan diri ke tempat yang cukup sepi seperti ini.


Erin tersenyum pilu, ia pun mencoba bercerita. Entah bagaimana reaksi kedua pasangan paruh baya tersebut saat tahu keburukan dirinya selama ini.


Di lain sisi, ada seorang anak kecil yang termenung menatap hamparan bunga yang ditanam sang nenek.


"Rio kok ngelamun di sini sih?" Sapa Ryan pada sang putra.


"Papa, apa Lio ndak jadi lagi punya mama?" tanya anak kecil itu sendu.


Nafas Ryan tercekat. Padahal ia sangat tahu, putranya itu sangat ingin memiliki seorang ibu seperti teman-teman lainnya. Tapi kali ini ia laki-laki gagal memberikannya seorang ibu. Hatinya sebenarnya ikut perih. Ia merasa gagal menjadi seorang ayah.


"Apa benel kata olang, Lio itu anak halam. Anak halam itu buat sinyal jadi Lio itu selalu buat siyal, ndak bisa punya mama kayak temen-temen." Ujar Rio dengan mata yang sudah basah.


Nafas Ryan kian tercekat. Ia tak menyangka anaknya mengalami hal semacam itu. Ia bingung harus menjelaskan bagaimana, sebab Rio masih sangat kecil untuk mengerti permasalahan orang dewasa. Tak ada banyak kata, Ryan hanya bisa memeluk putranya seraya menenangkan.


...HAPPY READING 😍😍😍...

__ADS_1


__ADS_2