Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
121 S2


__ADS_3

"Apa Ananda telah siap?" tanya sang penghulu pada calon pengantin laki-laki.


"Siap, pak " Jawab calon suami Ana tersebut dengan suara lembah. Mendadak ia merasa dilema. Apalagi saat sosok calon pengantin wanitanya telah duduk di sampingnya. Untuk menoleh pun ia enggan. Ia takut mendadak ia kehilangan tekadnya untuk menikah dan malah memilih kabur dari sana. Tentu itu berbahaya. Ada dua nama keluarga besar yang harus ia jaga di sini. Ada nama dua keluarga besar yang harus ia hargai dan hormati. Bila ia pergi, sudah barang pasti hal tersebut akan mempermalukan nama dua keluarga besar itu. Tanggung jawabnya besar kali ini. Ia tak bisa mundur lagi. Karena itu, untuk mempertahankan kewarasannya, ia sengaja tidak mau menoleh ataupun melirik walaupun sedikit. Biar saja, setelah sah baru ia akan melihat secantik dan sehebat apa perempuan yang mampu mencuri perhatian dan kasih sayang nenek dan keluarganya itu.


Tirta menarik nafas dalam-dalam, namun seketika ia terkesiap saat aroma yang sangat lembut memikat ikut terhidu indra penciumannya.


"Aroma ini?" gumamnya lirih. Sangat lirih sampai-sampai tak ada yang mendengarnya.


"Ada yang ingin Ananda tanyakan sebelum prosesi ijab kabul dilakukan?" tanya sang penghulu sekaligus wali hakim Ana saat melihat gerakan bibir Tirta yang sepertinya sedang berbicara. Sebenarnya Heri bisa melakukannya, tapi ia sedang dilanda kegugupan. Padahal biasanya ia tidak seperti itu. Mungkin karena ini merupakan acara sakral jadi ia merasa gugup. Daripada melakukan kesalahan, mereka pun sepakat menggunakan Wali hakim sebagai wali pernikahan Ana.


"Ah, ti-tidak, Pak. Silahkan dilanjutkan!" ucap Tirta setelahnya.


Degh ...


Seketika bulu kuduk Ana meremang. Bagaimana tidak, suara itu ... suara itu begitu familiar di telinga Ana. Ia bahkan sampai menelan ludahnya berkali-kali dengan jantung yang berdebar-debar kencang.


"Bagaimana ini? Bagaimana aku bisa menjalani pernikahan dengan laki-laki ini, sedangkan hatiku terpaut pada laki-laki lain. Sampai-sampai suaranya pun terdengar seperti suara laki-laki yang telah mengalihkan duniaku. Aku harus apa ya Tuhan? Tolong ikhlaskan hatiku untuk melepasnya! Bantulah diriku untuk belajar ikhlas! Sebab tanpa bantuan-Mu, aku mana mungkin bisa." Doanya yang hanya mampu ia lirihkan dalam hati.


"Hahaha ... sepertinya mempelai pengantin laki-laki sudah tak sabar ingin malam pertama jadinya gugup," seloroh sang penghulu. "Sabar, masih banyak waktu, ya toh!" Tirta hanya tersenyum kikuk. Jangankan membayangkan melakukan malam pertama, membayangkan satu kamar dengan gadis yang tidak dikenalnya sama sekali saja tak terbayangkan olehnya. Bahkan sedikitpun ia tak terbayangkan rupa dari gadis yang duduk terdiam di sampingnya itu.


Kemudian, dalam hitungan detik, setelah sang penghulu memastikan kesiapan Tirta, ia pun mulai mengucapkan ikrar ijab dan kabul.


"Saya nikahkan dan kawinkan Engkau Ananda Tirta Saputra bin Arman Danendra dengan Adinda Rihanna Maulida binti Adnan Dahuri dengan mas kawin emas seberat 10 gram dan seperangkat alat sholat, dibayar tunai."


Deg ...


Dada Ana seketika bergemuruh hebat. Bagaimana bisa, di saat sang penghulu melafazkan bacaan ijab, nama laki-laki yang merupakan calon pengantin laki-lakinya terdengar sangat familiar. Mengapa nama itu terdengar sama seperti nama laki-laki yang disukainya.


Ana memejamkan mata sambil mengepalkan tangannya erat-erat. Mengapa di detik-detik genting seperti ini pun nama laki-laki itu kembali terdengar di telinganya. Ana sampai merasa dia sudah nyaris gila. Setiap hari, setiap detik, dari suara sampai namanya selalu terngiang-ngiang di telinga dan terbayang-bayang dalam benaknya. Bahkan dalam tidur pun Ana kerap memimpikan kebersamaan mereka dahulu.

__ADS_1


Setitik air mata menetes. Ia tidak boleh begini. Ia tidak bisa begini. Ini salah. Ia akan menikah hari ini. Dalam hitungan detik, ia akan resmi menjadi istri dari laki-laki yang tidak dikenalnya ini.


"Saya terima nikah dan kawinnya Rihanna Maulida binti Adnan Dahuri dengan mas kawin tersebut, tunai."


Dug dug dug dug ...


Jantung Ana berdetak sangat-sangat kencang saat mendengar suara itu. Gemuruh di dadanya kian meningkat. Bila tadi namanya, lalu sekarang suaranya yang begitu mirip.


'Ya Allah, kenapa begini? Ada apa ini? Tadi namanya, lalu sekarang suaranya. Apa aku sudah benar-benar gila?' Batin Ana meronta-ronta.


"Bagaimana saksi? Sah?"


"SAH ... " Koor semua orang yang menjadi saksi akad nikah Tirta dan Ana.


Lalu penghulu meminta Tirta menyematkan cincin kawin di jari manis Ana. Tanpa pikir panjang dan tanpa memandang ke wajah perempuan yang kini telah sah menjadi istrinya itu, ia pun mengulurkan tangannya yang memegang cincin ke depan, Ana pun tanpa mengangkat wajahnya mengulurkan tangan kirinya. Kemudian Tirta pun memegang tangan kiri Ana.. Seketika darah keduanya berdesir hebat. Bergemuruh, membuat jantung keduanya berpacu kian bertalu-talu. Ada rasa yang tak biasa saat kulit mereka bersentuhan. Ingin keduanya saling mengangkat wajah, tapi keraguan lebih mendominasi. Mereka terlalu takut kecewa. Takut tidak sesuai harapan yang tengah membuncah.


"Ana," gumamnya lirih, tapi hanya dalam hati.


Ternyata hal tersebut bukan hanya Tirta yang merasakan, tetapi Ana juga. Ana sangat hafal dengan aroma itu. Dan kecupan itu pun mengingatkannya pada Tirta. Ana sampai merutuk dalam hati, mengapa sepanjang prosesi pernikahannya ia selalu terkenang laki-laki tersebut. Bahkan ia bisa merasakan keberadaan Tirta di sekitarnya.


Lalu penghulu juga meminta Ana mencium punggung tangan Tirta, dan Ana pun menurut. Ia mencium punggung tangan Tirta dengan takdzim.


Setelah itu, keduanya pun diminta berfoto sambil memamerkan buku nikah keduanya. Keduanya pun mengambil buku nikah yang baru saja diserahkan pada mereka. Mereka pun membukanya.


Seketika mata keduanya terbelalak. Berkali-kali keduanya mengucek mata, memastikan kalau mereka tidaklah salah melihat. Tapi foto yang terpampang di depannya tak kunjung berubah.


"Bagaimana bisa? Kenapa aku selalu membayangkanmu? Mengapa aku selalu seakan melihat keberadaanmu? Merasakan kehadiranmu? Apa otakku benar-benar sudah geser? Sepertinya aku harus segera memeriksakan diri ke seorang psikolog. Aku tak mungkin terus bergini? Aku tak ingin mengecewakan pasanganku saat ini." Gumam keduanya dalam hati.


Mereka lantas mengangkat wajah lalu dengan senyum yang dipaksakan mereka memamerkan buku nikah mereka untuk diambil foto.

__ADS_1


"Mereka kapan sadarnya sih, Ma? Dari tadi nungguin momen mereka saling melihat pasangan masing-masing. Aku sampai geregetan liatnya," omel Arum yang sejak tadi menunggu momen kedua pasangan pengantin itu saling berhadapan dengan mata terbelalak karena terkejut.


"Kamu benar, Rum. Kakak kamu itu ih rasanya pingin nenek ulek-ulek, gemes banget. Kenapa sih nggak mau liat ke pasangan sendiri? Apa dia nggak penasaran sama penampakan gadis yang telah menjadi istrinya itu?"


"Tunggu Na, kok mereka bisa nggak nyadar ya sama pengantinnya? Bukannya pas akad nikah nama mereka disebutkan?"


"Kayaknya mereka saling nggak tau nama panjang masing-masing deh, Sa. Aku pun gemes banget sama mereka."


"Aku juga. Hana juga, kok nunduk melulu, apa lehernya nggak sakit? Gimana ya biar mereka saling melihat pasangan masing-masing?"


"Kalian ini bodoh apa bagaimana sih? Suruh saja fotografernya mengarahkan mereka supaya saling tatap dengan alasan untuk diambil gambar," tukas Nenek sambil geleng-geleng kepala.


Riana dan Raisa nyengir kuda. Kok mereka nggak kepikiran sih? Lantas mereka pun meminta Arum menyampaikan hal tersebut pada fotografer.


Fotografer pun menuruti permintaan Arum dan meminta Tirta dan Ana berhadapan untuk diambil gambar. Dengan perasaan tak menentu, mereka lantas melakukan sesuai permintaan fotografer tersebut. Dan ... dalam hitungan detik kedua mata mereka terbelalak. Mereka sampai mengucek mata berkali-kali. Mengundang tanda tanya di benak orang-orang yang melihatnya.


"Ana ... " lirih Tirta dengan mata berkaca-kaca. Dalam hati ia berdoa agar apa yang ia lihat ini bukanlah mimpi apalagi ilusi.


"A-ak ... " Nafas Ana tercekat. Perutnya terasa menggulung-gulung. Matanya pun tampak berkaca-kaca. Seketika pening yang sejak tadi ditahannya kian menjadi. Nafasnya naik turun tak teratur. Perlahan, penglihatannya mengabur. Dan dalam hitungan detik, Ana pun kehilangan kesadarannya membuat semua orang seketika panik termasuk Tirta.


"Ana," pekiknya saat sadar kalau yang menjadi pengantinnya itu benar-benar Ana. Bukan mimpi apalagi ilusi seperti dugaannya tadi.


...***...


Beberapa hari ini othor updatenya nggak menentu dan nggak bisa panjang ya.. Maklumlah, othor pun mau lebaran jadi mau masak-masak. Ini aja setelah ini mau isi ketupat dulu, biar entar pagi tinggal rebus. Hahahah ...


Yang udah lebaran duluan, othor ucapin Taqabbalallahu Minna Wa Minkum, Minal Aidin wal Fa'idzin, mohon maaf lahir dan batin. Love you all. 🥰🥰🥰🤩🤩🤩


...HAPPY READING 😍😍😍...

__ADS_1


__ADS_2