Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
Alasan kebencian


__ADS_3

Kebahagiaan terlihat jelas di kediaman Abidzar. Bahkan Sagita nyaris setiap hari datang untuk mengunjungi Freya yang tengah mengandung cucunya. Suami Sagita, Abraham pun telah mengetahui perihal pernikahan siri putranya. Abraham tidak banyak bicara. Apalagi pernikahan ini demi memberikannya keturunan pada keluarganya sekaligus penerus perusahaannya kelak. Abraham hanya berpesan untuk bersikap adil dan tetap memberikan perhatiannya pada Erin, istri pertamanya.


Seperti pagi ini, Sagita sengaja datang lebih awal untuk mengajak Freya ke salon and spa. Sagita yakin, selama menjadi istri Abidzar, putranya tidak pernah mengajaknya untuk perawatan kecantikan kulit dan tubuh. Untuk pergi sendiri pun, Freya pasti merasa sungkan karena merasa hanya sebagai istri siri. Pun Erin tak mungkin mau mengajaknya sebab Erin sendiri lebih sering sibuk dengan teman-temannya.


Namun mereka tidak melarang sebab bagi mereka mungkin Erin membutuhkan hal tersebut untuk menghibur diri. Apalagi dengan kenyataan diri yang tidak bisa hamil dan justru perempuan lain lah yang mengandung anak suaminya. Sebagai seorang perempuan, Sagita sadar pasti Erin sangat sedih dengan keadaannya. Ia pun pasti merasa tertekan dengan kekurangannya itu.


"Pagi, sayang." Sapa Sagita saat memasuki rumah putranya.


"Pagi, Ma." Sahut Erin sumringah. Ia yang sedang membaca majalah fashion pun lantas segera berdiri dan menyambut kedatangan ibu mertuanya dengan sebuah pelukan dan ciuman di pipi kanan dan kiri.


"Mama kok datang pagi banget?" Tanya Erin seraya bergelayut manja di lengan ibu mertuanya.


"Itu, Mama mau ajak Freya ke salon and spa langganan Mama. Mumpung kamu di rumah, ikutan aja, kamu mau, Sayang?"


Hati Erin mendengkus kesal. Semakin hari perhatian semua orang terpusat pada Freya. Lama-lama posisinya akan benar-benar terancam dan tergeser oleh perempuan itu, pikirnya.


"Emmm ... emangnya nggak papa, Ma? Nanti yang ada aku ganggu lagi." Ujar Erin pura-pura sedih. Ia menundukkan kepalanya membuat hati Sagita merasa bersalah.


"Ya nggak kok, sayang. Mau bagaimana pun, kamu itu menantu kesayangan Mama. Anak teman baik Mama. Mama justru makin senang kalau kamu mau ikutan. Bukannya pergi bersama-sama itu lebih menyenangkan." Ujar Sagita mencoba membesarkan hati Erin agar tidak bersedih.


"Kalau menurut Mama seperti itu, aku mau, Ma." Sambut Erin dengan mata berbinar-binar. Sagita menghela nafas lega. Ia memang sangat menyayangi menantunya ini. Namun bagaimana bila rahasia besar Erin terungkap? Mungkinkah rasa sayang itu akan tetap ada?

__ADS_1


"Mama temui Freya dulu ya. Mau suruh dia bersiap-siap."


"Baik, Ma. Kalau begitu Erin juga akan bersiap."


Di paviliun


"Apa, Ma? Mama mau ajakin aku ke salon bareng Erin? Apa sebaiknya nggak usah, Ma?"


"Lho, kenapa? Kenapa kamu nggak mau? Apa kamu nggak nyaman karena Mama juga ajak Erin?" Sagita mengerutkan keningnya.


"Bukan, bukan begitu, Ma. Hanya saja ... apa Mama nggak malu ajakin Freya?" Freya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. "Ma, Mama pasti ingat kan, Freya ini pernah masuk penjara. Freya khawatir ada yang masih mengenali Freya. Freya hanya nggak mau Mama dipermalukan orang-orang. Bagaimana kalau ada teman, keluarga, atau kenalan Mama yang melihat Mama jalan bareng dengan Freya, pasti Mama akan mendapatkan ejekan. Apalagi kalau sampai ada yang tahu Freya sudah menjadi istri Mas Abi. Mama dan keluarga pasti akan merasa sangat malu. Lebih baik Freya tinggal aja ya, Ma. Mama bisa pergi sama Erin. Lagian Freya lebih betah di rumah. Untuk apa juga Freya perawatan. Bisa makan dengan kenyang pun Freya sudah merasa sangat bersyukur, Ma." Papar Freya membuat hati Sagita seketika teriris.


Padahal tadi ia sempat berprasangka buruk pada Freya. Ia pikir Freya tidak suka Erin diajak ikut serta, tapi ternyata itu karena dirinya merasa rendah diri. Dirinya takut mempermalukan dirinya.


"Jangan berpikir macam-macam. Kejadian itu sudah terjadi setahun yang lalu. Mama yakin semua orang sudah melupakannya. Kalaupun masih ada yang ingat, Mama tidak keberatan. Tak ada yang bisa mengontrol isi hati manusia, bukan? Biarkan mereka berbicara apa, yang penting sekarang kau bukanlah Freya yang dulu. Kau sudah berubah. Biarkan masa lalu jadi pengalaman.. Yang terpenting adalah di masa depan kau tidak akan mengulangi kesalahanmu lagi." Tutur Sagita lembut membuat mata Freya berkaca-kaca. "Jadi sekarang bersiaplah. Mama tunggu di depan ya."


Setelah mengucapkan itu, Sagita pun segera beranjak dari sana kembali ke rumah utama.


...***...


Sagita, Freya, dan Erin kini telah berada di salon kecantikan langganan Sagita. Sagita meminta karyawan salon memberikan perawatan kulit dan wajah yang terbaik pada Freya.

__ADS_1


"Sal, berikan perawatan kulit dan wajah yang terbaik untuk Freya ya! Pokoknya aku ingin Freya tampil istimewa." Ujar Sagita pada pemilik salon langganannya.


"Jeng Gita tenang aja, kami pasti akan melakukan yang terbaik. Tapi ngomong-ngomong siapa si cantik ini? Aslinya dia ini cantik banget lho. Cuma butuh vermak tipis-tipis aja kayak facial soalnya kulitnya agak kusam, luluran, meni pedi, dan creambath. Tubuhnya juga proporsional. Udah kayak selebgram." Ujar perempuan bernama Salsa itu sambil mengitari tubuh Freya. Ia juga memegang rambut Freya. Memperhatikannya dengan detil.


"Dia ini sebenarnya menantuku. Ssst ... jaga rahasia ya!" bisik Sagita membuat Salsa menutup mulutnya dengan mata membulat.


"Oh my God. Jeng serius? Bukannya anak jeng Gita cuma satu ya? Apa putra Jeng poligami?"


Sagita mengangguk, "tapi ini atas permintaan istri pertamanya kok."


"Wah, menantu Jeng hebat banget. Baru kali ini aku dengar ada istri yang meminta suaminya nikah lagi. Aku sampai speechless. Ya udah, mari Jeng, kita ke ruangan perawatan."


Sepanjang perawatan di salon langganan Sagita, hati Erin tak henti-hentinya menggerutu. Ia benar-benar benci dengan situasi ini. Apalagi pemilik salon ini sejak tadi tak henti-hentinya memuji kecantikan Freya.


Hal inilah yang Erin benci sejak dulu. Freya selalu saja jadi pusat perhatian orang-orang. Kecantikannya selalu saja menjadi buah bibir banyak orang. Tak sedikit laki-laki yang akhirnya jatuh hati padanya. Bahkan setiap laki-laki yang Erin sukai selalu saja lebih memilih Freya. Hal itulah yang mendasari kebencian Erin pada Freya.


Dan kini, lagi-lagi perhatian orang-orang masih saja terpusat padanya. Bukan hanya Abidzar yang kini makin terang-terangan memberikan perhatian pada Freya, tapi juga mertuanya. Bara kebencian Erin makin besar dan berkobar. Padahal tujuannya menarik Freya ke dalam kehidupannya selain untuk memanfaatkan rahimnya, tapi juga untuk membalaskan dendamnya. Ia ingin membuat hidup Freya makin merana. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.


'Kenapa semua orang justru berbalik peduli dan sayang padanya? Semua orang juga kini perhatian padanya. Sial. Mengapa yang terjadi justru sebaliknya. Benar-benar menyebalkan. Ini tak boleh dibiarkan terjadi. Aku harus segera melakukan sesuatu sebelum segalanya benar-benar terlambat.' batin Erin dengan kedua tangan terkepal di sisi kiri dan kanannya.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 😍😍😍...


__ADS_2