
Tepat jam 3 sore, Erin tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Ia terbangun karena mimpi yang membuatnya begitu kesal dan marah. Dalam mimpinya, ia melihat Freya dan Abidzar tengah tertawa bahagia dengan bayi mereka. Sedangkan dirinya hanya bisa menatap kebahagiaan mereka layaknya keluarga kecil bahagia dengan sorot mata penuh kesedihan.
Dadanya seketika bergemuruh. Rasa panas terbakar memenuhi rongga dadanya. Melihatnya dalam mimpi saja mampu membuatnya begitu marah, apalagi bila melihatnya secara langsung.
Erin sadar, Abidzar telah benar-benar berubah. Rasa cintanya pada Freya tidak pernah benar-benar hilang dan kesalahan fatalnya adalah membawa Freya masuk ke dalam kehidupannya. Sungguh, Erin sangat menyesali keputusannya itu.
Kenapa harus Freya? Erin tak henti-hentinya merutuki kebodohannya membawa Freya masuk ke dalam kehidupannya. Padahal maksud hati ingin membalaskan dendamnya dengan menyakitinya sedikit demi sedikit dan perlahan-lahan, tapi yang terjadi sungguh di luar ekspektasi. Bukannya tersakiti, Freya justru mendapatkan limpahan cinta dan kasih sayang. Bukan hanya dari Abidzar, tapi juga kedua orang tuanya.
Erin gelisah. Ia telah kehilangan Ryan. Ia tak mau juga kehilangan Abidzar. Kehilangan Abidzar sama saja kehancuran dirinya. Ayahnya pasti takkan menerimanya lagi. Bahkan bisa-bisa ia dibuang karena telah melakukan kesalahan fatal. Ini baru satu kesalahan saja yang Abidzar ketahui, bagaimana bila rahasia besar lainnya juga Abidzar ketahui.
"Tidak, tidak. Itu jangan sampai terjadi. Mas Abi tidak boleh tahu mengenai Ryan dan Rio. Apalagi Ryan telah memutuskanku, sudah pasti dia takkan mau menemui ku lagi. Sebenarnya aku tak rela, tapi sementara ini sepertinya itu yang terbaik. Dengan begitu Mas Abi takkan mengetahui kebohongan ku mengenai Rio dan Ryan."
Erin kira Abidzar belum mengetahui mengenai kebohongannya di masa lalu. Jadi dia masih bisa bersikap tenang.
Erin kembali mengingat mimpinya. Ia jadi kesal bukan main main. Erin lantas beranjak dari tempat tidurnya dan bersiap-siap menemui Freya.
...***...
"Erin," ucap Sagita saat melihat kedatangan Erin ke rumahnya. Sagita masih menyambut Erin seperti biasanya. Dengan lembut dan penuh perhatian, Sagita menyambut Erin dan mempersilahkannya duduk.
Saat datang ke sana, Sagita ternyata sedang duduk bercengkrama dengan Freya di taman rumahnya. Hari itu Sagita tidak memiliki kegiatan apapun jadi ia mengajak Freya untuk berbincang sambil menyantap kue buatan mereka tadi.
Freya yang melihat kedatangan Erin hanya mengulas senyum tipis. Tak disangka, Erin justru menyapa dirinya.
"Hai Fre, sepertinya kau bahagia banget ya."
"Eee ... yah, begitulah." Hanya itu yang bisa Freya ucapkan.
__ADS_1
"Kamu bagaimana kabarnya?" tanya Sagita. Ia merasa tak enak sendiri karena akhir-akhir ini mengabaikan menantu pertamanya itu.
"Hmmm ... ya gini, Ma. Sebenarnya kurang baik soalnya telah terjadi kesalahpahaman antara aku dan Mas Abi. Mas Abi sampai marah dan hindari aku. Bahkan Maa Abi sengaja tak pulang-pulang." Ucap Erin sendu..Mata Erin tampak berkaca-kaca membuat Sagita yang memang hatinya lembut merasa bersalah. Ia lantas mengusap punggung Erin dengan lembut.
"Kamu jangan khawatir, nanti Mama akan nasihati Abi. Maafkan Abi ya." Tutur Sagita membuat Erin mengulas senyum yang terlihat seperti dipaksakan.
"Ini bukan salah Mas Abi, Ma. Memang semua salah Erin. Erin maklum. Karena itu Erin ke sini, selain mau bertemu Mama dan Freya, Erin juga mau minta maaf dengan Mas Abi."
"Ya udah, nanti kalian selesaikan masalah kalian baik-baik. Kalau Abi masih saja keras kepala, biar Mama yang akan turun tangan."
"Makasih ya, Ma." Erin pun memeluk Sagita sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Duh, Mama ke belakang dulu ya. Kamu duduk saja di sini. Sekalian Mama mau minta art kita siapkan kamu minum." Ucap Sagita seraya berdiri.
"Mama nggak perlu repot-repot, Ma. Erin bisa ambil sendiri nanti."
"Udah, siapa yang repot-repot. Mama sekalian mau ke belakang juga." Sagita pun segera beranjak dari sana meninggalkan Erin dan Freya.
"Aku tidak merebut apa-apa darimu. Kenapa kau masih saja menyalahkan ku atas segala yang terjadi?"
"Masih tidak sadar diri. Heh, perempuan sialan, apa kau lupa, sejak kehadiran mu, Mas Abi jadi mengabaikan ku. Mama Sagita pun lebih memperhatikan mu, lalu kau bilang kau tidak merebut apa-apa dariku? Apa kau puas telah berhasil membuatku diabaikan semua orang, hah?" desis Freya.
"Dan kau jangan lupa, aku ada di sini karena ulah siapa? Kau yang menyeretku masuk ke dalam permainan mu dan aku ada di sini pun karena sikapmu yang jahat. Mas Abi membawaku ke sini hanya untuk kenyamanan dan keselamatan bayi dalam kandungan ini. Andai kau tak buat ulah, Mas Abi takkan mungkin mengabaikan mu. Aku pun tidak sejahat itu untuk merebut apa-apa milikmu."
"Kalau kau memang tak berniat merebut apa-apa milikku, maka tinggalkanlah Mas Abi. Bersembunyilah sampai anakmu itu lahir. Setelahnya, berikan anak itu dan pergilah sejauh-jauhnya. Jangan pernah menampakkan diri walaupun ujung hidungmu di hadapan kami, bagaimana? Kau bisa?"
Freya terhenyak dengan apa yang Erin katakan. Ia tak menyangka, Erin bisa memintanya pergi seperti itu. Kemudian menyerahkan anaknya setelah lahir nanti. Memang sejak awal seperti itulah kesepakatan mereka, tapi membayangkan anaknya diambil dan tidak diizinkan melihatnya sama sekali, jelas saja membuatnya gelisah. Ia sudah terlanjur begitu menyayangi anak yang ada di dalam kandungannya. Bagaimana bisa ia meninggalkannya saat hatinya merasa tak rela?
__ADS_1
"Kenapa diam? Aku harap kau setuju? Tenang saja, aku akan memberikan uang yang banyak untuk kebutuhanmu. Yang perlu kau lakukan hanya menjaga anak itu sampai lahir dan menyerahkannya pada kami. Setelah itu, kau pun bebas seperti yang pernah aku sampaikan dulu. Bagaimana? Kau mau kan? Itu kalau kau memang masih memiliki hati nurani dan tidak mau disebut sebagai pelakor."
Freya kebingungan harus menjawab apa, sehingga suara seseorang menginterupsi percakapan mereka. Membuat Erin yang tadinya berbicara dengan nada angkuh seketika menegang.
"Freya tidak akan pergi ke mana-mana." Ucap seseorang tegas. "Mau hari ini atau sampai kapanpun, aku takkan membiarkan Freya pergi dari sisiku. Dia istriku. Hanya aku yang berhak atas dirinya. Dan dia hanya bisa pergi atas perintahku. Jadi selama aku memintanya tetap di sisiku, maka takkan ada yang boleh mengusiknya apalagi menjauhkannya dariku. Kau paham?" Tegas orang itu yang tak lain adalah Abidzar.
"M-Mas, bu-bukan begitu maksudku."
"Jadi apa maksudmu? Apa kau pikir aku tuli dan tidak bisa mendengar kata-katamu? Erin, Erin, aku pikir setelah kepergianku beberapa hari ini, kau sudah mulai menyadari kesalahanmu, tapi nyatanya ... Kau masih sama. Memang sih, kalau sudah jadi watak seseorang, sulit untuk berubah." Senyum sinis terbit di bibir Abidzar.
Erin yang melihat itu mengepalkan tangannya. Namun matanya justru berkaca-kaca.
"Maaf, aku memang salah. Maafkan aku Fre, Mas. Aku memang ... hiks ... hiks ... Kalau begitu, aku pamit." Erin pun berdiri dan gegas berlari dari sana.
"Lho, Rin, kamu mau kemana? Eh, kok kamu nangis? Bi, kamu apakan Erin? Kamu masih marah sama dia? Udah Bi, masalah itu harus diselesaikan dengan kepala dingin, bukannya marah-marah."
"Nggak Ma, memang Erin yang salah kok. Kalau begitu, Erin pulang dulu ya, Ma." Setelah mengucapkan itu, Erin pun berlari dari sana.
"Rin, jangan pulang dulu. Nggak baik nyetir sambil nangis gitu?" Sagita mencoba mencegah, tapi Erin tetap berlalu begitu saja.
"Bi, kejar Erin. Mama khawatir dia kenapa-kenapa nyetir dalam keadaan nangis gitu?"
"Udahlah Ma, tak perlu khawatir. Dia itu ratu drama. Air matanya palsu. Ternyata Erin yang kita kenal, bukanlah Erin sebenarnya. Mama pasti nggak nyangka dengan rahasianya selama ini."
"Rahasia apa?" tanya Sagita penasaran.
"Belum saatnya Abi cerita, Ma. Abi masih harus melakukan sesuatu agar Mama tahu, siapa menantu kesayangan Mama sebenarnya itu. Walaupun bukti yang ada di tangan Abi sebenarnya lebih dari cukup, tapi untuk lebih pastinya, Abi harus melakukan sesuatu dulu. Abi harus menemui orang yang menjadi kunci dari semua rahasia Erin." Ucap Abidzar membuat Sagita dan Freya kebingungan sendiri. Namun mereka tak ingin banyak bertanya. Mereka memilih menunggu dengan sabar. Mereka yakin, tak mungkin Abidzar marah tanpa sebab. Pasti rahasia Erin ini begitu fatal sampai membuat Abidzar tampak begitu kesal saat melihatnya.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 😍😍😍...