Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
99


__ADS_3

"Nenek? Kenapa nenek ada di sini?" seru Tirta saat memasuki rumahnya.


"Kenapa anak nakal? Kau tidak suka melihat nenekmu di sini?" seru nenek Tirta jengkel. Matanya mendelik tajam, seakan ingin keluar dari rongganya.


Tirta terkekeh, "wanita cantik dilarang marah, entar tambah tua," seloroh Tirta yang langsung duduk di samping sang nenek dan memeluknya dari samping.


"Kau ingin mengejek nenek sudah tua, hah? Sudah masuk tidak mengucap salam, eh pake ngatain nenek tua. Dasar cucu minim akhlak."


"Dimana-mana yang namanya nenek kan pasti udah tua, nenek nggak bisa menolak fakta. Tapi tenang aja, nenekku ini tetap nenek tercantik sepanjang masa." Tirta tersenyum lebar membuat sang nenek mendengkus.


"Ta, mama dengar, istri muda Abi tadi diculik, benarkah?" tanya mama Tirta.


"Benar, Ma."


"Astaghfirullah, memangnya siapa pelakunya?" tanya mama Tirta lagi.


"Mantan art-nya sendiri. Dia dipecat karena dulu membantu Erin memfitnah Freya. Ternyata dia juga diam-diam menyukai Abi jadi dia tidak terima Abi menikahi Freya."


"Ya ampun, ada ya orang kayak gitu. Jadi gimana keadaan air Freya-Freya itu? Dia nggak diapa-apain kan?"


"Dia digampar sampai mukanya memar dan pendarahan. Jadi dia terpaksa menjalani operasi Caesar untuk menyelamatkan nyawanya dan calon anaknya. Beruntung, Abi cepat tanggap dan menemukan lokasi Freya sebab kalau terlambat sedikit saja, bisa berakibat fatal."


"Wah, jadi Sagita udah jadi nenek, Na. Dia udah punya cucu, lantas kamu kapan kasi nenek cicit, Ta? Masih ngejomblo juga sekarang? Dasar, percuma aja cakep tapi nggak laku." Si nenek memang doyan banget ngerusuh cucunya sendiri.


"Nenek, kalau ngomong suka bener," selorohnya sambil tergelak. "Sebenarnya Tirta itu bukannya nggak laku, tapi selektif. Tirta nggak mau sembarangan pilih cewek. Harus benar-benar sesuai kriteria Tirta."


"Halah, kriteria-kriteria, kalau nggak laku ya nggak laku aja, nggak usah ngeles."


"Heh Juleha, ente kadang-kadang ente ... "


"Apa? Nggak terima dikatain nggak laku?" ejek nenek Tirta.


"Pa, kenapa Papa bisa punya ibu gini amat sih? Biasanya nenek itu paling sayang sama cucunya, tapi nenek satu ini ngerusuh terus," adu Tirta pada sang ayah yang sedang memainkan tabletnya.

__ADS_1


Ayah Tirta membenarkan kaca matanya dan mengalihkan tatapannya pada Tirta.


"Cih, mengadu! Dasar nggak tau malu."


"Nenek ... "


"Itu karena nenek kamu sayang sama kamu, coba kalau nggak sayang, udah dilempar ke empang kamu jadi pakan ikan lele," balas ayah Tirta membuat ibu Tirta geleng-geleng kepala. Sedangkan si nenek malah cengar-cengir nggak jelas membuat Tirta dongkol setengah mati.


"Ya, ya, ya, ibu dan anak sama saja," sengit Tirta mengarah kepada ayah dan neneknya. "Bukannya doain biar bisa dapetin jodoh, malah ngejek mulu. Apes banget punya nenek kayak gini."


"Apa kamu bilang? Apes? Nih, apes ... " Nenek Tirta lantas memukuli Tirta dengan bantal sofa membuat ibu dan ayah Tirta tergelak.


"Makanya Ta, buruan bawa calon mantu ke sini, biar nenek kamu nggak rusuh lagi. Nenek kamu itu udah ngidam pingin punya cicit, tau nggak," ucap mama Tirta membuat Tirta mendengkus.


"Sabar kenapa sih? Namanya juga masih usaha."


"Masih usaha? Oh jadi kamu udah ada target nih? Spill dong orangnya kayak gimana?"


"Idih, nenek gue kok gaul amat pake spall spill spall spill segala," balas Tirta kocak membuat sang nenek memutar bola matanya jengah.


"Ya Allah, nenek Tirta kenapa kayak gini amat Ya Allah. Apa salah dan dosa Tirta sampai punya nenek aneh kayak gini?" Tirta menengadahkan tangannya ke atas.


Plak ...


"Dasar cucu kurang ajar, punya nenek gaul salah, punya nenek kampungan entar salah juga."


"Ya, minimal waras sedikit lah, Nek. Sesuaikan sama umur. Kalau kayak gini kan ... ckckck ...


"Apa kamu bilang? Minimal waras sedikit? Kamu anggap nenek gila apa?" Nenek kian nyolot dan melotot.


Tirta malah nyengir kuda membuat sang ibu mengelus dada, "kalian berdua ini udah kayak tom and Jerry, nggak pernah akur."


"Maklumlah Ma, mereka baru bisa akur kalau Tirta udah bawa menantu. Papa juga sebenarnya nggak sabar nunggu saat itu. Jadi gimana, Ta? Udah ada hilalnya belum?" Tanya Ayah Tirta.

__ADS_1


Tirta menyengir lebar, "papa tenang aja, ada kok. Tapi masih on process jadi doain Tirta ya," ucap Tirta seraya tersenyum lebar.


"Hah, jadi yang tadi beneran! Spill ceweknya kayak gimana? Siapa dia? Namanya siapa? Ayo, ayo, nenek udah nggak sabar mau punya cucu menantu," ujar Nenek Tirta tidak sabaran.


"Oh tidak bisa, Juleha yang cantiknya sekampung anyeb. Sorry, dorry, morry, stroberry, ini rahasia. Biarkan nanti jadi kejutan setelah cucu nenek yang paling ganteng ini berhasil mendapatkannya. Soalnya aku pun belum tau apa-apa tentang dia. Masa' aku bilang dia art-nya Abi sih. Meskipun nggak masalah, tapi kan lebih bagus kalau setelah tahu lebih jelas tentangnya. Aku masih harus mengungkap, siapa Ana sebenarnya."


Nenek Tirta Mendengar, "Cih, sok rahasia-rahasiaan. Awas aja kalo bohong, entar nenek jodohin kamu sama cucunya teman-teman nenek."


"Aku serius lho, Nek. Beneran. Doain yah, yah, yah, cantik. Nenek cantik, mukanya jangan ditekuk dong. Entar fillernya jadi sia-sia."


"Enak aja, siapa yang pake filler? Kulit nenek mah emang asli masih kencang ya. Tiap hari perawatan herbal. Makanya Nenek masih awet muda sampai sekarang. Malah mama kamu sampai kalah cantiknya sama Nenek."


Ibu Tirta mendengkus, ibu mertuanya emang begitu. Rada-rada ...


"Iya, mama memang yang tercantik. Kembang desa sejagad."


"Tuh kan, mama kamu aja ngakuin." Nenek menjawab dengan jumawa. Tirta mengulum senyum, neneknya ini memang unik.


"Oh ya, Ta, tadi ada yang cariin kamu," ujar Ibu Tirta.


"Siapa?" tanyanya.


Ibu Tirta mengedikkan bahunya, tak tahu. "Tapi dia ninggalin kartu namanya. Dia minta kamu segera hubungi dia. Ada hal penting yang ingin dia tanyakan katanya." Kemudian ibu Tirta pun menyerahkan kartu nama orang tersebut.


Dahi Tirta berkerut saat membaca nama yang terpampang di kartu nama tersebut.


"Martin Leonardo? Siapa dia?" gumam Tirta yang tidak mengenal siapa itu Martin Leonardo.


Sementara itu, di kediaman baru Abidzar, tampak Ana sedang melamun di taman sambil memandangi selembar foto. Wajah Ana tampak muram. Diusapnya foto yang menampakkan sebuah keluarga yang terdiri atas seorang ibu, ayah, dan dua anaknya. Ya, itu adalah foto keluarga Ana.


"Ma, bagaimana kabar Mama? Ma, maaf, Hana belum bisa pulang. Ma, Hana harap mama baik-baik di sana. Semoga dia ... memang benar-benar menjaga mama seperti janjinya." Ana menghela nafas panjang. Kemudian ia menengadahkan kepalanya ke langit yang gelap gulita, "pa, Hana harus bagaimana?"


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 😍😍😍...


__ADS_2