
"Sayang, Mas pulang dulu ya." Pamit Abidzar. Hari sudah menjelang malam. Ponsel Abidzar pun tak henti-hentinya berdering. Siapa lagi yang menghubunginya kalau bukan Erin.
Sejak tadi Erin juga memberondongnya dengan pesan agar segera pulang. Tapi tak mungkin Abidzar meninggalkan Freya begitu saja di rumah orang tuanya. Sudah sejak siang berada di rumah itu saja, Freya masih merasa gugup dan canggung, apalagi bila ia meninggalkannya begitu saja. Jadi ia memilih menemaninya hingga selesai jam makan malam.
Mereka makan malam bersama orang tuanya terlebih dahulu, barulah Abidzar berpamitan dengan Freya di kamarnya semasa membujang dahulu. Selama tinggal di sana, Abidzar memang meminta Freya tidur di sana. Bukan hanya demi kenyamanan, tapi tanpa sepengetahuan Freya, kamar Abidzar memiliki kamera cctv tersembunyi. Jadi ia tetap bisa mengontrol istrinya itu selama di kamar. Ya, hanya selama di dalam kamar saja. Selebihnya tidak.
"Tapi Mas ... "
"Kenapa? Kamu masih takut? Tegang?" Freya mengangguk. "Bawa relaks aja, sayang. Lagian mama dan papa kan menyambut kedatangan kamu dengan baik, jadi nggak perlu khawatir. Mama justru seneng banget kamu ada di sini. Soalnya mama jadi ada yang temenin. Yakin deh, kamu pasti betah. Jangan-jangan nanti kamu jadi nggak mau pulang dan tinggal sama aku lagi karena betah tinggal di sini."
Freya mengerucutkan bibirnya membuat Abidzar gemas dan mengecup bibir Freya.
"Mas," protes Freya dengan wajah cemberut.
"Kamu kok makin gemesin banget sih? Ini Freya yang orang-orang kenal bukan sih?" Seloroh Abidzar.
"Emangnya Mas mau aku kayak dulu lagi?"
"Oh, no. Jangan! Aku suka kamu begini. Manja dan menggemaskan, tapi khusus denganku saja. Bagaimana?"
Freya mengangguk sambil tersenyum.
"Anak pintar."
"Anak mau punya anak?" Seloroh Freya membuat Abidzar terkekeh.
"Iya, anak yang sebentar lagi beranak." Ucapnya. Kemudian Abidzar menghela nafas pelan.
"Mas kenapa?" tanya Freya sambil memandangi wajah Abidzar yang tampak muram.
"Mas sebenarnya pingin banget temenin kamu di sini, tapi ... "
Freya lantas menggenggam tangan Abidzar erat, "Mas pun punya tanggung jawab dengan Erin. Mas harus adil. Aku nggak mau Erin makin marah karena Mas selalu memperhatikan aku. Aku nggak papa kok. Mas tenang aja. Mas pulang lah. Aku akan baik-baik saja di sini." Tutur Freya menenangkan Abidzar.
__ADS_1
Abidzar tersenyum kemudian menarik Freya ke dalam dekapannya.
"Mengapa kita harus dipertemukan di saat seperti ini? Seharusnya dulu Mas tidak menghilang begitu saja. Andai waktu bisa diputar."
"Tapi waktu tak mungkin diputar kembali. Tak perlu menyesali masa lalu. Mungkin ini memang jalannya. Kita jalani saja. Mengikuti takdir Tuhan. Bilamana kita berjodoh, Tuhan pasti kan mempersatukan kita. Percayalah, apa yang terbaik menurut kita, belum tentu terbaik menurut Tuhan. Serahkan segalanya pada Yang Maha Kuasa, sang penentu takdir kehidupan."
Mendengar kata-kata bijak Freya, terang saja membuat dada Abidzar terasa hangat. Ia mengangguk. Dalam hati ia berdoa, semoga takdir menyatukan mereka. Bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat.
...***...
"Mas dari mana? Kenapa telepon aku nggak Mas angkat? Pesanku juga kenapa nggak Mas balas-balas, hah? Kemana? Asik bermesraan dengan jalaang sialan itu? Iya?" Pekik Erin murka. Padahal Abidzar baru saja menginjakkan kakinya di ruang tamu. Bukannya menyambutnya dengan baik-baik dan tersenyum sumringah, Erin justru menyambutnya dengan teriakan kemurkaan.
Abidzar tersentak mendapatkan cecaran dengan nada meninggi tersebut. Namun sebisa mungkin ia mengontrol emosinya. Ia akui ia salah karena mengabaikan panggilan telepon dan pesan Erin, tapi itu ada alasannya. Bila ia menjawab panggilan itu dan menjelaskan, sudah pasti mereka akan berakhir dengan pertengkaran yang saling menyudutkan satu sama lain.
"Mas dari rumah mama, anter Freya kesana." Jawab Abidzar jujur.
"Mengantar perempuan itu ke sana? Kenapa? Kenapa Mas mengantarkannya ke sana, hah? Apa dia yang minta? Dia ingin merebut kasih sayang orang tua Mas juga, begitu? Setelah dia merebut perhatian Mas, lalu kini perhatian mama dan papa pun ingin dia rebut? Kurang ajar." Seru Erin dengan nada suara naik satu oktaf. Bi Asih, Mina, dan Ana sampai tergopoh-gopoh ingin melihat majikannya yang bertengkar. Mereka khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Halah, dia itu hanya pura-pura. Aku yakin. Hamil aja manja."
"Dia nggak pura-pura, Rin. Dia benar-benar sakit. Kesehatannya terganggu. Tekanan darahnya rendah. Dan yang lebih membuatnya drop adalah keadaan psikisnya. Freya tertekan. Dia stres. Kau pikir siapa yang membuatnya seperti itu?" Sinis Abidzar membuat Erin membelalakkan matanya.
"Siapa? Kau ingin menyalahkan siapa? Apa kau ingin menyalahkan ku, Mas?"
"Tak perlu kau tanya, kau yang lebih tahu."
"Kau berubah, Mas. Sekarang kau benar-benar berubah setelah jalaang itu masuk ke dalam kehidupan kita."
"Dia bukan jalaang, Erin. Bukan. Dan kau tak perlu menyalahkannya sebab kehadirannya bukan kemauannya, tapi kemauanmu. Kau yang membawanya masuk ke dalam rumah tangga kita. Bukannya aku sudah memperingatkan mu, tapi apa jawabanmu?" Balas Abidzar kesal. Ia melonggarkan dasi yang masih melingkari lehernya dan melepaskannya asal.
"Bela terus jalaang itu, Mas. Bela terus. Apa pelayannya sebegitu hebatnya sampai kau bisa berubah lebih memihaknya? Iya, Mas? Aku tak menyangka, kau pun bisa ditaklukkan oleh jalaang itu. Wajar sih, dia kan sudah berpengalaman." Cibir Erin dengan sorot mata penuh cemooh.
"Aku bilang dia bukan jalaang. Berhenti menyebutnya jalaaang, Erin karena dia tidak seperti itu."
__ADS_1
"Hahaha ... lihat, Mas pun sampai sebegitu murkanya saat aku menyebutnya jalaaang. Apa kau lupa Mas bagaimana masa lalunya? Perempuan kotor. Hina. Pelacur."
"ERIN! TUTUP MULUTMU. AKU KATAKAN DIA BUKAN JALAANG. BUKAN. ASAL KAU TAHU, AKU ADALAH LAKI-LAKI PERTAMA YANG MENYENTUHNYA. KAU DENGAR. AKULAH LAKI-LAKI PERTAMA YANG MENYENTUHNYA. AKULAH LAKI-LAKI YANG MERENGGUT KEPERAWANANNYA. AKU. KAU DENGAR, AKU. AKULAH LAKI-LAKI YANG TELAH MEMERAWANINYA JADI JANGAN KAU SEBUT DIA JALAANG KARENA DIA MASIH SUCI SAAT AKU MENYENTUHNYA." Teriak Abidzar dengan nafas memburu dan dada naik turun. Matanya melotot tajam dan rahangnya pun mengeras karena emosi.
Erin terpaku mendengar kenyataan yang baru saja Abidzar sampaikan. Tapi Erin yang keras kepala dan pantang mengalah, terang saja terus menolak kebenaran itu.
"Hahaha ... Kau pikir aku percaya, Mas? Pertama, dia kerap check in hotel sejak SMA, kedua, dia telah pernah menikah, jadi mana mungkin dia masih suci, kecuali ... dia operasi selaput dara di luar negeri sana."
Abidzar tersenyum miring, "jangan-jangan kau pun dulu melakukan itu?" Ucap Abidzar dingin membuat Erin mengerutkan kening.
"Apa maksudmu? Aku melakukan apa?" tanya Erin bingung.
"Yang kau katakan tadi, operasi selaput dara."
"Kau gila, Mas. Bagaimana bisa kau justru menuduhku seperti itu?" Kilah Erin gugup. Matanya bergetar. Seakan tak berani menatap balik Abidzar membuat laki-laki itu kian curiga.
"Bagaimana aku tak curiga sebab perbedaan rasamu dan rasanya sangat-sangat terasa. Kau mengerti maksudku 'kan?"
"A-apa maksudmu? Jangan mencoba membolak-balik fakta, Mas. Bukankah kau lihat sendiri, kau yang telah merenggut keperawananku saat itu. Darahnya terlihat jelas. Jadi jangan menuduhku sembarangan."
"Siapa yang tahu. Kau pikir saja, kapan Freya sempat ke luar negeri untuk operasi selaput dara, sedangkan ia ditangkap saat baru saja dicerai. Dan kalau aku boleh jujur, aku merasakan sesuatu yang sangat berbeda saat melakukan dengannya. Dan aku bisa merasakan kalau itu memang benar-benar yang pertama untuknya." Ucap Abidzar dingin. Entah mengapa, makin hari ia makin muak dengan sikap Erin. Ia sudah mencoba bersabar dengan sikapnya selama ini, tapi kini sikap Erin makin membuatnya benar-benar jengah.
Sementara itu, ucapan Abidzar barusan tentu saja membuat Erin cemas dan gugup. Entah mengapa ia merasa Abidzar meragukan kesuciannya saat itu. Ia mengumpat kesal, bagaimana ia bisa keceplosan mengucapkan kalimat operasi selaput dara. Sebuah kalimat yang akhirnya menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.
"Sial. Ini semua gara-gara jalaang itu. Tapi ... bagaimana mungkin dia masih perawan? Apa jangan-jangan ... "
Erin mengumpat kesal. Sepertinya ia telah ditipu mantan kekasihnya semasa SMA. Ia pernah meminta kekasihnya sendiri untuk menjebak dan menodai Freya dengan iming-iming uang yang cukup banyak. Laki-laki itu mengatakan berhasil. Bahkan ia menunjukkan foto-fotonya saat bercumbu mesra dengan Freya di sebuah kamar hotel. Tapi bila memang ia berhasil, bagaimana Freya masih perawan saat melakukannya dengan Abidzar? Kecuali saat itu memang laki-laki itu telah membohonginya.
"Sialan. Brengsekkk. Tunggu pembalasanku, Freya. Aku pastikan akan memberikan pelajaran yang takkan pernah bisa kau lupakan seumur hidupmu." Geram Erin dengan gigi bergemeretak.
...****...
...HAPPY READING 😍😍😍...
__ADS_1