
Tak terasa, hari pernikahan Freya dan Abidzar tiba. Pesta pernikahan mereka digelar dengan begitu meriah. Apalagi Tirta merupakan anak satu-satunya dari pasangan Sagita dan Abraham, jelas saja mereka tak ingin melewatkan kesempatan untuk merayakannya dengan mengundang semua keluarga, kerabat, rekan kerja, sahabat, tak ada satupun yang ketinggalan.
Tepat pukul 10 pagi, Abidzar melakukan akad nikah ulang. Untuk akad nikah, mereka hanya menghadirkan keluarga inti saja. Saat resepsi, barulah semua orang diundang tanpa terkecuali.
Dan untuk akad kedua ini, Freya diwalikan oleh Tio, selaku kakak kandung Freya secara langsung. Air mata haru menyeruak di pipi Freya. Ia tak menyangka akan menjalani pernikahan sesungguhnya, diwalikan kakaknya sendiri, dan pernikahan kami ini didasari oleh cinta. Tidak seperti pernikahan pertamanya dan akad nikah pertamanya dengan Abidzar. Freya tak bisa menutupi rasa haru sekaligus bahagianya. Air mata yang disertai senyuman manis itu menunjukkan betapa ia amat sangat bahagia.
Selepas kata 'sah' mengumandang, penghulu meminta Abidzar dan Freya saling berhadapan. Kemudian Abidzar menyematkan cincin yang mereka beli berdua ke jari manis Freya. Begitu pula Freya melakukan hal yang sama pada Abidzar. Setelahnya, Abidzar mengecup kening Freya cukup lama dan dalam. Suasana terdengar hening seolah tamu undangan begitu menghayati prosesi sakral tersebut. Setelah itu, Freya mengambil tangan Abidzar dan mencium punggung tangannya. Setitik air mata jatuh di punggung tangan Abidzar. Laki-laki itupun ikut berkaca-kaca sebagai ungkapan buncahan bahagia yang memenuhi dadanya. Ia tak menyangka, akhirnya ia bisa meratukan Freya seperti impiannya.
Dulu, saat pertama kali mengenal Freya, Abidzar langsung jatuh hati padanya. Hingga suatu ketika, ia melamun dan membayangkan akan menikahi Freya dengan pesta yang megah dan indah.
Ia memang telah menikahi Freya kurang lebih satu tahun yang lalu, tapi tak ada pesta. Tak ada tamu undangan. Bahkan keluarga pun tak ada. Tak ada seserahan. Mahar juga alakadarnya. Sungguh bukan pernikahan impian. Jauh dari kata indah. Rasanya menyedihkan untuk dikenang. Tapi ternyata itu adalah titik balik kehidupannya. Perempuan yang sempat ia benci akibat kesalahpahaman dan fitnah justru menjadi perempuan yang paling ia cintai saat ini setelah ibunya. Sungguh Abidzar sangat mencintai Freya dan Freya adalah anugerah terindah dalam hidupnya yang selalu ia syukuri di dalam setiap sujudnya.
Freya menurunkan tangan Abidzar tanpa melepasnya. Mereka lantas saling bertatap dengan senyum merekah bahagia.
"Terima kasih telah hadir dalam hidupku dan menyempurnakannya," ucap Abidzar dengan sorot mata penuh cinta.
"Terima kasih telah menerimaku apa adanya dan membuat impianku jadi nyata," balas Freya dengan binar cinta begitu indah.
"Aku mencintaimu."
"Aku pun sangat mencintaimu."
Keduanya lantas saling berpelukan. Abidzar mengecup puncak kepala Freya berkali-kali. Tak ada kata yang sanggup mendeskripsikan betapa besar rasa cinta keduanya. Tak ada kata yang sanggup mendeskripsikan betapa mereka merasa amat sangat bahagia.
Para tamu undangan bersorak sebagai ungkapan turut berbahagia. Mereka pun mendoakan agar keduanya terus bersama menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah.
Perjalanan hidup mereka memang masih panjang. Tak ada jaminan kalau mereka akan terus berbahagia. Namanya juga hidup, tak melulu ada bahagia, tak melulu akur. Silang pendapat itu sudah pasti akan ada. Kesedihan dan kehilangan bisa terjadi kapan saja. Tapi intinya, asalkan kepercayaan dan kesetiaan, serta kejujuran tetap dijaga, insya Allah rumah tangga akan tetap berjalan utuh hingga maut memisahkan.
Tirta tampak menyusut air mata yang hampir saja jatuh. Ia terharu dengan perjalanan kisah cinta sepupunya itu. Setelah drama kesalahpahaman bertahun-tahun, akhirnya sepupunya dapat bersama dengan cinta pertamanya. Sangat berbanding terbalik dengan dirinya.
Cinta pertamanya sama dengan Abidzar, tapi ia sadar diri, ia tak mungkin bisa mendapatkan Freya. Namun yang menyakitkan, saat hatinya mampu berpaling, perempuan yang ia cintai justru mencintai ayah sambungnya sendiri.
Dan ... setelah perjuangannya, ternyata akhirnya pun miris. Kini mereka yang sempat dekat jadi berjarak. Apalagi sepertinya gadis yang dicintainya itu telah memiliki gandengan lain. Ya, Tirta melihat Ana sedang menggandeng seorang laki-laki muda dengan mesra. Hatinya yang sakit kian perih melihatnya. Semakin pupus saja harapannya untuk bersama sang pujaan hati. Kalau tak malu, mungkin dia sudah meraung karena patah hati. Sungguh menyedihkan. Sad boy. Huhuhu ...
"Heh, loe nangis, Ta?" Tiba-tiba suara seorang perempuan yang amat sangat ia kenali terdengar dari sebelah kanannya. Dahi Tirta mengernyit saat melihat sosok itu yang entah sejak kapan telah duduk di sana.
'Bukannya yang duduk di sini tadi Mama? Kok tiba-tiba jadi di dekil sih?'
"Mama loe yang mempersilahkan gue duduk di sini. Dia lagi ketemu temennya di pojokan sana. Dan ... please deh, gue udah cantik-cantik gini masih dibilang dekil? Mata loe katarak?" Hardik Melan yang seakan bisa membaca pikiran Tirta membuat laki-laki itu menganga.
"Loe ... kok bisa tau isi pikiran gue? Loe dukun?"
Wajah Melan melongo, "heh, mana ada dukun secantik gue?" Sentak Melan tak terima dikatain dukun.
"Eh, jangan salah, zaman udah makin canggih, dukun sekarang pun gayanya kece-kece. Bahkan ada yang bergaya ala sosialita buat menjerat target-targetnya."
"Tirta, iih, jadi loe kira gue dukun? Enak aja. Gue bisa nebak loe mikir apa bukan karena gue dukun, makanya kalau ngomel tuh di batin, di batin, bukan di bibir. Biarpun kecil kayak bisik-bisik, tapi tetap aja gue denger, pe'ak." Omel Melan membuat Tirta membulatkan matanya. Kemudian mereka pun terkekeh bersamaan.
Dari meja lain, ada hati seorang gadis yang panas. Tangannya mengepal. Matanya merah seperti ada bara api yang menyala-nyala.
"Mbak kenapa?" bisik Heri saat melihat wajah kakak perempuannya merah padam. "Kakak sakit? Kalau sakit, kita pulang aja," imbuh Heri.
"Aku nggak papa," jawab Ana berusaha mengendalikan kekesalannya.
__ADS_1
"Tapi wajah mbak merah lho. Mbak demam lagi ya?" Heri lantas menempelkan punggung tangannya di kening Ana. "Nggak panas." Gumamnya.
Interaksi itu tak lepas dari sorot mata tajam Tirta. Hatinya panas. Apalagi saat melihat Heri membisikkan sesuatu ke telinga Ana dan menempelkan punggung tangannya di dahi Ana, dadanya seketika terasa sesak dan panas. Wajahnya bahkan telah merah padam.
Tirta memejamkan matanya, rasanya ia tak sanggup melihat interaksi kedua manusia berbeda jenis ke lamin tersebut, tapi ... ia juga tak bisa tutup mata. Ada rasa penasaran dengan kedua orang itu. Tirta sadar, dirinya cemburu berat. Rasanya tak rela ada laki-laki lain yang memperhatikan Ana selain dirinya. Tapi mau melarang pun ia tak kuasa.
Memangnya siapa dirinya?
Apa haknya melarang?
Helaan nafas berat terdengar dari bibir laki-laki yang masih mengenakan arm sling di lengannya itu. Saat Tirta kembali membuka mata, tiba-tiba saja mata mereka bersirobok. Keduanya mematung dengan kecamuk tak terjelaskan di dalam dada. Sorot mata mereka pun sulit untuk diartikan. Sorot mata itu terlihat dalam dan penuh arti. Tak mampu diselami. Mereka saling bertatap beberapa detik sampai akhirnya orang di samping mereka menyadarkan keterpakuan mereka.
"Mbak ... "
"Ta ... "
"Lagi liatin apa sih?"
"Loe lagi liatin apa sih?"
"Nggak. Nggak liat apa-apa," kilah keduanya bersamaan, tapi dari tempat berbeda.
...***...
Acara terus berlanjut. Kini para tamu satu persatu mendekati pengantin untuk memberikan selamat dan doa. Begitu pula Ana dan Tirta. Ana ditemani Heri, sedangkan Tirta ditemani Melan. Mereka mendekati pengantin dengan tangan saling bergandengan. Tanpa diduga mereka mendekati pengantin secara bersamaan.
"Eh, Ana, loe datang sama pacar loe, ya?" cetus Melan pada Ana. Baru saja Heri hendak menjawab pertanyaan itu, tapi Ana telah lebih dahulu mencegah dengan mencengkram erat lengan tangan Heri. Heri Sampai menoleh, tapi Ana menggestur matanya seakan mengatakan 'tak perlu dijelaskan '. Heri lantas menurut begitu saja.
"Eh mbak Melan. Wah, mesra sekali ya!" Ana mengucapkan itu sambil tersenyum, tapi dalam hati meringis perih. Bahkan telapak tangannya telah terasa dingin karena jantung yang terpompa bertalu-talu. "Kayaknya ada yang jadian nih? Selamat ya, Mbak. Ana ikut senang melihatnya." Ana lagi-lagi memasang senyum termanisnya. Namun berbanding terbalik dengan hati yang terasa pahit.
"Ah ... itu ... "
"Ya, terima kasih atas ucapannya. Kami memang senang akhirnya ... bisa ... emmm ya itulah. Hehehe ... " Tirta terkekeh sumbang. Tangannya yang berada di saku celana mengepal erat. Sekuat tenaga menahan perasaan cemburu kian menyiksa jiwa.
Ingin Tirta menarik lengan Ana dan membawanya pergi dari sana.
Tapi lagi-lagi kalimat 'kamu siapa? Apa hakmu ikut campur urusanku?' berdenging di telinganya. Tirta menyadarkan dirinya kalau Ana bukanlah miliknya. Ia tidak memiliki hak apa-apa untuk melarang gadis itu bersama laki-laki lain.
Kedua insan itu sibuk dengan pergolakan batinnya. Berbanding terbalik dengan Riana, Raisa, Nenek, dan Arum yang terkekeh tak jauh dari tempat mereka.
"Ide kamu emang brilian, Ri. Aku beneran nggak nyangka kalau anak-anak kita saling mengenal bahkan saling memendam rasa," tukas Raisa sambil tersenyum geli memandang kedua insan yang hanya sibuk menduga-duga dalam hati tanpa mau melakukan tindakan pasti.
"Siapa dulu mertuanya?" seloroh nenek sambil menepuk dadanya penuh kebanggaan. Raisa dan Arum terkekeh, sedangkan Riana memutar bola matanya.
"Ya, ya, ya, memang ide ini berawal dari Mama. Ya, Mama memang hebat. Mama adalah Mama mertua terbaik. Mama ia the best." Aku Riana setengah mencibir. Nenek tahu itu, tapi ia tidak peduli. Ia tetap merasa bangga sebab karena ide perjodohan ini berawal darinya. Namun siapa sangka, tanpa sepengetahuan mereka, ternyata kedua insan itu sudah saling mengenal satu sama lain. Bahkan mereka sempat sangat dekat hingga entah gelombang apa yang membuat hubungan mereka terombang-ambing tanpa kejelasan sama sekali.
"Jelaaaassa, Mama gitu lho!" ucapnya jumawa tapi justru terlihat menggelikan.
"Ma, terus misi selanjutnya apa?" tanya Arum pada sang Mama. Riana dan Nenek tersenyum lebar membuat Arum dan Raisa jadi penasaran. Lalu Riana pun mengatakan misi selanjutnya yang langsung disetujui Raisa dan Arum.
...***...
Pesta telah usai. Kini semua orang telah kembali ke kediaman masing-masing terkecuali pasangan raja dan ratu sehari hari itu. Mereka tetap berada di hotel untuk menghabiskan malam berdua.
__ADS_1
Kedua orang tua Abidzar pun ada di hotel yang sama dengan kamar berbeda. Mereka menawarkan diri untuk menjaga Abrisham. Awalnya Freya hendak menolak. Ia takut merepotkan kedua mertuanya itu, tapi mereka berhasil meyakinkan Freya kalau mereka tidak apa-apa. Mereka justru senang bisa menghabiskan waktu dengan cucu yang telah lama mereka impi dan harapkan.
Freya tampak berdiri di depan cermin rias. Ia baru saja melepaskan berbagai aksesoris yang menghiasi rambutnya dibantu MUA yang meriasnya. Kini tinggal dia melucuti gaun pengantinnya untuk segera membersihkan diri.
Tiba-tiba pintu kamar hotel terbuka kemudian dalam hitungan detik tertutup kembali. Terdengar derap langkah pelan namun pasti yang mendekat ke arahnya. Seketika Freya merasa gugup. Ia yakin itu adalah suaminya.
Padahal mereka telah menghabiskan waktu hampir satu tahun bersama, tapi tetap saja, Freya masih sering merasa gugup saat berduaan saja dengan suaminya.
Sepasang lengan kekar tiba-tiba melingkari perutnya. Darah Freya seketika berdesir hebat. Rasa hangat menjalari sekujur tubuhnya. Apalagi saat Abidzar berbisik tepat di depan telinganya membuat tubuhnya seketika meremang.
"Hello my wife," bisik Abidzar.
"M-Mas," cicit Freya gugup.
"Apa kau tahu, hari ini kau terlihat amat sangat cantik. Mas sampai cemburu saat melihat banyak laki-laki yang memandangmu dengan tatapan kekaguman. Ingin rasanya Mas mencolok mata mereka satu persatu agar tidak lagi menatapmu seperti itu," ucap Abidzar membuat Freya membelalakkan matanya.
"Mas berlebihan deh." Ucap Freya sambil geleng-geleng kepala.
"Berlebihan? Mas pikir tidak. Hal itu wajar dalam sebuah hubungan percintaan. Apalagi kamu telah sah secara hukum dan agama menjadi milik Mas. Mas tidak ridho kecantikanmu dinikmati orang lain khususnya lawan jenis," ungkap Abidzar.
Freya yang awalnya tak mau menatap Abidzar melalui cermin besar di hadapannya. Dapat Freya lihat binar cinta yang luar biasa di netra Abidzar. Freya lantas mengulas senyum manisnya.
"Lantas, aku harus apa?" tanyanya. Sebab bukan maksud hati ingin memamerkan kecantikannya.
Abidzar tersenyum kemudian melepaskan tangannya yang melingkari perut Freya.
"Tunggu, Mas ada sesuatu untukmu."
Abidzar lantas berlari menuju kopernya. Lalu ia membukanya dan mengambil sebuah paper bag dari dalamnya dan menyerahkannya pada Freya.
"Ini hadiah spesial dari Mas untukmu. Semoga kau suka," ujar Abidzar dengan tersenyum lebar.
Freya lantas menerimanya dan segera mengeluarkan isinya. Mata Freya terbelalak saat melihat isinya.
"Ini ... " Mata Freya berbinar-binar.
"Apa kau suka?" Freya mengangguk cepat.
"Mas ingin aku mengenakan hijab?" Tanya Freya memastikan. Bukan tanpa alasan ia menanyakan itu, sebab isi paper bag itu adalah sebuah gamis berwarna hijau Sage lengkap dengan hijabnya.
"Mas tidak akan memaksa. Mas serahkan kepadamu."
"Tanpa Mas pinta pun sebenarnya aku udah memiliki niat ke sana. Tapi masih ragu untuk melakukannya." Ungkap Freya jujur.
"Alhamdulillah. Bagaimana kalau kita segera mandi. Setelah selesai, kamu bisa mencoba pakai itu? Tenang aja, bajunya udah dicuci kok," ujar Abidzar dengan seringai menggoda.
"Ma-mandi bersama? Tapi ... "
"Udah, ayo. Mas udah gerah dari tadi. Apalagi hari ini kamu udah bersih dari ... ekhem ... nifas kan, Sayang. Jadi ... Mas udah bisa berbuka dengan yang mantap-mantap kan?" ucap Abidzar lagi dengan senyum yang kian menggoda. Terang saja Freya kian gugup dibuatnya.
Baru saja Freya ingin kembali menjawab kalimat suaminya, Abidzar telah terlebih dahulu membungkam bibir Freya dengan ciumannya yang panas dan bergelora. Akhirnya, Abidzar pun bisa berbuka puasa dengan yang mantap-mantap setelah berpuasa lebih dari 40 hari.
...***...
__ADS_1
...^^^HAPPY READING 😍😍😍^^^...