Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
63


__ADS_3

Malam harinya, Freya baru saja hendak tidur, tapi tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Freya pikir mungkin itu art di rumah itu atau ibu mertuanya. Tapi saat membuka pintu, yang berdiri menjulang di hadapannya justru Abidzar. Dengan senyum bodohnya, Abidzar melenggang begitu saja ke dalam kamar membuat Freya kebingungan.


"Lho Mas, kok kembali ke sini sih? Nggak pulang ke rumah?" tanya Freya kebingungan.


"Udah tadi tapi Erin nggak ada." Dustanya. "Daripada tidur sendirian, ngeloni bantal, mending ngeloni bantal hidup kan. Udah empuk, anget, nyaman lagi." Ucapnya sambil terus tersenyum sumringah.


Freya menyipitkan matanya, "Mas nggak bohong kan? Awas ya kalau bohong!"


"Ngapain bohong? Udah ah, Mas mau ganti baju dulu ya terus kita ... " Abidzar mengedipkan sebelah matanya.


"Kita apa? Nggak ada jatah ya malam ini. Nggak capek apa tiap malam skidiwikwik melulu."


"Capek? Mana ada. Bikin makin semangat iya."


"Nggak. Aku lagi bad mood."


Lalu Abidzar pun mendekat dan berjongkok di depan Freya yang sudah duduk di tepi ranjang.


"Halo baby, mau ayah jenguk nggak?" Ucap Abidzar tepat di depan perut Freya membuat wanita hamil itu melotot.


Tiba-tiba perut Freya bergerak. Seakan memberikan respon terhadap ucapan sang ayah.


Jelas saja, mata Abidzar berbinar-binar. Dengan senyum usilnya, ia menggoda Freya yang berpura-pura kesal.


"Tuh, anak ayah mau ditengokin, Bun. Jadi bunda nggak bisa nolak, ya kan dek. Adek mau ditengokin ayah 'kan?"


Dugh ...


Sebuah tendangan Freya rasakan di perutnya membuat Abidzar tertawa penuh kemenangan.

__ADS_1


"Ck ... nggak usah ngada-ngada deh, Mas. Dia itu cuma bergerak, bukannya merespon iya."


"Dek, bunda nggak bolehin ayah tengok adek, gimana nih."


Dugh ...


"Aduh ... "


Makin meledaklah tawa Abidzar. Sebaliknya Freya mengerucutkan bibirnya, namun sudut bibirnya berkedut. Ia pun merasa geli sendiri dengan respon bayi dalam kandungannya. Sejak awal, memang ia bisa merasakan kedekatan calon buah hatinya itu dengan Abidzar. Sejak mengandung, ia sering merindukan Abidzar dan kurang bersemangat bila tidak melihat Abidzar sehari saja. Bahkan kadang ia kehilangan selera makannya hanya karena tidak melihat suaminya itu satu hari saja. Dan beginilah, bayi di dalam kandungannya pun selalu merespon bila Abidzar mengajaknya berbicara. Ia tidak marah apalagi kecewa. Sebaliknya, ia senang artinya bayi dalam kandungannya memiliki keterikatan batin dengan sang ayah. Sudah dapat dipastikan juga kalau Abidzar memang benar-benar menyayangi calon buah hati mereka.


"Jadi gimana? Masih mau nolak?" Goda Abidzar membuat Freya menggigit bibirnya dengan wajah memerah.


"Kalau baby nya yang minta, mau gimana lagi? Bunda cuma bisa nurut aja." Lirihnya sambil tersenyum malu-malu membuat Abidzar senang bukan kepalang. Lalu ia pun segera melucuti pakaian yang menempel di tubuhnya membuat Freya mendelik tak percaya. Kemudian Abidzar membantu sang istri merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tak mau berlama-lama lagi, ia pun langsung menyapukan bibirnya di bibir Freya dan melu matnya dengan penuh gelora cinta.


Akhirnya, malam itupun lagi-lagi mereka habiskan dengan gelora yang membara. Kamar yang dulu jarang disinggahi itu kini menjadi lebih hangat dan berisik. Sebab setiap bermalam di sana, Abidzar pasti akan melewati malam dengan penuh gelora dan hasrat membuncah. Suara desa han pun menjadi irama paling merdu tak terelakkan. Keduanya sudah larut dalam peluh kenikmatan. Saling memberi dan menerima. Bersatu padu dalam kenikmatan tiada tara.


...***...


"Apa? Sate Padang? Kamu mau sate Padang?" tanya Abidzar mencoba meyakinkan apa yang istrinya inginkan siang itu.


"Iya, Mas. Tapi ini 'kan masih siang, kira-kira sudah ada yang jual belum ya, Mas?" Freya pun sebenarnya ragu. Tapi gara-gara melihat acara kuliner di tv yang menayangkan hostnya sedang makan sate Padang membuatnya tiba-tiba menginginkan daging bakar berkuah kari kuning itu. Terlihat sangat lezat dan menggugah selera.


Kehamilan ini memang membuatnya sangat menggemari makanan berbahan dasar daging. Justru ia mual melihat sayur-sayuran, tapi untung saja ibu mertuanya sangat pandai memasak sehingga bisa mengolah sayuran menjadi aneka makanan yang lezat tanpa meninggalkan kesan kalau makanan itu terbuat dari sayur.


"Emmm ... Mas juga nggak tahu, sayang. Tapi akan Mas usahain ya. Kamu tunggu aja. Ada yang lain?"


"Nggak, Mas. Itu aja. Makasih ya. Maaf ngerepotin." Ujar Freya yang sebenarnya tidak enak hati.


"Jangan terlalu sungkan. Ini udah kewajiban, Mas. Kalau bukan Mas yang memenuhi keinginan kamu, siapa lagi, hm? Ya udah, Mas tutup dulu. Mungkin beberapa menit lagi Mas keluar. Kamu tunggu aja di rumah. Bye." Setelah mengucapkan salam, Abidzar pun menutup panggilan telepon itu. Namun Abidzar tidak langsung pergi, sebab ia masih harus menyelesaikan beberapa berkas lagi. Tanggung bila ditinggalkan begitu saja.

__ADS_1


Setelah selesai, Abidzar pun bersiap mencari sate Padang pesanan istrinya.


"Mau kemana?"


"Nyari sate Padang." Jawab Abidzar saat berpapasan dengan Tirta. Tirta sontak melongo dan melihat jarum jam di pergelangan tangannya.


"Ini baru jam 1 lho, dimana yang udah ada jual jam segini?"


"Nggak tahu sih. Nanti sambil ngegoogling aja lah. Semoga aja ketemu. Btw, udah ada informasi mengenai laki-laki tersebut?"


Tirta menggeleng, "belum juga 24 jam, Bi. Orangnya aja baru bergerak pagi tadi soalnya ketemunya aja baru juga pagi tadi. Aneh banget lu. Ini bukan novel Bi, bilang pagi, siang udah dapat informasi. Emangnya detektif itu jin ifrit, kemana-mana tinggal cling, ngilang terus tinggal jentikan jari, semuanya udah di depan mata. Polisi aja nggak semudah itu dapat informasi. Butuh waktu dan tenaga, gila." Omel Tirta kesal.


"Aku kan cuma nanya. Malah jawab panjang kali lebar gitu. Sensi amat lu. Kayak cewek lagi PMS." Ejek Abidzar sambil melenggang begitu saja meninggalkan Tirta yang melotot kesal.


Sementara Abidzar sedang berkeliling mencari penjual sate Padang, Erin pun pulang ke rumah. Rumah itu begitu sepi. Sesepi hatinya. Ia yang kelelahan setelah semalaman berada di rumah sakit pun segera masuk ke kamar untuk membersihkan diri. Tubuhnya begitu lengket dan juga lelah.


Setelah selesai, Erin duduk di tepi ranjang. Sungguh hari yang berat. Erin tidak habis pikir, persahabatan Rana dan Lisa bisa hancur karena seorang laki-laki. Ia jadi teringat saat dokter selesai melakukan pemeriksaan, dokter tersebut menyatakan Rana keguguran. Bahkan yang lebih menyakiti, rahimnya terluka. Alhasil ke depannya, Rana akan kesulitan untuk hamil kembali. Untuk keadaan Edwin, laki-laki itu mengalami patah kaki dan tulang ekor. Pemeriksaan menyeluruh masih terus dilakukan. Namun menurut penjelasan dokter, patah tulang ekor bisa berakibat fatal bila mengenai saraf di sekitarnya. Dampak buruknya adalah kelumpuhan. Karena itu dokter terus melakukan pemeriksaan bekerja sama dengan dokter spesialis tulang.


Sedangkan Lisa, setelah tahu keadaan Rana dan Edwin, sorot matanya tampak kosong. Ia seakan tenggelam dalam duka laranya sendiri. Bahkan saat Erin menyapa perempuan itu, dia tidak merespon sama sekali. Lisa seakan kehilangan dunianya. Tubuh Lisa memang juga terluka. Ia mengalami luka di kepala dan tangannya. Namun keadaannya ini bukan pengaruh dari lukanya tersebut. Menurut dokter, Lisa mengalami gangguan pada mentalnya. Erin pun menjelaskan apa yang terjadi pada Lisa sebelum ini. Dokter pun akhirnya memahami mengapa Lisa bisa menjadi seperti itu. Tertekan, sakit hati, marah, kecewa, terluka, dan perasaan terkhianati membuat Lisa trauma. Mentalnya terganggu. Namun dokter masih akan melakukan pemeriksaan lanjutan berharap kondisi Lisa ini hanya sementara.


Erin membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Lalu ia membuka ponselnya yang begitu senyap. Padahal ia telah mencoba menghubungi Meylin untuk memberitahu keadaan Rana dan Lisa, tapi sejak kemarin Meylin tak meresponnya sama sekali. Hingga ia melihat sebuah story' WhatsApp dari nomor Meylin. Sebuah video singkat dimana ada sepasang tangan sedang menyematkan sebuah cincin di jari manis yang Erin yakini itu adalah jari Meylin. Di bawah video tersebut terdapat caption yang menjelaskan kalau itu adalah acara lamaran sekaligus pertunangannya. Erin menghela nafasnya, bahkan Meylin pun tak mau mengajaknya menyambut hari bahagianya. Entah ada apa dengan teman-temannya ini.


Namun tiba-tiba Erin mengingat sesuatu. Lalu ia kembali memutar video singkat tersebut kemudian menjeda tepat saat tangan sang laki-laki hendak menyempatkan cincin. Dipandanginya tangan laki-laki tersebut. Tangan itu sangat familiar sebab ada bekas luka yang begitu menonjol karena telah berubah menjadi keloid.


"Bukankah ini ... Tapi ... ah, nggak. Itu nggak mungkin terjadi 'kan. Bisa saja bekas lukanya saja yang sama, tapi orangnya tidak. Ya, mana mungkin Meylin mengkhianatiku. Ini pasti hanya kebetulan saja lukanya sama." Erin terus berupaya berpikiran positif. Meskipun perasaannya mulai resah, tapi ia memilih memejamkan matanya untuk melupakan sejenak segala prahara yang menimpa persahabatan dan rumah tangganya.


...***...


Makasih kakak-kakak yang udah mendoakan othor. Alhamdulillah, meskipun belum benar-benar pulih, tapi sakit kepalanya sudah sedikit ringan. Kemarin-kemarin sampai bosan, makan Bodrex migra entah sudah habis berapa keping, tapi nggak sembuh-sembuh. Sampai minta rekomendasi sama apoteker di apotek, baru pagi ini terasa lumayan. ☺️

__ADS_1


...HAPPY READING 😍😍😍...


__ADS_2