
Abidzar tampak mondar-mandir di depan pintu kamar dimana Freya sedang diperiksa oleh seorang dokter yang masih kerabat orang tuanya. Gelisah, ini yang Abidzar rasakan. Tak pernah sebelumnya ia merasa sekhawatir ini pada seseorang dan Freya adalah orang pertama yang membuatnya merasa qbenar-benar khawatir.
Padahal kalau dipikir-pikir, Freya hanya jatuh biasa saja. Tak perlu terlalu khawatir. Tapi karena jatuh ini membuat Freya pingsan, belum lagi wajah Freya yang tampak benar-benar pucat bagai tak dialiri darah, jelas saja membuat Abidzar cemas dan khawatir. Ia takut Freya mengidap penyakit berbahaya yang mengancam jiwanya.
Abidzar takut. Abidzar cemas. Ia benar-benar takut kehilangan Freya. Freya adalah cinta pertamanya dan mungkin akan jadi cinta terakhir juga. Sudah cukup ia kehilangan Freya di masa lalu, tapi tidak untuk kali ini. Meskipun ia tahu, Freya belum mencintainya, tapi baginya cukup Freya selalu berada di sisinya, maka ia akan merasa sangat bahagia.
Ceklek ...
Pintu terbuka, dokter dan Bi Asih pun keluar dari dalam kamar tamu tersebut.
"Bagaimana Tan keadaan Freya?" Tanya Abidzar membuat dokter Ratna mengerutkan keningnya.
"Boleh Tante bicara sebentar? Berdua saja." Pinta dokter Ratna.
Abidzar mengangguk. Semakin was-was lah perasaan Abidzar. Sepertinya ada hal serius yang hendak dokter Ratna sampaikan sampai harus mengajaknya bicara secara pribadi seperti ini.
"Baiklah. Kita bicara di ruang kerja saya saja, Tan." Ujar Abidzar berusaha untuk tenang. Padahal nyatanya perasaannya sedang benar-benar gusar.
Hingga sampailah mereka kini di ruang kerja Abidzar. Abidzar pun segera mempersilahkan dokter Ratna duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Tante langsung to the point saja ya, sebenarnya siapa perempuan itu? Kenapa dia ada di rumahmu? Dan kenapa pula sepertinya kau sangat perhatian dengannya?" cecar dokter Ratna pada Abidzar. Dirinya benar-benar penasaran. Ia tahu siapa istri Abidzar. Meskipun jarang bertemu, tapi tentu saja ia tahu sebab ia pun hadir di pernikahan Abidzar hampir 3 tahun yang lalu. Selain itu, Sagita, sepupunya itu pernah beberapa kali mengajak istri Abidzar ke acara keluarga mereka.
Abidzar menghela nafasnya, "namanya Freya, Tan. Dia istri kedua Abi." Ucap Abidzar lugas tanpa berusaha menutupinya sedikitpun. Sontak saja Ratna membelalakkan matanya. Ia baru tahu ternyata keponakannya ini telah menikah lagi untuk kedua kalinya.
"Kamu serius? Kenapa Tante nggak tahu?"
"Jangankan Tante, papa aja belum tahu. Baru Mama aja yang tahu, itupun nggak sengaja."
"Kamu nikah diam-diam? Gila kamu, Bi. Terus istri kamu si Erin itu gimana? Dia tahu? Atau jangan-jangan dia istri simpanan kamu? Alih-alih kamu jadiin art di sini, ternyata dia simpanan kamu, begitu?" tuding Dokter Ratna. Bukan tanpa alasan ia berpikiran seperti itu sebab dari penampilan Freya tidak mencerminkan istri dari seorang Abidzar. Meskipun ia tetap cantik dengan penampilan sederhananya, tetap saja penampilannya terlalu jomplang dengan penampilan Erin.
__ADS_1
Sontak saja Abidzar menggeleng dengan cepat. Tidak membenarkan ucapan tantenya itu.
"Bukan gitu, Tan. Memang aku nikah diam-diam sama Freya, tapi semua itu justru atas permintaan Erin sendiri. Dirinya lah yang membuat Abi harus menikah lagi. Meskipun kami nikah diam-diam, tapi bukan berarti dia simpanan Abi. Bukan. Hanya saja Abi belum bisa mengungkapkannya sebab memang ini belum waktunya."
Dokter Ratna menyipitkan matanya. Ia seperti sangsi dengan perkataan Abidzar.
"Permintaan Erin? Kamu jangan mengada-ada deh, Bi. Pasti kamu kan yang maksa mau nikahin dia. Dari caramu memperhatikannya aja Tante bisa liat kalau kau punya perasaan lebih ke dia. Sikapmu ke dia sangat berbeda dengan sikapmu ke Erin. Jujur aja Bi sama Tante."
"Aku jujur, Tan. Memang Erin yang membawa Freya masuk ke rumah ini dan memintaku menikahinya. Tentu saja Erin punya alasan. Awalnya aku kekeh nolak, tapi semakin aku menolak, semakin gigih juga Erin memaksaku menikahi Freya."
"Alasan?"
"Ya, alasan." Abidzar menarik nafas dalam-dalam. Sepertinya ia pun harus jujur pada dokter Ratna untuk tantenya itu tidak berpikir macam-macam baik dengan dirinya maupun Freya. "Alasannya karena Erin mengalami infertilitas. Tante tahu sendiri, keluarga besar kita setiap kali bertemu selalu menanyakan kapan Erin hamil. Begitu pula mama dan papa sangat menantikan kehadiran cucu sekaligus penerus perusahaan papa. Karena itulah, Erin meminta bantuan Freya. Karena saat itu Freya pun membutuhkan bantuan Erin, jadilah mereka membuat kesepakatan agar Freya mau menikah dan mengandung anakku. Setelah anak itu lahir, Erin akan mengambil anak itu. Setidaknya itulah rencana awal Erin."
"Itu rencana awal Erin. Kalau rencanamu? Sepertinya akan ada perubahan rencana?"
"Tante benar. Dari awal aku tidak setuju menikah dengan Freya sebab di masa lalu aku terlibat kesalahpahaman dengannya. Tapi kini kesalahpahaman telah terurai. Oleh sebab itu, aku memiliki perubahan rencana. Aku ingin mempertahankan pernikahan ini sebab aku mencintai Freya, Tan. Apa aku salah ingin mempertahankan pernikahan ini?"
Abidzar mengangguk membenarkan.
"Oh ya, Tante belum menjelaskan keadaan Freya. Jadi bagaimana keadaan istri Abi, Tan? Dia tidak kenapa-kenapa kan, Tan?" Tanya Abidzar kembali mencemaskan keadaan Freya.
Dokter Ratna tersenyum lebar, "tenang saja, istrimu tidak kenapa-kenapa. Tapi biarpun begitu, mulai sekarang kamu harus lebih ekstra menjaganya."
"Memangnya istri Abi kenapa, Tan? Apa dia mengidap suatu penyakit yang berbahaya?" Wajah Abidzar seketika pucat. Ia benar-benar takut itu benar terjadi.
Dokter Ratna terkekeh, lalu menepuk pundak Abidzar.
"Bukan, bukan karena itu. Tapi kamu harus lebih ekstra menjaganya sebab ... " Dokter Ratna terdiam. Ia sengaja menjeda kalimatnya untuk melihat raut panik di wajah keponakannya itu. "Selamat, kau akan segera menjadi seorang ayah. Istrimu mengandung. Baiknya nanti setelah dia sadarkan diri segera bawa ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lanjutan. Katamu tadi Freya sempat jatuh kan! Nah, peralatan Tante kan nggak lengkap jadi nggak bisa memeriksa secara menyeluruh. Belum lagi Tante hanyalah dokter umum. Jadi sebaiknya kamu bawa ke spesialis obgyn untuk memastikan bahwa ibu dan calon anakmu baik-baik saja." Tukas Dokter Ratna sumringah.
__ADS_1
Abidzar seketika mematung. Ia masih blank terhadap apa yang barusan dokter Ratna sampaikan tadi.
"Ap-apa kata Tante tadi? Istriku ... istriku hamil? Freya hamil? Tante serius? Tante nggak lagi nge-prank kan?" Cecar Abidzar gelagapan.
Plakkk ...
Dokter Ratna menepuk pundak Abidzar keras, "kayak kurang kerjaan aja pake nge-prank segala. Buruan sana, temani istrimu. Tante harus segera kembali ke rumah sakit." Ucap dokter Ratna sambil tersenyum sumringah.
Setelah kepergian dokter Ratna, Abidzar menjerit riang. Hal itu tentu saja mengejutkan bi Asih, Erin, Ana, dan Mina
Lalu Abidzar segera keluar dari ruang kerjanya dan masuk ke kamar tamu dimana Freya berada sekarang. Bersamaan itu, Freya baru saja membuka matanya. Tanpa basa-basi, Abidzar langsung berhambur memeluk Freya dengan raut penuh kebahagiaan.
"Sayang, selamat sayang. Selamat."
"Selamat?" gumam Freya yang masih sedikit pusing. Ia memijat pelipisnya bingung.
"Ya, selamat."
"Selamat untuk apa? Bukan selamat tinggal kan maksudnya?"
Abidzar terkekeh. Lantas ia mengecup bibir Freya. Masa bodoh ada yang melihatnya. Hari ini ia sedang bahagia jadi ia ingin membagikan kebahagiaan ini pada semua orang.
"Bukan dong . Selamat. Selamat, sayang. Akhirnya kau akan jadi seorang ibu dan aku akan jadi seorang ayah. You're pregnant, love. You're pregnant. Selamat, sayang. Aku mencintaimu." Seru Abidzar dengan kebahagiaan yang terpancar jelas di netranya.
Jantung Freya berdegup kencang. Tangannya sontak terangkat dan mengusap perutnya yang rata.
"Kamu beneran sudah ada di sini, sayang? Masya Allah. Terima kasih ya Allah. Terima kasih atas segala anugerah yang kau beri." Cicit Freya dengan mata yang sudah basah oleh air mata haru.
...***...
__ADS_1
Halo semuanya, maaf ya kak kalau ada typo. Tolong tandain aja ya kak kalau ada typo soalnya kalau malam ngetiknya lombaan sama mata yang mau merem. Kalau siang, lombaan sama bocil yang lagi caper. 😅
...HAPPY READING 😍😍😍...