
Setelah Tirta keluar, Freya pun segera menutup pintu dan mendekati suaminya yang tampak melepaskan pakaiannya dengan tergesa. Mungkin karena ia sudah tidak bisa menahan rasa panas yang kian menyiksa membuatnya melucuti semua pakaiannya.
"Mas," panggil Freya lirih sambil meraih pergelangan tangan Abidzar. Abidzar pun mendongak menatap Freya. "Freya ... " Antara sadar dan tak sadar, yang ia lihat hanyalah Freya. Takut hal serupa terjadi, mengira Erin sebagai Freya, Abidzar melepaskan tangan Freya dan mengucek kedua matanya kasar.
Melihat itu, Freya pun segera menghentikannya.
"Mas, ini aku ... Freya ... " ucapnya takut mata Abidzar rusak akibat dikucek terlalu kasar.
"Kau benar Freya?" Mata berkabut Abidzar memicing, memastikan yang berdiri di depannya benar-benar Freya. Meskipun kesadarannya nyaris hilang, tapi akal sehatnya tetap bekerja. Ia tak ingin lagi melakukan hubungan suami istri dengan Erin. Apalagi ia telah menalaknya. Selain itu, ia tak ingin lagi memiliki hubungan dengan perempuan yang secara agama sudah menjadi mantan istri tersebut.
Freya lantas menangkup kedua pipi Abidzar dengan telapak tangannya, "iya, Mas. Ini aku ... Freya-mu."
Mendengar itu, Abidzar menghela nafas lega lalu segera menarik Freya ke dalam pelukannya, "Freya sayang, Fre, sayangku ... " panggil Abidzar berkali-kali dengan gejolak yang kian menjadi-jadi.
"Iya, Mas," jawab Freya lirih saat Abidzar menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Freya.
"Sayang, tolong aku. I want you ... Aku ..."
__ADS_1
Freya yang paham keinginan sang suami pun segera mengambil tindakan. Ia pun menarik kepala Abidzar. Mata mereka bersirobok, lalu Freya pun segera menempelkan bibirnya. Abidzar yang sudah tak mampu mengendalikan diri lagi pun langsung menyergap bibir itu. Abidzar memagut bibir Freya sedikit kasar, tidak seperti sebelum-sebelumnya yang penuh kelembutan. Ia memagut bibir atas dan bawah Freya bergantian.
Freya tanpa sadar melenguh. Saat mulut Freya terbuka, Abidzar pun segera melesakkan lidahnya ke dalam mulut Freya dan mengobrak-abrik isinya. Mengabsen satu persatu isi di dalamnya dengan penuh gairah.
Freya mengalungkan tangannya di leher Abidzar. Nafas keduanya terengah, Abidzar pun segera melepaskan tautan bibirnya. Kemudian ia mengangkat Freya dan menghempasnya ke atas ranjang diikuti laki-laki itu yang kini telah mengungkungnya. Ia kembali menyapukan bibirnya seperti sebelumnya. Namun kali ini bibirnya tidak hanya menyapu bibirnya, tapi turun ke rahang lalu berlabuh di leher. Ia bermain di sana meninggalkan jejak-jejak merah kebiruan yang entah berapa jumlahnya. Mungkin bila Erin melihatnya, ia akan begitu murka sebab seharusnya itu Abidzar lakukan padanya, tapi justru Freya yang mendapatkannya.
Freya merasa de Javu. Mungkin seperti inilah yang Nanda rasakan saat itu. Dan yang Erin rasakan saat ini pasti sama seperti perasaannya saat itu. Dongkol setengah mati. Rasanya ingin Freya tertawa. Bukan menertawakan kemalangan Erin, tapi apa yang ia alami saat ini. Tapi sayang, bukannya menyunggingkan senyum, bibirnya justru sibuk mende sah. Apalagi saat bibir Abidzar menjilati lehernya sambil menggigit kecil-kecil dengan tangan yang sibuk mere mas bukit kembarnya cukup keras dan kasar. Sungguh, apa yang Abidzar lakukan saat ini sangat berbeda dengan biasanya. Ia tak heran, ini karena pengaruh obat perangsang yang diberikan Erin pada suaminya.
"Masss ... " Jerit Freya saat Abidzar merobek paksa baju yang dikenakannya. Melucutinya hingga polos sempurna. Begitu pula Abidzar, dengan kasar dan tak sabaran, ia melepaskan segala yang menempel di tubuhnya.
"Mas, pelan-pelan," desis Freya. Tapi Abidzar yang kesadarannya sudah sangat tipis terang saja tak menggubris. Ia hanya fokus dengan apa yang ia lakukan di tubuh Freya. Dirinya sudah sepenuhnya dipengaruhi napsu membara membuatnya tak sadar kalau perlakuannya saat itu sedikit kasar. Bahkan tubuh Freya kini telah dipenuhi jejak-jejak kebiruan akibat keganasannya.
"Masss ah ... " Jeritnya saat kepala Abidzar kini telah terbenam di sela kakinya. Kedua jari telunjuk dan jari tengahnya bermain di bawah sana. Mengobrak-abrik lubang syurgawinya. Pun dengan ibu jarinya terasa memainkan biji kedelai miliknya membuatnya menggelinjang hebat. Sesuatu yang tak pernah ia sangka akan Abidzar lakukan. Entah bagaimana reaksi laki-laki itu saat sadar nanti, apa ia akan menyesal atau bagaimana. Ia tak bisa menerka sebab ini merupakan pengalaman pertama kalinya laki-laki itu melakukan hal tak terduga seperti ini.
Freya terus menerus menjerit. Rasanya memang terlalu nikmat untuk diucapkan. Nafasnya pun sudah terengah-engah akibat permainkan panas suaminya itu. Entah berapa lama Abidzar mengeksplor sekujur tubuhnya hingga sampailah mereka di puncak permainan. Abidzar yang sudah tak mampu membendung letupan demi letupan dalam dirinya pun melesakkan miliknya begitu saja membuat Freya menjerit terkejut.
"Massss ... " Jeritnya dengan kedua tangan mencengkeram sisi seprai begitu kencangnya.
__ADS_1
Abidzar yang telah benar-benar terbakar gelora tak mampu mengendalikan dirinya. Ia menghu jam dan menghen tak milik Freya dengan begitu cepat dan kuat bertenaga. Freya sampai terhentak-hentak. Kepalanya bahkan sampai membentur kepala ranjang berkali-kali. Freya menjerit. Tapi jeritan Freya justru terdengar seperti irama musik yang indah dan syahdu membuat gelora Abidzar kian terbakar.
Freya merasakan seperti gelombang besar menggulung-gulung dirinya saat ia mencapai puncaknya. Tapi Abidzar belum juga puas. Ia belum mendapatkan kepuasan itu. Ia belum mencapai puncaknya. Ia masih dengan penuh semangat bergerak maju mundur dengan kecepatan yang benar-benar menggila. Peluh keduanya bercucuran. Freya pun jadi ikut merasa menggila. Freya merasakan sakit dan nikmat secara bersamaan.
Kini Abidzar membalikkan tubuhnya. Ia angkat sedikit bokong Freya dan kembali melesakkan miliknya dari belakang. Kedua tangannya terulur memegang kedua bukit kembarnya. Sambil menggerakkan pinggulnya, Abidzar mere mas kedua bukit kembar yang kini sudah sedikit lebih besar tersebut. Kadang kala ia juga memilin puncaknya yang kini berwarna sedikit kecoklatan. Mungkin efek kehamilan sehingga membuat perubahan di area tersebut juga. Sebab saat awal Abidzar menjamah tubuh istrinya itu, warnanya masih merah muda.
Abidzar masih terus meng hujam dan meng hentak Freya dengan miliknya. Entah sudah berapa kali Freya mengalami pelepasan, tapi Abidzar belum juga mendapatkan pelepasan miliknya. Hingga Abidzar kembali membalikkan badannya, menyatukan miliknya, dan kembali memompanya. Abidzar terus menggerakkan pinggulnya maju mundur makin cepat membuat Freya menjerit-jerit.
Jujur, Freya sudah sangat lelah, tapi apalah daya ia tak bisa menghentikan suaminya yang memang masih dalam pengaruh obat lucknut tersebut. Freya hanya bisa berdoa dalam hati semoga kandungannya baik-baik saja. Hingga tak lama kemudian, terdengar suara lenguhan dari bibir Abidzar yang disusul dirinya. Keduanya bagai digulung gelombang yang besar membuat mereka menjerit bersamaan hingga akhirnya tubuh Abidzar pun roboh tepat di samping Freya. Nafas Freya masih terengah, tapi karena tubuh yang terlalu lelah membuatnya tanpa sadar memejamkan mata kemudian tertidur. Begitu pula dengan Abidzar.
...***...
Astaga, kira-kira lolos nggak nih! Nggak terlalu vanazzz 'kan! Was-was aja udah susah payah ngetik eh taunya .... 😄😄😄
...***...
...HAPPY READING 😍😍😍...
__ADS_1