Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
132 S2


__ADS_3

Ryan baru saja mendengar cerita tentang apa yang Zoya barusan alami. Ia pun iba dengan nasib ibu satu anak tersebut. Bila dipikir-pikir, kehidupannya tak kalah miris dengan kehidupannya. Tapi yang lebih menyedihkan, Zoya dan Zaya tidak memiliki siapa-siapa untuk dijadikannya pelindung apalagi saat ada orang yang semena-mena terhadap mereka. Hanya karena mereka miskin, orang jadi bersikap semaunya dengan mereka.


Ryan menatap nanar Zaya yang tertidur di sofa ruang tamu. Kelihatan sekali gadis kecil itu tampak syok dengan apa yang barusan ia alami.


Sungguh, Ryan bingung. Permintaan Zoya terdengar begitu tak masuk akal, tapi setelah dipikir-pikir memang itulah jalan terbaik. Statusnya yang hanya single parent sebatang kara membuat kedudukannya lemah. Apalagi menghadapi orang yang memiliki kekayaan, siapa yang tak tahu, di negeri ini yang beruang yang berkuasa. Uang memiliki kedudukan tertinggi tak peduli benar atau salah yang dibela.


Ryan terang saja belum bisa memberikan jawaban. Ryan lantas meminta waktu untuk memikirkan segalanya. Apalagi, ada hati yang mesti ia jaga. Walaupun Erin mengizinkannya menikah lagi, Zoya pun merupakan perempuan baik-baik, dan juga seorang ibu yang baik, tapi itu tak serta merta membuatnya mudah mengambil keputusan.


Sebelum pulang, ditatapnya mata Zaya yang sayu. Dia baru saja terbangun dari tidurnya. Entah mengapa, tatapan gadis kecil itu tersirat sebuah harapan. Tatapan itu seolah memintanya memberikan perlindungan. Ada binar harap yang membuat Ryan tak kuasa untuk menolak harapan itu. Sebelum benar-benar pulang, Ryan lantas berjongkok di depan gadis kecil itu.


"Zaya memangnya mau tinggal sama Om?" tanya Ryan. Ia ingin tahu pendapat gadis kecil itu. Bagaimana kalau ia sudah mengiyakan permintaan Zoya, tapi gadis kecil itu justru menolak.


Tanpa Ryan duga, gadis kecil itupun mengangguk.


"Kata papa Om orangnya baik. Kata papa juga Om bisa jadi papa Zaya yang baik," ucap gadis kecil berusia hampir 6 tahun itu.


Ryan dan Zoya tertegun. Apa maksud gadis kecil itu, pikir mereka.


"Kata ayah? Maksud Zaya?" tanya Ryan yang jelas saja kebingungan. Apalagi kalau bukan karena ayah Zaya telah lama tiada. Bahkan gadis kecil itu belum pernah melihat sang ayah.


"Ayah temuin Zaya dalam mimpi. Terus di mimpi itu ada Om juga lagi main sama adek kecil cowok. Kata papa, Om akan jadi papa Zaya yang baru. Papa bilang Om orangnya baik dan penyayang jadi cocok jadi papa Zaya," papar Zaya. Sebuah jawaban tak terduga. Ingin tak percaya, tapi mana mungkin gadis sekecil itu bisa mengarang cerita kemudian berbohong. Raut wajah Zoya yang memucat pun menyiratkan kalau ia pun terkejut dengan apa yang baru saja putrinya ungkapkan.


"Kapan? Kapan papa temuin Zaya?" Tanya Zoya dengan binar kerinduan di netranya.


"Tiap malam, Ma. Papa suka ajak Zaya main."


Zoya yang mendengar kata-kata putrinya tersebut sontak saja kembali menangis. Ia benar-benar tak menduga kalau mendiang suaminya menemui putrinya dan mengatakan hal tak terduga seperti itu. Padahal permintaannya pada Ryan itu hanya spontan saja sebab hanya Ryan saja yang mampu ia percaya untuk membantunya terbebas dari ancaman Reva.


Bahkan setelah pulang ke rumah pun, Ryan masih tak dapat memejamkan matanya. Terlalu banyak hal yang ia pikirkan sampai-sampai matanya terus terjaga meski jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul 1 dini hari.


Dipandanginya wajah Rio yang tertidur di sampingnya, membuatnya kembali teringat akan wajah polos Zaya yang mengatakan kalau ayahnya mengatakan ia bisa menjadi ayahnya yang baik.


"Haruskah aku menikahi Zoya? Tapi ... bagaimana dengan Erin? Dan ... bagaimana dengan Rio? Apakah ia bisa menerima kalau aku menikah dengan perempuan lain dan menjadikannya ibunya?" Ryan bergumam lirih. Ia benar-benar gelisah. Tapi memikirkan nasib Zoya bila anaknya diambil darinya, cukup membuatnya prihatin. Ia membayangkan hal tersebut terjadi pada dirinya. Ia pun takkan sanggup bila harus dipisahkan dari Rio, buah hatinya. Sama seperti Zoya, akan ia lakukan apapun untuk anaknya, masa depannya, kebahagiaannya.


Waktu terus beranjak, perlahan rasa kantuk akhirnya menyergap mata Ryan. Tak lama kemudian, ia pun terpejam, berlabuh ke dunia mimpi dimana di sana ia bertemu seseorang yang tidak ia kenali sama sekali.


"Hai," sapa seorang laki-laki berpenampilan rapi dengan pakaian serba putih. Wajahnya terlihat berbinar cerah. Senyumnya tampak menenangkan. Sungguh, baru kali ini ia bertemu seseorang dengan aura yang begitu menenangkan dan bercahaya.


"Hai juga. Apa Anda mengenalku?" tanya Ryan heran karena di sana hanya ada mereka berdua. Terbentang hamparan hijau sejauh mata memandang membuat Ryan merasakan ketenangan yang luar biasa.


"Saya mengenal Anda, tapi Anda tidak."


Ryan mengerutkan keningnya, "bagaimana bisa?"

__ADS_1


"Tentu saja bisa."


"Maaf, aku jadi bingung."


"Ekhem ... perkenalkan, aku Rendy, ayah kandung Zaya."


Bola mata Ryan seketika membesar. Bagaimana mungkin orang yang telah tiada bisa tiba-tiba menemuinya. Ryan pun mengedarkan matanya ke sekeliling. Perlahan semuanya tampak aneh.


"Ba-bagaimana bisa? Bukankah Anda sudah ... "


Laki-laki bernama Rendy itupun tersenyum.


"Aku tidak bisa banyak bicara padamu. Waktuku hanya terbatas. Aku titip putriku dan Zoya. Aku mohon jaga dia, lindungi dia, sayangi dia. Aku percaya padamu karena kau laki-laki yang baik. Maaf kalau kami merepotkanmu. Kami ... tidak memiliki siapa-siapa lagi untuk meminta pertolongan selain padamu. Sekali lagi, aku mohon bantuanmu untuk menjaga Zaya. Kasihan dia, sejak kecil harus kehilangan kasih sayangku. Lalu sebentar lagi dia akan ... " Laki-laki itu terdiam. Seakan tak bisa melanjutkan kata-katanya. "Aku mohon, bantu kami. Terima kasih sebelumnya. Selamat tinggal."


Setelah mengucapkan itu, perlahan laki-laki itu menjauh. Lama-kelamaan, bayangannya pun menghilang terbawa semilir angin. Ryan tersentak saat sadar kalau laki-laki itu telah menghilang. Ia berlarian mencari keberadaan laki-laki yang mengaku ayah Zaya tersebut, tapi Ryan tak kunjung menemukannya. Tiba-tiba Ryan pun tersentak kemudian terduduk saya terbangun dari tidurnya. Jantungnya berdegup kencang. Matanya mengedar ke sekeliling hingga jatuh pada jarum jam yang menempel di dinding. Pukul 4 pagi lewat 15 menit. Karena mata yang tak kunjung bisa terpejam lagi, Ryan pun memilih membersihkan diri lalu bersiap melaksanakan shalat subuh.


***


Mobil Ryan melaju dengan kecepatan sedang. Entah mengapa sejak tadi jantungnya berdegup dengan kencang. Hingga tanpa sadar mobilnya justru berbelok menuju ke rumah Zoya. Ryan sendiri tak mengerti. Tapi karena sudah terlanjur tiba di sana, Ryan pun segera turun dari dalam mobil.


Rumah Zaya tampak senyap. Entah mengapa Ryan merasa sedikit aneh. Apalagi saat melihat pecahan telur di depan pintu dan jendela rumah membuat Ryan seketika khawatir.


Ryan lantas mengetuk pintu dengan kencang. Karena tak kunjung dibuka, Ryan pun berteriak hingga akhirnya pintu pun terbuka. Saat pintu pertama kali terbuka, Ryan langsung disambut oleh wajah-wajah yang basah oleh air mata. Dada Ryan seketika terasa seperti diremas oleh tangan tak kasat mata. Apalagi saat melihat wajah ketakutan Zaya membuat sesak itu kian terasa.


"Semalam, ada yang meneror kami. Ada 2 orang memakai masker melempari rumah ini dengan telur dan batu. Kami ... benar-benar ketakutan." Ungkap Zoya tergugu.


Rahang Ryan mengeras. Tanpa pikir panjang, Ryan lantas meminta Zoya segera membereskan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam mobil. Entah keputusannya ini benar atau salah, tapi hanya ini jalan satu-satunya untuk membantu Zoya dan Zaya terlepas dari rongrongan mantan adik iparnya itu.


***


"Apa? Menikah?" seru ibu Ryan benar-benar terkejut saat Ryan menyampaikan akan menikahi Zoya. Lalu mengalirlah cerita dari bibir Ryan mengenai apa yang menimpa Zoya dan Zaya.


Hati ibu Ryan yang sebenarnya memang lembut pun merasa iba dengan apa yang menimpa ibu dan anak itu. Begitu pula ayah Ryan. Tanpa pikir panjang, mereka pun akhirnya setuju. Apalagi saat melihat wajah polos Zaya yang tampak ketakutan sekaligus menyedihkan.


...***...


Dalam waktu 2 hari, persiapan pernikahan Ryan dan Zoya pun telah rampung. Hanya sebuah akad nikah sederhana sebab waktu yang digunakan untuk mempersiapkannya terlalu singkat. Para tamu undangan pun hanya keluarga dekat dan tetangga sekitar.


Tepat pada hari Jum'at, pukul 10 pagi, akad nikah pun berlangsung. Dengan sekali tarikan nafas, Ryan pun berhasil mengikat Zoya sebagai istrinya.


Dengan berderai air mata, Zoya menyalami tangan Ryan dan menciumnya. Lalu dibalas Ryan dengan sebuah kecupan di kening Zoya.


Namun, baru saja mereka selesai foto berdua sambil memamerkan buku nikah keduanya, tiba-tiba terdengar suara keributan dari luar rumah.

__ADS_1


Ternyata itu adalah suara Reva dan mantan ibu mertua Zoya. Mata Zoya seketika membeliak. Pun Zaya sudah gemetar ketakutan. Ibu Ryan yang paham situasi pun segera mengajak Rio dan Zaya masuk ke kamar Rio.


Terdengar lengkingan dan teriakan dari luar membuat Zaya ketakutan.


"Heh, sialan, apa-apaan kamu nikah lagi sama laki-laki ini, hah? Kau ingin menggagalkan rencanaku mengambil Zaya darimu, hah? Kau pikir aku akan diam saja!" teriak Reva dengan rahang mengeras dan wajah merah padam.


"Kemarikan cucuku! Kau tak layak menjaganya. Zaya lebih pantas dan aman bersama kami," tukas mantan ibu mertua Zoya tanpa perasaan.


"Nggak. Justru kalian lah yang tak berhak. Sampai kapanpun aku takkan pernah menyerahkan Zaya pada kalian," balas Zoya lantang.


"Heh perempuan sial, gara-gara kamu anakku meninggal. Gara-gara menikah denganmu putraku meninggal. Kau itu pembuat sial. Aku tidak mau nasib cucuku ikutan sial karena tinggal bersamamu," sentak ibu Reva dengan sorot mata penuh kebencian.


"Kau siapa, hah? Apa hakmu untuk mengambil putriku? Apa kau lupa apa yang kau lakukan pada kami sebelum-sebelum ini? Kau bahkan tak pernah mau mengakui putriku sebagai cucumu setiap kali kami berkunjung. Kau justru menghardik kami, mengusir kami, lantas tiba-tiba kau mau mengakui Zaya sebagai cucumu? Apa kalian sekeluarga sudah gila? Hanya karena putri kesayanganmu itu tidak bisa melahirkan seorang putri, kalian jadi seenaknya ingin mengambil putriku, jangan kalian pikir aku akan membiarkannya. Sampai aku mati pun, aku takkan pernah melepaskan anakku pada kalian, manusia-manusia munafik," sentak Zoya yang telah kehilangan kesabarannya.


"Apa yang Zoya katakan benar. Kalian sudah kehilangan hak atas Zaya. Apalagi kini dia telah menjadi putriku. Sudah menjadi tanggung jawabku untuk melindunginya apalagi dari manusia-manusia egois seperti kalian," ucap Ryan tenang, tapi menusuk.


"Siapa kau yang berhak ikut campur, hah!" sentak ibu Reva.


"Kau yang siapa berani-beraninya ingin mengambil putriku? Dia adalah Ryan, ayah sambung Zaya. Jadi sudah menjadi haknya untuk ikut campur segala urusanku termasuk melindungi putriku yang kini telah menjadi putrinya," sahut Zoya kesal.


"Kalian semua brengsekkk! Dasar perempuan pembuat sial! Kemarikan Zaya, cepat sialan!" Pekik Reva kalap. Tanpa ada yang menduga, Reva dengan cepat menarik cepolan rambut Zoya dengan sekuat tenaga membuat perempuan yang baru saja resmi menjadi istri Ryan itu mengaduh kesakitan. Ia berusaha menahan tangan Reva yang menarik kasar rambutnya, tapi Zoya sedikit kesulitan. Apalagi saat ini ia tengah menggunakan kebaya dengan bawahan songket membuatnya sulit untuk bergerak.


Ryan yang melihat istrinya dikasari pun segera bergerak untuk melerai, tapi ibu Reva menghalangi dengan memukul-mukul Ryan menggunakan tasnya.


Beberapa warga yang tadinya menonton pun mencoba membantu melerai, tapi saat mereka hendak melepaskan cekalan tangan Reva dari rambut Zoya, perempuan itu justru dengan sekuat tenaga makin menguatkan tarikannya. Karena terjadi adegan tarik-tarikan, akhirnya cengkraman Reva mengendur, tapi Reva yang seolah kesetanan justru menghempaskan Zoya sekuat tenaga sehingga tubuh Zoya terhuyung ke belakang dan terjatuh dengan kepala membentur sudut pilar yang sedikit runcing. Punggungnya pun membentur pilar tersebut membuatnya seketika luruh ke lantai dengan darah yang mengucur deras dari bagian kepala.


Ryan yang melihat kejadian tersebut tepat di depan matanya pun terkesiap. Ia pun bergegas mendekati Zoya dan mencoba menyadarkan Zoya agar tidak kehilangan kesadarannya.


"Zoya, bangun! Zoya, bangunlah! Bertahanlah, Zoya! Kita akan segera ke rumah sakit," pekik Ryan panik. Matanya telah memerah. Sekelebat pertemuannya dengan mendiang suami Zoya pun melintas di benaknya. Tiba-tiba Ryan merasa ketakutan sendiri melihat keadaan Zoya yang kian mengkhawatirkan.


Orang-orang yang melihat hal tersebut pun segera mengamankan Reva dan ibunya. Reva dan ibunya pun tak kalah syok. Mereka tak menyangka perbuatan mereka akan berakhir seperti ini.


Ryan tak ada waktu untuk meladeni Reva dan ibunya. ia dibantu warga pun segera membawa Zoya ke rumah sakit.


...***...


Padahal mau dijadiin 2 bab aja, tapi ternyata kepanjangan. Ini aja nyaris 2.000 kata. Belum yang siang. Kemungkinan besok pun akan dijadikan 2 bab dan langsung tamat. Ditunggu dukungannya kak!


Maaf, nggak bisa balas komennya satu persatu. Kondisi fisik othor semenjak H-2 lebaran benar-benar nggak menentu. Sakit kepala setiap hari. Eh berapa hari ini gigi ikutan kumat. Mau periksa ke RS, othor nggak bisa ninggalin bocil. Diajak pun nggak memungkinkan. 😓


Ditinggal masak aja jejeritan, apalagi bener-bener ditinggal. Kasian juga kakaknya jaga adiknya kalau sering rewel. Tapi tadi othor coba pesan madu vitagerg via online. Katanya sih ampuh untuk sakit kepala plus sakit lambung juga soalnya lambung othor pun sering kumat. Semoga aja ikhtiar othor berhasil. Makasih atas dukungannya ya kakak-kakak. Insya Allah besok lanjut lagi. Terus bulan depan, lanjut cerita baru. 😊


...Good night all. 🥰🥰🥰...

__ADS_1


...HAPPY READING 😍😍😍...


__ADS_2