Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
122 S2


__ADS_3

Kini Tirta tengah duduk di tepi ranjang di mana Ana sedang terbaring dengan jarum infus menancap di pergelangan tangannya. Asam lambung Ana naik, tekanan darahnya juga rendah, ditambah dehidrasi membuatnya jatuh pingsan. Mungkin hal itu terjadi juga karena syok saat melihat Tirta tiba-tiba berdiri di hadapannya.


Sampai sekarang, Tirta tak pernah menduga kalau gadis yang ia nikahi ternyata gadis yang beberapa waktu ini ia hindari. Gadis yang telah mencuri hatinya sekaligus membuatnya patah hati. Namun kini, gadis itu justru telah menjadi istrinya. Tirta merasa dadanya seakan ingin meledak. Terlalu bahagia. Ia benar-benar bahagia. Ia tak menyangka kalau gadis yang hendak dijodohkan nenek dan ibunya padanya adalah gadis yang memang ia sukai. Tirta merasa ini merupakan kejutan paling indah sekaligus luar biasa. Sebenarnya banyak hal yang ia ingin tanyakan, tapi ia ingin mengajak istrinya agar mereka bisa sama-sama bertanya dan mendengarkan.


Tirta lantas meraih tahan Ana yang tidak dipasangi jarum infus. Ia genggam erat tangan itu sambil sesekali mengecupnya.


"Na, bangun dong! Kamu nggak kangen aku? Kalau aku kangen banget lho. Kangen banget, banget, banget. Ayo bangun, Sayang." Ucap Tirta tepat di dekat wajah Ana. Ia lantas mengusap pipi Ana yang sedikit tirus membuat Tirta menghela nafas kasar. "Kamu kenapa jadi kurus gini sih, Sayang. Kamu jarang makan ya? Kenapa? Padahal kamu kan doyan makan. Malah porsi kamu dua kali porsi aku. Apa gara-gara aku? Maafin aku, ya, please! Bangun dong. Kalau nggak bangun, aku cium lho. Atau jangan-jangan kamu sakit karena kangen sama ciuman aku? Iya, ya udah, aku cium sekarang aja. Siapa tahu, setelah aku cium kamu jadi bangun kayak cerita dongeng itu, emmm ... apa itu ya judulnya? Ck ... aku lupa. Ya udah, langsung eksekusi aja lah, siapa tau langsung bangun," celoteh Tirta sambil mesem-mesem.


Ia sudah tak sabar ingin menyambar bibir berpulas lipstik merah muda itu. Entah mengapa setelah tahu Ana telah resmi menjadi istrinya, pikiran mesyumnya seketika bangkit.. Seolah ia telah paham kalau perempuan itu telah halal untuk dirinya sentuh sesukanya.


Tirta lantas mendekatkan wajahnya pada wajah Ana. Namun saat jarak mereka tinggal satu inci lagi, tiba-tiba saja sebuah jeweran mendarat di telinganya membuat Tirta mengaduh kesakitan.


"Aduh, siapa sih resek banget ganggu orang mau ciuman aja," omel Tirta sambil meraih tangan yang mendarat di telinganya. Namun saya ia perhatikan lagi, ternyata tangan itu tangan milik Ana. Jelas saja Tirta membelalakkan matanya.


"Orang yang mau ciuman apa mencuri ciuman?" cetus Ana tiba-tiba sambil membuka matanya.


"Ana? Kamu bangun, Sayang? Alhamdulillah. Akhirnya ... " Seru Tirta lega. Ia bahkan langsung memeluk Ana begitu saja membuat Ana membelalakkan matanya.


"Aak ... "


"Apa sayang? Ada yang sakit? Maaf, aku terlalu senang."


"Aak ... ini ... beneran kamu?" Entah mengapa Ana masih ketakutan kalau ini hanyalah ilusi. Ia takut ia hanya berkhayal karena terlalu merindukan sosok laki-laki yang ada di hadapannya itu.


Tirta lantas tersenyum lembut sampai lubang kecil di pipinya nampak jelas. Kemudian ia meraih tangan Ana dan menempelkannya di pipi, "ini benar aku, Tirta. Laki-laki yang telah resmi menjadi suamimu."


Seketika Ana teringat kejadian beberapa saat yang lalu, "jadi ... kita beneran nikah? Yang mengucapkan ijab kabul tadi beneran kamu, Aak? Aku bukan sedang berkhayal ataupun bermimpi kan? Kita ... benar-benar telah menikah?"


"Jadi kau pun tadi mengira ini mimpi? Sama. Sepanjang prosesi tadi, aku selalu terbayang-bayang sama kamu. Sampai aku ngira aku udah gila karena merasa kamu seakan ada di sekitarku."


Mata Ana seketika berkaca-kaca. Kemudian ia dengan cepat mendudukkan dirinya dan menarik kasar jarum infus yang menancap di pergelangan tangannya. Tak dipedulikannya darahnya yang bercucuran pun Tirta yang terbelalak. Tirta tak sempat ingin protes sebab gadis itu sudah lebih dahulu mendaratkan tubuhnya ke dalam pelukan Tirta.

__ADS_1


Jelas saja Tirta merasa senang sebab pada akhirnya kerinduannya bisa terobati. Ana juga mau memeluknya tanpa rasa gengsi.


"Aak Tirta, maafin Ana. Maaf ... Pasti saat itu Aak terluka dan kecewa dengan kata-kata yang Ana ucapkan. Maaf ... Maafkan atas keegoisan dan kekerasankepalaan Ana. Ana menyesal. Jangan pergi lagi! Jangan menghilangkan lagi! Ana ... Ana .. huhuhu ... " Ana meraung dalam pelukan Tirta. Tirta sampai terperangah mendengar permintaan maaf Ana yang terdengar sangat tulus dan penuh penyesalan. Tirta tersenyum lebar. Ternyata perpisahan mereka memberikan hikmah yang luar biasa. Pertahankan gadis yang biasanya keras dan kokoh itu akhirnya runtuh. Bahkan secara tak langsung kata-kata yang gadis itu ucapkan menyiratkan perasaannya pada dirinya.


Tirta lantas mengeratkan pelukan mereka. Ia mengusap punggung Anak yang bergetar karena menangis. Tirta juga tak menyiakan kesempatan mencium puncak kepala Ana berkali-kali seraya tersenyum bahagia. Akhirnya ia bisa bebas mengecup gadis dalam pelukannya itu tanpa penghalang lagi.


"Ssst ... udah ya! Jangan menangis lagi! Aak paham, saat itu pasti kamu sedang benar-benar terkejut jadi wajar kalau kau marah."


"Tapi gara-gara kata-kata Ana, Aak pergi. Aak nggak datang-datang lagi ke rumah tuan Abi. Aak juga nggak pernah hubungi Ana lagi apalagi nemuin. Ana ... Ana sedih. Ana ... merindukan Aak," ucapnya dengan kalimat terakhir terdengar seperti sebuah cicitan sebab Ana merasa malu mengatakannya.


Tirta tersenyum makin lebar. Lantas ia merenggangkan pelukannya dan menatap wajah gadis itu yang telah terlihat berantakan. Bagaimana tidak, air mata Ana telah membuat make up nya berantakan. Eyelinernya luntur, bedaknya pun berantakan. Hidungnya memerah. Terlihat lucu sekaligus menggemaskan . Tirta ingin tertawa, tapi ia tahan. Ia tak ingin Ana merasa malu dan berujung kesal padanya.


"Apa katamu tadi? Katakan sekali lagi! Katakan kalau kau merindukan aku?"


Tak ingin kehilangan Tirta untuk kedua kalinya, Ana pun mengangguk dengan cepat dengan wajah tertunduk.


Tirta lantas memegang dagunya agar mereka saling bertatapan.


"Ana ... Ana merindukan Aak. Ana mohon, jangan pergi lagi." Lirih Ana sungguh-sungguh.


Tirta pun tersenyum, "baiklah, aak nggak akan pergi lagi. Tapi sebelum itu ... kamu harus Aak hukum."


"Hah? Hu-hukum? Aak mau hukum Ana?" Ana seketika ketakutan.


Tirta menganggukkan kepalanya, "kau tahu, gara-gara kamu, aak jadi galau sepanjang waktu. Makan tak enak, tidur tak nyenyak, sampai bab pun nggak nyaman," ucapnya sambil menahan tawa.


Ana cemberut, "ya udah, emang hukumannya apa? Tapi jangan yang aneh-aneh apalagi yang rumit-rumit."


"Oh, tenang aja, nggak rumit kok! Kamu cuma perlu ... " Tirta lantas mengetuk-ngetuk bibirnya dengan jari telunjuk sebagai isyarat. Tapi Ana tak mengerti. Ia justru mengira Tirta sedang berpikir. "Ayo, buruan!" titah Tirta tak sabaran.


"Buruan apa?" tanya Ana polos.

__ADS_1


Tirta mencebikkan bibirnya, "cium Ana, cium. Ayo, buruan, cium bibir Aak!" Titahnya tak sabar. Ana terbelalak mendengarnya. Meskipun mereka telah menjadi suami istri, tapi Ana masih merasa malu.


"Oh ya Ak, apa aak tau perihal aku yang dijodohkan dengan Aak?" tanya Ana mengalihkan perhatian.


"Jangan mengalihkan perhatian, Ana. Itu urusan nanti. Kita akan sidang kedua orang tua kita. Sepertinya mereka bersekongkol. Tapi tak apalah. Aak tak marah. Justru sebaliknya, aak merasa senang sekali. Jadi, ayo buruan! Atau kamu mau aak keluar dari sini?"


"Jangan!" pekik Ana tiba-tiba. Ia lantas menguatkan diri untuk melakukan apa yang suaminya minta.


Ana lantas mengikis jarak di antara mereka. Baru aja bibir keduanya akan saling menempel, tiba-tiba saja pintu terbuka secara kasar membuat keduanya terkejut bukan main.


"Heh, mentang udah nikah mau main nyosor aja! Lupa di bawah masih ramai tamu undangan. Cepat turun!" omel nenek. "Dan kamu cantik, sebentar lagi tim MUA akan datang memperbaiki make up mu. Jadi sosor-sosorannya ditunda dulu ya!" ujar Nenek lembut membuat Tirta mengerucutkan bibirnya. Gagal deh dapat ciuman mesra dari istrinya yang cantik.


"Nenek nyebelin. Ganggu kamu aja. Bilang aja nenek iri, ya kan!"


"Heh, cucu nggak ada akhlak, ngapain juga iri sama kalian? Seharusnya kalian berterima kasih, tanpa ide brilian nenek sampai lebaran monyet pun kalian nggak akan bersatu karena kalian berdua itu bodoh!" ejek Nenek sengak.


"Ya, ya, ya, terima kasih nenek! Tapi tetap, kalian harus menjelaskan semuanya."


Nenek mendengkus tanpa merespon sama sekali. Ia pun segera berlalu dari kamar tersebut. Ana melotot karena kata-kata Tirta tadi, tapi Tirta justru mesem-mesem sambil memandangi wajah Ana.


'Awas ya kamu entar malem! Aku akan buat kamu menjerit semalaman. Hahaha ...' Ucap Tirta dalam hati dengan segala khayalannya.


...***...


Buat yang lebaran besok, othor ucapkan Taqabbalallahu Minna wa Minkum, minal Aidin wal Fa'idzin, mohon maaf lahir dan batin.


See you all.


Kalau ada typo, harap maklum, mata othor udah 2 Watt. Hahaha ...


...HAPPY READING 😍😍😍...

__ADS_1


__ADS_2