Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
133 S2


__ADS_3

Setibanya di rumah sakit, Zoya langsung mendapatkan penanganan dari tim medis. Setelah masuk ke ruang UGD, kaki Ryan seketika lemas. Ia pun terduduk di lantai dengan kepala berdenyut nyeri. Ia tak pernah menyangka akan mengalami kejadian seperti ini.


Ryan heran, ada-ada saja kejadian yang menimpanya di saat ia akan menikah. Bila sebelumnya tiba-tiba ada seorang gadis yang datang dan membeberkan keburukan Meylin, maka kali ini ada orang yang dengan tega membuat segalanya lebih berantakan. Padahal ia baru saja selesai mengucapkan ikrar ijab Kabul. Padahal ia baru saja meresmikan pernikahannya dengan Zoya. Meskipun pernikahan ini dadakan karena tujuan tertentu, tapi tak pernah terbesit di benak Ryan untuk mempermainkan pernikahan. Meskipun tak ada cinta diantara mereka, tapi sebisa mungkin ia ingin melakukan yang terbaik untuk keluarga kecilnya kelak.


Tapi kini, segalanya kacau balau. Wanita yang baru saja ia peristri kini tengah terbaring tak berdaya di rumah sakit.


Ryan menjambak rambutnya erat. Mengapa nasibnya selalu saja menyedihkan seperti ini? Tak bolehkah ia merasakan kebahagiaan walaupun sedikit saja? Apakah memang ia tidak ditakdirkan untuk memiliki seorang istri? Apakah ia ditakdirkan tidak boleh menikah? Sehingga setiap kali ia akan menikah, selalu saja berujung dengan kegagalan.


Detik demi detik waktu terus bergulir. Sudah hampir satu jam lamanya Zoya mendapatkan penanganan di dalam ruangan gawat darurat tersebut. Tapi belum ada tanda-tanda kalau dokter akan keluar membuat jantung Ryan kian berdegup dengan kencang.


Teringat wajah polos menyedihkan Zaya, Ryan merasa tak kuasa. Ia khawatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada Zoya. Bagaimana nasib gadis kecil itu ke depannya bila sampai itu benar-benar terjadi. Bukan tanpa alasan ia berpikir seperti itu. Darah yang mengucur dari kepala Zoya tadi sangatlah banyak. Bahkan pakaiannya saja terasa lembab karena darah. Pun bau anyir yang menusuk indra penciumannya.


Ceklek ...


"Keluarga pasien?" panggil dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.


Ryan pun segera mendekat. Dokter tersebut mengernyit melihat sosok Ryan.


"Saya, saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya, dok?" tanya Ryan dengan wajah panik. Ayah Ryan yang baru datang ikut berdiri di samping Ryan.


"Dewi, kamu tetangga baru di seberang rumah kami kan?" tanya ayah Ryan. Ryan lantas menoleh, ia baru tahu perempuan inilah yang pernah memberi Rio kue.


"Ternyata benar. Tadi saya ragu saat melihat pak Ryan. Tapi setelah melihat bapak, saya baru yakin kalau kalian tetangga baru saya," ujar dokter Dewi lembut. "Kembali ke masalah utama, pak Ryan. Istri Anda mengalami pendarahan serius. Bukan bermaksud mendahului Tuhan, tapi kenyataannya keadaan istri Anda sudah sangat mengkhawatirkan. Sebisa mungkin kami menghentikan pendarahan, tapi luka yang istri Anda alami terlalu dalam. Istri Anda sudah sadarkan diri dan ia ingin bertemu dengan Anda. Sebaiknya segera Anda temui sekarang," ujar dokter Dewi membuat Ryan terkesiap.


Dadanya bergemuruh. Mungkinkah ini arti permintaan mendiang suami Zoya yang menitipkan Zaya padanya?

__ADS_1


Dengan jantung yang terpompa bertalu-talu, Ryan pun melangkahkan tungkainya yang sejujurnya sangatlah lemas ke dalam ruangan dimana Zoya sudah terbaring lemah. Berbagai alat medis menempel di tubuhnya membuat Ryan teringat dengan sosok Erin, wanita pujaannya.


"Ryan ... " Lirih Zoya lemah.


Dengan mata berkaca-kaca, Ryan pun bergegas menghampiri Zoya dan menggenggam tangannya.


"Bertahanlah! Aku mohon! Jangan tinggalkan aku dan Zaya! Kita baru saja menikah, ingat! Masa' baru saja menikah sudah mendapatkan gelar duda, apa kau tega?" Ryan mencoba berkelakar, tapi bibirnya bergetar dengan linangan air mata mengucur dari sudut matanya.


Zoya memaksakan diri untuk tersenyum.


"Maaf! Maaf, sepertinya aku harus membuatmu menduda di hari pernikahan kita."


"Tidak. Kau tidak boleh sekejam itu padaku. Kau ingat, aku selalu saja gagal menikah. Dulu aku tak direstui orang tua Erin. Saat akan menikah dengan Meylin pun kembali gagal karena kebusukannya yang terbongkar tepat di hari pernikahanku, lalu kini ... kau pun akan menghancurkan pernikahanku? Kenapa kau begitu tega? Aku pun ingin menikah dan memiliki keluarga yang utuh. Ya, aku tahu, kita tidak saling mencintai, tapi ... aku yakin kau akan menjadi seorang istri dan ibu yang baik. Bertahanlah, untukku, untuk Zaya, dan Rio juga. Aku mohon, jangan tinggalkan kami! Aku mohon!" melas Ryan yang telah berderai air mata.


Tak dapat dipungkiri, dadanya begitu sesak melihat Zoya yang mulai tersengal. Nafasnya terlihat putus-putus seakan paru-parunya sudah tak berfungsi dengan baik.


Tangis Ryan kian pecah mendengar penuturan itu.


"Ri-yan, aku ti-tip Za-ya padamu, ya! A-ku mo-hon sayangi di-a. Ja-ga di-a. Lin-dungi di-a. A-ku ya-kin dan per-caya kau a-kan jadi a-yah yang terbaik ba-gi Za-ya."


Suara Zoya makin terbata-bata. Dada Ryan kian sesak mendengarnya. Ketakutan terbesarnya kini menunggu di depan matanya.


"Dok-ter," panggil Zoya pada dokter Dewi yang masih berdiri di belakang Ryan.


"Ya," sahut Dewi berusaha tetap tenang. Bukan kali ini saja ia melihat seseorang yang hendak menghadapi kematian, namun sebenarnya tetap saja ada rasa gentar dan getir di dadanya. Tapi sebagai seorang dokter, tentu ia harus bersikap profesional.

__ADS_1


"Sesuai per-min-taanku tadi, mo-hon dilakukan."


"Apa Anda benar-benar yakin?" tanya dokter Dewi memastikan permintaan yang sempat Zoya lontarkan sebelum Ryan masuk ke dalam sana.


Zoya pun mengangguk membuat Ryan bingung.


"Permintaan apa? Apa yang kau minta Zoya? Kau tidak meminta yang aneh-aneh kan?" cecar Ryan masih dengan menggenggam tangan Zoya.


Zoya menggeleng, "ha-nya permintaan ke-cil. Se-mo-ga se-telah ini kau a-kan se-gera men-jemput ba-ha-giamu."


Setelah mengucapkan itu, nafas Zoya kian tersengal. Dokter Dewi pun meminta Ryan segera keluar sebab ia akan melakukan tindakan untuk mempertahankan detak jantung Zoya apalagi setelah ini ia dan timnya akan melakukan operasi besar sesuai permintaan terakhir Zoya.


"Bagaimana keadaan Zoya, dok?" tanya Ryan saat melihat dokter Dewi keluar dari ruang UGD.


Dokter Dewi menghela nafasnya, "keadaannya kritis. Dan sesuai permintaan istri Anda tadi, ia telah membuat surat pernyataan untuk mendonorkan ginjalnya untuk calon istri Anda. Jadi segera urus administrasi perpindahan calon istri Anda dari rumah sakitnya agar bisa segera dibawa ke sini untuk menjalani operasi transplantasi ginjal."


Ryan seketika terhenyak mendengar penuturan itu.


Zoya, wanita yang baru saja menjadi istrinya itu telah membuat surat pernyataan untuk mendonorkan ginjalnya pada Erin?


"Ta-tapi dok? Bagaimana bisa? Apakah tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan Zoya?"


Bagaimana mungkin ia tega mengambil ginjal Zoya untuk Erin. Ia tidak setega dan sekejam itu. Apalagi ia tahu ginjal Zoya pun hanya satu, bila diberikan pada Erin, sama saja ia mengorbankan nyawanya.


Dokter Dewi menggeleng, " kesempatannya untuk bertahan hidup sudah sangat tipis. Bila kita tidak segera melakukan operasi, maka takutnya semua pengorbanannya akan sia-sia. Jadi saya minta Anda segera mengurus segala prosedurnya agar operasi bisa segera dilaksanakan. Kami di sini akan segera bersiap. Segeralah!" titah dokter Dewi.

__ADS_1


Ryan masih gamang. Tapi dokter Dewi kembali meyakinkannya. Akhirnya, meski dengan berat hati, Ryan pun gegas ke rumah sakit dimana Erin dirawat.


__ADS_2