Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
Keinginan terakhir


__ADS_3

Selepas berbincang, kedua pasangan beda generasi tersebut pun memisahkan diri. Kedua orang tua Abidzar bersiap untuk pergi ke acara pernikahan rekan bisnis Abraham, sedangkan Freya dan Abidzar kembali ke kamar. Di kamar, Abidzar tampak memijat kaki Freya yang terasa pegal. Sebenarnya Freya sudah menolak, tapi Abidzar kekeuh ingin memijat. Akhirnya Freya pun membiarkan saja suaminya itu memijat kedua kakinya secara bergantian.


"Sayang, kamu ngelamunin apa?" tanya Abidzar dengan tatapan lekat ke arah wajah sang istri yang tampak muram. Sedangkan kedua tangannya tampak lihai memijat kaki Freya dari ujung hingga ke pangkal paha lalu balik lagi ke ujung. Saat tangan Abidzar berada di paha, Freya merasa geli sekaligus berdesir. Sesekali ia meremang dengan bulu kuduk berdiri. Namun bibir Freya terkatup rapat. Sebisa mungkin ia mengendalikan dirinya agar tidak menunjukkan ekspresi yang aneh di depan suaminya.


"Aku nggak ngelamunin apa-apa kok, Mas," kilah Freya. Namun Abidzar paham apa yang perempuan cantik itu pikirkan. Entah mengapa, tingkat kepekaannya meningkat drastis pada Freya membuatnya bisa memahami apa yang sekiranya mengganggu pikiran wanita hamil itu.


"Kamu mikirin soal rekaman tadi? Perihal perbuatan Erin yang baru kamu ketahui?"


Freya menghela nafas panjang. Ia tahu, ia tak bisa menyembunyikan kegelisahannya dari suaminya itu.


Freya lantas mengangguk, lalu memalingkan wajahnya ke jendela balkon yang terbuka lebar. Angin menerpa tirai, membuatnya beterbangan tak tentu arah. Bahkan surai Freya yang mulai memanjang pun ikut beterbangan karenanya. Hal itu tentu saja tak luput dari perhatian Abidzar. Ia selalu saja memandang takjub akan kecantikan istrinya itu yang menurutnya tak pernah berubah. Bahkan kian cantik setelah kehamilannya ini.


Abidzar yang awalnya duduk di samping kaki Freya lantas berpindah ke sisinya. Direngkuhnya pinggang Freya hingga punggung wanita cantik itu menempel di dadanya yang hanya berlapiskan kaos singlet saja.


"Kenapa tak menjawab?" bisiknya serak. Sebenarnya gairahnya mulai terpantik, tapi tak mungkin 'kan ia memaksakan diri di saat perasaan istrinya tidak baik-baik saja.


"Aku harus menjawab apa, Mas? Aku benar-benar bingung. Kenapa Erin bisa berbuat sampai sejauh itu? Sebenci itukah dia padaku? Padahal aku tak pernah dengan sengaja mengusik dirinya. Aku pun tak pernah dengan sengaja menggoda para laki-laki yang ia sukai itu. Meskipun aku sengaja tebar pesona, tapi mereka sendiri yang mendekat, bukan aku." Ucapnya sendu. Ada kesedihan yang tersirat dalam kata-kata Freya, Abidzar bisa merasakan itu. Tapi saat kata-kata dirinya yang sengaja tebar pesona hingga membuat laki-laki itu mendekat, terang saja membuatnya cemburu.


Ia masih sangat mengingat masa itu. Tak jarang ia melihat Freya berjalan dengan mesra dengan laki-laki lain yang berbeda hampir di setiap harinya. Bahkan ia dengan mata kepala sendiri melihat bagaimana tatapan memuja para laki-laki pada Freya hingga membuat dada Abidzar serasa terbakar. Namun saat itu ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa memendam kekesalan dan rasa cemburu. Lalu kini Freya mengingatnya kembali pada masa itu. Bagaimana tidak dadanya kembali bergemuruh?

__ADS_1


Namun biar begitu, sebisa mungkin ia mengendalikan rasa cemburunya itu. Bisa-bisa Freya menertawakannya karena cemburu pada masa lalu.


"Kita tak pernah bisa menebak isi hati seseorang, Sayang. Kita juga tak bisa mengendalikannya. Rambut boleh sama hitam, tapi isi hati seseorang siapa yang tahu. Mas pun sebenarnya tak habis pikir dengan perbuatannya itu. Mas sudah satu atap dengannya selama hampir 3 tahun, tapi baru kali ini mengetahui sifat aslinya. Karena itu, Mas mengambil keputusan berpisah sebab tak ada satu hal pun yang bisa Mas pertahankan darinya. Perbuatannya benar-benar di luar batas. Apalagi ia sampai berzina dengan kekasihnya. Oke, kalau itu dilakukannya sebelum menikah dengan Mas, Mas mungkin masih bisa memaafkannya. Tapi memiliki anak, memakai kontrasepsi jangka panjang hanya karena tidak ingin memiliki seorang anak dari Mas, lalu masih berzina dengan kekasihnya, sungguh ... perbuatannya itu telah menginjak-injak harga diri Mas dan tak ada ampun untuk perbuatannya itu. Kesalahannya benar-benar fatal."


Setiap mengingat pengkhianatan besar itu, darah Abidzar seketika bergemuruh. Ya, baginya perbuatan Erin itu merupakan sebuah pengkhianatan besar. Bila pengkhianatan saja bisa membuat seseorang sakit hati dan terluka, apalagi pengkhianatan besar. Erin bukan hanya mengkhianati ikatan suci di antara mereka, tapi juga melakukan sesuatu yang membuatnya benar-benar murka, muak, dan jijik. Jadi, bagaimana bisa ia terus mempertahankan pernikahan mereka?


Freya menarik nafas dalam-dalam, kalau dipikir-pikir, disini Abidzar lah yang paling terluka sebab Erin bukan hanya mengkhianati pernikahan mereka, tapi juga menipu Abidzar mentah-mentah.


Freya lantas membalikkan badannya menghadap suaminya. Dibelainya wajah suaminya yang bersih dan begitu tampan. Kalau boleh dibilang, ketampanannya 11:12 dengan ketampanan wajah mantan suaminya.


'Astagfirullah, kok bisa-bisanya aku membandingkan mereka. Nggak. Ini nggak boleh. Ini salah. Kau tidak boleh melakukan itu, Fre.' Batin Freya memperingatkan dirinya sendiri.


Mendengar kata-kata penuh ketulusan itu terang saja hati Abidzar seketika menghangat. Perasaan bahagia membuncah. Rasa marah dan kesal tadi seketika sirna. Freya seakan menjadi penawar dari segala kekalutan dan keresahan jiwanya. Mendinginkan hatinya. Memadamkan bara yang sempat melonjak. Abidzar bahagia, di saat ia sedang terpuruk karena perasaan dikhianati, Freya justru berada di sisinya sebagai penenang. Dirinya tak tahu bagaimana caranya mengungkapkan rasa bahagianya ini selain mengucap syukur kepada sang Ilahi atas anugerah tiada terkira-Nya ini.


Kini giliran Abidzar yang mengusap pipi Freya kemudian ia mengecup bibir wanitanya itu mesra.


Baru saja bibirnya terangkat ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba saja ponsel di atas nakas berdering nyaring. Abidzar ingin mengabaikan, tapi dering itu terus berlanjut hingga beberapa kali sehingga Freya pun meminta Abidzar mengangkat panggilan itu yang mungkin saja penting.


"Siapa?" tanya Freya saat ponsel telah berada ditangan Abidzar.

__ADS_1


"Erin," jawab Abidzar singkat sambil mendengkus. Abidzar ingin mengabaikannya, tapi Freya justru memintanya mengangkatnya.


"Angkat saja, Mas. Siapa tahu penting."


Sebenarnya Abidzar enggan sekali mengangkat panggilan itu, tapi karena istrinya tercinta telah bertitah, ia pun tak dapat membantah.


"Halo," ucap Abidzar dingin saat panggilan itu telah ia angkat.


"Mas, Mas makan siang di rumah ya! Mas 'kan udah lama nggak makan bareng aku. Aku masak sendiri lho, Mas. Mas pulung ya. Aku tunggu." Ucap Erin dengan suara dilembut-lembutkan agar berharap Abidzar mau menuruti keinginannya.


"Mas, kok diam? Mas, aku mohon, mau ya!" Ucapnya memelas.


Abidzar menghela nafas panjang, mungkin tak masalah ia menuruti keinginan terakhir Erin. Ya, keinginan terakhir, sebab setelah ini Abidzar takkan lagi mau menuruti keinginan Erin. Di hari ini juga ia akan segera memutuskan hubungannya dengan Erin. Ya, mungkin ini waktu yang tepat, pikirnya.


"Ya, baiklah."


"Makasih, Mas. Aku tunggu kedatanganmu," serunya girang seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 😍😍😍...


__ADS_2