
"Astaghfirullah, Meylin. Bukankah itu Meylin?" gumam Freya saat sedang menonton acara berita di televisi.
"Ada apa, Fre?" tanya Sagita heran. Sagita baru saja dari dapur sambil membawa beberapa cemilan dan jus buah untuk mereka berdua. Setelah cemilan dan jus buah itu diletakkan, ia pun segera duduk di sofa yang sama dengan Freya.
"Itu Ma, ada berita ditemukannya perempuan tewas di sebuah kamar di club malam. Menurut hasil investigasi sementara, perempuan itu merupakan korban kekerasan sek sual." Ujar Freya memaparkan.
"Innalilahi wa innailaihi roji'un. Malang sekali nasib perempuan itu," ucap Sagita sambil mengusap dadanya. Ia merasa miris sebab di zaman sekarang ini tingkat kejahatan makin naik drastis. Dan korban lebih banyak perempuan. Padahal perempuan makhluk lemah yang harusnya dilindungi, tapi sebaliknya, banyak para laki-laki yang menjadikan perempuan sebagai objek pemuas napsu. Bahkan mereka tak segan-segan menghabisi nyawa sang perempuan bila ia menolak. "Kamu kenapa kayak syok banget? Kamu kenal perempuan itu?" tanya Sagita penasaran.
"Iya, Ma, Freya kenal. Dia temennya Erin, Ma. Namanya Meylin. Mungkin Mama pernah liat?"
"Meylin? Meylin ... ah, iya, Mama ingat, yang model rambutnya ikal blonde itu kan dan selalu berpakaian seksi dan lipstik merah menyala?"
"Iya, Ma. Benar."
"Eh, bukannya yang mau nikah sama mantannya Erin itu yang namanya Meylin itu? Berarti mantan kekasih Erin itu nggak jadi dong nikah?"
"Iya Ma, Meylin lah yang akan menikah dengan mantan kekasih Erin. Aku juga nggak tahu, mereka jadi nikah atau nggak. Kalau iya, kasihan banget anak Erin dan kekasihnya itu, baru saja punya Mama lalu harus kehilangan lagi." Membayangkan nasib Rio yang harus tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu membuat Freya merasa iba. Ia mengingat dirinya dahulu yang harus tumbuh tanpa kasih sayang orang tua. Tapi Rio masih lebih beruntung, ia memiliki seorang ayah yang menyayanginya dan kakek nenek juga. Lepas dari kedua orang tua Erin tidak mengakui keberadaannya, tapi orang tua Ryan sangat menyayangi cucu satu-satunya itu.
"Yah, namanya umur seseorang tiada yang tahu, Fre. Kasihan memang, tapi mau bagaimana lagi. Semua sudah takdir. Nasib Erin harus mendekam di penjara, lalu nasib temannya harus meninggal dengan cara mengenaskan. Entah bagaimana awal mula bisa ia berakhir seperti itu, yang penting kita doakan saja semoga amal ibadahnya diterima dan dosa-dosanya diampuni oleh yang Maha Kuasa."
"Aamiin. Aku pun berharap demikian. Jujur Ma, sebenarnya masih ada rasa marah dan kecewa atas perbuatan mereka selama ini kepada Freya. Bagaimana pun Freya hanya manusia biasa, tak semudah itu untuk melupakan perbuatan mereka. Tapi Freya akan berusaha untuk memaafkan. Bukankah semua orang memiliki kesempatan kedua, seperti Freya yang telah mendapatkan kesempatan kedua untuk menjadi lebih baik. Bukankah tak ada manusia yang luput dari salah dan khilaf?"
"Kamu benar." Sagita tersenyum lebar lalu mengusap punggung Freya dengan sayang. "Mama bangga memiliki menantu seperti kamu. Terlepas masa lalu mu yang buruk, tapi kau telah berusaha berubah menjadi lebih baik. Tidak semua pendosa memiliki keberuntungan mendapatkan hidayah untuk berubah menjadi lebih baik dan kamu salah satu orang yang beruntung itu, Fre. Bersyukurlah atas rahmat dari yang Maha Kuasa. Tanpa-Nya, mungkin saat ini kau pun masih akan tersesat tak tahu jalan pulang."
"Mama benar. Terima kasih ya, Ma, karena Mama masih mau menerimaku yang hina ini menjadi menantu Mama. Mungkin mertua sebaik Mama hanya ada 1 dari 100 orang. Aku sangat beruntung memiliki mertua Berhati mulia seperti Mama," ucap Freya jujur dari dalam hatinya.
"Ck ... kamu terlalu berlebihan. Mama hanya berusaha menjadi orang tua yang bijak. Mama tidak ingin menghakimi seseorang karena masa lalunya. Bukankah setiap orang memiliki masa lalu. Terlepas masa lalu itu baik atau buruk."
Begitulah perbincangan kedua menantu dan ibu mertua itu. Seandainya semua ibu mertua seperti Mama Sagita, alangkah bahagianya. Pasti takkan ada percekcokan antara mertua dan menantu seperti yang kerap terjadi.
__ADS_1
...***...
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 5 jam, akhirnya Laila telah berdiri di depan pagar rumahnya. Laila pun segera masuk sambil menyeret koper miliknya. Saat masuk, Laila disambut dengan pemandangan suram. Daun-daun kering berhamburan, tanaman banyak yang mati mungkin karena tidak disiram, bahkan dari jauh pun ia bisa melihat kaca rumah dan teras telah dipenuhi debu.
Namun ada satu yang menyita perhatiannya, sebuah papan yang cukup besar tergantung di depan pintu rumah. Laila pun segera melepaskan koper dan gegas berlari mendekat. Kaki Laila seketika lemas. Ia pun luruh ke lantai dengan pandangan nanar.
...Rumah ini telah disita....
Perasaan Laila semakin tidak karuan. Setelah beberapa hari yang lalu mengetahui suaminya ditangkap polisi di rumah selingkuhannya, lalu pagi ini mendapatkan informasi Erin menyerahkan diri ke kantor polisi. Kemudian sekarang, ia mendapati rumahnya telah disita. Lalu ... bagaimana hidupnya kelak? Di masa tua, seharusnya ia menghabiskannya dengan bersantai, berbahagia dengan anak cucunya, tapi ia ... ia justru harus melewatinya dengan kesendirian sebab anak dan suaminya telah mendekam di balik jeruji besi.
Laila memejamkan matanya. Dadanya kini benar-benar sesak. Mengapa nasibnya jadi menyedihkan seperti ini?
Tak berbeda dari nasib istri muda Arifin. Apartemen yang ditempatinya pun telah disita berikut segala isinya. Ia hanya diizinkan mengambil pakaian dan barang pribadinya saja. Dengan langkah gontai, ia pun meninggalkan gedung apartemen itu. Wajahnya murung sebab ia hanya memiliki tabungan yang tidak seberapa. Selama ini ia selalu memanfaatkan Arifin untuk membelikannya barang-barang mewah dan mengirim untuk kedua orang tuanya di kampung. Ia mengaku bekerja di perusahaan dengan orang tuanya. Tanpa mereka ketahui, anak perempuan mereka justru menjadi simpanan laki-laki beristri. Meskipun ia telah dinikahi, namun statusnya hanya siri. Sebelum pergi, ditatapnya gedung berlantai 49 tersebut. Ia menghela nafas panjang, mungkin setelah ini ia harus berubah agar ia bisa hidup lebih baik ke depannya. Mungkin benar kata orang-orang, sesuatu yang didapatkan dengan cara yang tidak baik, pasti akan berakhir dengan tidak baik pula.
Sementara itu, sebelum pulang ke rumah orang tuanya, Abidzar lebih dahulu mampir ke rumahnya dan Erin. Memasuki rumah, bi Asih pun langsung menyambut Abidzar dengan senyum ramahnya. Wajah renta itu tampak celingak-celinguk mencari seseorang, tapi ia tak kunjung menemukannya.
"Bibi cari siapa? Freya?" tanya Abidzar heran.
Abidzar tersenyum, "Freya di rumah Mama. Abi kan baru pulang kerja jadi Freya nggak ikut. Bibi kangen sama Freya?"
"Iya den, udah lama nggak ketemu jadi kangen."
"Ya udah, bibi bereskan barang-barang bibi dan Ana. Nanti Tirta yang akan jemput kalian ke rumah Mama, bibi mau?"
Dengan mata berbinar, Bi Asih pun segera mengangguk. Pun Ana yang langsung mendekati Bi Asih.
"Beneran tuan, saya diajak juga?" tanya Ana meyakinkan.
Abidzar mengangguk, "iya. Abi udah nggak mau tinggal di sini lagi. Rumah ini biarlah untuk Erin kelak kalau dia keluar dari dalam penjara. Nanti Abi akan beli rumah baru, bibi dan Ana mau ikut Abi lagi atau ... mau cari kerja ke tempat lain?"
__ADS_1
"Tidak." Seru keduanya kompak.
"Saya masih mau kerja sama tuan."
"Bibi juga."
"Baguslah. Nanti tolong bereskan barang-barang Abi juga ya, bi, An."
"Tapi tuan ... "
"Ya," Abidzar menaikkan alisnya.
"Bagaimana dengan Mina? Kenapa dia tidak diajak juga?" Tanya Ana heran. Melihat wajah murung Mina, Ana pun merasa tak tega. Kenapa tuannya seakan-akan lupa kalau ada satu art lagi yang bekerja di rumah itu.
Abidzar tersenyum tipis, "Aku tidak bisa mengajak orang yang tidak menyukai istriku untuk bekerja denganku lagi. Aku tentu tak ingin membahayakan nasib anak dan istriku kelak. Aku menggaji kalian untuk bekerja denganku, taat pada perintah dan aturanku, termasuk menghormati pasangan, yaitu Freya-istriku. Jadi maaf saja Mina, mulai hari ini aku tidak bisa bekerja denganku lagi. Tenang saja, aku akan membayar gajimu bulan ini plus memberikan pesangon. Jadi silakan kau bereskan barang-barangmu," ucap Abidzar lembut tapi penuh ketegasan.
Mina pun segera berlari mendekat dan berjongkok sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada dengan memasang wajah memelas.
"Tuan, maafkan saya, ampuni segala kesalahan saya selama ini. Ampun saya tuan, saya mohon, jangan pecat saya. Saya membutuhkan pekerjaan ini. Saya mohon tuan, maafkan saya." Melas Mina dengan wajah mengiba.
Tapi Abidzar tetap dengan keputusannya. Sebagai kepala keluarga ia harus bersikap tegas. Saat ini bisa saja Mina tampak menyesal, tapi bagaimana ke depannya ia tak tahu. Bukankah kita harus antisipasi demi keamanan ke depannya. Bagaimana pun, keselamatan, keamanan, dan kenyamanan anak istrinya adalah yang utama. Ia hanya tak ingin kejadian serupa terjadi. Apalagi sejak awal ia emang menyadari tatapan Mina yang tampak begitu kentara tidak menyukai keberadaan Freya. Jadi keputusannya saat ini sudah tepat, bukan?
"Maaf. Aku tetap dengan keputusanku. Semoga kau bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan majikan yang lebih baik juga. Kalau sampai kau menemukannya, ingat pesanku, bekerja lah dengan baik. Jangan melakukan sesuatu yang dapat merugikan dirimu sendiri. Camkan itu!" Setelah mengatakan itu, Abidzar pun segera pamit dengan Bi Asih dan Ana untuk segera pulang ke rumah.
...***...
Hai kakak semua, selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan ya. Semoga lancar pokoknya.
Oh ya, mulai sekarang sampai akhir bulan alias tamat, othor update cuma 1 bab perhari ya. Yaps, novel ini akan segera tamat. Entah langsung launching cerita baru atau nggak soalnya tau lah ya, othor pun sibuk siapin menu berbuka. Kalau pagi sibuk ini itu. Kalau malam, dapat dipastikan cepat ngantuk. Hahaha ... Tapi semoga masih bisa launching sih. Rasanya ada yang kurang kalo nggak update sehari aja. 😄
__ADS_1
Bye semua. Love you all. 🥰🥰🥰
...HAPPY READING 😍😍😍...