
"Mas! Kau menamparku demi membela jalaang sialan itu!" pekik Erin dengan mata membulat merah. Telapak tangannya menyentuh pipinya yang terasa amat sakit. Bagaimana tidak, ini untuk pertama kalinya ia merasakan sebuah tamparan. Benar-benar sakit. Sampai untuk menggerakkan rahangnya saja terasa ngilu.
"Sudah aku bilang jangan sebut dia jalaang, brengsek!"
Brakkk ...
Abidzar benar-benar murka. Ia menendang meja yang ada di dekatnya hingga terdorong kencang dan terbalik menghasilkan bunyi bedebum yang keras. Bi Asih, Ana, dan Mina yang berada di paviliun belakang sampai mendengarnya. Khawatir terjadi apa-apa di rumah utama, mereka pun berlari tergopoh-gopoh ke rumah utama untuk melihat apa yang telah terjadi.
Setibanya di sana, mereka bertiga membekap mulut dengan mata tercengang. Mereka tak menyangka yang bertengkar adalah majikan mereka sendiri. Bahkan mereka tak menyangka, majikan mereka akan memukul istrinya sendiri karena tidak terima istrinya menghina madunya sebagai perempuan murahan.
Ada rasa iba menelusup dalam benak mereka. Meskipun mereka tahu sikap Erin kadang keterlaluan, tapi tetap saja sebagai perempuan mereka ikut sakit saat istri sah mendapatkan perlakuan tidak adil seperti ini. Setelah pergi dan tak pulang-pulang, lalu kini pulang dengan sebuah perdebatan.
"Jahat kamu, Mas. Hanya karena wanita itu kau menyakitiku, kau membentakku, dan kau pun ingin menceraikanku." Teriak Erin yang sudah kembali berdiri.
"Aku sudah bilang ini tidak ada hubungannya dengan Freya, sialan. Ini murni kesalahanmu. Kau ... aku tak menyangka telah menikahi wanita manipulatif sepertimu."
"Apa? Apa maksudmu, hah? Jangan asal tuduh, Mas."
"Kau tak mau mengaku? Kau wanita manipulatif. Kau maling teriak maling. Kau mengatakan Freya jalaang, padahal sebaliknya kau lah jalaaang sebenarnya. Kenapa? Kau tak mau mengaku?" Ejek Abidzar dengan bibir mencibir.
"Apa maksudmu, Mas? Jangan asal bicara tanpa bukti. Aku bukan Freya yang begitu murahan dan mau saja dengan laki-laki beristri."
"Aku tidak asal bicara. Oke kalau kau masih tak mau mengaku, ayo katakan siapa Ryan dan siapa Rio?" Abidzar tersenyum menyeringai. Sebenarnya tubuhnya sudah benar-benar tak nyaman. Rasa panas itu kian menjalari sekujur tubuhnya. Ada sebuah perasaan ingin dipuaskan. Abidzar sendiri belum menyadari apa yang telah terjadi pada dirinya.
"Apa katamu? Siapa itu? Aku tidak mengenal mereka," kilah Erin gelagapan.
Abidzar tertawa terbahak-bahak membuat Erin bergetar takut. Pun ketiga artnya memandang horor Abidzar yang tertawa mengerikan.
__ADS_1
"Bahkan kekasih dan anakmu sendiri pun tak mau kau akui. Benar-benar perempuan munafik dan culas. Setelah menipuku dan keluargaku mentah-mentah, tapi masih mau berkilah. DASAR PEREMPUAN KOTOR!"
Mendengar kata-kata yang Abidzar lontarkan terang saja membuat Erin memucat. Bagaimana bisa Abidzar mengetahui rahasianya selama ini?
"Kenapa kau diam? Masih tak mau mengaku? Kau tahu mengapa aku menyebutmu perempuan manipulatif. Pertama kau menghina Freya jalaang, padahal kau lah jalaaang itu sendiri. Baik sebelum menikah maupun sudah menikah kau masih menjalin hubungan dengan kekasihmu. Bahkan kau masih sering berhubungan badan dengannya. Jadi siapa jalaaang sebenarnya di sini? Katakan siapa??? KAU. KAU YANG JALAANG. Kedua, kau mengaku mandul, padahal itu tidak benar. Kau bahkan telah memiliki anak dengan mantan kekasih sialanmu itu. Kau sengaja memasang kontrasepsi jangka panjang karena tak mau memiliki keturunan dariku, benarkan? Ayo jawab! Jangan diam saja!" Sentak Abidzar dengan wajah yang tampak benar-benar merah. Bukan hanya karena pengarah sedang marah, tapi juga karena pengaruh obat yang mulai bereaksi di tubuhnya. "Ketiga, kau mengatakan kau mengatakan Freya murahan karena mau dengan laki-laki beristri, dasar manipulatif. Padahal kau sendiri yang menjebak Freya dengan membayar orang agar menyiksa Freya. Jadi saat mau menawarkan tawaran untuk mengandung anakku, dia akan dengan mudah mengatakan bersedia. Tapi kau melakukan itu bukan murni karena kau menginginkan aku memiliki seorang anak, tapi untuk membuatnya makin tersiksa. Ayo, katakan kalau apa yang aku katakan ini tidak benar? Cepat katakan!!!!"
Bi Asih, Ana, dan Mina yang masih berdiri di balik tembok membekap mulutnya makin tak percaya dengan apa yang barusan majikannya tuturkan. Awalnya mereka marah dengan sikap Abidzar yang menyakiti Erin, tapi setelah mendengar apa yang Abidzar ucapkan, mereka pun tak bisa menyalahkan keputusan dan sikap Abidzar sebab apa yang Erin lakukan benar-benar sudah sangat keterlaluan.
"Mas, ini tidak benar. Kau jangan mendengarkan perkataan orang lain. Itu fitnah. Aku tidak seperti itu. Kapan aku memiliki seorang anak? Tidak ada. Bukankah kau yang sudah mengambil keperawananku?" kilah Erin sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tentu saja ia tak mau mengakui kesalahannya. Itu sama saja menghancurkan diri sendiri.
Abidzar makin tertawa kencang melihat Erin kukuh tak mau mengakui kebusukannya.
"Kau masih mau berkilah, heh? Aaargh ... "
Abidzar tiba-tiba mengerang saat rasa panas itu kian menjadi. Bahkan rasa panas yang awalnya menjalar sedikit itu kian membakar kulitnya.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu, brengsekk!" Bentak Abidzar dengan suara menggelegar.
"MASSS ... Aku hanya ingin membantumu." Sergah Erin masih berupaya mendekati Abidzar yang matanya telah merah diselimuti kabut napsu.
Sadar ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuhnya, Abidzar lantas mencengkeram erat rahang Erin dengan sangat kuat. Wajah Erin sampai memerah karena sakit yang menjalar-jalar. Bulir bening tanpa sadar mengalir dari pelupuk mata Erin akibat rasa sakit itu.
"Katakan padaku, apa yang telah kau berikan padaku, hah! Katakan sialan!" desis Abidzar dengan suara menggeram. Rahangnya telah mengeras dengan mata yang nyaris mencuat dari rongganya.
"Apa-apa maksudmu? Aku-aku tidak memberikanmu apa-apa. Sungguh." Erin berkelit. Mana mau ia mengakui niat busuknya. Yang ada akan membuatnya kian terpojok.
"Dasar jalaaang! Kau pikir dengan memberikan ku obat perangsang, aku akan mau menyentuhmu, begitu!" Raung Abidzar yang sadar pasti obat lucknut itulah yang membuatnya jadi seperti ini. Bahkan ia sampai menghempaskan tubuh Erin kasar hingga terkapar di lantai.
__ADS_1
Bughhhhh ....
"Aawwwwhhh sssstttt ... Mas, brengsek kau. Kenapa kau begitu kasar padaku." Raung Erin kesakitan. Ia mendesis sambil mengusap bokongnya yang sakit karena berbenturan dengan lantai yang dingin.
"Karena kau pantas mendapatkannya."
"Tapi aku pun istrimu. Kau tak bisa melakukan itu semaumu."
"Istri. Oh, iya, aku hampir lupa dengan tujuanku ke sini!" Abidzar tersenyum mengerikan. Ia lantas berjalan mendekat ke arah Erin yang sedang berusaha kembali berdiri. Ia lalu mengacungkan jari telunjuknya ke arah Erin, "ERIN SARASWATI, HARI INI AKU MENCERAIKANMU. AKU MENCERAIKANMU. AKU MENCERAIKANMU. DAN MULAI HARI INI, HARAM BAGIMU UNTUK MENYENTUHKU." Ucap Abidzar dengan suara menggelegar membuat mata Erin membulat sempurna.
"NGGAK. AKU NGGAK MAU. AKU TIDAK TERIMA." Pekik Erin histeris.
Erin lantas berdiri dan segera melepaskan kimono satin yang membalut tubuhnya menyisakan g-string saja. Bi Asih, Ana, dan Mina yang melihatnya sampai menganga tak percaya dengan apa yang Erin lakukan. Ia begitu nekat, pikir mereka.
Lalu Erin segera menghambur memeluk Abidzar. Abidzar yang sudah mulai kehilangan kendali atas tubuhnya tidak sadar dengan apa yang Erin lakukan. Erin pun dengan gerakan cepat berusaha membuka satu persatu kancing baju Abidzar lalu mengusap dadanya dengan gerakan seduktif membuat ketiga pembantunya membelalakkan mata.
"Duh, bukannya tadi udah jatuh talak ya, Bi? Kita harus bagaimana? Kita nggak mungkin membiarkan nyonya semaunya begitu? Kalau tuan sadar, pasti tuan akan langsung mengamuk." Tukas Ana yang khawatir dan tidak suka dengan apa yang Erin lakukan.
"Bibi juga bingung, Na," jawab bi Asih.
"Ngapain sih bingung-bingung. Biarin aja, repot banget. Nggak usah ikut campur urusan orang," sahut Mina yang selalu saja lain sendiri.
"Ya ya ya, dia memang nyonya kesayangan mu. Sifatmu tak kalah buruknya dengan sifat nyonya yang astaghfirullah." Balas Ana sengit. Mina mendelik, tapi tiba-tiba terdengar keributan membuat ketiganya kembali mengintip ke ruang tamu.
Kira-kira apa yang terjadi?
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 😍😍😍...