
Detik demi detik waktu berganti, Abidzar terus menunggu dengan jantung berdegup kencang. Rasa takut, cemas, khawatir menjadi satu. Membuat sosok yang biasanya terlihat tenang begitu tertekan. Menanti kepastian. Mengharap dan berdoa agar istri dan calon anaknya baik-baik saja.
Abidzar meraup wajahnya kasar. Entah sudah berapa kali helaan nafas kasar berhembus dari bibirnya, yang pasti waktu seolah begitu lambat bergulir. Menanti pergantian satu detik seakan menjadi satu tahun, begitu lambat, membuatnya tertekan.
"Bi, bagaimana keadaan Freya?" Sagita telah menghempaskan bokongnya di samping sang putra. Mata Abidzar memanas. Netranya bergetar. Tangisnya seketika pecah membuat Sagita segera mengulurkan tangannya meraup tubuh sang putra ke dalam pelukannya.
"Freya ... Freya mengalami pendarahan hebat. Anak kami ... anak kami harus segera dikeluarkan kalau tidak bisa berakibat fatal bagi keduanya," ujar Abidzar tergugu pilu. Suaranya bergetar nan serak, menunjukkan betapa ia begitu sedih dengan apa yang menimpa istri dan calon anaknya. Padahal hari kelahiran calon buah hatinya hanya tinggal menghitung Minggu atau lebih tepatnya hari, tapi kini bayi kecil tak berdosa itu harus dipaksa lahir lebih awal karena keadaan yang tidak terduga.
"Jadi Freya ... "
"Ya, Freya sekarang sedang dioperasi, Ma. Ma, bagaimana? Bagaimana kalau ... kalau Freya dan ... bayi kami ... " Nafas Abidzar tercekat. Ia tak sanggup mengucapkan kalimat selanjutnya. Namun ketakutan itu mengusik batinnya. Bagaimana bila anak dan istrinya tidak bisa diselamatkan? Sanggupkah Abidzar bertahan tanpa keduanya di sisinya? Mungkin dunia Abidzar akan runtuh saat itu juga. Bahkan mungkin, nafasnya pun akan ikut berhenti kemudian menyusul mereka.
"Bi, jangan berpikir macam-macam! Ingat, ucapan itu adalah doa. Doakan saja agar menantu dan cucu Mama sehat. Maafkan Mama, ini salah Mama. Seharusnya Mama mencegah saat Freya ingin membeli kue untuk kejutan ulang tahunmu. Seharusnya Mama juga membiarkan saja ponsel mama tertinggal di mobil dengan begitu penculik sialan itu tidak akan memiliki kesempatan untuk menculik dan menyakiti Freya. Maafkan Mama, nak," ujar Sagita lirih. Ia benar-benar menyesal. Kenapa pula ia meninggalkan ponselnya di mobil? Kenapa pula ia harus mengambil ponselnya? Seharusnya biarkan saja. Ia bisa menelpon suaminya setelah kembali ke dalam mobil. Rasa penyesalan membuat nafas Sagita sesak.
Abidzar meraih tangan Sagita dan menggenggamnya erat. Ia menggeleng cepat. Ia tak mau egois dengan menyalahkan mamanya. Namanya musibah, siapa yang tahu Mina tiba-tiba datang untuk menculik istrinya. Kalau mereka tahu, tidak mungkin mereka akan keluar.
Hati Abidzar pedih. Ia pun sebenarnya merasa bersalah. Karena ingin memberikan kejutan padanya, istrinya jadi celaka. Mengingat wajah Freya yang tampak babak belur, pun darah segar yang mengalir dari sela kakinya membuat Abidzar terguncang. Ia mengutuk perbuatan Mina yang telah menyakiti istrinya. Seandainya membunuh tidak dipenjara, ia pastikan akan menghabisi nyawa Mina saat itu juga. Tapi negara kita negara hukum, kita tidak boleh berlaku semaunya atau sangksi tegas akan kita dapatkan.
"Mama nggak salah. Semua ini sudah takdir. Seperti kata mama, sebaiknya kita berdoa. Etapi tunggu ... Mama nggak papa kan? Ada yang luka kah? Perlu kita periksa ke dokter juga?" cecar Abidzar khawatir begitu mengingat ibunya pun diculik dan diikat oleh penculik tersebut.
"Mama nggak papa. Hanya tangan Mama saja yang sedikit memar karena ikatan pembantu sialan itu kuat banget," ujar Sagita sambil menunjukkan pergelangan tangannya yang sedikit memar bekas ikatan. "Dasar pembantu sialan. Gara-gara dia menantuku nyaris celaka. Awas saja dia, mama pasti akan membuatnya mendekam di dalam penjara dalam waktu yang lama. Kalau perlu, jangan biarkan dia menghirup udara bebas lagi. Biar saja dia membusuk di dalam sana sampai ajalnya menjemput," desis Sagita murka. Sebenarnya ia bukanlah wanita pendendam, tapi apa yang Mina lakukan benar-benar sudah sangat keterlaluan dan Sagita tidak bisa menoleransinya sama sekali.
"Mama tak perlu khawatir, Abi pun akan melakukan hal yang sama. Padahal apa salah Freya selama ini? Freya di rumah itu hanya beberapa bulan. Tidak lama, tapi ia tampak begitu membenci Freya."
"Dia itu gila. Namanya orang gila ya gitu. Jiwa psikopat," desis Sagita. Kemudian ia mengingat perkataan Mina di gudang tadi, yang mana ia marah karena putranya tidak memilihnya untuk mengandung anaknya. Mina merasa dirinya lebih baik dari pada Freya yang mantan pembunuh dan mantan penghuni penjara, "sepertinya dia terobsesi padamu, Bi. Dia menginginkan kamu. Dan dia marah karena kamu justru lebih memilih Freya untuk dinikahi dan mengandung anakmu."
__ADS_1
Jelas saja Abidzar terperangah saat mendengar pernyataan itu. Abidzar tak habis pikir dengan jalan pikiran Mina sampai nekat menculik Freya karena terobsesi padanya.
"Bagaimana keadaan Freya? Sebenarnya apa yang terjadi? Adikku ... tidak apa-apa kan?" seru seseorang tiba-tiba dengan nafas tersengal. Sepertinya ia berlarian ke sana. Abidzar lantas kembali menerangkan kronologisnya sesuai cerita ibunya.
Tio menghela nafas berat, ia tidak menyalahkan Abidzar atas apa yang menimpa adiknya. Ia menganggap itu sebagai ujian hidup adiknya. Namun yang tak habis ia pikir, kenapa masalah selalu saja menimpa sang adik. Seakan semesta sangat menyukai kemalangan menimpa adiknya itu.
'Astagfirullahal 'adzim, apa yang aku pikirkan,' gumam Tio dalam hati.
Saat semuanya sedang melamun, tiba-tiba Tirta datang membawa beberapa cup kopi yang ia beli di cafe yang ada di samping rumah sakit.
"Kopi," tawar Tirta pada Abidzar dan Tio. Keduanya pun menerima, sedangkan Sagita menerima latte.
...***...
Lagi-lagi manusia akan dihadapkan dengan ujian hidup yang beragam. Di balik rasa bahagia yang
Kali ini ruangan persalinan itu terasa sangat dingin hingga menusuk tulang. Tubuh Freya sampai bergetar menggigil seakan rasa dingin itu memang begitu luar biasa. Kondisi yang lemah karena anestesi membuatnya tak kuasa membuka mata. Ia bahkan hanya bisa mendengar suara tangisan bayi yang baru saja dilahirkan. Bahkan tim dokter yang menangani persalinan Freya pun tidak memperlihatkan bayinya sebab memang ia dibius seluruh badan sehingga hanya bisa mendengar tanpa bisa melihat seperti seorang yang sedang pingsan.
Setelah operasi itu berjalan lancar, Freya segera dipindahkan ke ruang perawatan. Saat ini ia belum sadar dan masih terbaring tak berdaya yang kemungkinan efek dari obat bius yang disuntikkan sebelum operasi dimulai.
"Selamat pak Abi, bayi bapak laki-laki, lahir dengan selamat dan sempurna," ujar salah seorang dokter sambil menunjukkan bayi Abidzar yang sudah berada di dalam ruangan rawat bersama seorang suster.
Abidzar tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Ia pun mendekat ke arah bayi yang sedang digendong suster tersebut. Rasa tak percaya membuat tubuh Abidzar bergetar. Kaca-kaca di mata Abidzar kini menetes, membayangkan betapa besar perjuangan Freya demi melahirkan buah hatinya. Buah hati yang sejak lama ia tunggu-tunggu kehadirannya, kini telah berada tepat di depan matanya. Ia beruntung, bisa menyelamatkan Freya tepat waktu, sebab bila terlambat sebentar saja, maka nyawa keduanya mungkin sudah melayang, itu yang dokter katakan sebelumnya.
"I-ini benar bayi saya, dok?" tanyanya masih tak percaya atas anugerah yang Maha Kuasa limpahkan padanya.
__ADS_1
"Benar, pak, sekali lagi selamat ya!" ucap dokter itu tersenyum. "Silahkan di adzankan bayinya, Pak," ujar dokter itu lagi. Abidzar pun menyeka kasar air matanya. Kemudian ia mengulurkan tangan, menyambut buah hatinya ke dalam rengkuhannya. Dengan suara bergetar, Abidzar lantas mengumandangkan adzan di telinga sang putra.
"Sayang, anak kita sudah lahir. Wajahnya sangat tampan sekali," gumamnya seraya memperhatikan wajah bayinya.
Sagita dan Tio yang melihat hal itu meneteskan air mata haru. Bahkan Tirta si tengil pun ikut berkaca-kaca.
"Gue juga mau bayi kayak gitu. Cakep banget. Pasti mirip gue," seloroh Tirta membuat mata Sagita memicing.
"Bagaimana bisa mirip kamu, emang kamu siapa, hm?" delik Sagita membuat Tirta cengar-cengir tak jelas, "kalau mau, buat sendiri sana. Tapi ingat, harus nikah dulu. Tapi gimana mau nikah, calon aja belum ada," cibir Sagita dengan mata memicing.
"Eh, siapa yang belum ada calon, udah ada dong, Tan."
"Iya kah?" Sagita meragukan hal tersebut.
"Kalau calon mah ada, cuma ... "
"Cuma apa?"
"Belum ada hilalnya. Masih butuh perjuangan. Hahaha ... "
"Dasar sinting. Pasti itu cuma khayalan kamu aja."
"Eh, aku serius, Tan. Emang ada. Targetnya udah ada. Cuma ya ... " Tirta menggaruk-garuk pelipisnya yang sebenarnya tak gatal. "Adalah pokoknya. Tante tunggu aja undangan dariku. Tapi ingat, kalau aku nikah, hadiah Tante harus yang paling wah ... gimana, oke?" Tirta menaik-turunkan alisnya.
"Nggak masalah. Oke, deal!" Keduanya lantas bersalaman sudah seperti seorang sahabat, bukan Tante dan keponakan.
__ADS_1
Di sisi lain, tampak Tio mengulas senyum, ikut berbahagia dengan kelahiran putra adiknya.
...HAPPY READING 😍😍😍...