Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
115


__ADS_3

Ana pergi menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah gontai. Adegan dimana Melan menyuapi Tirta makan tadi berkelebat di benaknya. Ada rasa sedih dan tak rela bercokol di benaknya. Ingin marah, tapi siapa dirinya? Apa haknya? Kalimat itu berputar di benaknya. Bagai de javu, ia mengingat bagaimana ia marah pada Tirta dan mengucapkan kalimat serupa, 'siapa kamu? Apa hakmu ikut campur urusanku?'.


Ana berlari ke pinggir jalan. Ia sudah tak ada tenaga untuk sekedar memesan taksi online dengan ponselnya. Jadi ia memilih menyetop taksi yang lewat. Namun setelah hampir 30 menit ia berdiri di sana, tak ada satupun taksi yang kosong. Membuatnya kian nelangsa.


'Ya Tuhan, apalagi ini? Bahkan untuk naik taksi pun seperti begitu sulit."


Dengan hati yang patah, Ana menyeret langkahnya menapaki trotoar. Cuaca yang terik membuat kulitnya terasa terbakar. Sekuat tenaga ia menahan derai air matanya, agar tidak menjadi bahan perhatian orang-orang.


Entah langit sedang mengujinya, mengejeknya, atau ikut bersedih. Panas terik tadi tiba-tiba berubah menjadi mending dengan angin yang bertiup kencang.


Tiba-tiba air hujan turun begitu saja dengan derasnya disertai angin kencang. Hati Ana yang memang sedang rapuh kian nelangsa karena dalam hitungan detik bajunya telah basah semua.


Tangis yang sejak tadi Ana coba tahan akhirnya pecah. Ia terduduk di tepi jalan sambil menenggelamkan wajahnya di lipatan pahanya. Ia meraung menyuarakan hati yang pilu. Penyesalan memang selalu datang terlambat dan Ana sadar itu adalah salahnya yang terlambat menyadari rasa yang mulai tumbuh subur dalam hatinya.


"Ini salahku. Ini semua terjadi karena kebodohanku. Seandainya aku menyadari lebih cepat, semua pasti takkan berakhir seperti ini. Aku memang benar-benar bodoh," raungnya sambil mendongakkan wajahnya. Menatap langit hitam. Hujan yang deras membuat air matanya bercampur air hujan sehingga tak ada yang menyadari kalau gadis itu tengah menangis di bawah guyuran hujan.


Hujan yang turun sepertinya enggan berhenti. Wajah Ana sudah tampak pucat dengan bibir membiru. Dengan tatapan sendu, ia kembali memfokuskan penglihatannya ke jalan raya. Hingga akhirnya ia melihat sebuah taksi melaju tidak terlalu kencang. Ana pun melambaikan tangan hingga mobil berlogo burung biru itupun berhenti tepat di depannya.


Ana pun segera masuk ke dalam taksi dengan tubuh yang basah kuyup. Untung saja sang sopir taksi tidak mempermasalahkan. Tapi dahinya berkerut, padahal di sana ada sebuah halte, tapi kenapa gadis ini justru memilih berhujan-hujanan? Namun tak etis rasanya bila bertanya. Hingga matanya menangkap mata dan hidung Ana yang tampak merah. Kini sang sopir paham, sang gadis pasti sedang memiliki masalah yang pelik sehingga tak peduli meski tubuhnya telah basah sempurna. Untung saja Ana memakai hoodie sehingga bentuk tubuhnya tidak terlihat jelas.


"Mau diantar kemana, Mbak?" tanya sang sopir.


Awalnya Ana mengucapkan alamat rumah sang majikan, Abidzar. Namun di tengah perjalanan entah mengapa ia selalu terbayang wajah ibunya. Rasa rindu yang ia tahan-tahan sepertinya menemui ambang batas. Di saat rapuhnya seperti ini, ia membutuhkan pelukan dari sang ibu. Akhirnya, Ana pun mengubah alamat tujuannya. Hingga hanya dalam waktu kurang dari 1 jam perjalanan, akhirnya Ana tiba di depan pintu gerbang rumahnya.


"Ini, pak. Terima kasih," ucap Ana seraya menyerahkan ongkos taksi.


"Terima kasih kembali, mbak. Oh ya, jangan turun dulu, Mbak. Masih hujan. Biar saya antar sampai ke depan rumah. Kebetulan saya membawa payung," ujar sopir taksi tersebut.


Ana pun tersenyum. Karena terlalu lama menangis, mata Ana terlihat bengkak dan sembab. Tapi biar begitu, ia tetap terlihat cantik. Sang sopir sampai mengagumi kecantikannya.


'Semoga saja anakku nanti lahir secantik mbak ini. Meskipun Mbaknya pun kelihatan gadis yang baik. Biarpun sedang sedih, tapi tetap berusaha untuk tersenyum. Siapakah orang yang tega menyakiti mbak ini,' batin sang sopir. Kebetulan istrinya memang sedang mengandung anak perempuan karena itu ia berdoa agar anaknya lahir secantik Ana.


"Nggak usah, pak. Terima kasih. Udah terlanjur basah juga, jadi nggak masalah kalau aku hujan-hujanan lagi," tolak Ana secara halus.


"Tapi nanti mbak sakit."


"Makasih atas perhatiannya. Kalau begitu, saya turun dulu ya, pak."


Ana tetap menolak tawaran sang sopir. Selain terlanjur basah, ia juga enggan merepotkan orang lain. Setelah mengucapkan itu, Ana gegas membuka pintu kemudian menutupnya kembali setelah berada di luar. Lalu tanpa menoleh ke belakang lagi, ia pun segera berlari masuk ke dalam gerbang rumahnya.


Pak Amin yang merupakan sopir pribadi sang ibu, Raisa yang sedang bersantai di pos jaga sambil menyeruput kopinya sontak tersedak hingga menyemburkan kopinya saat melihat keberadaan Ana. Putri majikannya yang telah lama menghilang akhirnya kembali, jelas saja ia terkejut bukan main.


"Ukhuk ... ukhuk ... ukhuk ... "


Pak Amin terbatuk-batuk karena kaget. Ana yang melihat pak Amin pun segera menghampirinya.


"Pak, pak Amin tidak apa-apa?" Ana cemas sambil menepuk-nepuk punggung pak Amin yang memang telah bekerja dengan orang tuanya sejak ayahnya belum menikah. Oleh sebab itu, ia tampak santai saja membantu pak Amin meredakan batuknya.


"Ini ... ini beneran non Hana?" tanya Pak Amin setengah tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Ana tersenyum simpul, "bukan. Saya kembarannya Hana, Hani." Ujar Ana sambil terkekeh kecil.


Candaan khas Ana itu sontak saja melebarkan netranya, "hah! Emangnya nyonya punya anak kembar ya? Kok pak Amin nggak tahu. Setahu bapak, tuan dan nyonya cuma punya dua anak, yang pertama non Hana dan yang kedua den Heri," ucapnya sambil garuk-garuk kepala.


Sontak saja Ana tergelak. Kesedihannya tadi seketika menguap karena melihat ekspresi polos pak Amin yang sangat mudah dikerjai.


"Ya emang anak mama dan papa cuma dua, Hana dan Heri," ucap Ana lagi sambil mengulum senyum.


"Lah, tadi non bilang, non itu namanya Hani, sodara kembar non Hana, lah ini kok bilang anak nya tuan dan nyonya cuma dua, non Hana dan den Heri. Piye toh? Bapak kok jadi bingung."


Lagi-lagi Ana meledakkan tawanya. Karena hujan turun masih begitu deras, tawanya pun tidak sampai terdengar ke dalam rumah.


"Ya Allah, pak, Hana itu cuma bercanda. Iya benar, ini Hana. Rihana. Anak pertama mama dan papa. Pak Amin lucu banget deh, mudah banget dikerjain." Ucapnya sambil tergelak kencang.


"Oalah non, non, doyan bener ya ngerjain orang tua. Tapi seriusan kan, ini Non Hana? Bukan cuma mirip aja." Pak Amin tampak memperhatikan Ana dari atas sampai bawah.

__ADS_1


"Iya, pak. Ini benar-benar Hana."


"Masya Allah, Alhamdulillah ya Allah, akhirnya non Hana pulang juga. Kasihan ibu non Hana jadi sering sakit-sakitan karena mencemaskan keadaan non di luar sana. Sekarang buruan masuk deh, Non, nyonya pasti senang sekali melihat non kembali. Dan yang lebih penting, non harus segera mandi air hangat dan berganti pakaian kalau tidak non bisa sakit." Ucap Pak Amin membuat Ana tersenyum lebar.


"I-- hachi ... "


"Tuh, kan, baru dibilangin. Yuk masuk non, bapak antar pakai payung sampai ke depan pintu." Pak Amin lantas mengambil payung untuk mengantarkan Ana ke depan pintu rumahnya. Tapi Ana menolak.


"Nggak perlu, pak. Nanggung. Sekalian basah juga. Kalau begitu, Hana masuk dulu ya, pak. Daaa ... "


Ana pun segera berlari menuju pintu rumahnya. Rumah dimana Ana dilahirkan dan dibesarkan. Rumah yang begitu ia rindukan.


Ana berlari dengan jantung yang bertalu-talu. Ia benar-benar gugup padahal yang akan ditemuinya adalah ibu kandungnya sendiri. Mungkin karena telah lama berpisah, belum lagi mamanya telah menikah dengan laki-laki yang pernah bertahta di hatinya membuat Ana merasa gugup.


Namun ia harus mengendalikan diri. Ia harus menemui ibunya. Ia ingin bertemu dan melepas rindu pada sang ibu. Dengan tangan yang bergetar, Ana menekan bel di depan pintu.


Satu detik


Dua detik


Tiga detik ...


Satu menit berlalu, akhirnya terdengar suara handle pintu diputar. Dengan jantung yang berdebar, Ana menunggu pintu benar-benar terbuka. Berharap sang ibulah yang membukakan pintu untuknya.


Mungkin semesta sedang kasihan dengannya, sehingga harapannya pun akhirnya terkabul.


Raisa mematung di tempat melihat sosok yang teramat sangat dirindukannya. Dengan tangan yang bergetar dan lidah yang kelu, Raisa pun mendekati Ana. Diusapnya pipi Ana yang kini kembali basah oleh air mata. Namun kali ini air mata yang turun merupakan air mata kelegaan sebab akhirnya kerinduannya terbayarkan.


"Ma-ma," ucap Ana terbata.


Raisa yang masih belum mampu berucap karena takut apa yang ia lihat hanya sekedar mimpi pun masih bungkam. Hanya tangannya saja yang sibuk menyibak rambut dan mengusap pipi Ana yang terasa dingin.


"Apa mama sedang bermimpi, Sayang? kalau benar, mama berharap, mama tidak dibangunkan dari mimpi indah ini sebab mama tidak mau kembali kehilangan kamu, nak." Ucap Raisa akhirnya.


Ana tergugu. Sebegitu besarnya rasa rindu sang ibu padanya. Lalu dengan egoisnya ia tak mau pulang hanya karena kecewa dan patah hati.


"Ini bukan mimpi, Ma. Ini benar-benar Hana. Hana pulang, Ma. Hana telah pulang. Maafkan Hana, Ma. Maafkan Hana, Hana ... Hana merindukan Mama. Maafkan Ha---."


"Hana ... " pekik Raisa terkejut saat tiba-tiba saja tubuh Hana luruh ke lantai. Raisa benar-benar syok saat melihat tubuh Hana telah terkulai di lantai.


"Ha---na, ja-di, mama tidak sedang bermimpi?"


Raisa masih terbengong menatap tubuh Hana yang terkulai di lantai dengan wajah pucat pasi.


"Ma, ada apa?" Tanya seorang pemuda yang baru saja keluar dari balik pintu. "Ma ... " tiba-tiba pemuda itu terkesiap. "Mbak Hana ... " Ia pun tak kalah syok dengan apa yang dilihatnya.


Pemuda itu lantas berjongkok dan segera meraih kepala Hana ke atas pangkuannya.


"Mbak, Mbak Hana ... " pekiknya panik sambil menepuk-nepuk pipi Hana.


"Ri, apa dia benar-benar Hana? Mama tidak sedang bermimpi kan?" Tanya Raisa yang masih dikuasai kegamangan dan sedikit linglung.


"Ma, mama tidak sedang bermimpi. Ini benar-benar mbak Hana. Ayo, kita bawa mbak Hana ke kamarnya. Tubuh mbak Hana benar-benar dingin. Kita harus segera menggantikan pakaiannya yang basah."


Mata Raisa terbeliak saat tahu ini bukanlah mimpi. Dengan kecemasan luar biasa, Raisa pun segera berlari untuk membukakan pintu kamar Ana, sedangkan Heri, adik Hana menggendong Ana masuk ke dalam rumah. Setelah berada di dalam kamar Hana, Heri segera membaringkan Ana di tempat tidurnya.


"Kamu keluar dulu, Ri. Biar mama yang gantiin baju mbakmu. Minta Lulu segera buatkan Hana teh jahe ya."


Tanpa menjawab, Heri pun segera berlalu mematuhi perintah sang mama.


Sementara itu, sebelumnya, di rumah sakit, tampak seorang gadis berdecak saat melihat Tirta makan dengan ogah-ogahan.


"Ck, makan aja kayak anak kecil!" ejek Melan sambil mendelik.


"Namanya juga sakit. Mulut gue pahit."

__ADS_1


"Ya dipaksain dong. Kapan sehatnya kalau loe ogah-ogahan makan kayak gitu. Kayak orang lagi patah hati aja." Cibir Melan lagi.


"Emang gue lagi patah hati." Jawab Tirta acuh tak acuh.


"What? Serius? Jadi kamu udah nembak Ana terus ditolak gitu?" Tanya Melan dengan mata nyaris keluar dari rongganya.


"Ya, nggak gitu juga sih." Jawab Tirta bingung sendiri.


"Lantas gimana sih? Kalau nggak ditolak, lantas kenapa loe bisa patah hati?" Melan yang gemas melihat Tirta hanya mengaduk-aduk makanannya lantas merebut mangkok berisi bubur tersebut dan memaksa menyuapi Tirta.


Melan paham Tirta kurang berminat alias tak berselera memakan makanan tersebut bukan hanya karena penampakannya yang tidak membuat selera, warnanya pucat sama seperti orang yang sedang menyantapnya, rasanya pun pasti hambar. Namanya juga orang sakit, jadi makanannya tidak bisa sesukanya atau makan seperti biasanya. Ada yang boleh dan tak boleh dimakan, semua demi pasien bisa segera lekas pulih seperti sedia kala.


"Buka mulut loe!" titah Melan sambil menyodorkan sesendok bubur yang di atasnya ada suwiran ayam.


Mata Abidzar melotot. Ia menolak, tapi Melan kekeh memaksa Tirta membuka mulutnya. Bahkan Melan tak segan-segan menggelitik dan mencubit pinggangnya agar mau membuka mulut. Dan di saat bersamaan, Ana yang sedang penasaran ada siapa saja di dalam kamar rawat Tirta pun melongokan kepalanya ke dalam.


Wajah Tirta cemberut saat bubur hambar itu masuk ke dalam mulutnya, berbanding terbalik dengan Melan yang tergelak kencang.


Krieet ...


Pintu kamar mandi terbuka, muncullah seorang pemuda dari balik pintu itu sambil memegang perut membuat Tirta dan Melan menoleh bersamaan.


"Perut kamu masih sakit, sayang?" tanya Melan pada laki-laki yang merupakan kekasih barunya itu.


Pemuda itu mengangguk, "kayaknya aku kena diare deh, Sayang."


"Salah kamu sendiri makan bakso sambalnya nggak kira-kira," cibir Melan.


"Hehehe ... " laki-laki itu justru terkekeh tanpa rasa bersalah. "Kamu kenapa sih ketawa sampai segitunya tadi, Yank? Entar pasien sebelah ngira kamu mbak Kunti lho," imbuhnya seraya memainkan alisnya. Sontak saja hal tersebut membuat Tirta tergelak kencang.


"Sialan loe, emang suara gue kayak suara kuntilanak. Gue putusin baru tau rasa loe!" omel Melan dengan wajah cemberut.


"Eh, eh, jangan dong, Sayang. Aku nggak mau putus sama kamu. Aku kan sayaaaang banget sama kamu. Jangan yah, yah, yah! Aku tadi cuma bercanda kok, maafin aku yah. Peaceeeee!" Melas kekasih Melan.


"Nggak mau." Dengan wajah cemberut, Melan menyendokkan bubur itu ke mulut Tirta. Ia menyodokkan sendoknya sampai Tirta nyaris tersedak.


"Eh, eh, sorry, gue nggak sengaja." Melan meeasa bersalah.


"Loe mau bunuh gue, hah? Udah, gue udah kenyang. Urus brondong loe aja, sana!" ketus Abidzar.


Melan lantas menoleh ke arah kekasihnya itu dengan sorot mata tajam.


"Ayolah, Sayang, maafin aku yaaaa! Pleaseeee!" Pemuda itu sampai menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada seraya memelas.


"Oke, aku maafin, tapi ada syaratnya."


Mata pemuda itu seketika berbinar, "apa? Apa syaratnya? Kamu mau dicium? Oke. Dimana? Pipi, hidung, jidad, atau bibir?" Muka Melan seketika merah padam. Kenapa mulut kekasihnya itu seperti tak ada filter. Apa dia lupa kalau dia sedang berada dimana saat ini.


"Kamu ya ... "


"Apa?" tanya laki-laki itu dengan wajah polosnya membuat Tirta tak mampu menahan tawanya.


Melan baru saja hendak menjewer telinga sang kekasih, tapi tiba-tiba pintu terbuka dan muncullah Riana dari sana sambil menjinjing sebuah paper bag.


"Mama bawa apa itu?" tanya Tirta penasaran melihat paper bag yang di pegang sang mama.


"Nggak tau. Nemu di depan pintu. Kayaknya tadi ada tamu, tapi mungkin nggak jadi masuk." Ujar Riana sambil meletakkan paper bag itu di atas meja.


"Siapa? Mama lihat orangnya? Coba Mama buka isinya, entar kalau isinya bom gimana? Kan bahaya." Tukas Tirta.


"Perlu aku telepon tim densus 88, Tante? Kebetulan Om Bayu anggota tim densus 88," timpal kekasih Melan membuat Melan menepuk dahinya. Riana dan Tirta tak mampu menahan tawa, mereka lantas tergelak dengan tingkah polos kekasih Melan tersebut.


"Isinya kue. Kue kesukaan kamu, bukan bom. Ah, mungkin ini juga sejenis bom, tapi bom untuk meledakkan hatimu," seloroh Riana. Tirta mengerutkan keningnya, kue kiriman siapa itu? Kenapa orang itu tahu kue kesukaannya? Dan ... kenapa orang itu meletakkan kue itu di depan pintu, bukannya masuk ke dalam. Tirta benar-benar penasaran, sedangkan Riana tersenyum penuh arti. Serangkaian rencana muncul di otaknya layaknya lampu yang tiba-tiba menyala.


...****...

__ADS_1


...HAPPY READING 😍😍😍...


__ADS_2