Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
117 S2


__ADS_3

Karena terlalu bahagia bisa melihat putrinya kembali, Raisa sampai enggan beranjak meski sebentar saja dari sisi Ana. Bahkan setelah Ana telah tertidur sejak satu jam yang lalu pun, Raisa masih tetap setia menemani putrinya itu.


Ini terlalu membahagiakan. Ia takut, bila ia beranjak sebentar saja, maka semuanya lenyap. Hilang tak berbekas. Ia takut, apa yang ia lihat ini hanya sekedar mimpi. Hanya sekedar bunga tidur yang terlalu indah. Oleh sebab itu, Raisa tetap bertahan di sana untuk memastikan apa yang ia lihat benar-benar putrinya. Putrinya benar-benar pulang. Putrinya benar-benar kembali. Bukan sekedar mimpi apalagi khayalan.


"Ma," panggil anak bungsunya, Heri.


Raisa yang sebelumnya melamun sambil memandangi wajah Ana seketika tersentak saat mendengar panggilan putranya disertai sebuah usapan hangat di punggungnya.


"Heri? Bikin mama kaget saja," ucap Raisa pelan. Sangat khawatir suaranya membangunkan putrinya, Hana.


"Udah malam, mama belum makan malam. Belum minum obat juga. Dan udah waktunya tidur." Peringat Heri.


Raisa mengerutkan keningnya, "astaghfirullah. Mama benar-benar lupa." Ujarnya sambil terkekeh.


"Ya udah, ayo, Heri temenin makan."


"Tapi ... "


"Tapi apa, Ma?" keluh Heri.


"Bagaimana kalau Hana tiba-tiba kembali menghilang?" Ucapnya membuat Heri mengerutkan kening.


"Maksud Mama gimana sih? Masa' mbak Hana tiba-tiba menghilang. Emangnya mbak Hana punya jurus menghilang? Bisa tiba-tiba aja lenyap." Omel Heri sambil geleng-geleng kepala.


"Mama hanya takut, semua ini hanya mimpi. Mama ... " Rasa takut dan khawatir membuat Raisa berpikir berlebihan.


Heri tersenyum lalu memeluk ibunya dari belakang, "ma, mama nggak perlu khawatir. Ini bukan mimpi. Mbak Hana memang udah benar-benar pulang. Sekarang, Mama makan, minum obat, terus istirahat ya. Heri akan temani mama." Ucap Heri lembut yang pada akhirnya menyadarkan Raisa kalau ketakutannya ternyata terlalu berlebihan.


Sesuai permintaan Heri, Raisa pun segera makan dan minum obat yang tentu saja ditemani Heri. Namun seketika Raisa ingat, kemana suaminya, Martin? Bukankah biasanya di jam seperti ini laki-laki itu telah pulang dan mendampinginya. Bukan hanya itu, biasanya laki-laki itulah yang sibuk membujuknya untuk makan, bahkan ia tak segan-segan terjun ke dapur untuk membuatkannya sebuah makanan demi dirinya agar agar mau makan.


Oleh sebab itu, setelah selesai makan dan minum obat, Raisa pun bergegas masuk ke dalam kamar. Ia tidak bertanya pada Heri sebab ia tak ingin Heri berpikir macam-macam tentang Martin. Bisa saja kan ia curiga kalau Martin berulah. Jadi untuk mencari aman, ia menyimpan rasa penasarannya akan keberadaan Martin.


"Kamu tidurlah. Jangan main game melulu sampai begadang!" peringat Raisa setelah makan.


Heri mengangguk sambil menggaruk tengkuknya, salah tingkah. Batinnya bertanya-tanya, kok mamanya bisa tahu rencananya. Padahal tadi baru saja ia berencana untuk Mabar dengan teman-teman main game onlinenya, tapi terpaksa rencana itu ia tangguhkan. Ia tak ingin membantah perintah sang mama. Apalagi Raisa adalah satu-satunya orang tuanya saat ini. Ia tak ingin membuat ibunya sedih apalagi kecewa dengan dirinya.


Setelah mengatakan itu, Raisa pun segera masuk ke kamar.


Namun, ada yang aneh di kamar saat itu. Biasanya, kalau ia belum tidur, lampu kamar tak pernah dimatikan terlebih dahulu. Sedangkan sekarang, kamar itu tampak temaram. Tampak gorden balkon kamar tersibak dan berayun-ayun karena tertiup angin.


Dahi Raisa berkerut, kenapa pintu balkon itu terbuka? Apa suaminya berada di sana? Tapi kenapa? Apa suaminya memiliki masalah yang berat sampai harus berdiri di balkon di malam yang dingin seperti ini?


Kepulan asap dari pembakaran batangan tembakau mengudara di balkon kamar. Mata Raisa memicing saat mendapati Martin lah dalang utamanya.


Raisa pun segera menghampiri Martin, membuat laki-laki itu tersentak dan langsung mematikan puntung rokoknya di dalam asbak.


"Mama? Kok datang tanpa suara sih? Bikin kaget aja," Martin menelan ludahnya susah payah. Apalagi saat melihat ekspresi datar istrinya. Rasa ketakutan ditinggalkan menjalar. Sungguh, ia takut kehilangan momen bisa memandangi wajah sang istri sepuasnya seperti ini. Tiba-tiba saja nata Martin memerah. Raisa sampai heran dengan ekspresi sang suami yang seakan memiliki beban berat.


Raisa lantas mendudukkan bokongnya di atas pangkuan Martin membuat laki-laki itu terbelalak. Namun ekspresi itu kembali berubah sendu saat manik mata mereka saling bersirobok.


"Papa kenapa? Apa papa ada masalah?" tanya Raisa bingung.


"Bagaimana keadaan Hana? Apa dia baik-baik saja?" Bukannya menjawab, Martin justru menanyakan keadaan Hana membuat Raisa mendengus.


"Ditanya apa malah jawab apa. Dasar nyebelin!" Omel Raisa membuat Martin gemas lalu mengecup bibir sang istri. Raisa lantas mendelik yang kemudian dibalas Martin dengan kecupan lagi. Martin mengecup bibir Raksa beberapa kali, takut ini momen terakhir mereka jadi ia ingin memuaskan dahaganya akan sang istri untuk kemudian disimpan di dalam memorinya.


"Kamu ya, cium, cium melulu. Malam ini kok kamu aneh sih. Oke, kamu tadi nanya keadaan Hana kan, keadaannya alhamdulilah baik. Demamnya sudah turun. Setelah makan dan minum obat, dia udah tidur lagi. Jadi ... semuanya aman." Ucap Raisa bahagia. Semua itu terlihat jelas di netranya yang tampak berbinar-binar.


"Entah mukjizat apa yang Allah datangkan pada Hana hingga akhirnya dia mau pulang. Aku sangat bersyukur dan berterima kasih atas mukjizat tak terduga itu, pa. Bukan hanya itu, Mama juga meminta Hana kembali ke rumah ini dan berhenti bekerja. Dan kamu tahu apa jawabannya?" sorak Raisa dengan senyuman merekah.


Martin menggeleng. Meskipun perih, tapi ia bahagia bisa melihat wanita yang masih terlihat cantik meskipun usianya tak lagi muda itu tersenyum lebar.


"Hana mau, Pa. Hana bersedia pulang dan berhenti bekerja. Mama bahagia, Pa, sangat bahagia." Ucapnya sambil berkaca-kaca.


Martin lantas memeluk Raisa erat yang dibalas perempuan itu dengan pelukan tak kalah erat.


"Pa," panggil Raisa.


"Hmmm ... " Jantung Martin mulai terpompa dengan sangat kencang. Takut-takut apa yang ingin disampaikan Raisa setelah ini merupakan salam perpisahan mereka.


Raisa lantas melepaskan pelukannya pelan-pelan kemudian menatap lekat netra Martin.


Dug dug dug ...


Jantung Martin berdebar-debar. Ia benar-benar gugup seperti seorang terpidana yang tengah menantikan ketuk palu hakim.

__ADS_1


"Sayang," panggil Raisa lagi membuat dahi Martin mengernyit. Bukan tanpa alasan, istrinya ini tak pernah memanggilnya sayang sebelumnya.


"Ap-apa?" tanya Martin gugup.


"Untuk merayakan hari bahagia ini, mari kita ... "


Dug dug dug dug dug dug dug dug dug dug dug dug dug dug dug dug dug dug dug dug dug dug dug dug dug dug dug


"Ki-kita apa?" tanyanya gugup.


"Mari kita ... "


Raisa menelan ludahnya kasar. Ia sebenarnya malu untuk mengatakannya, tapi sejujurnya ia pun menginginkannya sebab meskipun mereka telah menikah lebih dari setahun, tapi mereka baru beberapa kali melakukannya. Alasannya karena ia kehilangan hasrat. Pikirannya tak pernah tenang semenjak kepergian putrinya. Beruntung Martin pria yang penyabar dan tak pernah menuntut. Padahal ia tahu, laki-laki membutuhkan itu untuk menyalurkan kebutuhan biologisnya. Oleh sebab itu, karena hatinya telah kembali tenang, ia pun ingin melakukan apa yang semestinya mereka lakukan.


"... bercinta." Bisik Raisa yang sukses membuat letupan kembang api di dadanya.


"Tu-tunggu, apa ini ... percintaan sebagai salam perpisahan?" tanyanya sendu membuat dahi Raisa berkerut dalam.


"Maksudnya?"


"Tadi ... aku mendengar pemberianmu pada Hana. Kau bilang ... " Martin merasakan lidahnya kelu, "kau bilang kau akan melepaskanku asalkan Hana kembali ke rumah ini dan kembali bahagia." Ujar Martin sangat lirih. Kepedihan terasa di setiap kata yang Martin ucapkan.


Mendengar itu, Raisa terkekeh membuat Martin mengerutkan keningnya, "kenapa Mama justru tertawa? Apa aku terlihat sangat menyedihkan sampai aku pantas ditertawakan?"


Raisa yang masih berada di pangkuan Martin lantas mengalungkan lengannya di leher Martin. Darah laki-laki itu seketika berdesir. Ini pertama kalinya perempuan yang telah menjadi istrinya itu melakukan hal intim seperti ini. Ia tentu saja senang, tapi membayangkan kalau ini kemungkinan interaksi intim mereka yang terakhir membuat hatinya bagai diiris sembilu. Perih.


"Kenapa hal semanis ini harus terjadi di saat hubungan kita sudah berada di ujung tanduk?" Tentu saja kalimat ini hanya ia suarakan dalam hati.


"Mama tahu, pasti papa ngupingnya setengah-setengah, iya kan? Papa nggak mendengarkan pembicaraan kami sampai akhir, benar kan tebakan Mama?" terka Raisa sambil tersenyum geli.


Martin bak remaja polos pun mengangguk, makin terkekeh lah Raisa. Kekehan yang sukses membuat Martin mematung, mengagumi kecantikan wanita yang usianya terpaut 10 tahun darinya itu.


"Makanya, kalau nguping itu jangan tanggung-tanggung, jadinya ya gini, salah paham," ujar Raisa sambil tersenyum manis. "Mama sebenarnya sempat salah paham dengan Hana. Mama pikir, Hana kabur gara-gara dia jatuh cinta sama papa jadi dia kecewa, eh ternyata Mama salah. Dia cuma kecewa ngerasa Mama mengkhianati mendiang papanya. Tapi Papa tenang aja, sekarang Hana sudah bisa menerima hubungan kita kok. Jadi ... "


"Jadi kita nggak akan berpisah kan?" potong Martin cepat dan Raisa mengangguk sambil tersenyum.


Membuncah lah rasa bahagia Martin. Dalam hati ia berterima kasih pada Hana karena mau menutupi kenyataan sebenarnya dan akhirnya memberikan restu pada mereka. Entah apa yang melatarbelakangi perubahan Hana, tapi tetap saja, ia bersyukur. Ia harap, kedepannya kehidupan mereka akan terus dilimpahkan kebahagiaan dan selalu bersama hingga maut memisahkan.


Karena malam kian larut, kedua sejoli yang baru saja merasakan kebahagiaan tanpa beban membebat jiwa dan raga itupun melakukan sesuatu yang biasa dilakukan pasangan lainnya. Mereka menghabiskan malam dengan melakukan ibadah yang paling indah sepanjang usia pernikahan mereka.


...***...


Hana mengangguk patah-patah. Sebenarnya ia merasa tak enak hati ingin berhenti bekerja di rumah Abidzar. Tapi ia pun paham, tak mungkin ia selamanya menjadi seorang asisten rumah tangga. Ia ingin melanjutkan kuliahnya lalu melakukan apa saja yang ia inginkan dan sempat tertunda karena pelariannya ini.


Setelah 30 menit perjalanan, akhirnya Hana dan Raisa telah tiba di kediaman Abidzar. Mereka sengaja datang sedikit siang berdekatan dengan jam makan siang sebab di jam seperti itu biasanya Abidzar pulang ke rumah untuk makan siang dengan keluarga kecilnya.


"Assalamu'alaikum," ucap Ana dan Raisa bersamaan. Di saat bersamaan, Abidzar dan Freya memang berada di ruang tamu sebab mereka memang baru selesai makan siang.


"Wa'alaikumussalam," sahut Freya dan Abidzar bersamaan.


"Ana," gumam Freya sedikit penasaran karena datang dengan penampilan berbeda dan didampingi oleh seseorang.


"Iya mbak, ini ... Ana. Dan ini perkenalkan, mama Ana," ujar Ana sambil menggestur Raisa yang berdiri di sampingnya.


"Ah, halo, perkenalkan, saya Raisa, ibu Hana," ujar Raisa ramah.


Freya dan Abidzar pun menyambut uluran tangan Raisa. Lalu Freya mempersilahkan keduanya duduk. Ia yakin, ada yang ingin disampaikan Ana dan ibunya.


Dengan perasaan gugup, Ana lantas mengemukakan niatnya yang ingin berhenti bekerja. Terang saja Freya terkejut. Sebenarnya Freya tak rela kehilangan Ana yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri. Tapi ia tak mungkin juga menahan Ana di rumah itu sebagai asisten rumah tangga. Apalagi dari penampilan Ana kali ini dan ibunya menunjukkan kalau mereka bukanlah orang biasa. Apa yang Ana dan Raisa kenakan merupakan pakaian butik ternama. Freya jelas dapat melihat hal itu.


"Maaf ya mbak, tuan, kalau keputusan berhenti ini terlalu mendadak," ucap Ana sedikit menyesal.


Freya dan Abidzar pun tersenyum, "tak perlu merasa tak enak hati. Tanpa kau bercerita pun kami paham. Sudah cukup melarikan dirinya. Kembalilah ke rumahmu. Kami tidak apa-apa." Bukan Freya yang menjawab, tapi Abidzar. "Nanti gaji dan pesangonmu akan Freya bayarkan. Kalau begitu, saya permisi dulu, Bu. Saya harus segera kembali ke kantor," imbuh Abidzar yang memang ingin kembali bekerja.


Raisa mengangguk seraya tersenyum, "iya. Terima kasih atas kebaikannya selama ini yang mana mau memberikan putri saya pekerjaan sekaligus tempat tinggal. Saya berhutang budi pada Anda sekeluarga."


"Tak perlu merasa sungkan, bu. Lagipula kan Ana selama ini bekerja dengan saya. Jadi Jangan anggap hal itu sebagai hutangmu disebabkan dalam urusan ini kami saling menguntungkan. Ana bekerja meringankan pekerjaan istri saya, dan Ana mendapatkan uang sebagai imbalannya. Kalau begitu, saya permisi." Setelah mengucapkan itu, Abidzar pun segera berlalu. Freya meminta izin mengantar kepergian suaminya hingga mobilnya benar-benar menghilang.


Freya masuk ke dalam rumah setelah Abidzar benar-benar pergi. Mereka lantas berbincang sementara Ana tengah membereskan barang-barangnya.


"Assalamu'alaikum," seru suara perempuan yang pasti lebih dari satu dari depan pintu.


Freya lantas segera permisi untuk melihat tamu yang datang.


"Wa'alaikumussalam. Tante Riana, Arum, Nenek," seru Freya tak menyangka kedatangan tamu keluarga Tirta. "Silahkan masuk Tan, nek, Rum." Freya pun mempersilahkan ketiganya masuk setelah sebelumnya Freya menyalami mereka satu persatu.

__ADS_1


"Kamu ada tamu ya, Fre?" tanya Riana sambil berjalan masuk.


"Iya, Ma."


"Si cantik mana, nak?" tanya sang nenek.


"Si cantik?" gumam Freya tak paham.


"


Riana terkekeh, "itu lho Fre, art kamu itu, si Ana. Dia dimana? Nenek kangen dia soalnya."


"Nenek kenal Ana?" tanya Freya heran.


"Kenal dong. Kan dia yang tolong Nenek waktu tersesat. Jadi dimana dia?"


"Ana sedang berkemas, Nek."


Nenek, Riana, dan Arum lantas menghentikan langkahnya, "berkemas? Maksudnya?"


"Iya, Ana berhenti bekerja mulai hari ini."


"Apa? Kenapa? Apa alasannya? Apa dia mau pindah kerja? Kalau iya, bilang, kerja sama nenek aja, mau nggak?"


"Ma ... " Tegur Riana saat sang ibu mertua nyerocos begitu saja.


"Ssst ... kamu diem aja. Kalau Mama tidak segera bertindak, bisa-bisa gadis itu menghilang dan kamu tahu akibatnya?"


Freya merasa bingung dengan apa yang Nenek Tirta katakan. Hingga tiba-tiba terdengar tangisan Abrisham dari salam kamar membuat Freya pun meminta izin untuk segera menghampiri putranya yang kemungkinan kelaparan.


"Tan, nek, Rum, silahkan duduk dulu ya, aku mau liat Abrisham yang sepertinya sudah lapar lagi."


Ketiganya lantas mengangguk sambil melanjutkan langkahnya menuju ruang tamu dimana Raisa berada.


Saat tiba di ruang tamu, dahi Riana mengernyit. Begitu pula Raisa yang menoleh ke arahnya.


"Raisa ... "


"Riana ... "


Seru keduanya berbarengan. Mata keduanya berbinar dan dalam hitungan detik, mereka saling menghampiri dan berpelukan.


"Ya Allah, aku nggak nyangka banget bisa ketemu kamu lagi di sini," seru Riana girang.


"Aku juga, Ri. Bayangkan aja, kita udah berpisah hampir 30 tahun lho, tiba-tiba ketemu lagi kayak gini, bener-bener nggak nyangka."


"Kamu benar, Sa. Eh, ngomong-ngomong kamu ada keperluan apa di rumah keponakan aku?"


"Jadi yang punya rumah ini tuh keponakan kamu? Yang perempuan apa laki-laki?"


"Iya, ini rumah keponakan aku. Yang laki-laki, Abidzar. Itu anak kakak perempuan ku."


"Ya ampun, nggak nyangka banget ternyata anakku kerja di rumah keponakan kamu."


"Hah, anak kamu? Anak kami kerja di sini? Siapa?" seketika Riana teringat wajah Ana yang memang sedikit mirip dengan wajah Raisa.


"Ana?"


"Hana."


Ucap keduanya yang kembali serempak membuat Nenek dan Arum ikutan kepo.


"Kamu kenal anakku?"


"Kalau Hana aku nggak kenal, kalau Ana, kenal."


"Hana sama Ana itu orang yang sama." Ujar Raisa sambil terkekeh.


"Serius?" Riana meminta konfirmasi sekali lagi.


"Bukan lagi serius, tapi Merkurius, Venus, Aquarius, Sagitarius, pokoknya rius-rius aku benar-benar serius," sahut Raisa seraya tergelak.


"Ya ampun, ternyata dunia memang selebar daun kelor ya! Aku benar benar-benar nggak nyangka, Ana putrimu." Seketika lampu-lampu di otak Riana menyala bersamaan. Sepertinya semesta sedang mendukung rencananya.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 😍😍😍...


__ADS_2