Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
Tak ada kata perpisahan


__ADS_3

Keesokan paginya, Erin bangun tidur sedikit kesiangan. Ia merentangkan tangan dengan senyum merekah lebar. Ia yang baru bangun langsung menggapai ponselnya dan membuka sosial medianya. Senyumnya merekah makin lebar. Seringai kemenangan terbit di bibirnya sebab kini hampir seluruh laman media online membahas mengenai perbuatan keji Abidzar dan Freya pada dirinya.


Unggahannya kini telah mendapatkan ratusan ribu like, ratusan ribu komentar, dan dibagikan ribuan akun. Hampir setiap akun turut mengomentari. Hanya ada beberapa gelintir saja orang yang menasihati agar jangan langsung mencela sebab mereka belum tahu kebenaran yang sebenarnya. Tapi dasar kaum deterjen eh maksudnya netizen, bila ada yang bersilang pendapat sedikit saja, maka dia justru akan jadi bahan bully-an. Dianggap sok alim, sok bijaksana, sok jadi ustadz/ustadzah dadakan, diejek nggak usah ceramah di sana, dan berbagai macam ejekan lainnya. Bahkan tak sedikit yang mendoakan agar mengalami hal serupa biar tahu rasanya. Begitulah kenyataan di sosial media, kalau ada yang mengajak atau menasihati dalam kebaikan, justru ia dijadikan bahan ejekan dan bully-an.


Sementara itu, di kediaman orang tua Abidzar, Freya yang baru saja turun ke dapur untuk mengambil air minum mendengar bisik-bisik pelayan di rumah itu.


"Apa berita itu bener ya?"


"Berita apa? Oh, yang non Erin diceraikan tuan Abi terus digamparin itu?"


"Iya. Aku nggak nyangka, ternyata begitu ceritanya. Emang bener sih, semenjak non Freya di sini, tuan Abi pun selalu di sini, nggak pulang-pulang ke rumahnya. Tega banget."


"Apalagi aku. Non Erin emang jutek gitu, pemarah dan sombong juga, tapi nggak sepantasnya tuan Abi menceraikan non Erin setelah pengorbanan dia."


"Iya. Mentang-mentang non Erin nggak bisa hamil jadi dia diperlakukan semena-mena."


"Ih, berita non Erin itu jadi viral banget ya. Heboh dimana-mana. Yang bikin makin heboh, ternyata non Freya itu bekas perempuan nggak bener ya. Dia juga mantan napi. Kasus pembunuhan, njir. Gila parah."


"Keliatannya aja lembut, tahunya," kedua pelayan kediaman orang tua Abidzar pun bergidik sendiri.


Freya yang berdiri tak jauh dari kedua orang itu mematung.


"Ssst ... " Tiba-tiba ada seorang pelayan yang memberi kode kalau ada yang mendengar pembicaraan mereka. Keduanya lantas menoleh ke arah yang dimaksud rekannya tersebut dan mata mereka membulat dengan jantung berdetak cemas.


"Non, Freya ... " Mereka tergagap dengan wajah pucat pasi. Bagaimana kalau Freya tiba-tiba memarahi mereka? Apalagi Freya pernah membunuh? Atau bagaimana kalau mereka dipecat dari pekerjaan ini? Mereka membutuhkan pekerjaan ini. Apalagi mereka bukan asli dari daerah sini, bagaimana nasib mereka nantinya? Begitu banyak pertanyaan kekhawatiran dalam benak keduanya.

__ADS_1


Freya tersenyum lembut. Namun wajahnya tampak pucat pasi setelah mendengar kata-kata itu. Freya yang tadi bersemangat turun ke bawah ingin mengambil air minum kemudian duduk-duduk di taman belakang seketika kehilangan semangat.


"Boleh aku pinjam hp kalian sebentar? Hp ku hilang entah kemana," ujar Freya yang masih bertutur lembut seperti biasanya.


Keduanya saling menoleh, lalu salah satunya menyodorkan ponsel yang telah ia buka kuncinya.


"I-ini, Non," ujar salah satunya gugup.


"Terima kasih," jawabnya. Lalu ia melihat simbol aplikasi media sosial berwarna biru dengan logo F di depannya dan segera membukanya. Ia menggulir layar tersebut ke bawah. Lalu ia menemukan postingan yang dimaksud pelayan tadi. Ia mendengarkan sebentar penuturan Erin lalu dilanjut membaca komentar. Hatinya berdenyut nyeri. Bagaimana semua orang langsung saja menyalahkannya tanpa mencari tahu kebenarannya. Kakinya mendadak lemas seakan tak bertulang. Seketika ia mengingat sang kakak.


'Bagaimana kalau kak Tio melihat berita ini? Kak Tio pasti marah dan membenciku,' gumamnya dalam hati penuh kecemasan.


Kembali ke kediaman Abidzar, Erin yang merasa bahagia pun terus memainkan ponselnya. Kemudian ia melihat postingan Merlyn berupa dekorasi sebuah rumah yang ia ketahui itu merupakan rumah mantan sahabatnya itu. Di tengah-tengah video terdapat sebuah caption 'The day'.


Hari Erin seketika panas, "takkan aku biarkan kalian berbahagia sedangkan aku di sini sedang mengalami kehancuran di sini."


...***...


"Ma, liat Freya nggak?" tanya Abidzar panik saat tidak menemukan sang istri.


"Nggak, coba liat di belakang atau di dapur!" titah Sagita. "Kamu juga Bi, udah tau Freya harus bed rest kok malah dibiarin kelayapan." Omel Sagita.


"Abi juga nggak tau, Ma. Tadi Abi mandi, pas keluar Freya udah nggak ada," jawab Abidzar dengan raut muram. Ia pun segera melangkahkan kakinya menuju taman belakang, tapi ia tidak menemukan Freya. Saat ada pelayan yang lewat, ia pun menanyakannya. "Kamu liat Freya?" tanya Abidzar.


"Oh itu tuan, tadi saya liat non Freya mau ke dapur." Ujarnya yang sempat melihat Freya menuruni tangga dengan pelan-pelan lalu menuju dapur.

__ADS_1


Abidzar pun mengangguk dan segera membalikkan badannya menuju dapur. Saat melihat keberadaan istrinya, Abidzar pun mengulas senyum, tapi senyum itu hanya bertahan beberapa detik hingga saat ia sudah berdiri menjulang di belakang Freya, matanya pun seketika terbelalak. Abidzar menatap kedua pelayan tadi dengan mata melotot membuat keduanya ketakutan.


"Sayang," panggil Abidzar pelan, tapi Freya tak merespon sama sekali. "Sayang, jangan terlalu kau pikirkan berita itu. Perempuan itu sudah gila, membual demi mendapatkan simpati," ucap Abidzar lagi sambil meraih pundak Freya dan membalikkan badannya sehingga kini mereka saling berhadapan.


Melihat wajah sendu berlinang air mata Freya, jelas membuat dada Abidzar sesak.


'Ini semua gara-gara perempuan sialan itu. Aku tak menyangka, selama ini aku telah menikahi seorang iblis. Kau tunggu saja Erin, aku pasti akan membalasmu tanpa ampun,' desis Abidzar dalam hati.


"Mas," panggil Freya lirih.


"Ya, kau butuh sesuatu?" Freya tak menjawab. Ia lebih dahulu mengembalikan ponsel itu ke empunya dan kembali membalik badan menghadap suaminya.


Freya menghela nafas panjang, "mas, apa sebaiknya kita berpisah? Aku ... aku tak sanggup bila harus terus begini? Sepertinya memang tak ada kebahagiaan untukku. Mas tenang saja, aku tak akan menghalangi bila Mas ingin bertemu dengan anak kita."


Sontak saja, apa yang Freya ucapkan bak belati tajam yang menikam tepat ke jantung. Ia tak menyangka Freya akan mengucapkan kata-kata keramat tersebut.


Abidzar menggeleng dengan cepat, "nggak, aku nggak mau. Sampai kapanpun tak akan ada perpisahan. Kalaupun ada, hanya kematian yang boleh memisahkan kita." Sergah Abidzar menolak keputusan sepihak Freya.


"Tapi Mas, kalau pernikahan kita diteruskan, maka nama baik keluarga Mas akan hancur. Bukan tidak mungkin, hal tersebut akan berdampak pada usaha Mas dan perusahaan papa. Kehadiranku memang sejak awal sudah salah. Seharusnya aku menjalankan perjanjian itu saja dan tidak pernah terlibat perasaan denganmu. Kini semua terkena imbasnya. Aku ... aku ... hiks ... hiks ... "


Melihat sisi rapuh istrinya, membuat dada Abidzar berdenyut nyeri. Yang ingin Abidzar berikan pada Freya adalah kebahagiaan, tapi kenapa justru selalu kesedihan yang ia dapatkan.


"Nama baik keluarga Mas tidak akan hancur karena bukan kau yang salah. Kau istirahat saja, hm. Mas pasti akan membereskan semua kekacauan ini. Pokoknya tak ada kata perpisahan. Kita akan selalu bersama dan menua bersama. Tak usah banyak pikiran, ingat kau harus bed rest total. Bunda nggak mau kan terjadi sesuatu sama dedek?" Freya menggeleng tegas. Tentu ia tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada calon anaknya. "Kalau begitu ayo, Mas antar ke kamar. Biar Mas minta pelayan siapkan sarapan kita di kamar. Kan Mas udah bilang, kalau butuh apa-apa, panggil Mas saja. Atau pencet interkom di sisi tempat tidur untuk memanggil pelayan. Tak perlu kemana-mana. Kesehatanmu dan calon buah hati kita lebih penting. Ingat itu." Ucap Abidzar lembut tapi penuh ketegasan. Lalu tanpa banyak bicara, Abidzar menggendong Freya ala bridal style menuju kamar membuat para pelayan yang ada di rumah itu melongo melihat sikap romantis tuan muda mereka yang baru ini terlihat.


Sebelum naik ke lantai atas, Abidzar lebih dahulu meminta kedua pelayan tadi menyiapkan sarapan mereka dan membawakannya ke kamar. Dengan patuh, kedua pelayan itu melakukan tugasnya dengan jantung yang jedag-jedug. Khawatir setelah itu mereka akan mendapatkan hukuman karena telah membuat nyonya muda mereka bersedih.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 😍😍😍...


__ADS_2