Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
69


__ADS_3

Sementara itu, di seberang Abra Corp, tampak seorang pria memakai hoodie hitam dengan penutup kepala, kaca mata, dan tak lupa masker membuat tak ada satupun yang mengenali sosok tersebut. Ia berdiam diri di sebuah kedai kopi yang terletak tepat di seberang gedung Abra Corp. Mata elangnya sejak tadi terfokus mengarah kepada gedung yang hanya terdiri atas 10 lantai tersebut.


Tak lama kemudian, datang seorang bersetelan kerja dan duduk tepat di depan sosok tersebut.


"Bagaimana? Apa hasil audit telah keluar?" tanya sosok tersebut yang ternyata adalah Arifin.


Laki-laki itu menggeleng, "belum, Pak. Tapi saya dengar kabarnya kalau hasilnya telah keluar." Ujar laki-laki itu sambil menyeka peluh di dahinya.


"Kau kenapa?" tanya Arifin merasa sikap anak buahnya itu aneh.


"Itu Pak, bagaimana ... bagaimana kalau nama saya termasuk di dalamnya?" cemas laki-laki tersebut. Bagaimana ia tidak cemas, dia memiliki anak dan istri yang masih membutuhkan nafkah darinya. Dirinya adalah tulang punggung keluarga, istrinya tidak bekerja. Lalu bagaimana nasib anak dan istrinya kelak bila namanya pun termasuk dalam daftar tersangka. Sebenarnya tak ada niatan laki-laki itu untuk melakukan tindakan korupsi, tapi tekanan dari Arifin lah yang memanfaatkan rekening pribadi istrinya untuk melakukan money laundry dengan iming-iming yang cukup fantastis. Apalagi saat itu ia membutuhkan uang yang cukup besar untuk melakukan operasi Caesar istrinya. Alhasil, ia pun menyetujui penawaran Arifin.


Namun kini, ia menyesali keputusannya itu. Apalagi ia melibatkan nama sang istri juga. Ia khawatir nama istrinya pun ikut terseret karena kebodohannya.


"Itu sudah risiko. Bukankah kau pun menikmati uang tersebut." Ucap Arifin enteng membuat laki-laki itu terhenyak. Setelah melibatkannya, lalu kini Arifin seakan ingin cuci tangan dari perbuatannya. Bahkan ia seakan biasa saja setelah ikut melibatkan orang lain dalam kelakuan busuknya itu.


"Pak, andai Anda tak memaksa, aku pasti takkan pernah mengikuti permainan kotor Anda. Anda yang sudah menyeret nama saya, lalu Anda bersikap seenaknya seolah tak masalah mengorbankan orang-orang demi kepentingan Anda." Mata laki-laki itu melotot. Memang usianya lebih muda dari Arifin, tapi bila Arifin bersikap semaunya seperti ini, ia pun tak terima.


"Lalu aku harus bagaimana, hah?" Sentak Arifin tak terima dengan kata-kata laki-laki tersebut. Apalagi laki-laki tersebut meninggikan nada bicaranya. Ia tersinggung. "Kau pikir aku pun akan baik-baik saja setelah ini? Tidak, bodoh. Kau pikir kenapa di jam kerja aku justru berada di sini? Bahkan untuk menemuimu saja aku harus memakai penutup wajah? Karena aku yakin, namaku pasti akan terseret. Apalagi Abra Corp menggunakan tim audit perusahaan yang berbeda dari biasanya. Kau pikir, aku bisa membantumu, sedangkan nasibku saja belum tahu rimbanya." Arifin mendelik tajam. Dia kesal bukan main. Hidupnya sudah tak baik-baik saja semenjak audit dilakukan. Bahkan kini ia tidak bisa bebas melenggang ke mana pun karenanya.


Kesal karena Arifin tidak bisa memberikan solusi baginya, laki-laki itu pun segera beranjak dari sana. Sepeninggal laki-laki itu, Arifin menghela nafas kasar. Ia benar-benar bingung saat ini. Bagaimana caranya kabur dari kota itu, sedangkan ia saja pasti sudah masuk daftar pencarian orang.


Arifin menurunkan sedikit maskernya, kemudian menenggak kopi hitam hitamnya dalam sekali tegukan. Diletakkannya kembali cangkir itu dengan sedikit sentakan kasar. Ia benar-benar frustasi tak menyangka akan mengalami ini di usianya sekarang. Padahal dalam hitungan bulan lagi ia berencana melakukan pensiun dan menikmati sisa harinya dengan bersenang-senang, tapi yang terjadi justru sebaliknya.


"Aku tak mau menghabiskan sisa usiaku di balik jeruji besi. Tidak. Itu tidak boleh terjadi." Gumamnya frustasi.


Saat sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, tanpa Arifin sadari, ada seseorang yang sudah mengawasi pergerakannya sejak tadi. Bahkan sampai Arifin pulang ke apartemennya pun orang tersebut masih terus menguntitnya. Ia juga menanyakan ddi unit berapa Arifin tinggal kepada resepsionis.


"Maaf, boleh saya bertanya, tadi saya lihat Om saya, Om Arifin masuk ke apartemen di sini, apa Om saya itu memiliki unit di sini? Kalau iya, unit nomor berapa dan di lantai berapa? Sudah lama saya tidak bertemu dengannya karena Miss komunikasi. " Ujar laki-laki yang berusia sekitar 25 tahunan itu.

__ADS_1


"Oh, siapa namanya tadi? Pak Arifin? Sebentar ya, saya periksa dulu." Ujar sang resepsionis. Ia tidak curiga sama sekali. Apalagi pria itu memiliki wajah yang cukup tampan membuat resepsionis itu tersenyum-senyum sendiri.


"Oh, benar kak, Pak Arifin memiliki unit di sini. Dia tinggal bersama istrinya di unit 703 lantai 11." Ujar resepsionis itu dengan mengumbar senyum manisnya.


"Oh, baiklah. Terima kasih ya, mbak. Kalau begitu saya permisi dulu. Mungkin besok-besok aku kesini lagi. Sekarang aku masih ada kerjaan." Ujar pria itu beralasan.


"Oh, iya kak."


"Bye cantik." Ujar Pria itu seraya tersenyum manis membuat sang resepsionis tersipu malu.


Sekeluarnya pria itu dari gedung apartemen dimana Arifin tinggal, ia pun segera menghubungi atasannya.


"Lapor pak, saya sudah menemukan tempat tinggal target" Ujar laki-laki tersebut.


"Bagus. Tunggu perintah selanjutnya."


...***...


"Mas mau kemana malam-malam begini keluar? Mana rapi banget." Mata Freya memicing melihat Abidzar tampak bersiap-siap untuk pergi. Padahal Abidzar berpenampilan santai. Hanya mengenakan kaos oblong lengan panjang berwarna putih dan celana jeans berwarna senada. Tapi bagi ibu hamil itu sebaliknya, penampilan Abidzar begitu rapi dan tampak memukau. Membuatnya memicing curiga. Abidzar bahkan makan sangat sedikit seolah sedang mempersiapkan perutnya untuk makan malam dengan orang lain.


Abidzar mengerutkan kening. Lalu ia memperhatikan penampilannya yang menurutnya biasa saja. Tak ada yang berlebihan pikirnya, tapi kenapa Freya tampak mencurigainya sampai seperti itu. Seolah-olah ia sedang curiga. Khawatir suaminya berselingkuh di belakangnya.


Seketika Abidzar tersenyum miring, ia sangat yakin, istrinya itu tengah cemburu juga cemas dirinya berselingkuh. Sesuatu yang tak pernah terjadi pada perempuan itu. Bila biasanya Freya tampak biasa saja bila ia hendak bepergian kemanapun. Tak ada rasa cemburu apalagi takut diselingkuhi. Seakan tak ada rasa cinta di hatinya untuk dirinya. Tapi kini, Freya jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaannya. Abidzar yang awalnya belum benar-benar yakin dengan perasaan wanita hamil itu padanya, kini jadi benar-benar yakin kalau apa yang Freya katakan malam itu sungguh-sungguh dari dasar hatinya.


"Mas ada janji sama seseorang." Ujar Abidzar berusaha bersikap acuh tak acuh.


"Janji sama seseorang? Laki-laki atau perempuan?" ketus Freya.


"Laki-laki atau perempuan ya?" Beo Abidzar sambil tersenyum usil.

__ADS_1


"Mas Abi ih, orang serius malah main-main." Sewot Freya.


Abidzar terkekeh kemudian memeluk Freya dari belakang, "sama laki-laki, sayangkuuuu. Kamu cemburu, hm?"


"Cemburu? Mana ada. Ngapain cemburu. Nggak penting." Kilah Freya.


"Ah, yang benar? Beneran nih nggak cemburu kalau Mas makan malam sama perempuan lain? Yakin?" Goda Abidzar.


Freya mengerucutkan bibirnya. Dalam hatinya bertanya-tanya, 'apa mungkin aku cemburu? Masa' sih?'


Abidzar yang gemas melihat tingkah Freya lantas mengecup pipinya dari samping.


"Ya udah, kalau nggak cemburu. Mas ketemuan sama cewek aja lah. Istri Mas juga nggak cemburu. Jadi nggak masalah 'kan!"


Abidzar melepaskan pelukannya. Lalu ia kembali ke meja rias dan mengambil parfum miliknya dan menyemprotkannya di tubuhnya. Freya yang melihat itu seketika memanas. Ia tak rela bila suaminya bertemu dengan perempuan lain. Apalagi suaminya itu sampai berdandan sedemikian rupa seakan ingin tampil paripurna di hadapan perempuan itu.


Melihat mata Freya memerah antara menahan amarah juga tangisan membuat Abidzar tak tega. Apalagi kondisi Freya yang tengah hamil. Ia tak mau Freya jadi banyak pikiran karena ulah usilnya.


"Sayang, kamu marah?" Abidzar kembali memeluk Freya. Kali ini dari depan. Tapi Freya diam saja. Tidak merespon sama sekali. "Sayang, Mas tadi hanya bercanda." Ucap Abidzar lagi seraya mengusap pipi Freya. "Mas serius. Kalau nggak percaya, tanya aja sama Tirta. Mas kesana juga nggak sendirian kok. Ada Tirta yang menemani. Ada hal penting yang harus Mas segera selesaikan. Jadi nggak usah mikir yang macam-macam. Mas nggak akan mungkin khianati kamu. Apalagi menyakiti kamu. Nggak mungkin. Jadi kamu tidur aja duluan, ya. Kalau urusan Mas sudah kelar, Mas pasti segera pulang kok." Ucapnya mencoba meyakinkan Freya.


Freya menghembuskan nafas lega. Setelah mendapatkan penjelasan itu, ia akhirnya merasa sedikit lebih tenang. Freya pun mengangguk.


"Hati-hati di jalan. Jangan kemalaman pulangnya." Freya memperingatkan Abidzar.


Abidzar pun mengangguk, "jaga bunda ya, sayang. Ayah pergi dulu. Selamat malam anak ayah dan bunda sayang." Ucap Abidzar di depan perut Freya. Freya tak mampu menutupi rasa bahagianya. Ia pun menjawab, "selamat malam juga ayah sayang." Ucap Freya dengan suara anak kecil membuat Abidzar terkekeh. Rasanya ia enggan sekali keluar malam ini. Ingin menghabiskan banyak waktu dengan istrinya tercinta dan calon buah hatinya. Tapi itu tidak bisa ia lakukan sebab apa yang akan ia lakukan malam ini sangatlah penting. Terutama untuk kelangsungan rumah tangganya kelak.


...***...


...HAPPY READING 😍😍😍...

__ADS_1


__ADS_2