
"Hai gaes," sapa Erin dan Rana yang masuk ke dalam cafe Starla secara bersamaan. Mereka memang memiliki janji temu di tempat itu.
"Hai juga, Rin, Ran." balas Lisa dan Meylin.
"Wah, dari aroma-aromanya nih kayaknya ada kabar baik nih!" Seru Meylin membuat Erin dan Rana saling menoleh kemudian terkekeh.
"Kalau aku sih, iyes. Kalau loe, Ran?" sahut Erin.
"I'm too, bestie." Balasnya sumringah.
"Wah, berbanding terbalik dengan Lisa dong!"
"Maksudnya? Eh, iya, muka mu kok kayak kusut banget gitu, Sa?" Tanya Erin heran.
Lisa menyesap kopinya, ""mending kalian ceritain kabar bahagia kalian dulu deh. Yang sad-sad mending terakhiran aja." Ujar Lisa yang diangguki ketiga temannya. "Loe Rin, ada kabar baik apa?"
"Bukan kabar baik sih, hanya saja lagi senang aja. Kemarin gue ngerjain si jalaang. Habisnya gue sebel, semenjak dia hamil, semua orang jadi perhatian ke dia. Apa-apa dia, gue sebel dong. Jadi kemarin gue kerjain deh ... "
Lalu Erin pun melanjutkan ceritanya. Semua ia ceritakan tanpa ada yang ditutupi.
"Wih, hebat bener loe, Rin! Akting loe pasti keren banget sampai Mas Abi langsung aja percaya gitu sama ucapan loe," tukas Meylin.
"Ya iyalah, kan gue emang orangnya baik jadi apapun yang gue lakukan dan katakan pasti orang-orang akan percaya." Ucapnya bangga.
"Loe pantes dapat piala Oscar dengan akting loe itu, Rin." Puji Rana seraya terkekeh.
"Kalau loe, ada kabar baik apa?" tanya Erin kepada Rana.
Rana tersenyum lebar, "i'm ... pregnant. Yuhuuuu ... akhirnya gue hamil." Seru Rana sumringah.
"Wow, sekarang terbukti dong loe nggak mandul seperti yang ... ekhem ... maaf ya, Sa," Meylin menoleh ke arah Lisa terlebih dahulu, "seperti yang mantan mertua loe bilang dulu kalau loe itu mandul." Imbuh Meylin tak enak hati sebab mantan mertua Rana dulu adalah orang tua Lisa.
Ya, dulu Rana dan Lisa selain sahabat, mereka juga iparan. Rana menikah dengan kakak Lisa. Namun akhirnya di dua tahun pernikahannya, Rana terpaksa bercerai dengan kakak Lisa sebab orang tua Lisa kerap menghinanya mandul. Rana yang tak tahan pun menggugat cerai kakak Lisa. Dan setelah 6 bulan bercerai, akhirnya Rana menikah lagi. Lebih tepatnya 3 bulan yang lalu ia menikah dengan seorang laki-laki yang menurut Rana adalah mantan teman masa kecilnya. Tapi Rana tidak menceritakan siapa suaminya. Jadi tak ada satupun temannya yang mengetahui siapa laki-laki yang menjadi suami Rana. Rana beralasan, suaminya sedikit introvert. Teman-temannya pun menghargai keputusan Rana yang tak ingin memberitahukan siapa suaminya tersebut.
__ADS_1
Lisa tersenyum kaku. Dulu ia tak pernah membela Rana saat ibunya menghina sahabatnya itu mandul. Padahal Rana sudah menunjukkan hasil test kesuburan tapi orang tuanya justru mengatakan hasil test itu palsu.
"Wah, selamat ya, Ran! Akhirnya impian loe untuk memiliki seorang anak akan segera terwujud." Ucap Lisa dengan memaksakan tersenyum.
"Nah, kan kabar bahagia dari gue sama Erin udah loe dengar, kini giliran kami dengar cerita loe, Sa. Kenapa loe kayak sedih banget gitu?" Cetus Rana yang diangguki Erin dan Meylin. Mereka berdua pun penasaran dengan kabar apa yang Lisa punya hingga membuatnya tampak sedih dan murung. Tidak seperti biasanya.
Terdengar helaan nafas panjang dari bibir Lisa. Matanya tiba-tiba saja memerah. Ada kaca-kaca bening di netranya. Mereka yakin, sekali kedip saja, kaca-kaca bening itu akan luruh dan jatuh berderai di pipi Lisa.
"Mey, Ran, Rin, suami gue ... suami gue ternyata selingkuh." Aku Lisa membuat ketiga sahabatnya terbelalak dengan mulut menganga.
"Seriusan? Atau loe baru duga-duga aja?" cetus Meylin yang sudah menegakkan punggungnya menunggu penjelasan Lisa.
"Gue serius, Mey. Sebenarnya gue udah lama curiga tapi gue nggak punya bukti."
"Terus loe sekarang bisa yakin suami loe selingkuh dari mana?" tanya Erin yang ikut penasaran.
Lisa menyeka kasar air matanya, "sebelum-sebelumnya gue sering banget curiga sebab Mas Edwin sering banget alasan dinas ke luar kota. Terus setiap Mas Edwin pulang, ada-ada aja barang perempuan yang gue temuin. Entah itu lipstik lah, eyeliner lah, kuteks lah. Pernah gue juga nemuin anting-anting. Tiap gue tanya, Mas Edwin selalu berkilah. Dia nggak mau ngaku. Akhirnya gue malah bertengkar sama Mas Edwin. Tapi kemarin ... kemarin gue nemuin foto hasil USG di dompet Mas Edwin. Gue yakin, itu hasil USG selingkuhannya. Pas gue tanya, Mas Edwin justru merebut foto hasil USG itu lagi. Dia bilang itu punya temennya sengaja dia minta soalnya kalau mau punya sendiri kayaknya susah. Gue udah 2,5 tahun nikah, tapi nggak hamil-hamil. Kata Mas Edwin, siapa tau kalau Mas Edwin simpan foto hasil USG itu bakal nular ke kita dan gue juga ikut hamil kayak istri temennya itu. Bagaimana menurut kalian? Nggak masuk akal 'kan?" Papar Lisa membuat ketiga temannya terdiam. Berusaha mencerna cerita Lisa.
"Gue juga sependapat dengan Rana, Sa." Timpal Erin.
"Gue juga. Loe harus segera cari tahu, Sa. Kalau perlu, kasi pelajaran ke pelakor tersebut sampai mampus." Sambung Meylin yang ikut geram dengan perselingkuhan suami sahabatnya itu.
Sementara Erin sibuk berbincang bersama teman-temannya, di kediaman Abidzar, Ana tampak kebingungan bercampur panik saat mendapati Freya sedang tak sadarkan diri di lantai nan dingin. Ana sudah mencoba. membangunkan Freya, tapi mata Freya tak kunjung terbuka. Mana saat itu semua orang sedang pergi. Hanya ada dirinya, Freya, dan pak satpam yang berjaga di gerbang rumah.
"Non, Non Freya, bangun, Non!" Ana memangku kepala Freya dan berusaha membangunkannya.
"Ya Allah Non, kok bisa pingsan kayak gini sih? Mana nggak ada orang." Gumamnya panik. "Oh ya, hp mana hp. Aku harus telepon tuan Abi segera." Gumamnya sambil merogo saku celananya. "Astaga, hp pake ketinggalan di kamar lagi." Ana menepuk jidatnya.
Lalu Ana menurunkan kembali kepala Freya. Ia berlari ke kamar dan mengambil bantal lalu meletakkan bantal di bawah kepala Freya. Setelah itu, ia pun berlari menuju kamarnya di rumah utama untuk mengambil ponselnya. Setelah dapat, ia pun segera menghubungi nomor Abidzar.
"Ya ampun tuan Abi kemana sih? Kok nggak diangkat-angkat?" Ana tampak mondar-mandir kebingungan sambil menggaruk-garuk pelipisnya. Begitulah terkadang, di saat-saat genting, apa saja jadi terasa rumit. Sama seperti sedang mencari barang yang kita butuhkan, di saat dicari ia tidak ditemukan, di saat kita tidak membutuhkannya lagi, dia tiba-tiba muncul sendiri di depan mata. Sama seperti saat ini, saat sedang dibutuhkan bantuannya, Abidzar justru sulit dihubungi. Ana benar-benar kebingungan.
"Ah sudahlah, mending aku langsung bawa non Freya ke rumah sakit pake taksi online. Urusan ngabarin yang lain biar nanti-nanti aja. Aku panggil pak Sukri aja buat bantuin gendong Non Freya ke depan." Gumamnya sambil membuka aplikasi Bangjek. Lalu ia segera memesan taksi online menuju rumah sakit sambil berjalan ke gerbang rumah untuk meminta bantuan Mang Sukri membawa Freya ke depan.
__ADS_1
15 menit kemudian, akhirnya taksi online pesanan Ana tiba. Mereka pun segera membawa Freya menuju ke rumah sakit terdekat.
20 menit kemudian, Abidzar baru saja masuk ke ruang kerjanya setelah menyelesaikan meeting dengan beberapa vendor yang ikut bekerja sama dengannya dalam bisnis tour and travel ini. Abidzar menghempaskan bokongnya di kursi kebesarannya sambil merenggangkan otot-ototnya. Diliriknya lampu notifikasi ponselnya berkedip. Ia pun segera meraih ponselnya dan mengerutkan kening saat melihat nama penelpon di layar ponselnya.
"Ana? Kenapa dia telepon? Tumben." Penasaran apa alasan Ana menelpon, ia pun segera menghubungi balik nomor Ana. Tapi hingga 3 panggilan tak kunjung dijawab sebab pada saat yang sama Ana sedang membantu perawat menurunkan Freya dari dalam mobil. Setelah Freya telah berada di atas brankar dan didorong oleh perawat menuju UGD, barulah Ana mengangkat panggilan itu dengan kaki yang terus berlari mengejar brankar yang didorong para perawat.
"Halo Ana."
"Halo tuan." Ucap keduanya bersamaan. Bila Abidzar bersuara dengan nada kesal, berbanding terbalik dengan Ana yang tampak ngos-ngosan.
"Kamu kemana aja sih? Ditelepon lama sekali mengangkatnya." Sentak Abidzar kesal sebab ia sudah menghubungi sebanyak lima kali, tapi baru panggilan keenam yang diangkat.
"Maaf, maaf tuan. Tadi saya bantu suster menurunkan Non Freya dari taksi ke atas brankar. Jadi nggak sempat angkat telepon, tuan."
Jelas saja, apa yang Anda katakan membuat terlonjak dari tempat duduknya. Ia sampai reflek berdiri karena terkejut.
"Maksudmu apa?"
"Itu tuan ... sebentar, sebentar, susternya mau bicara dengan Ana sebentar." Lalu Ana bicara dengan perawat yang menanyakan identitas Freya. Ana pun menyebutkan nama Freya dan mengatakan sedikit yang ia tahu. Setelahnya, ia kembali berbicara dengan Abidzar di telepon. "Tuan," panggil Ana.
"Ya, katakan, maksud kamu tadi apa?" tanya Abidzar tak sabar.
"Tuan, tadi saya telepon mau ngasih tau kalau Non Freya pingsan. Sekarang kami sudah berada di rumah sakit Cinta Medika."
"Apa? Freya pingsan? Bagaimana bisa?
"Saya ... "
"Ya sudah, nanti saja kau menjelaskannya. Aku akan segera ke sana." Potong Abidzar yang langsung menutup panggilan itu setelahnya.
...***...
...HAPPY READING 😍😍😍...
__ADS_1