
Keesokan paginya, selepas sarapan, Abidzar mengajak Freya berkumpul dengan kedua orang tuanya di ruang tengah. Di sana Sagita dan Abraham pun sudah menunggu kedatangan pasangan suami istri tersebut.
"Ayo sayang, duduk di sini!" panggil Sagita pada Freya sambil menepuk sofa di sampingnya. Freya lantas menoleh ke arah Abidzar. Laki-laki itu justru cemberut membuat dahi Freya berkerut.
"Mama 'kan duduk sama papa, masa' Freya juga disuruh duduk di samping Mama, terus aku sama siapa?" protes Abidzar yang membuat Sagita terkekeh. Freya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak habis pikir, pasal duduk pun bisa jadi masalah.
"Heh, gitu aja protes. Gimana kalau Freya Mama culik seminggu, bisa-bisa kamu kayak orang stres, kurus kering kayak orang kurang gizi juga," ejek Sagita membuat Abidzar memutar bola matanya. "Hayo, matanya kenapa kayak gitu? Mau Mama colok?"
"Mama ih, udah Sayang, kamu duduk di samping aku aja." Abidzar menarik lengan Freya lalu mendudukkannya perlahan di sampingnya.
"Aku udah kayak orang sakit aja Mas kamu perlakuin kayak gini." Ucap Freya pelan namun masih dapat terdengar Abidzar.
"Kamu 'kan hamil, Sayang. Jadi segala sesuatu mesti hati-hati. Demi keselamatan dan kesehatan bunda dan calon baby nya," tukas Abidzar sambil tersenyum manis. Abraham dan Sagita tak lepas memperhatikan bagaimana sikap Abidzar pada Freya. Sangat berbeda dengan perlakuannya pada Erin. Ada rasa bersalah pada benak kedua orang tua itu. Perasaan bersalah karena memaksakan perjodohan tanpa rasa cinta dan perasaan bersalah pada Erin juga karena anaknya sampai sekarang tak bisa mencintai menantunya itu.
Meskipun ayah Erin memiliki kesalahan pada perusahaannya, tapi ia tak bisa ikut menyalahkan Erin yang mana merupakan menantu pertamanya. Sagita yang belum mengetahui hasil audit, tak ada rasa benci ataupun kecewa sama sekali baik itu dengan Erin maupun kedua orang tuanya. Ia justru merasa bersalah pada Erin karena putranya selama ini tidak bisa mencintai Erin dan justru mencintai perempuan yang ia hadirkan untuk mengandung anaknya. Tak ada pikiran buruk sama sekali dari pasangan paruh baya itu mengenai menantunya. Mereka tetap menganggap Erin menantu mereka yang baik. Namun entah bagaimana setelah
mereka mengetahui fakta sebenarnya. Mungkinkah mereka masih akan menyayangi dan mempertahankan menantu pertama mereka itu?
__ADS_1
"Papa dulu yang mau bicara atau aku?" tanya Abidzar pada sang ayah yang mengatakan ingin membicarakan sesuatu pada mereka.
Abraham yang sempat melamun sontak tersentak karena pertanyaan itu.
"Kau duluan saja. Apa yang ingin kau sampaikan sebenarnya?" tanya Abraham. Sagita dan Freya pun segera memasang telinga mereka untuk mendengarkan penuturan Abidzar.
"Abi ingin segera menceraikan Erin, Ma, Pa." Ucapnya tegas dan lugas. Tanpa ada keraguan sama sekali.
Jelas saja Abraham dan Sagita terbelalak. Mereka bahkan sudah menegakkan punggungnya. Begitu pula Freya, ia tak menyangka suaminya akan mengatakan hal itu dengan lantang.
"Jangan gegabah, Bi! Aku tidak bisa menceraikan Erin begitu saja karena kekurangan dia. Kau tahu, Papa pun merasa bersalah sebab makin ke sini, kau justru terlalu fokus pada Freya sampai melupakan kau punya istri pertama. Jangan jadikan alasan Erin yang pernah mempermainkanmu masalah surat itu. Itu hanya permasalahan di masa lalu. Yang harus kau jalani adalah masa depan. Cobalah lupakan masalah surat itu. Maafkanlah dia. Jangan terlalu keras, Bi! Ingat, tanpa bantuan Erin, sampai kapanpun mungkin kau takkan pernah bisa menikahi Freya." Tegas Abraham. Meskipun ia kecewa dengan ayahnya yang telah lama mengabdi padanya justru mengkhianatinya, tapi ia tak serta merta ikut menyalahkan Erin. Baginya, permasalahan orang tua, tak perlu melibatkan anaknya.
Abidzar menghela nafas panjang. Ia tak menyalahkan orang tuanya membela Erin. Kalau ia berada di posisi kedua orang tuanya pun pasti ikut membela Erin, tapi lain bila mereka mengetahui fakta sebenarnya. Kebenaran yang pasti takkan mereka sangka bisa dilakukan oleh Erin.
"Ma, Pa, aku ingin menceraikan Erin bukanlah tanpa alasan yang kuat. Aku juga tidak sepicik itu ingin menceraikan hanya karena masalah surat di masa lalu. Tidak. Tapi ada hal yang lebih besar. Sangat besar dan fatal yang tidak bisa Abi maafkan sama sekali." Terang Abidzar membuat Abraham dan Sagita saling menoleh satu sama lain. Mereka jadi penasaran, hal apa yang membuat putranya sampai mengambil keputusan sebesar ini.
"Hal apa itu? Jelaskan ke Mama dan Papa agar kami mengerti." Tukas Abraham yang kembali menyandarkan pundaknya di sandaran sofa.
__ADS_1
Abidzar menarik nafas dalam-dalam. Kedua tangan yang berada di atas pahanya mengepal erat. Pun raut wajahnya mengeras seolah menyimpan bara amarah yang menggelora.
"Erin memiliki selingkuhan." Ucapnya masih dengan wajah tertunduk. Kemudian ia mengangkat wajahnya. Dapat ia lihat keterkejutan di wajah kedua orang tuanya.
"Apa kau serius? Kau tahu dari siapa, Bi? Jangan langsung percaya sebelum membuktikan sendiri. Bisa jadi ini hanya fitnah," tukas Sagita yang belum yakin dengan apa yang barusan Abidzar katakan.
"Sebelum Mama mengatakan itu, aku sudah membuktikannya sendiri, Ma. Aku tidak segegabah itu untuk langsung menelan mentah-mentah informasi yang ku dapat. Bukan baru, Ma, selingkuhan Erin ternyata kekasihnya sendiri dan mereka telah menjalin hubungan sejak sebelum menikah. Bukan hubungan biasa, tapi lebih. Mama pikir bagaimana aku bisa menerima perempuan hina macam itu?" Ujarnya dengan bola mata berkilat-kilat. "Dan apa Mama dan Papa tahu, Erin tidak mandul. Dia bahkan sudah memiliki seorang putra bersama laki-laki tersebut. Hebat 'kan?" ucapnya sambil tertawa getir membuat kedua orang tuanya terkejut luar biasa.
"Apa? Erin ... sudah memiliki seorang putra? Bagaimana bisa? Sedangkan dengan kau dia tak kunjung hamil?" tukas Abraham mempertanyakan.
Abidzar tersenyum sinis, "bagaimana dia bisa hamil, sedangkan dirinya sengaja memasang alat kontrasepsi jangka panjang agar tidak hamil denganku. Dia hanya ingin mengandung anak dari kekasihnya. Dia bahkan rela melakukan operasi selaput dara agar tampak seperti seorang perawan saat bersamaku. Semua juga tak lepas dari pekerjaan asisten pribadi papa. Dia lah sumber permasalahan ini. Dia yang ingin anaknya menikah dengan pewaris Abra Corp merencanakan semuanya. Untuk lebih jelasnya, lebih baik Mama dan Papa dengarkan ini. Semalam aku sudah melakukan pertemuan dengan kekasih Erin itu. Aku harap Mama dan Papa menyiapkan jantung kalian sebab setelah ini kemungkinan besar kalian akan benar-benar syok saat tahu sifat asli menantu kesayangan kalian itu." Ujar Abidzar dengan jantung terpompa kencang.
Mungkin karena menahan amarah yang meledak-ledak sampai jantungnya pun terpompa begitu kencang. Lalu Abidzar memutar rekaman yang telah ia siapkan sebelumnya. Dapat ia lihat raut keterkejutan di wajah kedua orang tuanya. Ia tahu, ini mungkin sangat mengejutkan. Ia hanya berharap kedua orang tuanya tidak apa-apa setelah mendengar kenyataan ini.
...***...
...^^^HAPPY READING 😍😍😍^^^...
__ADS_1