
"Rin," panggil Ryan lirih sambil menggenggam erat tangan Erin yang terbaring tak berdaya di atas brankar.
Erin tersenyum sendu. Ditatapnya wajah laki-laki yang bertahun-tahun ia sakiti, tapi tetap peduli dan menjaga cintanya untuknya seorang.
"Hmmm ... "
Melihat Erin terbaring tak berdaya seperti w, membuat dada Ryan sesak. Matanya perih, ekor matanya telah basah. Sekali kedip saja, air mata itu pasti akan segera jatuh berderai.
"Jangan menangis! Malu sama Rio kalau diliat ayahnya menangis," ujar Erin sambil tersenyum simpul.
Bukannya tenang, bibir Ryan justru makin bergetar.
"Bertahanlah, Rin. Aku mohon. Aku ... aku membutuhkanmu. Bukan hanya aku, tapi Rio juga. Kami ... kami sangat membutuhkanmu. Aku mohon bertahanlah. Berjuanglah. Aku mohon," ucap Ryan tergugu. Ia membenamkan wajahnya di tangan mereka yang saling bertautan.
Melihat Ryan menangis, Erin pun tak kuasa ikut menangis.
"Jangan seperti ini, Ryan! Untuk apa kau menangisi wanita bodoh dan tak tahu diri seperti aku. Aku ... aku tak pantas untukmu. Kau terlalu sempurna dan terlalu baik untukku yang hina ini. Masih banyak perempuan yang jauh lebih baik dariku di luar sana. Aku ikhlas, aku rela kau mencari wanita lain untuk kau jadikan istri. Tapi sebelumnya, aku mohon, pastikan dulu dia mampu menerima Rio atau tidak. Aku tidak ingin Rio memiliki ibu tiri yang tidak tulus menyayanginya."
Ryan menggeleng dengan tegas. Ia tidak menginginkan perempuan lain menjadi istrinya. Ia pun tak ingin merenggut posisi Erin sebagai ibu Rio dan menggantikannya dengan perempuan lain. Tidak. Cukup sekali saja ia melakukan kebodohan. Ia hampir saja memberikan seorang ibu yang buruk pada Rio, tapi beruntung semuanya berhasil digagalkan sebelum ijab kabul sempurna dilakukan. Dan ia tak ingin mengulanginya lagi. Hanya Erin. Ia hanya menginginkan Erin baik sebagai istri maupun ibu dari anak-anaknya kelak.
"Nggak. Siapa bilang kau tak pantas untukku. Justru hanya kau lah yang pantas jadi pendampingku. Hanya kau yang berhak menjadi ibu dari anak-anakku. Aku mohon, Rin, bertahanlah. Demi aku, demi Rio, demi cinta kita. Aku ... masih sangat mencintaimu. Dulu, kini, dan nanti, hanya kau yang bertahta di hati ini. Satu untuk selamanya. Hanya kau. Hanya kau satu-satunya yang aku cinta. Untuk itu, aku mohon, bertahanlah. Aku takkan sanggup bertahan bila kau pergi tinggalkan aku. Bila kau mati, maka aku pun pasti akan mati. Kalau kau benar mencintaiku dan tak ingin aku mati, maka bertahanlah. Aku pun pasti akan melakukan apapun demi kesembuhanmu. Aku mohon, bertahanlah. Aku mencintaimu. Sangat."
Mendengar permohonan sekaligus pernyataan isi hatinya itu membuat Erin terenyuh. Ia pun ingin bertahan, tapi ia sadar, semuanya sulit. Apalagi dengan fakta keadaan ginjalnya yang dua-duanya tidak baik-baik saja. Lantas ... bagaimana ia bisa terus bertahan, sedangkan bayang-bayang kematian selalu saja memenuhi benaknya.
...***...
Ryan kini sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Setelah memastikan Erin tidur dan ibu Erin-Laila datang, Ryan pun berpamitan pulang ke rumah. Ingin sebenarnya ia mendampingi Erin di rumah sakit, tapi ia tentu tidak bisa mengabaikan putranya, Rio. Bagaimanapun Rio masih sangat kecil. Ia masih membutuhkan perhatian khusus dan kasih sayang tak terhingga sehingga ia tetap harus meluangkan waktu biarpun hanya sebentar untuk anaknya. Meskipun tidak bisa full, tapi dalam sehari ia selalu mengusahakan memberikan perhatian dan menemani Rio entah itu saat belajar ataupun bermain. Ia tak ingin masa kecil Rio terasa menyedihkan karena ketidaksempurnaan dalam keluarganya. Sudahlah cukup ia kekurangan kasih sayang seorang ibu, ia pun tak mau Rio pun kekurangan kasih sayang seorang ayah. Meskipun ada ayah dan ibunya yang selalu siap sedia melimpahkan banyak cinta, kasih sayang, dan perhatian, tapi kasih sayang dari orang tua sendiri tentu berbeda. Jangan sampai ia merasa diabaikan sehingga membuatnya jadi anak yang tampak menyedihkan.
__ADS_1
Saat sedang melajukan mobilnya, tiba-tiba ia melihat ada sebuah motor yang tampak ugal-ugalan. Yang menarik perhatiannya adalah ia mengenali motor yang sepertinya sedang mengalami kejar-kejaran dengan sebuah mobil tersebut. Yang membuatnya cemas, bukan hanya karena ia mengenal pemilik motor, tapi anak kecil yang dibonceng di belakangnya itu. Meskipun ada seuntai kain panjang yang mengikat di pinggang yang sepertinya untuk mencegah anak kecil itu terjatuh, tapi tetap saja Ryan khawatir.
Ryan lantas memacu mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Ia ingin mengikuti pemilik motor tersebut khawatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Hingga akhirnya motor tersebut berbelok ke salah satu pekarangan rumah yang agak kecil. Dengan tergesa, wanita si pengendara motor mematikan motornya dan segera turun dari motor sambil berusaha melepaskan ikatan kain yang mengikat anaknya di pinggang.
Namun, sepertinya karena tangannya yang terlalu gemetaran, ia tampak kesulitan melepaskan simpul ikatan itu. Hingga sebuah mobil pun kini ikut terparkir di depan pagar rumah kontrakan sang wanita.
"Serahkan Zaya, Zoya! Dia anak kakakku. Aku yang lebih pantas membesarkan anak kakakku, bukan kau," sentak seorang wanita berpenampilan modis sambil berkacak pinggang di depan Zoya.
"Tidak. Kau memang adik mendiang ayahnya, tapi aku ibunya. Ibu kandungnya. Aku yang berhak atas anakku, bukan kau." Balas Zoya tak kalah lantang.
"Ya, kau memang ibunya, ibu yang melahirkannya, tapi sadar dirimu siapa? Kau hanya seorang ibu miskin, mana bisa membesarkan Zaya dengan baik. Beda denganku, aku memiliki segalanya. Aku bisa membesarkan Zaya dengan baik. Menyekolahkannya di sekolah yang tinggi. Membuatnya menjadi anak yang sukses. Nasib Zaya akan ikut sial bisa ia terus bersamamu. Apa kau tidak memedulikan masa depan Zaya?"
"Jangan meremehkanku! Aku memang miskin, tapi aku takkan pernah menelantarkan Zaya. Bila perlu, aku akan memberikan nyawaku dan seluruh isi dunia untuk masa depan dan kebahagiaannya."
Wanita bernama Reva itu terkekeh geli. Ia menganggap remeh kata-kata Zoya. Ya, Reva merupakan adik kandung mendiang ayah Zaya. Sebenarnya Reva telah memiliki tiga orang anak, tapi ketiga anaknya laki-laki. Dan ia serta suaminya sangat menginginkan memiliki seorang anak perempuan, tapi sayang, beberapa bulan yang lalu Reva mengalami keguguran yang menyebabkan rahimnya terluka dan divonis sulit untuk memiliki keturunan lagi. Terang saja suami Reva kecewa. Karena Reva melihat sepertinya suaminya kagum akan kecantikan Zaya, Reva pun berencana merebut Zaya dari tangan Zoya, ibu kandungnya.
Reva yang merupakan orang berada Oun suaminya membuatnya jumawa dan memaksa Zoya menyerahkan Zaya pada mereka, tapi tentu saja Zoya menolak. Hanya Zaya satu-satunya keluarganya kini. Ia tidak memiliki siapa-siapa lagi. Apalagi Zaya adalah buah cintanya dari sang suami yang meskipun telah meninggal bertahun-tahun lamanya, tapi hingga saat ini tetap bertahta di hatinya.
Zoya tertegun. Ia tentu saja takut akan ancaman Reva. Ia tidak memiliki suami yang bisa dijadikan penguat untuk mempertahankan Zaya tetap di sisinya. Apalagi ia hanya karyawan biasa. Kedudukannya di kantor masih di bawah Ryan. Namun karena ia pernah mengenal Ryan saat masa sekolah, hal itulah yang membuatnya tetap bisa dekat dengan Ryan, atasannya di kantor.
"Bagaimana? Tertarik dengan penawaranku?" Reva menyeringai. Lalu ia menatap Zaya yang bersembunyi di balik punggung Zoya. Tampak sekali wajah gadis kecil itu ketakutan. Tapi Reva berusaha tersenyum dengan manis. Berharap senyumnya dapat menarik perhatian Zaya.
"Zaya, mau ikut sama Tante? Tante punya banyak mainan untuk Zaya? Tante juga bisa bawa Zaya jalan-jalan kemanapun yang Zaya mau. Tante juga bisa membelikan makanan apapun yang Zaya inginkan, tidak seperti Mama yang hanya bisa mengajak mu makan di pinggir jalan yang tidak higienis. Zaya maukan ikut sama Tante?" Bujuk Reva.
Zoya sudah keringat dingin melihat bagaimana Reva mencoba membujuk Zaya. Zaya mengalihkan pandangannya pada Zoya yang di saat bersamaan menggelengkan kepalanya. Zoya khawatir, bagaimana kalau Zaya tertarik dengan bujukan Reva.
Tapi Zoya bersyukur, Zaya menggeleng sebagai jawaban.
__ADS_1
"Zaya cuma mau sama Mama," cicitnya dengan bibir mungilnya.
Zoya pun akhirnya bernafas dengan lega. Reva mengepalkan tangannya. Ingin ia meluapkan kekesalannya, tapi ia tak ingin Zaya makin tidak menyukainya. Jadi sebisa mungkin Reva menutupi kekesalannya dengan mengulas senyum manis.
"Ya udah, Tante nggak akan memaksa Zaya. Tapi pikirkan lagi ya tawaran Tante. Tante janji, kalau Zaya mau ikut Tante, Tante akan berikan segalanya yang Zaya mau," ucapnya lembut. Sangat berbanding terbalik dengan caranya berbicara dengan Zoya.
"Dan kau ... " Reva menunjuk wajah Zoya dengan jari telunjuknya, "pikirkan baik-baik penawaranku tadi. Ingat, kau tidak memiliki kekuatan apapun untuk kau jadikan jaminan untuk terus mempertahankan Zaya di sisimu. Kau memang ibu kandungnya, tapi kau miskin dan single parent. Pengadilan pasti akan memberikan Zaya pada orang yang tepat dan orang itu adalah aku. Apalagi aku memiliki uang. Tentu takkan sulit untuk membayar hakim agar memberikan Zaya padaku, bukan?" Ancam Reva sambil menyeringai.
"Pikirkan baik-baik penawaranku tadi. Sebab, bila aku sampai menempuh jalur meja hijau, maka aku akan benar-benar menjauhkan mu dari Zaya. Untuk selamanya ... " imbuhnya lagi. Keringat dingin telah mengucur deras di sekujur tubuh Zoya.
Setelah mengatakan itu, Reva pun segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menjauhi rumah kontrakan Zoya. Di saat bersamaan, mobil Ryan pun terparkir di depan pagar rumah Zoya. Tadi ia terjebak kemacetan sehingga ia sedikit terlambat tiba di sana.
Tungkai Zoya seketika lemas sehingga membuatnya terduduk tak berdaya di lantai. Ryan yang melihat itu seketika panik. Ia pun segera menghampiri Zoya dan membantunya berdiri. Zaya sudah terisak melihat ibunya yang terduduk di lantai dengan wajah pucatnya.
"Zoya, kau kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi? Kau ... baik-baik saja?" cemas Ryan melihat ibu dan anak itu yang tampak tak baik-baik saja. "Zaya, kau baik-baik saja, nak? Apa yang terjadi pada kalian?"
Dengan tatapan nanar, Zoya pun mendongak. Dipandanginya Ryan yang kentara mencemaskan mereka berdua.
"Ryan ... "
"Ya, ada apa? Apa ada yang sakit? Apa ada yang menyakitimu?" Cecar Ryan.
"Ryan, kau bisa membantuku? Tolong aku! Tolong Zaya! Aku mohon!" Lirih Zoya dengan berderai air mata. Tatapannya menyiratkan luka dan rasa cemas yang luar biasa.
"Katakan! Katakan apa yang harus aku lakukan? Aku akan lakukan apapun untuk kalian. Ayo, katakanlah! Jangan ragu!" ucap Ryan sungguh-sungguh.
"Ryan, tolong nikahi aku! Aku mohon! Nikahi aku. Hanya itu satu-satunya cara untuk membantuku dan Zaya. Aku mohon," ucap Zoya dengan wajah memelas, namun cukup membuat Ryan terhenyak tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 😍😍😍...