Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
I want ...


__ADS_3

Beberapa saat setelah keberangkatan Abidzar ke rumahnya.


Freya yang memandang mobil Abidzar keluar dari pelataran parkir rumah mertuanya mendadak merasakan sesuatu yang tak nyaman. Ada rasa takut, cemas, juga was-was. Bukan. Bukannya Freya takut Abidzar membatalkan niatnya menceraikan Erin. Ia tidak berpikir sepicik itu. Justru ia berharap keduanya mau saling memaafkan dan Erin mau memperbaiki diri.


Naif memang. Tapi ia berkaca pada dirinya sendiri dahulu. Andai mantan suaminya terdahulu memberikan kesempatan, Anda ia berubah lebih awal, pasti kehidupannya tidak akan sampai serumit ini. Namun inilah hidup. Penuh rahasia dan teka-teki. Ia tak menyesali apa yang menimpanya. Tapi ia menyesali kebodohan dan tindakan buruknya. Oleh sebab itu, ia berharap Erin mau memperbaiki diri sehingga mereka bisa saling memaafkan.


Lalu bagaimana dengan dirinya? Bagaimana kalau tiba-tiba mereka kembali dan melanjutkan rencana mereka yang hanya menginginkan anaknya saja? Kemudian menceraikan dirinya?


Freya tak munafik, ia pasti sedih. Apalagi ia sudah terlanjur mencintai laki-laki yang merupakan suami sekaligus ayah dari calon anaknya. Tapi bila itu yang terbaik, ia bisa apa. Bukankah rencana Tuhan merupakan sebaik-baiknya rencana. Jadi ia akan menerima meskipun akhirnya ia harus menelan pahit getir seorang diri. Mungkin setelahnya, ia akan pergi, menyendiri dan tak ingin menjalin hubungan lagi.


Namun ini pemikiran bila Erin mau berubah dan Abidzar mau memaafkan, tapi ada hal yang lebih Freya takutkan. Apa itu? Yang Freya takutkan adalah suaminya lepas kendali dan berbuat yang tidak-tidak pada Erin. Dapat ia lihat, bara dendam, sakit hati, amarah, dan kecewa campur aduk menjadi satu. Bagaimana kalau suaminya itu menyakiti Erin karena Erin menolak berpisah? Hal inilah yang lebih Freya cemaskan.


Sagita yang melihat Freya termenung di teras pun menghampirinya.


"Kamu kenapa, sayang? Wajah kamu kok kayak khawatir gitu. Ada apa? Apa ada yang sakit?" tanya Sagita cemas.


Freya menggeleng cepat, "ma, Mas Abi mau menemui Erin."


"Lantas kenapa? Kenapa kamu mendadak cemas?" tanya Sagita yang belum paham arah pembicaraan Freya.


"Ma, 'kan Mas Abi mau membahas yang pagi tadi sama Erin, tapi ... mendadak Freya cemas. Freya takut Mas Abi nggak bisa ngontrol emosinya bagaimana?" Bukan tanpa alasan ia berpikir seperti itu, yang ia tahu, marahnya orang diam itu benar-benar menakutkan. Ia hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada keduanya.


Sagita yang paham pun ikut cemas, "lalu kita harus bagaimana? Kita susul ke sana? Duh, papa tadi pergi main golf sama temannya pula. Masa' kita pergi berdua aja." Cemas Sagita. Ia sebenarnya tak masalah pergi berdua sama. Tapi yang harus ia ingat, Erin itu nekat dan Freya sedang hamil. Ia takut Erin melakukan sesuatu yang buruk pada Freya sehingga mengancam keselamatan menantu dan calon cucunya.


"Ma, kita minta temenin kak Tirta aja, gimana?"


"Kamu benar. Cepat telepon Tirta setelah itu kita bersiap-siap."


Tirta yang dihubungi Freya pun sumringah. Namun ekspresinya seketika berubah saat mendengar penuturan Freya. Ia pun setuju dan segera datang ke rumah orang tua Abidzar untuk menjemputnya dan Sagita. Setibanya di sana, Freya dan Sagita pun gegas naik ke dalam mobil. Tak lama kemudian, mobil Pajero sport milik Tirta pun segera menembus jalanan menuju kediaman Abidzar.

__ADS_1


Sementara itu, Abidzar yang pandangannya mulai kabur diselimuti kabut gairah tampak menerima belaian dari Erin.


"Freya sayang, kau kah itu?" Ucap Abidzar yang dalam penglihatannya Erin merupakan Freya.


Sebenarnya Erin kesal bukan main, bahkan saat kesadaran yang tinggal setengah pun Abidzar masih mengingat Freya. Tapi ia tepis egonya demi untuk mendapatkan laki-laki di depannya.


"Iya Mas, ini aku, Freya, istrimu," jawab Erin berpura-pura sebagai Freya demi memuluskan rencananya.


"I want ... wait ... kau ... " Samar-samar ia melihat wajah perempuan di depannya bukanlah Freya, tapi Erin. Mendadak wajahnya mengeras. Lalu tangannya meraih leher Erin dan mencekiknya dan menghempasnya membuat tubuhnya membentur dinding sampai terbatuk-batuk.


Bugh ...


"Ukhuk ... ukhuk ... ukhuk ... sialan," geram Erin dengan dada naik turun.


Erin yang tak putus asa lantas kembali maju, "pokoknya aku harus membuatmu jadi milikku lagi," ucapnya dalam hati.


Erin yang melihat Abidzar terpejam sambil mengerang dengan tangan sibuk mengibas-ngibas tubuhnya yang makin terasa panas pun segera meringsek ke depan dan meraba-raba titik sensitif laki-laki itu. Kemeja yang baru terbuka kancingnya itu ia lepas dan lempar asal.


"Freya ... "


"Ini aku, Mas. Ayo kita segera ke kamar. Kau mau aku 'kan? Aku pun juga." Ucap Erin dengan nada suara dilembut-lembutkan. Sengaja untuk menggoda Abidzar.


Abidzar yang sudah nyaris kehilangan kesadarannya pun mengangguk. Ia mengikuti langkah Erin yang ingin membawanya naik ke lantai atas. Namun tiba-tiba sebuah seruan menghentikan langkahnya. Seringai bahagia Erin seketika berubah menjadi sebuah pelototan terkejut.


"Berhenti jalaaang!" Teriak Sagita saat memasuki rumah.


"Mas Abi," pekik Freya saat melihat suaminya tengah dirangkul Erin yang nyaris tanpa busana. Tirta yang ada di sana membuang muka sambil beristighfar. Bagaimana tidak, Erin hanya mengenakan g-string saja.


Sagita yang dilanda emosi pun gegas melangkah panjang dan menarik rambut Erin hingga tubuhnya tertarik ke belakang. Untung ia masih di undakan tangga kedua dari bawah jadi ia tidak sampai terjatuh terguling ke lantai. Erin pun menjerit kesakitan, tapi Sagita yang terlanjur kalap tak peduli.

__ADS_1


"Kau apakan anakku, hah wanita murahan? Kau apakan?" sentak Sagita sambil menghempaskan tubuh nyaris telan jang Erin ke lantai. Dalam hati ia mengumpat, tubuhnya benar-benar sakit semuanya karena ibu dan anak ini yang menghempasnya ke lantai.


Freya yang masih syok terkejut saat melihat Abidzar terengah-engah sambil menggumamkan kata panas. Ia ingin mendekat, tapi takut. Maklumlah ia sedang hamil jadi ia harus hati-hati dan tidak boleh gegabah.


Tirta yang paham pun segera menghampiri Abidzar, "Bi, loe kenapa?" tanya Tirta yang juga panik. Apalagi wajah Abidzar telah memerah sempurna. Keringat mengucur di sekujur tubuhnya.


"Ta ... to-long gue." Ujar Abidzar pelan yang mencoba berusaha menarik kesadarannya yang sekejap datang sekejap hilang.


"Loe kenapa?"


Plak ...


Terdengar suara tamparan dari bawah tangga.


"Kau apakan putraku, brengsekkk?"


"Ma. Putramu juga suamiku jadi terserah aku mau melakukan apa." Pekik Erin sambil memegang pipinya. Belum hilang rasa sakit karena tamparan Abidzar, lalu kini ibunya pun menamparnya.


"Jangan panggil aku Mama lagi, aku tak sudi memiliki menantu jalaang seperti kau." Bentak Sagita dengan wajah merah padam. Bara amarah menggelora di netranya. Ia tak habis pikir, Erin akan melakukan cara sekotor ini untuk mendapatkan putranya kembali.


"Tan, sepertinya Abi diberi obat perangsang." Ucap Tirta membuat Sagita dan Freya membelalakkan matanya.


"Dasar pelacur!" desis Sagita pada Erin yang masih meringkuk di lantai. "Tirta, Freya, kalian tahu 'kan harus melakukan apa?" Tirta yang paham pun meminta Freya ikut dengannya sambil memapah Abidzar ke kamarnya.


"Freya, kau tahu 'kan harus melakukan apa? Hanya kau yang bisa menolong Abi." Ucap Tirta yang langsung diangguki Freya.


Bagaimana bisa ia lupa sebab ia pun pernah melakukan hal serupa. Bila dulu ia memberikan obat perangsang pada Gathan, tapi Gathan malah melakukannya dengan Nanda, maka kini hal serupa pun terjadi. Namun dengan orang berbeda. Erin yang memberikan Abidzar obat perangsang, tapi justru dirinya lah yang akan menjadi penawar.


Setelah Tirta keluar, Freya pun segera menutup pintu dan mendekati suaminya yang tampak melepaskan pakaiannya dengan tergesa. Mungkin karena ia sudah tidak bisa menahan rasa panas yang kian menyiksa membuatnya melucuti semua pakaiannya.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 😍😍😍...


__ADS_2