Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
Mama


__ADS_3

Beberapa jam kemudian


Freya baru saja menyelesaikan makan siangnya. Perutnya kini terasa benar-benar kenyang. Bahkan ia bisa makan dengan lahap tanpa mual sedikit pun. Aneh. Itu yang Freya rasakan. Seakan keberadaan Abidzar merupakan mood booster untuknya. Sepertinya calon anaknya ini begitu menyukai keberadaan ayahnya yang dekat dengannya. Buktinya, ia bisa menyantap apapun tanpa masalah sedikit pun.


"Sekarang tidurlah supaya kondisi kesehatanmu cepat pulih " Ujar Abidzar pelan setelah meletakkan gelas ke atas meja.


Freya pun mengangguk seraya menguap lebar. Semenjak hamil, Freya memang lebih mudah lelah dan cepat mengantuk jadi tak butuh waktu lama untuknya segera terbuai dalam mimpi indahnya.


Setelah memastikan Freya tertidur lelap, Abidzar pun segera berpindah duduk di dekat sang ibu yang sejak tadi memang menunggu penjelasannya mengapa Freya bisa dirawat di rumah sakit?


"Sekarang ceritakan, mengapa Freya bisa sampai dirawat di rumah sakit? Memangnya apa yang telah terjadi?" Tutur Sagita yang menuntut penjelasan.


Abidzar menghela nafasnya, kemudian mulai bercerita.


"Dia ditemukan Ana pingsan di paviliun. Menurut dokter Freya mengalami stres dan perasaan tertekan."


"Stres? Tertekan? Nggak mungkin 'kan Freya tiba-tiba saja stres dan tertekan, pasti ada alasannya."


Abidzar yang mendapatkan cecaran itu pun mengangguk. Lalu ia pun menceritakan sandiwara Erin dan art-nya, Mina. Mereka bekerja sama menjebak Freya untuk merusak nama baik Freya di matanya. Sontak saja Sagita membelalakkan matanya. Ia benar-benar tak menyangka menantu kesayangannya sekaligus putri dari sahabatnya bisa berbuat seperti itu.


Ia mengerti, Erin pasti merasa iri karena semua orang kini jadi lebih perhatian pada Freya sebab kehamilannya. Tapi ia pun tak kalah tetap memberikan perhatian pada Erin untuk mencegah hal ini terjadi. Namun ternyata, rasa iri itu nyatanya lebih besar sampai membutakan mata dan hati. Sagita paham, amat sangat paham, tapi haruskah Erin berbuat sampai seperti itu?


Terdengar helaan nafas panjang dari bibir Sagita. Ingin marah, khawatirnya justru memicu pertikaian yang lebih besar.


"Begini saja Bi, bagaimana kalau Freya tinggal di rumah Mama dan Papa saja? Ini bukan hanya untuk kebaikan Freya, tapi juga rumah tangga mu dan Erin. Memang sejatinya tidak boleh ada dua ratu dalam satu istana. Hal itu tentu akan mengundang bencana. Bagaimana menurutmu?"


Sejenak Abidzar merenung. Sebenarnya ia merasa berat sebab itu artinya ia akan jarang bertemu dengan Freya. Tapi seperti yang ibunya katakan, ini bukan hanya untuk kebaikan Freya, tapi juga rumah tangganya dan Erin. Apalagi menurut Ana, Erin akan meminta bantuannya lain kali. Sudah pasti, lain kali ia akan kembali berbuat ulah. Mungkin kali ini ulah yang ia buat masih termaafkan karena tidak terlalu berisiko, tapi bagaimana dengan ulah selanjutnya? Ia bukan hanya mengkhawatirkan Freya, tapi juga calon buah hatinya. Ia tentu tak ingin kehilangan calon buah hatinya itu. Terlebih buah hatinya dari wanita yang ia cintai. Abidzar lantas mengangguk. Semoga ini yang terbaik, batinnya.


...***...

__ADS_1


Hari sudah cukup larut, tapi Erin baru saja pulang ke rumah. Melihat rumah dalam keadaan sangat sepi membuat Erin sedikit heran. Hanya sedikit sebab rumah mereka memang nyaris selalu sepi. Tidak seperti rumah orang lain yang sering ramai dengan tawa anggota keluarga dan anak-anak mereka.


Saat memasuki kamar, Erin kembali mengerutkan kening. Ia tak menemukan sosok suaminya. Hanya ada pakaian kotor yang tergeletak di dalam keranjang pakaian. Erin pun gegas membersihkan diri. Setelah itu, ia berjalan menuju ruang kerja suaminya.


"Terkunci." Gumamnya. "Mas Abi kemana? Kok nggak ada." Heran Erin. Lantas ia turun ke lantai bawah dan memanggil Mina.


"Mina ... " Teriak Erin. Namun mungkin karena jam sudah menunjukkan pukul 9 malam lewat, belum lagi kebiasaan Mina yang menonton dengan headset menyumpal telinga membuatnya tidak mendengar teriakan Erin.


"Woi, Mina, Nyonya manggil tuh!" Sentak Ana sambil menarik kasar headset di telinga Mina. Ana memang satu kamar dengan Mina. Biarpun Ana juga suka menyumpal telinganya dengan headset sambil mendengarkan lagu-lagu kesukaannya, tapi ia selalu menggunakan volume sedang agar ia tetap bisa mendengar bila ada yang memanggil.


"Apa sih loe!" Sentak Mina kesal karena Ana menarik headsetnya tepat di saat adegan yang menegangkan.


"Nyonya kesayangan loe manggil, budek." Balas Ana sewot.


Mina yang baru mendengar suara Erin pun gegas meninggalkan ponselnya tergeletak begitu saja untuk menemui Erin.


"Kamu kemana aja sih, hah? Saya sudah teriak dari tadi, baru datang sekarang." Sentak Erin murka.


"Ma-maaf nyonya, saya tadi ... ketiduran."


Erin mendengkus, "kau tahu kemana Mas Abi? Kenapa dia tak ada di rumah?"


"Oh itu, tuan Abi ke rumah sakit kayaknya, Nya. Soalnya Freya masuk rumah sakit."


"Apa? Dia kenapa? Kenapa nggak ada yang kasih tau saya?" Bentak Erin kesal.


"Saya pikir, tuan sudah memberitahu Nyonya." Jawab Mina diplomatis.


Erin yang kadung kesal pun segera membalikkan badannya menuju kamar. Ia mengambil ponsel dan menghubungi suaminya.

__ADS_1


"Halo, Assalamualaikum." Ucap Abidzar di seberang sana.


"Mas, kamu apa-apaan sih? Kenapa nggak pulang? Kenapa kamu nggak suruh Bi Asih atau Ana saja nungguin perempuan itu?" Cerocos Erin tanpa membalas ucapan salam Abidzar.


"Aku ngucap salam lho, Rin."


Erin mendengkus, "wa'alaikumussalam. Perempuan itu kenapa sih, Mas? Baru hamil aja manja banget. Dikit-dikit masuk rumah sakit. Aku yakin, dia cuma mau cari perhatian ke kamu. Kamu pulang ya, Mas. Nanti aku suruh Aja aja temenin dia."


Abidzar sebenarnya tak terima dengan tudingan Erin tentang Freya, tapi ia yang tak mau memperkeruh suasana apalagi memicu pertengkaran melalui ponsel, hanya bisa berusaha bersabar.


"Rin, Freya bukannya manja. Dia juga bukan mau cari perhatian aku, tapi dia memang benar-benar sakit. Tadi Ana menemukannya pingsan seorang diri di kamar. Dia harus bed rest. Tekanan darahnya rendah. Jadi Mas mohon, kamu ngerti ya."


"Mas suruh aku ngerti? Mas sadar nggak sih, perlahan-lahan perhatian kalian itu tertuju ke dia semua. Lama-lama kalian akan melupakan aku dan membuang aku. Mentang-mentang aku nggak bisa hamil jadi kalian mencampakkan aku."


"Siapa yang mencampakkan kamu sih, Rin? Nggak ada. Siapa yang tidak memperhatikan kamu lagi? Nggak ada juga. Aku, mama, papa semua masih sama, sayang sama kamu. Perhatian sama kamu. Tolong ngerti lah, jangan terlalu over thinking kayak gini. Mending kamu istirahat ya. Udah malam. Kamu pun harus jaga kesehatan kamu. Maaf, Mas nggak bisa pulang malam ini. Malam sayang. Good night. Wassalamu'alaikum." Ucap Abidzar setelah itu ia langsung menutup panggilan itu. Ia yakin, kalau tidak ia tutup terlebih dahulu, maka Erin akan terus mencecarnya tanpa henti. Ia benci pertengkaran.


Abidzar sampai tak habis pikir, bagaimana ada orang yang bisa memiliki banyak isti, sedangkan ia mengurus 2 istri saja pusingnya setengah mati. Kalau keduanya banyak menuntut mungkin memang merepotkan, tapi Freya tidak. Ia sadar, Freya sepertinya masih memegang teguh perjanjian itu. Ia pun tak mau atau belum mau membuka hatinya untuk dirinya. Freya memiliki banyak ketakutan dalam dirinya. Entah bagaimana caranya untuk meyakinkan Freya kalau dirinya serius ingin mempertahankan dirinya. Tapi ia pun masih bingung. Ia yakin, Erin takkan mau menerima keputusannya begitu saja. Erin pasti akan menolak keputusannya mentah-mentah. Namun membayangkan ia melepaskan Freya, rasanya ia takkan sanggup. Melepaskan Erin pun rasanya terlalu kejam. Ia begitu mencintai Freya. Abidzar dilema. Ia hanya bisa berdoa agar diberikan jalan terbaik.


Sementara itu, Erin yang sadar panggilannya telah ditutup secara sepihak menjadi murka. Ini benar-benar di luar rencana.


Tiba-tiba ada sebuah panggilan di ponselnya. Tampak sebuah foto anak laki-laki menghiasi layar segi empat itu. Wajah merahnya seketika berubah ceria. Senyum indah pun terukir di bibir merahnya.


"Halo ... "


"Mama ... "


...***...


...HAPPY READING 😍😍😍...

__ADS_1


__ADS_2