Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
Ke rumah sakit


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu semenjak pertengkaran terakhir Abidzar dan Erin. Semenjak hari itu, mereka pun terlibat perang dingin. Abidzar benar-benar mengacuhkan Erin. Erin pun tidak berbuat apa-apa. Mungkin ia pun khawatir Abidzar makin marah padanya.


Abidzar benar-benar marah dan kecewa dengan perbuatan istri pertamanya itu. Apalagi selama ini, Erin terus memprovokasinya untuk membenci Freya yang sejatinya tidak bersalah sama sekali.


Yang paling membuatnya marah, setelah membuat kesalahan sebesar itu, Erin tak ada itikad baik sama sekali untuk meminta maaf. Ia sepertinya tidak menyesali perbuatannya sama sekali. Seolah apa yang ia lakukan tidak lah masalah.


Saat Abidzar mencecarnya untuk berkata jujur ada lagi kah kebohongan yang ia lakukan di belakangnya, tapi Erin tidak mau mengakuinya. Ia merasa tidak memiliki kesalahan apalagi kebohongan. Tentu saja Abidzar tidak sepercaya itu dengan apa yang Erin katakan. Ibarat kata, Abidzar telah hilang rasa kepercayaan pada wanita yang masih menyandang status sebagai istri sahnya tersebut. Kepercayaannya telah lenyap terbawa serpihan debu yang tertiup angin. Bahkan untuk berdekatan saja, Abidzar merasa muak. Entah bagaimana ia melanjutkan pernikahannya kelak, sedangkan rasa kepercayaannya saja telah sirna tak berbekas.


"Rin, loe mabok?" tanya Lisa yang baru saja tiba di club malam yang kerap mereka jadikan basecamp untuk menghilangkan penat.


"Gue pusing. Rahasia gue tentang surat si cupu ke jalaang itu udah terbongkar." Ucapnya sambil terus menenggak cairan berwarna kuning dengan aroma menyengat itu.


"Kalau gitu gue mau mabok juga." Ucap Lisa yang langsung saja memesan minuman yang sama dengan Erin. Lalu ia menenggaknya langsung dari botolnya membuat bartender geleng-geleng kepala.


"Kenapa lagi loe?"


"Mas Edwin makin menjadi. Dia mau cerain gue. Dia bilang gue mandul, sedangkan dia pingin punya anak." Aku Lisa sambil mencengkeram erat botol minuman di tangannya. Seketika ia mengingat bagaimana sahabatnya dulu dicemooh ibunya karena tak kunjung hamil. Tanpa ada yang membela, Rana hanya bisa menelan mentah-mentah segala cemoohan dari ibunya. Lalu kini, ia pun merasakan hal serupa.


"Kenapa nggak loe selidiki siapa jalaang itu terus buat pelajaran sama dia. Kalau perlu, hancurkan dia."


"Kalau Mas Edwin marah gimana?"


"Loe masih mikirin si brengsekkk itu? Kalau loe nggak ngapa-ngapain juga loe tetap bakal dicerai 'kan? Kalau loe hancur, mereka juga harus hancur. Gitu biar adil." Erin tersenyum miring. Seketika ide yang baru saja ia cetuskan pada Lisa membuatnya sumringah.


"Loe bener. Biar adil, gue hancur, mereka pun harus hancur. Thanks buat ide cemerlang loe. Sekarang kita cheers." Lisa menyodorkan botol di genggamannya ke arah Erin, Erin pun mengangkat gelasnya dan membenturkan keduanya sambil berteriak 'cheers'.


...***...


Sementara itu, di kediaman orang tua Abidzar, sepasang anak manusia yang baru saja mereguk nikmat itu tengah berpelukan. Tubuh keduanya bahkan masih basah bermandikan peluh. Nafas keduanya masih terengah. Namun senyum bahagia justru tercetak jelas di bibir keduanya.

__ADS_1


"Makasih sayang. Kau tahu, aku bahagia sekali bisa seperti ini denganmu. Dulu, aku hanya bisa memimpikan hal ini. Padahal dulu aku masih sangat membencimu, tapi aku justru makin sering memimpikan mu. Aneh, bukan." Tutur Abidzar sambil mengeratkan pegangannya.


"Oh ya? Aneh. Benci kok malah mimpiin yang iya-iya. Dasar mesyum." Ejek Freya membuat Abidzar terkekeh.


"Iya ya. Aneh. Mungkin sebenarnya dalam alam bawah sadar ku pun tidak percaya kalau kau tega menyakitiku seperti itu. Atau mungkin karena rasa cintaku yang terlalu besar membuatku terus memimpikan mu."


"Gombal."


"Aku serius, Fre. Susah banget sih meyakinkan kamu."


Freya hanya tersenyum kecut. Meskipun ia mulai merasa nyaman dengan keberadaan Abidzar yang kini justru makin sering membersamainya, tapi rasa ragu itu tetap ada. Bagaimana kalau setelah anak itu lahir, tiba-tiba Abidzar memintanya pergi meninggalkan anaknya? Ah, membayangkannya saja Freya tak sanggup. Kini, anaknya adalah harta berharga baginya. Kehilangan anaknya, sama saja kehilangan separuh hidup dan jiwanya.


Keesokan harinya, Abidzar sengaja tidak masuk ke kantor. Mereka ada jadwal kontrol kandungan hari itu.


"Kamu udah siap, sayang?" tanya Abidzar yang baru saja masuk ke dalam kamar. Tadi ia dari kamar mamanya menanyakan sang mama jadi ikut mereka atau tidak. Sudah sejak beberapa hari yang lalu memang Sagita mengatakan ingin ikut serta ke rumah sakit untuk melihat sang cucu. Apalagi kini usia kandungan Freya sudah memasuki Minggu ke 16, artinya mereka sudah bisa melihat jenis kelamin calon buah hati Freya dan Abidzar tersebut.


"Udah Mas. Mama jadi ikut?" tanya Freya yang segera berdiri dan mengambil tas selempangnya.


Freya pun mengangguk, "ya udah, yuk."


Abidzar pun mengulurkan tangannya yang disambut Freya. Mereka pun keluar dari dalam kamar dengan tangan saling bergandengan.


Di teras, Sagita ternyata telah menunggu. Karena Sagita akan pergi sepulang dari rumah sakit, maka Sagita pun pergi dengan mobilnya sendiri dengan disopiri sopir pribadi keluarganya.


Setibanya di rumah sakit, Abidzar dan Freya tidak perlu mengantri lagi sebab mereka telah membuat janji dengan dokter kandungan di rumah sakit tersebut.


"Bagaimana Bu, apa ada keluhan?" tanya sang dokter. Tampak asisten dokter berdiri di samping sang dokter menunggu instruksi apa yang harus ia lakukan nanti.


"Masih mual muntah aja kok dok. Tapi udah sedikit berkurang. Sama kaki sering pegal. Selain itu, nggak ada." Tutur Freya. Dokter itu tersenyum.

__ADS_1


"Itu normal ya, Bu. Hal tersebut dipicu oleh peningkatan kadar hormon esterogen. Peningkatan kadar hormon estrogen dapat menyebabkan peradangan pada pembuluh darah, termasuk di bagian kaki. Selain itu, perubahan kadar hormon progesteron pun juga membuat pembuluh darah melebar dan memicu pegal-pegal." Papar sang dokter membuat Freya dan Abidzar mengangguk.


"Dok, kan sekarang usia kandungan menantu saya sudah memasuki Minggu ke 16, jadi sudah bisa melihat jenis kelaminnya 'kan dok?" Kini giliran Sagita yang bertanya. Ia sudah tak sabar ingin mengetahui jenis kelamin calon cucunya. Meskipun ia tak mempermasalahkan jenis kelamin sang cucu, apapun itu tetap ia syukuri. Namun akan beda rasanya bila sudah tahu. Jadi mereka bisa mempersiapkan perlengkapan bayi sesuai jenis kelamin. Yah, walaupun sebenarnya lebih baik memilih perlengkapan bayi berwarna netral sebab ada kalanya hasil USG pun tidak akurat. Terkadang terjadi kesalahan sehingga jenis kelamin bayi yang lahir justru tidak sesuai dengan hasil pemeriksaan. Tapi biarpun begitu, Sagita tetap ingin melakukannya. Rasanya ia sudah tak sabar melihat calon cucunya itu di layar monitor.


Dokter itupun mengangguk sambil tersenyum. Lalu ia mengintruksikan asistennya untuk membantu Freya berbaring di atas brankar. Asisten dokter itu juga mengoleskan sejenis jel ke atas perut Freya.. Setelahnya ia menempelkan alat tranducer di atas perut Freya sambil menggerakkannya kesana kemari untuk mencari detak jantungnya. Sedangkan sang dokter bertugas memperhatikan layar monitor sambil menjelaskan pada Erin dan Abidzar segala hal yang tentang calon bayinya.


"Wah, dedeknya kayaknya malu tuh, Bu! Lihat, tangannya menutup area depan. Kakinya juga lagi ditekuk jadi kita belum bisa melihat jenis kelaminnya saat ini." Ujar sang dokter menjelaskan sebab alat kelamin sang bayi ternyata tertutupi jadi mereka belum bisa melihatnya.


Sagita menghela nafas pasrah. Tapi ia tetap tersenyum. Mungkin bulan depan mereka baru bisa melihat kembali, pikirnya.


"Tapi keadaan calon bayi kami sehat-sehat saja 'kan, dok?" Tanya Abidzar. Tentu yang paling utama bagi orang tua adalah kesehatan buah hatinya.


Dokter itu tersenyum, "Alhamdulillah, dedek bayinya sehat. Berat badannya juga normal. Semua bagus. Keadaan air ketuban juga. Terus dijaga pola makannya ya, Bu. Tekanan darah ibu juga normal jadi tak ada masalah," jelas dokter tersebut.


Setelah melakukan pemeriksaan, mereka pun keluar dari ruangan dokter. Karena Abidzar ingin menebus vitamin di apotek rumah sakit, Abidzar meminta ibunya menemani Freya sebentar di kursi tunggu.


"Sayang sekali ya, Fre, kita belum bisa melihat jenis kelaminnya. Mama sih sebenarnya nggak masalah mau jenis kelamin apa aja, yang penting cucu Mama sehat. Tapi kalau boleh meminta sih, Mama pingin banget punya cucu perempuan. Yang kedua baru deh laki-laki," ujar Sagita membuat Freya tersenyum geli.


"Iya ya, Ma. Semoga aja di pemeriksaan selanjutnya udah bisa dilihat."


Sagita tersenyum lebar sambil mengusap perut Freya.


Setelah menebus vitamin, mereka pun segera masuk ke mobil dengan tujuan masing-masing.


Sementara itu, di sebuah cafe, tampak seorang pria dan wanita sedang duduk berdua. Mereka ingin membahas kelangsungan hubungan mereka. Mereka adalah Erin dan Ryan. Pasangan kekasih yang memiliki hubungan rumit itu tampak terdiam dengan pikiran berkecamuk. Di saat bersamaan, ada sepasang mata yang menatap keduanya dengan penuh tanda tanya sejak keduanya masuk ke dalam cafe tersebut.


"Erin? Dengan siapa dia? Dari gelagatnya, sepertinya mereka ada something deh?" gumam orang tersebut. Ia lantas mengeluarkan ponselnya. Entah mengapa ia merasa akan ada sebuah berita besar setelah ini. Apa itu, dia pun belum tahu. Yang penting sekarang adalah menyiapkan handphone untuk merekam apa saja yang akan mereka bahas. Setidaknya, itulah yang ada di pikirannya saat ini.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 😍😍😍...


__ADS_2