
Kebahagiaan tengah menyelimuti kediaman Abidzar. Ia tak menyangka, akhirnya impiannya menjadi seorang ayah akan segera terwujud. Bahkan yang akan memberikannya keturunan adalah wanita yang pernah dan masih dicintainya sejak dulu hingga sekarang. Betapa ia merasa bahagia. Saat ia mengetahui kemungkinan besar Erin tidak bisa memberikannya keturunan, perlahan ia mengubur impian itu. Namun apa yang terjadi kini seperti sebuah anugerah yang tak disangka-sangka dari sang Maha Pencipta dimana ia akan segera menjadi seorang ayah dari anak yang ada di dalam kandungan Freya.
"Bi, tolong buatkan teh hangat untuk Freya. Bawakan juga buah. Mulai sekarang Freya harus makan yang banyak dan bergizi. Tugas bibik untuk memperhatikan makanannya." Tukas Abidzar dengan mata berbinar-binar.
Bi Asih yang masih berdiri di ambang pintu lantas mengangguk dengan antusias.
"Beres, den. Bibik pasti akan mengawasi non Freya berikut makanannya." Sahut Bi Asih girang.
Bi Asih pun gegas keluar dari kamar tersebut. Saat akan melangkah keluar, bi Asih tersentak. Ternyata di depan kamar itu ada Erin yang masih berdiri mematung. Bi Asih pun segera beranjak dari sana menghindari Erin yang raut wajahnya tampak kesal.
Bila Abidzar sedang berbahagia, sebaliknya dengan Erin. Dia justru merasa kesal. Padahal seharusnya ia ikut berbahagia, toh bukankah ini keinginannya sendiri. Tapi yang ia rasakan saat ini justru sebaliknya. Ada rasa kesal yang bergemuruh di dalam dadanya. Sebab ia dapat melihat betapa antusiasnya Abidzar terhadap kehamilan Freya. Ia yakin, perlahan tapi pasti ia akan segera tersingkir bila ia tidak segera bertindak. Namun ia masih memikirkan, cara apa yang harus ia ambil.
Erin memang menginginkan bayi tersebut, tapi ia tak pernah berpikir Abidzar akan seantusias itu. Ia bahkan memperlakukan Freya dengan penuh perhatian, tidak sesuai harapannya selama ini. Bukankah Abidzar membenci Freya, tapi kenapa sikapnya justru bertolak belakang. Abidzar memperlakukan Freya seperti istri yang sangat ia cintai. Rasa iri seketika menggelegak. Ia tak ingin posisinya tergantikan dan ia tak ingin perhatian Abidzar terbagi pada Freya. Abidzar hanya miliknya.
"Mas, bagaimana keadaan Freya kata Tante Ratna ?" tanya Erin setelah berhasil mengendalikan diri. Ia juga telah mengubah mimik wajahnya seakan begitu khawatir dengan keadaan Freya.Ia tentu tak ingin menunjukkan sisi jahatnya pada suaminya tersebut. Sebisa mungkin ia menunjukkan sisi malaikat yang penyayang, tentunya untuk mencari simpati suaminya.
Mendengar suara Erin, Abidzar mengembangkan senyumnya. Ia lantas berdiri dan menarik Erin ke dalam pelukannya dengan wajah yang ceria.
"Rin, akhirnya kita akan segera menjadi orang tua. Freya hamil. Aku akan jadi seorang ayah dan kau pun akan segera menjadi seorang ibu." Tuturnya antusias setelah melepaskan pelukannya.
Erin tersenyum lebar. Matanya begitu bersinar seakan ikut berbahagia atas kehamilan Freya.
Berbanding terbalik dengan perasaan Freya kini. Entah mengapa, ia mendadak merasa cemas. Apalagi saat Abidzar menyebutkan ia akan menjadi seorang ayah dan Erin akan menjadi seorang ibu. Meskipun itu memang benar sebab sesuai perjanjian, ia akan menyerahkan anaknya pada mereka. Namun dalam hati kecilnya ada ketidakrelaan. Ia tak rela anaknya diambil dari sisinya. Entah bagaimana nasibnya kelak bila itu benar terjadi.
__ADS_1
Padahal bukan itu maksud Abidzar. Ia tak bisa bersikap egois melepaskan Erin hanya karena ia telah memiliki Freya dan calon anaknya. Bagaimana pun, semua bisa terjadi berkat andil Erin.
Selain itu, Erin adalah istri pertamanya. Ia akan dicap laki-laki paling jahat karena membuang istri demi wanita lain. Oleh sebab itu, ia ingin mempertahankan keduanya. Ia ingin membagikan kebahagiaan itu pada Erin yang divonis tidak bisa memberikannya keturunan.
Bagaimana pun Freya tetaplah ibu kandung anaknya dan ia tak ingin memisahkan seorang ibu dari anaknya, pun sebaliknya. Namun sayang, Erin dan Freya justru memiliki persepsi berbeda.
Sore harinya, Abidzar mengajak Freya ke rumah sakit khusus ibu dan anak untuk memastikan kehamilan Freya. Erin turut ikut serta sebab ia mengatakan juga ingin melihat perkembangan calon anaknya.
Ketiganya tampak antusias sampai-sampai dokter yang menangani Freya mengerutkan keningnya. Ia pikir Erin adalah saudari Freya, tapi melihat sikap Erin yang terus bergelayut mesra di lengan Abidzar membuat sang dokter kian penasaran hingga akhirnya Erin sendiri lah yang membuka identitas dirinya sebagai istri pertama Abidzar. Sang dokter yang tak ingin terlalu ikut campur dengan urusan pasiennya hanya mengangguk sambil tersenyum kikuk. Ia tak menyangka ada pasangan poligami yang bisa akur seperti ini.
"Bagaimana dok? Apa benar istri saya hamil?" tanya Abidzar sambil memperhatikan dokter tersebut yang tampak fokus ke layar monitor dengan tangan sibuk menggerakkan alat tranducer di atas perut Freya yang telah diberi semacam gel.
Dokter tersebut tersenyum sumringah, "lihat bulatan kecil ini, ini adalah calon buah hati bapak dan ibu. Dan ... ya benar, istri pak Abidzar memang tengah hamil. Usianya sudah memasuki 5 Minggu. Selamat ya pak atas kehamilan istri bapak. Dan untuk ibu Freya dan ibu Erin, selamat juga." Tutur dokter tersebut. Abidzar dan Freya tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Abidzar pun gegas memeluk Freya dan melabuhkan kecupan di puncak kepalanya. Hati Erin hanya bisa mendesis dengan penuh kebencian. Ia tak suka melihat suasana seperti ini. Ia benci melihat Abidzar memperlakukan Freya istimewa dan penuh kasih sayang. Namun ia tetap harus menjalankan sandiwaranya sebagai istri pertama yang berhati malaikat. Ia ikut tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca. Ia seolah-olah ikut terharu dengan kehamilan Freya.
Secara tak langsung, Erin mengingatkan perjanjiannya dengan Freya bahwa anak itu akan menjadi miliknya dan Abidzar. Senyum yang tadi merekah indah di bibir Freya seketika redup tanpa Abidzar sadari. Abidzar terlalu excited sehingga tidak menyadari intimidasi dari kalimat yang barusan Erin ucapkan. Sebuah smrik samar tertangkap netra Freya. Jantungnya mendadak berdegup kencang. Rasa khawatir seketika memenuhi benaknya.
"Aku juga begitu. Aku pun tak sabar rasanya menantikan hari tersebut. Kita akan menjaga kehamilan Freya bersama. Terima kasih Rin, berkatmu, akhirnya aku akan jadi seorang ayah." Ucap Abidzar tulus.
"Itu sudah jadi kewajibanku, Mas. Bahagiamu adalah bahagiaku. Kalau kamu butuh sesuatu, jangan sungkan-sungkan minta dengan ku ya, Fre."
Freya hanya bisa mengangguk pelan.
"I-iya, Rin." Jawabnya pelan.
__ADS_1
Selain melakukan pemeriksaan, Abidzar juga memberitahukan perihal Freya yang sempat terjatuh kemarin. Beruntung kandungan Freya baik-baik saja. Bila tidak, ia pasti akan merasa sangat menyesal karena tidak bisa melindungi calon buah hatinya.
Setelah melakukan pemeriksaan, Abidzar pun segera menebus obat di apotek yang juga ada di rumah sakit tersebut. Sementara itu, Erin dan Freya duduk di kursi tunggu yang tak jauh dari apotek.
"Ingat Fre, bayi yang ada dalam kandunganmu itu adalah milikku dan Mas Abi. Jangan harap kau bisa memanfaatkan bayi itu untuk menguasai Mas Abi karena sampai kapanpun aku takkan membiarkannya terjadi." Tukas Erin pelan nyaris berbisik.
Setelah menebus obat, mereka pun bergegas naik ke mobil. Di saat bersamaan ada sepasang mata yang menatap Freya yang baru saja hendak masuk ke dalam mobil tersebut. Mata seseorang itu membulat. Sebelum menutup pintu mobil, Freya merasa seperti ada yang memperhatikannya. Ia pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tubuhnya seketika membeku. Ia pun bergegas menutup pintu mobil. Setelah pintu tertutup, Abidzar pun segera melajukan mobilnya pergi dari sana.
"Mas," panggil perempuan itu setelah sadar dari keterpakuannya. Tio yang baru saja keluar dari dalam mobil setelah memarkirkan mobilnya pun segera menghampiri istrinya.
"Kenapa?" tanya Tio.
"Mas, tadi ... tadi aku liat ... Freya."
"Apa? Dimana? Dimana dia? Kenapa baru bilang sekarang?" Cerca Tio panik campur antusias.
"Tapi ... tapi dia sudah naik mobil, Mas. Mobilnya udah pergi."
Mata Tio seketika terbelalak, ia pun segera berlarian berharap menemukan mobil yang membawa Freya. Tapi sayang, ternyata mobil itu telah menghilang membuat Tio hanya bisa menelan kekecewaannya.
...***...
...HAPPY READING 😍😍😍...
__ADS_1