
"Nis, apa kamu yakin yang kau lihat tadi Freya?"
"Aku yakin, Mas. Meskipun aku baru beberapa kali bertemu dengannya, tapi aku masih mengingat jelas Freya. Hanya saja tubuhnya tampak lebih berisi dari terakhir kali aku bertemu dengannya." Ucapnya tanpa sadar membuat Tio membalikkan badannya dan menatap lekat istrinya yang masih belum sadar telah keceplosan mengenai pertemuan terakhirnya.
"Apa katamu tadi, Nis? Tubuhnya tampak lebih berisi dari terakhir kali kau bertemu dengannya?" Tio menatap tajam Anisa. Anisa yang baru menyadari kesalahannya seketika tergeragap. Bola matanya bergetar berusaha menghindari tatapan tajam Tio.
Jelas saja Tio merasa curiga sebab seingatnya terakhir kali Anisa bertemu dengan adiknya itu saat Freya baru ditahan beberapa bulan dan saat itu tubuhnya belum mengalami perubahan yang berarti. Namun beberapa bulan terakhir, barulah perbedaannya terlihat kentara. Bahkan tulang selangka Freya terlihat jelas. Begitu pun rahangnya menjadi lebih tirus.
Lalu tiba-tiba saja Anisa mengatakan tubuh adiknya tampak lebih berisi dari terakhir kali mereka berjumpa. Bukankah artinya sebelum Freya tiba-tiba menghilang, istrinya sempat menemui Freya. Kalau itu benar, mengapa istrinya menutupi kebenaran itu? Kecuali itu karena dia merasa bersalah sebab ia merasa kepergian Freya ada hubungan dengannya.
"Nis," panggil Tio dingin. Anisa seketika menunduk sambil mere mas tangannya.
"i-iya, Mas." Jawab Anisa gugup. Tio lantas menarik Anisa ke kursi yang ada tak jauh dari sana. Ia tidak mungkin membahas masalah ini di tempat parkir. Setelah memastikan Anisa duduk dengan baik, Tio lantas berjongkok sambil menggenggam tangan istrinya yang tampak gelisah. "Nis, tolong jujur sama Mas apa kamu pernah menemui Freya tanpa sepengetahuan Mas?"
Anisa terdiam. Ia bingung harus jujur atau bohong. Bila jujur, ia yakin suaminya akan kecewa. Tapi bila bohong, apakah suaminya akan percaya dengan ucapannya?
"Jawab Nis! Jangan diam aja!" Ucap Tio dengan menekan suaranya membuat Anisa refleks mengangguk. Matanya bahkan sudah basah oleh air mata. Sebenarnya ia pun merasa bersalah sebab karena perbuatannya lah Freya pergi entah kemana.
Tio memejamkan matanya. Jantungnya berdebar, ia harap kepergian Freya tidak ada hubungannya dengan Anisa.
"Apak kepergian Freya ada hubungannya denganmu?" tanya Tio lagi.
__ADS_1
"Nisa nggak tahu, Mas. Maaf, maafkan Nisa, Mas. Nisa hanya tak tahan sebab berkat ulahnya lah Mas kecelakaan dan masuk rumah sakit. Dia selalu saja membuat ulah, membuat Mas cemas. Nisa hanya memintanya tidak merepotkan Mas lagi. Itu aja " Akunya seraya tersedu. Anisa berkali-kali menyeka air matanya yang turun kian deras. Ia benar-benar takut, suaminya kecewa dan marah padanya.
Mendengar pengakuan itu, Tio tertunduk lesu.
"Nis, kau tau, bukan maksud Freya merepotkan kita, tapi kalau bukan kita yang direpotkan, siapa lagi! Dia tidak punya keluarga lain selain Mas dan Mas pun tidak memiliki keluarga yang lain selain dia. Meskipun kini Mas sudah memiliki kalian, tapi Freya tetap menjadi tanggung jawab Mas. Dia tidak memiliki siapa-siapa lagi, tidak seperti Mas yang sudah memiliki kalian. Lalu ... " Tio menarik nafas dalam-dalam, "bukan maunya mendapatkan perlakuan kasar dari tahanan lainnya, tapi memang beginilah kehidupan di dalam lapas. Yang kuat yang berkuasa. Mereka sengaja menindas yang lemah demi menunjukkan eksistensi mereka sebagai orang yang hebat dan patut dihormati." Papar Tio membuat Anisa makin tertunduk dengan rasa bersalah.
Tio menghela nafasnya. Jika ditanya apakah ia kecewa, jawaban tentu saja sebab ternyata kepergian adiknya itu ada hubungannya dengan istrinya. Tapi tak mungkin juga ia memarahi Aniss yang tengah hamil. Jadi ia hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Aku mau ke bagian informasi dulu. Siapa tahu kita bisa mendapatkan informasi mengenai Freya." Ujar Tio datar. Anisa hanya bisa mengangguk seraya tersedu.
Beberapa saat kemudian, Tio telah kembali. Wajahnya murung membuat Anisa sedikit takut untuk berbicara dengannya.
"M-Mas, ba-bagaimana? Apakah Mas mendapatkan informasi mengenai Freya?" tanya Anisa takut-takut.
"Pihak rumah sakit tidak mau memberikan informasi mengenai pasien yang pernah berobat di sini." Ujarnya lesu.
"Mas, ini kan rumah sakit ini dan anak, artinya rumah sakit ini khusus menangani persoalan ibu dan anak-anak. Lalu Freya berobat ke mari, apakah jangan-jangan Freya ... "
"Jangan asal menarik kesimpulan! Lebih baik kita segera memeriksa kandunganmu. Aku tidak bisa lama-lama. Aku harus segera kembali ke kantor setelah ini." Sergah Tio yang tak ingin mendengar sesuatu tentang Freya yang belum tentu kebenarannya.
Sementara itu, mobil yang membawa Freya, Abidzar, dan Erin baru saja tiba di pekarangan rumah Abidzar. Baru saja Freya menapakkan kakinya di lantai, Sagita tiba-tiba saja keluar dari dalam rumah dan menghambur memeluk Freya. Freya dan Erin sampai kebingungan melihat tingkah Sagita.
__ADS_1
"Masya Allah, Nak, selamat ya! Selamat atas kehamilannya. Mama senang sekali. Akhirnya, impian Mama menjadi seorang nenek tercapai juga." Serunya sambil menangkup pipi Freya.
Sontak saja Erin mengerutkan keningnya. Bagaimana ibu mertuanya bisa tahu perihal kehamilan Freya? Bukankah hal tersebut masih rahasia. Selain itu, mengapa Sagita mengatakan akhirnya dirinya bisa menjadi seorang nenek, apakah Sagita telah mengetahui perihal pernikahan rahasia Abidzar dan Freya? Kalau iya, bagaimana ia bisa tahu?
Erin mengepalkan tangannya. Padahal ia bermaksud merahasiakan mulai dari pernikahan hingga kehamilan Freya. Justru di perjalanan tadi ia berpikir ingin berpura-pura hamil di hadapan keluarga besarannya. Tapi rencananya seketika buyar sebab Sagita telah mengetahui lebih dahulu mengenai kehamilan w.
'Sialan. Kenapa Mama bisa tahu mengenai kehamilan Freya? Apa mungkin Mas Abi sendiri yang menceritakannya? Tapi kenapa?' Erin melirik Abidzar yang tampak sumringah. Ia yakin Abidzar sendirilah yang memberitahukan perihal kehamilan Freya ke ibu mertuanya itu.
Freya yang tiba-tiba saja mendapatkan pelukan dan ucapan selamat tersebut hanya bisa mengangguk kikuk. Ia tak menyangka bisa mendapatkan penyambutan sehangat ini. Ia tak menyangka, kehamilannya bisa membuat Sagita sebahagia itu.
"Terima kasih, Ma." Jawab Freya pelan yang dibalas Sagita dengan usapan di kepalanya.
Sagita lantas menoleh ke arah Erin yang tengah bergeming di tempatnya. Ia pun segera beralih memeluk Erin. Ia mengucapkan terima kasih sebab berkat Erin lah akhirnya ia bisa merasakan menjadi seorang nenek.
"Rin, ya Allah, makasih ya, Nak. Semua berkatmu dan kebesaran hatimu. Berkat mau mendatangkan Freya, akhirnya Mama bisa merasakan menjadi seorang nenek juga. Kau memang menantu Mama yang terbaik. Mama sangat bersyukur memiliki kalian sebagai menantu Mama. Semoga kalian bertiga tetap bisa hidup harmonis, saling mencintai dan menyayangi. Sekali lagi, terima kasih sayang karena akhirnya tak lama lagi kita bisa mendengar tangisan bayi di keluarga besar kita." Ucap Sagita penuh suka cita.
Erin tersenyum lembut. Ia pun membalas memeluk Sagita.
"Mama tak perlu berterima kasih sebab apa yang aku lakukan ini merupakan yang terbaik untuk keluarga ini. Asalkan Mas Abi bahagia, begitu pula mama dan papa, Erin sudah merasa sangat bahagia. Lagipula Freya perempuan yang baik kok. Dia juga teman Erin sendiri jadi Erin tak masalah menjadikan Freya istri kedua Mas Abi dan mengandung anaknya." Tutur Erin dengan senyum malaikatnya.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 😍😍😍...