
Beberapa saat sebelumnya,
Sagita yang hendak mengambil ponselnya di dalam mobil tiba-tiba merasa ada yang membekap mulutnya dengan kencang kemudian mendorong tubuhnya hingga terperosok ke dalam mobil. Sagita memang tidak menutup pintunya saat hendak mengambil ponsel sebab ia pikir hanya sebentar jadi tak masalah. Mana ia sangka akan mengalami hal demikian.
Setelah terperosok ke dalam mobil, ada seorang laki-laki yang membantu mengikat tangan Sagita. Kemudian orang itu juga menutup mulut Sagita menggunakan lakban. Sagita sebenarnya ingin berteriak, tapi perempuan itu justru mengacungkan senjata tajam ke arahnya membuat Sagita terpaksa bungkam.
Freya yang menunggu di dalam merasa heran, mengapa mama mertuanya tak kunjung kembali ke dalam. Setelah membayar pun, ia bergegas kembali ke mobil. Di saat bersamaan, ponselnya berdering, belum sempat mengangkat, ia menyaksikan hal tak terduga di dalam mobil ibu mertuanya itu.
Tak ingin ibu mertuanya mengalami hal tak diinginkan, Freya akhirnya mengikuti keinginan kedua orang yang tengah menyandera ibu mertuanya.
"Kalian siapa? Apa mau kalian sebenarnya?" tanya Freya. Sebenarnya ia sedikit ketakutan, tapi ia berusaha bersikap tenang. Tak ingin ibu mertuanya kian khawatir.
Bukannya menjawab, mereka berdua justru terkekeh, "kami adalah malaikat pencabut nyawamu. Jadi turuti keinginan kami kalau kau tak ingin kami segera menjemput nyawamu," ucap perempuan itu dingin.
"Baiklah, aku akan menuruti keinginanmu. Tapi tolong lepaskan dulu ikatan tangan ibuku berserta penutup mulutnya." Freya merasa kasihan dengan ibu mertuanya. Ia tak tega melihatnya seperti itu.
"Kau pikir aku mau? Jangan mimpi!" desisnya membuat Freya mengepalkan tangannya. Diam-diam ia menyelipkan ponsel di genggaman tangannya tadi ke bawah kursi yang didudukinya. Berharap seseorang yang menelponnya tadi masih mendengarkan pembicaraan mereka sebab sebelum masuk ke dalam mobil ia sempat menekan ikon gagang telepon berwarna hijau ke atas.
Sementara itu, Abidzar yang baru saja menghubungi Freya merasa heran saat sapaan salamnya tidak bersambut. Ia sampai berkali-kali memperhatikan layar ponselnya, memperhatikan panggilan itu masih terhubung atau telah terputus.
"Masih terhubung," gumamnya kemudian kembali menempelkan benda pipih berbentuk segi empat tersebut di telinganya.
Abidzar seketika terkesiap. Matanya membeliak kaget sekaligus panik saat mendengar percakapan tersebut. Gemuruh di dadanya seketika menyeruak menjadi amarah yang bergejolak.
"Kurang ajar! Apa mereka menculik mama dan Freya? Siapa orang itu? Awas saja kalau sampai mereka menyakiti mereka, aku takkan pernah mengampuni mereka!" Desis Abidzar dengan segenap amarah yang membuncah.
***
"Mama," teriak Freya panik saat laki-laki itu menghempaskan tubuh Sagita di lantai begitu saja. "Lepaskan kami, sialan! Kenapa kalian menyekap kami di sini!" desis Freya setelah mereka dipindahkan ke sebuah gudang tua. Tercium aroma tak sedap di dalam sana sebab lokasinya memang tak jauh dari tempat pembuangan sampah.
"Lepaskan? Hahaha ... setelah apa yang kau lakukan, kau pikir aku akan melepaskanmu? Jangan harap!"
"Apa yang telah kami lakukan? Kami tidak merasa mengenalmu sama sekali."
"Benarkah kau tidak kenal aku? Ooops, oh iya, aku pakai masker, pantas saja kau tidak mengenalku. Tapi perlu kau tahu, memang kau lah yang membuatku melakukan semua ini. Kau membuat aku dipecat dari pekerjaanku. Semua gara-gara kau."
"Dipecat? Gara-gara aku? Apa kau sudah kehilangan kewarasanmu?"
"Kurang ajar! Apa katamu tadi?Jadi kau menganggap aku sudah gila? Iya?"
__ADS_1
Plak ...
plak ...
plak ...
Perempuan itu lantas menampar pipi Freya. Tak cukup sekali. Ia bahkan melakukannya berkali-kali. Tangan Freya yang diikat membuatnya tak dapat berkutik sama sekali.
"Hhhmmmpppp ... hmmmp ... hmmpphhh ... " Sagita menggeliat. Matanya menatap nyalang perempuan itu. Kemudian tatapannya beralih pada Freya yang wajahnya telah memar meninggalkan jejak tamparan. Bahkan sudut bibir Freya berdarah karena tamparan yang begitu kencang itu.
"Bagaimana rasanya? Enak? Apa kau belum juga mengingat siapa aku?"
Freya menatap balik perempuan bermasker itu, ia seperti mengenalnya, tapi ia tak yakin. Kalaupun iya, kenapa ia sampai nekat seperti ini? Padahal Freya tak pernah sama sekali mengusik dirinya. Bahkan meminta tolong pun enggan meskipun ia bekerja di kediaman Abidzar.
Ya, perempuan itu adalah Mina. Itu dugaan sementaranya.
"Kau sudah ingat?" Perempuan itu memiringkan sedikit wajahnya hingga Freya bisa memperhatikan dengan seksama wajah tertutup masker itu.
"Mina?" gumamnya lirih.
Seketika, tawa perempuan itupun meledak. Ia tertawa hingga perutnya sakit. Mina sudah seperti seorang yang kehilangan kewarasannya.
"Le-pas-kan!" ucap Freya tersendat karena ruang udara yang tertekan di batang lehernya.
"Lepaskan? Baiklah, akan aku lepaskan!"
Brakkk ...
Mina pun melepaskan tangannya dengan sentakan yang cukup kencang membuat Freya terhuyung hingga terguling di lantai. Sagita yang melihat menantunya terhempas di lantai lantas beringsut mendekat. Beruntung kakinya tidak diikat, jadi ia bisa menggeser bokongnya agar bisa mendekati Freya.
"Hemmm ... hemmm ... hmmmm ... " Sagita ingin memanggil nama Freya, tapi mulutnya yang tertutup lakban membuatnya tak dapat mengeluarkan meski sepatah katapun.
"Kenapa? Kau tidak suka menantu kesayanganmu ini aku sakiti? Begitu?" sentak perempuan itu saat melihat Sagita melotot ke arahnya.
"Aaaarghhh ... sa-kit ... Perutku ... aaargh ... perutku ... Mama ... perut Freya Ma ... " Freya tampak gelisah. Ia menggeliatkan badannya kesana kemari untuk meredam rasa sakit yang kian menjalar-jalar.
Melihat Freya merintih kesakitan, bukannya iba, perempuan itu justru tergelak kencang.
"Sakit? Hahahaha ... Rasakan itu."
__ADS_1
"Kenapa kau melakukan ini, Mina?" lirih Freya sambil terus menahan sakit yang kian menyergap.
"Hahahaha ... Karena aku membenci dirimu. Kenapa kau bisa begitu beruntung menikah dengan Abidzar? Kenapa harus kau yang mengandung anak Abidzar? Padahal ada aku, kenapa harus kau yang mengandung anaknya? Kenapa bukan aku? Kenapa bukan aku yang dipilih? Aku akui kau lebih cantik, tapi kau itu pembunuh. Kau mantan narapidana. Kalau tidak ada nyonya Erin, kau pasti akan membusuk di penjara. Sedangkan aku, aku perempuan baik-baik. Aku tidak pernah membunuh. Aku tidak pernah dipenjara, tidak seperti kau." Pekik Mina histeris.
Mina memang memiliki obsesi dengan mantan majikannya itu. Tak ada yang tahu, obsesinya begitu besar. Bahkan tanpa sepengetahuan orang lain, Mina kerap mencuri pakaian dalam Abidzar untuk dijadikan objek fantasi liarnya. Tapi semenjak dipecat, ia tak bisa melakukan hal tersebut.
Oleh sebab itu, sebelum pergi dari rumah Abidzar, diam-diam ia mengambil perhiasan Erin untuk dijadikannya modal membayar seseorang yang bisa membantunya membalas dendam. Ia menyalahkan apa yang ia alami pada Freya. Menurutnya, karena kehadiran Freya lah masalah menimpanya rumah tangga Erin dan Abidzar. Dan karena kehadiran Freya lah, Abidzar berubah dan memilih meninggalkan Erin. Serta karena Freya lah, ia jadi dipecat. Mina marah. Ia sakit hati. Ia tidak terima.
Oleh sebab itu, ia melancarkan rencana ini. Setelah menunggu berbulan-bulan, akhirnya kesempatan itu datang dan ia takkan menyia-nyiakan kesempatan untuk menghabisi Freya.
Freya yang kian kesakitan, tak memedulikan lagi apa yang Mina ucapkan. Tak lama kemudian, cairan bening mengalir deras dari sela kakinya. Freya kian panik. Pun Sagita. Mina tertawa melihat Freya yang terus kesakitan.
"Aku harap kau dan bayimu segera mati agar tak ada lagi yang bisa menghalangi aku untuk ... "
Brakkk ...
Tiba-tiba pintu gudang tua itu terbuka kasar. Laki-laki yang tadi menemaninya menculik Freya terhempas begitu saja di lantai dengan wajah yang babak belur. Mina panik. Apalagi saat melihat wajah merah padam Abidzar yang sudah seperti seekor singa yang siap menerkamnya. Di belakang Abidzar, menyusul Tirta dan beberapa orang dengan seragam polisi. Mina tak menyangka, nasibnya akan berakhir seperti majikan perempuannya. Bagaimana pun, ia tidak memiliki latar belakang seorang penjahat jadi apa yang ia lakukan bisa dengan mudah ditelusuri para petugas.
Melihat Freya yang sudah terkapar dengan cairan bening yang kini sudah bercampur darah membuat Abidzar seketika panik.
"Bi, loe bawa aja Freya ke mobil minta abter petugas ke rumah sakit segera. Urusan Tante, serahkan sama gue," seru Tirta.
Abidzar mengangguk. Kemudian ia segera menggendong tubuh lemah Freya, "bertahanlah sayang!" gumamnya saat mengangkat tubuh wanita yang dicintainya.
Mina yang melihat polisi hendak meringkusnya hanya bisa pasrah. Percuma saja mencoba melawan apalagi melarikan diri pikirnya sebab bila ia mencoba hal tersebut, bukannya ia berhasil melarikan diri, sebaliknya, ia pasti akan dihujam timah panas setelahnya.
Sebelum benar-benar keluar dari ruangan pengap nan sempit dan lembab itu, Abidzar menoleh ke arah Mina, "kalau sampai terjadi sesuatu pada anak dan istriku, aku pastikan akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!" desis Abidzar penuh amarah dan kebencian. Setelah mengucapkan itu, Abidzar pun segera berlalu dengan sesegera mungkin demi keselamatan calon anak dan istrinya.
Di sisi lain, Tirta tengah membantu melepaskan Sagita dari ikatan. Setelah terlepas, mereka pun ikut menyusul ke rumah sakit.
"Ya Allah, tolong selamatkan menantu dan calon cucuku, aku mohon," lirih Sagita dengan mata yang telah basah oleh air mata.
Tirta pun menoleh, ia pun berharap hal yang sama. Entah bagaimana keadaan Abidzar kelak bila terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada Freya dan calon anak mereka. Ia yakin, Abidzar akan lebih hancur daripada dahulu, saat ia berpikir Freya telah merendahkan cintanya dan mempermalukan dirinya.
...***...
...HAPPY READING 😍😍😍...
...***...
__ADS_1