Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
Kedatangan Meylin, Rana, dan Lisa


__ADS_3

Hari terus berlalu, tak terasa sudah 1 bulan Freya menyandang status sebagai istri siri Abidzar. Sudah seminggu lebih juga Erin tidak bepergian. Abidzar jadi gusar sendiri. Ia ingin menemui Freya dengan bebas seperti sebelumnya, tapi ia merasa tak enak hati dengan istrinya. Ia takut tindakan impulsifnya justru menyakiti Erin.


Tidak mungkin kan ia beralasan ingin melakukannya lagi karena Freya belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Ah, Abidzar benar-benar galau. Ia benar-benar merindukan Freya. Beberapa hari ini juga ia jarang melihat sosok wanita yang ia cintai itu. Setiap sebelum pergi maupun sepulang kerja, ia tak henti-hentinya celingukan berharap bisa melihat wanitanya, tapi sayang ia tak menjumpai meski siluetnya sekalipun.


"Kenapa lagi? Muka kusut amat?" Tanya Tirta tiba-tiba saat masuk ke ruangan Abidzar.


Abidzar mendelik tajam. Sejak tahu kalau Tirta memiliki perasaan pada Freya, dirinya mendadak kesal setiap melihat sosok itu. Apalagi Tirta masih saja kerap datang tiba-tiba dan memberikan sesuatu pada Freya, membuat hatinya meradang.


"Bukan urusan loe!"


"Alamak, ketus amat! Amat aja nggak ketus-ketus banget kayak gini." Seloroh Tirta sambil cengengesan.


"Nih, Bi. Tadi perwakilan perusahaan TJ Group datang. Mereka mau pakai jasa kita buat mengakomodasi karyawannya pergi umroh. Hebat banget ya perusahaan mantan suami Freya itu." Ucap Tirta seraya meletakkan map berisi berkas-berkas pengajuan kerja sama.


Abidzar mendongakkan kepalanya, "siapa perwakilan yang datang?"


"Asprinya. Namanya pak Tio. Kenapa?" Tanya Tirta saat melihat wajah Abidzar yang tampak memucat.


"Nggak. Nggak kenapa-kenapa." Kilahnya. "Ya, perusahaan itu emang makin bersinar semenjak Gathan Adriano diangkat menjadi CEO-nya. Seluruh karyawan atau bagaimana?"


"Kayaknya karyawan senior yang terbukti loyalitasnya ke perusahaan. Ada sekitar 50 orang. Bewh, orang sebanyak itu dibiayain semua, keren. Mereka beruntung banget."


"Ya udah, ngelamar kerja di sana aja kalau kamu merasa di sana lebih wah," cibir Abidzar yang dibalas kekehan oleh Tirta.


"Kenapa loe sewot amat sih, Bi? Nggak dapat jatah dari Erin? Dia kelayapan lagi?" seloroh Tirta.


'Bukan nggak dapat jatah dari Erin, tapi Freya. Haish, kapan aku bisa punya waktu buat duaan lagi sama Freya. Ah, atau aku tanya Bi Asih aja ya Erin ada di rumah atau nggak?'


"Woy, pret, kenapa senyum-senyum sendiri? Udah mulai gila kali loe ya? Baru juga bini 2 udah gila, gimana kalau 3, 4, 5, bisa-bisa beneran masuk rumah sakit jiwa." Pekik Tirta saat melihat Abidzar melamun seraya tersenyum-senyum sendiri.


"Keluar sana dari ruangan gue. Pusing kepala gue liat muka lu terus." Usirnya seraya mengibaskan tangannya.


"Pusing, pusing, entar kangen."

__ADS_1


"Najis. Cuih." Ketus Abidzar membuat Tirta tergelak.


"Eh, entar malam gue mau ngapelin Freya, boleh kan?"


Bugh ...


Sebuah bolpoin mendarat tepat di kepala Tirta membuat laki-laki itu mendelik tajam.


"Perempuan yang mau loe apelin itu bini gue, jangan seenaknya aja jadi orang. Mentang selama ini gue diam, bukan berarti gue ngebolehin. Pokoknya mulai sekarang loe jaga jarak. Jangan coba-coba loe deketin Freya lagi. Cari aja cewek lain yang single sana, jangan jadi pebinor. Entar gue laporin Tante Rani, baru tau rasa loe!" Pekik Abidzar dengan rahang mengeras.


Tirta mendengkus, "jadi sekarang kau sudah mengakuinya sebagai istri?" Terlihat Tirta menyeringai membuat Abidzar menatapnya lekat seraya melipat kedua tangannya di depan dada.


"Bukan hanya mengakui, tapi menjadikan. Aku telah menjadikannya istriku sepenuhnya, kenapa?" Balas Abidzar yang kini sudah mode serius dan gaya bicara seperti biasanya.


"Bukannya kau bilang kau jijik untuk menyentuhnya, lantas kenapa ... " Tirta mengangkat kedua tangannya lalu membuat tanda kutip di udara menggunakan jari telunjuk dan jari tengahnya.


Abidzar menghela nafas panjang. Ia memijat pelipisnya pelan.


"Fitnah? Maksudnya?"


"Kau tahu, sebenarnya bukan Freya yang menempel suratku di mading dan membalasnya. Dan satu hal yang harus kau tahu, Freya bukan jalaang. Dia bukan perempuan murahan sebab ... "


"Sebab ... apa?" Tuntut Tirta saat Abidzar menjeda kalimatnya.


"Sebab ... akulah laki-laki pertama yang menyentuhnya."


Mata Tirta terbelalak. Ia tak menyangka akan kenyataan yang baru saja diucapkan Abidzar barusan. Dirinya adalah salah satu saksi dimana Abidzar mengalami kehancuran akibat bullying yang bersumber dari surat cintanya sendiri. Dan dirinya pun jadi saksi bagaimana koar-koar para laki-laki di sekolahnya dahulu menceritakan pengalaman permainan ranjang Freya. Rumor berkembang begitu pesat dan menyebar luas ke seantero sekolah. Bahkan Freya pun pernah digosipkan menjadi gundik gurunya sendiri. Wajar kan kalau ia meragukan apa yang dikatakan Abidzar barusan?


"Kau yakin kau yang pertama? Bagaimana kalau dia ternyata pernah melakukan operasi selaput dara?"


Abidzar menggeleng, "aku yakin 100%. Dia murni. Dia suci dan akulah yang merenggut kesuciannya." Setelah mengucapkan itu, Abidzar pun menceritakan segala hal tentang Freya yang baru ia ketahui.


Tirta benar-benar tak menyangka, ada yang setega itu memfitnah seseorang sampai orang lain pun jadi korbannya.

__ADS_1


Sementara itu, di kediaman Erin saat ini, ketiga sahabat Erin sedang berkunjung. Mereka tentu ingin menyaksikan bagaimana penampilan Freya saat ini.


"Wah, lihat, siapa tuh? Bukannya itu mantan primadona sekolah kita?" Seru Meylin saat melihat Freya berjalan lemah sambil membawa nampan berisi 4 gelas jus beraneka rasa sesuai instruksi Erin.


"Wah, benar! Ternyata dia cocok juga jadi pembokat di rumah loe, Rin." Seloroh Rana dengan tatapan mengejek.


"Hebat kan gue. Gue bisa membuat perempuan sombong bin angkuh ini jadi pembantu gue. Primadona apaan, emang cocoknya jadi pembantu kok." Timpal Erin.


Saat Freya sudah hampir mendekati meja dan hendak meletakkan nampan ke atas meja, tiba-tiba saja kakinya tersandung sesuatu membuat tubuhnya oleng sehingga minuman pun tumpak mengenai Lisa dan Meylin.


"Aaargh ... Dasar perempuan kampungan. Liat akibat ulahmu, bajuku ... Hah, ini baju mahal, kau tahu tidak. Bahkan hasil kau menjual diri pun takkan bisa membayarnya." Pekik Lisa murka.


"Heh, perempuan murahan, kau ini bekerja gimana sih? Lihat, bukan cuma Lisa yang basah, tapi aku juga." Sentak Meylin dengan mata melotot.


Sementara itu, Rana tersenyum penuh kemenangan sebab dirinya lah yang membuat Freya terjatuh.


"Maaf, maaf, aku nggak sengaja." Seru Freya panik. Wajahnya yang memang sedari tadi pucat, kini makin memucat membuat keempat perempuan itu tersenyum penuh kemenangan.


"Maaf? Apa kata maafmu mampu mengembalikan bajuku bersih seperti semula, hah?" sentak Meylin.


"Tapi aku memang tidak sengaja. Kaki Rana lah yang membuatku terjatuh." Ucap Freya yang memang tahu ia terjatuh karena kaki Rana.


"Apa? Kau mau menyalahkan ku? Iya? Kau yang bekerja tidak becus, tapi aku yang kau salahkan. Dasar, perempuan sialan. Rasakan ini."


Plak ...


Rana menampar pipi kiri Freya membuat wajahnya terlempar ke samping. Kurang puas, Rana juga mendorong tubuh Freya. Tubuh Freya yang hari ini memang kurang fit, membuatnya terhuyung hingga jatuh terduduk. Kepalanya mendadak pusing dan dalam hitungan detik, Freya pun kehilangan kesadarannya.


"Freya ... "


...***...


...HAPPY READING 😍😍😍...

__ADS_1


__ADS_2