
Hari berganti begitu cepat, tapi Ana merasa hari-harinya kian hampa. Entah apa sebabnya, ia pun bingung sendiri.
Dulu, saat ia pergi dari rumah, meskipun dalam keadaan terpuruk, tapi ia masih bersemangat menjalani hari. Beda dengan kali ini. Ada perasaan kosong dan hampa yang ia rasakan. Seperti ada sesuatu yang hilang. Tapi Ana belum menyadarinya sama sekali.
"Aku sebenarnya kenapa sih?" Gumam Ana sambil melangkahkan kakinya menuju ke dapur.
"Na," panggil Bi Asih.
"Iya, Bi," sahut Ana yang bergegas mendekati Bi Asih.
"Ini, tolong antarkan ke depan!" ujar Bi Asih seraya menyodorkan nampan berisi secangkir kopi, segelas jus jambu, dan sepiring pancake.
"Di depan ada tamu ya, Bi?"
"Nggak. Ini untuk non Freya sama den Abi."
"Oh, ya udah, Ana antar ke depan dulu." Ana pun meraih nampan tersebut dan membawanya ke depan.
Sementara itu, di depan, tampak Abidzar dan Freya sedang bercengkerama sambil bercanda dengan baby Abrisham yang dibaringkan di dalam bouncer. Terdengar tawa renyah sang bayi saat ayahnya membuat ekspresi aneh dan lucu.
Ana yang mengantarkan minuman pun ikut tersenyum. Hingga suara deringan ponsel Abidzar menghentikan kegiatan mereka. Abidzar yang melihat nama penelpon pun mengerutkan kening. Tanpa menunggu waktu lama, Abidzar pun segera mengangkat panggilan dan mengucapkan salam. Lalu dalam hitungan detik, ekspresi ceria Abidzar berubah menegang. Freya yang melihat itu pun jadi penasaran. Pun Ana, tapi ia tidak begitu menunjukkannya sebab ia sadar, itu bukanlah ranahnya.
Hingga baru saja Ana berbalik dan melangkah, kata-kata yang Abidzar ucapkan membuat Ana mematung di tempat dengan jantung yang bertalu-talu.
__ADS_1
"Apa, Tan? Tirta kecelakaan saat perjalanan pulang dari bandara?" ucap Abidzar dengan raut wajah penuh kecemasan dan kekhawatiran.
Lalu Abidzar pun meminta informasi di rumah sakit mana Tirta dirawat. Setelah tahu, Abidzar pun segera menutup panggilan itu dan ekspresi yang tentu tidak baik-baik saja.
"Mas, kak Tirta kenapa?" tanya Freya yang ikut khawatir.
Abidzar menghela nafasnya, "Tirta kecelakaan. Dia baru pulang dari mengontrol pembangunan kantor cabang BTT di Samarinda dan di dalam perjalanan pulang dari bandara ke rumah, tiba-tiba taksi yang ditumpangi Tirta remnya blong. Alhasil ... Tirta ... kecelakaan," tukas Abidzar benar-benar khawatir.
Freya yang mendengar kabar buruk itupun terkejut. Begitu pula Ana yang mendadak mematung di tempat dengan dada yang berdenyut nyeri. Dirabanya dada sebelah kirinya, detakannya begitu cepat dan terasa menyesakkan. Ana pun segera beranjak dari sana dengan air mata yang tanpa sadar telah tumpah ruah. Kekhawatiran melanda dan Ana benar-benar ketakutan karenanya.
"Ya Allah, bagaimana keadaan Aak Tirta? Setelah 2 Minggu lebih tidak mendengar kabarnya, kenapa saat mendapati kabarnya justru kabar buruk yang ku dapati? Semoga kau baik-baik saja, Ak," gumam Ana lirih yang benar-benar mengkhawatirkan keadaan Tirta.
Sementara itu, di rumah sakit.
"Tante, bagaimana keadaan Tirta?" tanya Abidzar yang baru saja tiba dengan nafas terengah-engah. Ia berlarian sepanjang koridor dari tempat parkir tadi. Ia benar-benar mencemaskan keadaan sepupunya itu.
Riana menggeleng, "dokter belum juga keluar. Padahal sudah hampir satu jam Tirta berada di dalam," ucap Riana lirih sambil memandang ke arah pintu ruang IGD. Ia lantas membaringkan kepalanya di pundak sang putri. Riana tergugu dengan mata dan hidung yang telah benar-benar memerah. Hatinya menjerit pilu, setelah 2 pekan ini Tirta bersikap tidak biasa, lalu kini hal tak terduga terjadi. Bencana yang tak disangka-sangka menimpa sang putra.
"Ma," panggil sayang Tirta yang baru datang.
"Pa," Riana langsung masuk ke dalam pelukan sang suami. Ia menumpahkan segala kesedihan dan kekhawatirannya di dada sang suami. Ia tak kuasa menahan kesedihan yang kian menjadi-jadi. Ia takut, benar-benar takut.
"La, Tirta, La, putra kita, dia ... dia di dalam sana. Tirta sedang kritis, Pa. Bagaimana ini, Pa? Mama ... Mama takut terjadi sesuatu pada Tirta. Mama takut, Pa. Mama benar-benar takut. Putra kita, Pa, putra kita ... huhuhu ... "
__ADS_1
Ayah Tirta pun tak kuasa menahan kesedihannya. Air matanya pun ikut luruh melihat ketakutan dan mendengar racauan sang istri.
"Mama tenang, putra kita anak yang kuat. Insya Allah dia tidak apa-apa. Dia pasti akan pulih seperti sedia kala," ucap ayah Tirta mencoba menenangkan sang istri. Sebenarnya hati ayah Tirta pun meragu. Rasa takut itupun memenuhi rongga dadanya. Tapi ia tidak mungkin membiarkan istrinya kian terpuruk. Ia tak mungkin menunjukkan ketakutannya. Kalau bukan dia, siapa lagi yang bisa menguatkan istrinya. Sebisa mungkin ayah Tirta bersikap tenang sambil melangitkan doa dan harap dalam hati, agar sang anak baik-baik saja.
...***...
Beberapa menit kemudian, seorang dokter keluar dengan peluh membasahi dahinya.
"Dok, bagaimana keadaan anak saya?" tahta Ayah Tirta. Raut kecemasan terlihat jelas di wajah yang telah banyak dipenuhi garis-garis penuaan. Riana, Arum, dan Abidzar pun telah ikut berdiri menunggu kabar dari sang dokter.
Sang dokter menghela nafasnya panjang, kemudian ia pun mulai menjelaskan keadaan Tirta.
"Kondisi putra bapak dan ibu tidak baik-baik saja. Luka bagian kepala memang cukup besar, tapi tidak fatal. Namun karena tubuh putra bapak dan ibu terjepit membuat tulang rusuknya retak dan tangan kanannya patah." Jelas dokter tersebut membuat mata pasangan paruh baya tersebut membelalakkan matanya. "Sebentar lagi kami akan melakukan operasi jadi silahkan bapak ke bagian administrasi untuk proses selanjutnya." Tukas dokter itu.
"Tapi ... keadaan anak kami masih bisa pulih seperti semula kan, dok? Dia tidak apa-apa kan, dok?" tanya Riana dengan perasaan was-was.
"Alhamdulillah, putra bapak dan ibu sangat kuat. Meskipun sempat kehilangan banyak darah, tapi ia masih terus bertahan."
"Terima kasih, dok, atas bantuannya," ucap ayah Tirta. "Kalau begitu saya akan segera menyelesaikan urusan administrasi. Saya mohon, lakukan yang terbaik yang bisa dokter lakukan untuk kesembuhan anak saya," imbuhnya lagi.
"Pasti. Bapak dan ibu doakan saja semoga operasinya berjalan lancar sehingga putra bapak dan ibu bisa segera pulih seperti sedia kala."
Setelah mengatakan itu, sang dokter pun segera memerintahkan para perawat dan dokter magang untuk mempersiapkan ruang operasi. Hingga beberapa jam kemudian, operasi pun dilakukan.
__ADS_1
Abidzar tampak masih setia ikut menunggu di kursi yang berada tak jauh dari ruang operasi. Meskipun wajahnya terlihat tenang, tapi tak menjamin hatinya pun setenang ekspresi wajahnya. Tak ada yang tahu, ia pun begitu mencemaskan keadaan sepupunya tersebut.
Selagi menunggu, Abidzar menyempatkan diri menelpon istrinya untuk memberi kabar mengenai keadaan Tirta. Di saat bersamaan, ada sepasang telinga ikut mendengarkan pembicaraan Freya dan Abidzar. Meskipun ia tidak bisa mendengar kata-kata Abidzar di seberang sana, tapi ia bisa mengetahui keadaan Tirta dari ucapan.