
Hari ini di meja makan keluarga Tirta tampak riuh. Bukan tanpa alasan, hal ini disebabkan penampilan seksi sang nenek yang mengenakan seragam ala nanny. Tubuh nenek tidak gemuk maupun kurus. Nenek sangat menjaga tubuhnya sehingga meskipun usianya tak lagi muda, tapi tetap terlihat terawat dan kencang. Yah meskipun hal tersebut tetap tak dapat menyembunyikan kalau usia nenek sudah tak lagi muda. Maklumlah, nenek sudah berusia hampir 80 tahun. Hanya saja, berkat perawatan rutin, nenek tidak terlihat begitu tua. Tubuhnya pun masih terlihat bugar karena nenek benar-benar menjaga pola makannya dengan baik. Sebenarnya nenek melakukan itu bukan serta merta untuk tetap tampil cantik. Nenek bukanlah orang yang menolak tua. Hanya saja ia melakukan itu untuk menjaga kesehatannya agar tetap fit dan tidak mudah sakit. Sebab ia paling pantang merepotkan orang lain meskipun itu anak-anaknya sendiri.
"Wow, so sexy!" seru Tirta tersenyum lebar. Nenek menekuk wajah, dongkol. Matanya memicing melihat Riana yang menahan tawanya saat melihat penampilan ibu mertuanya yang tampak seksi dengan seragam nanny yang ia belikan.
"Puas? Puas kau, hah?" delik nenek membuat putranya pun ikut tergelak. "Kenapa kalian? Ih, pasti sirik kan liat nenek masih terlihat seksi? Nggak kayak kamu, baru juga kepala 5, udah kayak nenek-nenek punya cicit 10," ejek Nenek pada Riana. Riana sontak melotot sambil memperhatikan penampilannya.
"Pa, liat tuh Mama, masa' bilangin Mama kayak nenek-nenek punya cicit 10. Apa emang Mama kelihatan setua itu?" adu Riana pada sang suami.
Bibir sang mertua maju 5 Senti, mengejek sang menantu yang mengadu pada putranya.
Tirta dan Ana hanya bisa menahan tawa mereka. Pun beberapa art yang melihat keriuhan di meja makan itu. Seandainya Arum belum kembali ke asrama, mungkin ia pun akan ikut tergelak kencang melihat tingkah ibu dan neneknya itu.
"Nggak ah! Mama tetap cantik. Cantik banget malah. Persis mama usia 30'an. Tetap terlihat kencang dan menawan," puji sang suami yang tak ingin melihat istrinya makin cemberut. Bisa kacau kalau istrinya merajuk. Bukan hanya jatah kasur yang hancur, tapi segala-galanya. Ingat kan kalau istri itu nyawa dalam sebuah rumah tangga. Jadi paham kan gimana kacaunya rumah tangga kalau istri sedang tak baik-baik saja terlebih marah atau merajuk?
"Tuh Mah, dengar kan apa kata putra Mama, aku tuh masih terlihat cantik. Mama aja tuh yang iri."
"Kalau kamu merasa cantik, ayo pakai baju kayak mama juga. Mari kita bersaing, siapa yang paling cantik di rumah ini," tantang nenek sengaja. Dalam hati nenek berdoa agar menantunya itu setuju dan mau menerima tantangannya. Biar adil. Sama-sama pakai baju nanny. Dia tak mau malu sendirian.
"Siapa takut, hayo!" Nenek menyeringai lebar. Dalam hati ia bersorak karena akhirnya menantunya itu masuk ke dalam perangkap.
Tirta dan sang ayah hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah polah mertua dan menantu. Mereka tak habis pikir, ternyata Riana semudah itu masuk ke dalam jebakan Betmen sang nenek.
"Ma, Nek, aku juga mau pakai baju nanny. Aku juga mau bersaing. Nggak adil dong nenek dan mama aja yang bersaing," ucap Ana polos yang tak paham kalau nenek mertuanya itu sedang menjebak sang menantu agar ikutan memakai seragam nanny.
Riana tentu saja tersenyum lebar, ia pun setuju dengan ide sang menantu. Tirta menepuk jidatnya melihat kepolosan sang istri yang kini ikut terjebak oleh permainan sang nenek. Namun Tirta tak melarang. Lucu juga pikirnya kalau melihat istrinya pun ikut memakai seragam nanny. Pasti sangat menggemaskan, pikirnya.
Dan benar saja, keesokan harinya, Ana pun ikut mengenakan seragam nanny. Tapi yang lebih mencengangkan, bahkan para art perempuan di rumah itu pun ikut mengenakan seragam nanny. Tirta dan ayahnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka seakan menjadi anak kecil yang dikelilingi para baby sitter di rumah itu. Bahkan akibat ulah ketiga wanita beda generasi tersebut, tamu yang berkunjung tiba-tiba pun kebingungan saat melihat perempuan berseragam nanny menyambut mereka dan mengajak mereka berbincang. Sebelum akhirnya mereka sadar kalau wanita berseragam nanny itu merupakan Nyonya di rumah itu. Sungguh, hari-hari di kediaman Tirta kini kain berwarna. Bila sebelumnya sudah sedikit ramai karena tingkah polah sang nenek, kini ditambah Ana membuat rumah itu kian semarak dan hangat.
"Baru begini aja rumah ini udah kian semarak ya, Ri. Gimana kalau Turta kasih liat cucu-cucu yang lucu, huh, pasti akan lebih ramai lagi. Mama nggak sabar rasanya pingin nimang cicit dari mereka," ucap sang nenek di sela-sela waktu bersantainya dengan Riana. Mereka tengah memperhatikan Tirta dan Ana yang sedang bermain di tepi kolam ikan. Tampak Turta sedang memercikkan air ke arah Ana. Ana pun membalasnya membuat mereka tergelak kencang dengan wajah penuh kebahagiaan.
"Mama benar. Tapi kita nggak bisa memaksa mereka harus kasi kita cucu sekarang, Ma. Mau bagaimanapun, anak itu kuasa Allah. Mau sebesar apapun usaha kita kalau Allah belum berkehendak ya percuma. Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka, Ma. Yang penting mereka bahagia, itu sudah cukup bagi Riana." Ujar Riana menyahuti ucapan sang ibu mertua.
Nenek pun tersenyum, "makin hari kau makin bijak aja, Ri."
"Ingat umur, Ma. Semakin bertambah umur kita harus makin bijak menghadapi sesuatu. Makanya Mama ikut aku pengajian biar nambah ilmu dan wawasan. Jangan cuma bisanya drakoran aja," cibir Riana.
"Iya, Mamah Riana. Entar deh, Mama ikut. Makanya ajak ke pengajian itu jangan di jamnya Mama mau drakoran," ucap nenek yang super ngeyel.
"Ckkk ... Dasar orang tua, dibilangin malah ngeyel," cibir Riana sambil geleng-geleng kepala.
"Kayak kamu masih muda aja," balas nenek yang tak mau kalah.
__ADS_1
"Siapa juga yang bilang Riana masih muda. Tapi kalau jiwa, baru deh perlu tetap muda. Biar nggak kalah sama yang muda."
"Nah tuh tahu. Makanya Mama sering drakoran biar tetap berjiwa muda. Apalagi kalau pemeran utamanya ganteng-ganteng kayak Lee Jong Suk, Rain, Lee Seung Gi, Lee Min Ho, Park Seo Joon gitu, Mama merasa 50 tahun lebih muda, tau nggak."
Riana memutar bola matanya jengah. Dasar nenek-nenek, udah tua aja masih tau cowok-cowok ganteng. Nambah tua bukannya banyak zikiran, malah banyak drakoran.
"Astaghfirullahal 'adzim," ucap Riana sambil mengusap dadanya melihat perilaku sang ibu mertua yang memang luar biasa. Mata nenek mendelik tajam mendengar ucapan sang menantu. Tapi ia tak menyanggah lagi. Tak ingin semakin dikuliti oleh menantunya itu.
...***...
Di kantor
Sejak tadi Abidzar gelisah. Ia terus saja mengusap perutnya yang tiba-tiba saja lapar. Padahal jam baru menunjukkan pukul 9 pagi. Tapi anehnya perutnya mendadak lapar. Seolah-olah ia tidak sarapan pagi tadi. Dan yang lebih anehnya, ia sangat ingin makan nasi Padang dengan gulai kepala ikan baung yang super besar.
Ayolah, ini baru jam 9, kalaupun sudah ada rumah makan Padang yang buka, tapi menu yang diinginkannya apa sudah tersedia?
"Kenapa loe, Bi? Sakit perut? Dari tadi usap-usap perut?" celetuk Tirta yang baru saja masuk ke ruangan Abidzar sambil menyerahkan bundel map yang perlu tanda tangannya. Setelah berbulan madu selama seminggu lebih, ditambah libur karena kelelahan, membuat pekerjaan Abidzar seketika menumpuk setibanya di kantor.
Abidzar menggeleng, "kira-kira rumah makan Padang di ujung jalan itu udah buka belum ya, Ta?" tanya Abidzar tiba-tiba.
"Belum."
"Hah? Kok kamu tahu? Kamu sering makan di sana?"
Abidzar seketika melongo, "dari sana? Habis ngapain?"
"Ya mau cari makan lah bego. Loe kira mau cari besi rongsokan," judes Tirta membuat Abidzar kian melongo sebab Tirta kenapa jadi sensian kayak gini. Persis perempuan lagi PMS, pikirnya.
"Loe kok ngegas sih? Gue kan cuma tanya. Tumben. Mana ini masih pagi," sewot Abidzar kesal mendengar jawaban Tirta yang menyebalkan.
"Lagian pertanyaan loe nggak berbobot."
Mata Abidzar mendelik tajam, "tumben jam segini loe cari makan? Nggak disiapin sarapan loe sama Ana."
Tirta lantas menghela nafasnya, "gue lapar. Lapar, bego. Lapar banget malah. Padahal pagi tadi udah makan nasi goreng dua piring, tapi tiba-tiba lapar lagi. Gue sampai bingung sendiri, apa gue cacingan ya?" Tirta memekik frustasi sambil mengusap perutnya yang tiba-tiba saja mengeluarkan bunyi yang cukup nyaring. Abidzar sontak saja tergelak kencang mendengarnya. Namun sepertinya bunyi perut itu menular, kini perut Abidzar lah yang mengeluarkan suara cukup nyaring membuat melongo kemudian ikut tergelak kencang. Akhirnya kedua saudara sepupu itu tergelak bersamaan.
"Hah, perut nggak bisa bohong. Gue Oun lapar karena itu tadi nanyain loe, rumah makan Padang di ujung jalan itu udah buka belum soalnya gue pingin banget makan gulai kepala ikan baung yang super besar," ucap Abidzar sambil mengusap-usap perutnya yang memang sesekali mengeluarkan bunyi kerucuk karena lapar.
Mata Tirta seketika membulat sebab ternyata keinginannya sama dengan keinginan sepupunya itu.
"Kenapa mata loe melotot kayak gitu?" tanya Abidzar dengan tatapan memicing.
__ADS_1
"Kepinginan kita kok sama? Sama-sama pingin makan gulai kepala ikan baung yang super gede. Loe ikut-ikutan gue ya?" tuding Tirta.
Abidzar mendengkus. Ia tak terima dituduh ikut-ikutan, "enak aja. Loe tuh yang ikut-ikutan pingin gulai kepala ikan baung. Kan gue yang duluan ngomong."
"Tapi gue duluan yang ke sana."
"Udah ah, ngapain jadi ngeributin siapa yang ikut-ikutan. Intinya gue pingin banget makan gulai kepala ikan baung. Titik. Jadi gimana, rumah makan itu buka jam berapa?"
"Kata pegawainya tadi sih sekitar jam 10."
Abidzar berdecak sebab masih butuh waktu 30 menit menuju jam 10. Padahal perutnya sudah benar-benar lapar.
"Gimana kalau kita ke sana sekarang? Jadi pas buka, kita bisa langsung memesan."
"Good idea. Perut gue juga kayaknya udah nggak bisa diajak kompromi lagi. Gue benar-benar lapar. Ya udah, yuk kita ke sana sekarang."
Dengan langkah panjang, Abidzar dan Tirta pun segera menuju ke mobilnya. Tujuan mereka tentu saja rumah makan Padang yang mereka bicarakan sebelumnya. Sungguh mereka pun merasa aneh dengan diri mereka sendiri sebab baru kali ini mereka lapar di waktu yang tak tepat. Dan makanan yang diinginkan pun sungguh tak terduga. Padahal biasanya mereka bisa menahan lapar hingga seharian. Hanya dengan dua gelas kopi, mereka sanggup mengerjakan pekerjaan mereka sampai jam pulang bekerja. Tapi hari ini, benar-benar seperti hari bersejarah. Untuk pertama kalinya mereka lapar di jam yang sama dan menginginkan makanan yang sama pula. Sungguh aneh, tapi itulah kenyataannya.
...***...
Sementara itu, di lapas dimana Erin ditahan, kondisi perempuan itu tiba-tiba kembali drop. Alhasil, Erin pun kembali dilarikan ke rumah sakit.
"Siapa? Kenapa wajah loe tiba-tiba pucat gitu? Apa terjadi sesuatu pada Rio?" tanya Zoya saat mereka sedang menikmati makan siang mereka di cafetaria yang ada di lantai satu gedung dimana kantor mereka berada.
Ryan menggeleng, "bukan. Bukan Rio, tapi ... Erin."
"Dia kenapa?" tanya Zoya yang memang telah tahu siapa itu Erin. Mereka memang cukup dekat sehingga mereka pun sering berbagi cerita, termasuk Zoya pun telah menceritakan permasalahannya dengan keluarga mendiang suaminya.
"Kesehatannya kembali memburuk. Sepertinya ginjalnya kembali kambuh. Aku harus bagaimana? Saat pemeriksaan terakhir kali, salah satu ginjalnya dinyatakan rusak dan dianjurkan diangkat. Padahal awalnya hasil pemeriksaan menyatakan salah satunya saja yang kondisinya kurang baik. Lalu kini, bukan hanya salah satu ginjalnya dinyatakan rusak, ginjal satunya lagi pun dinyatakan kurang baik. Bila keadaannya terus memburuk, Erin disarankan melakukan cuci darah. Aku benar-benar bingung, Zo. Aku harus apa? Aku ... jujur aku nggak sanggup kehilangan Erin. Aku ... aku benar-benar mencintainya, Zo. Aku lebih rela melihatnya bahagia dengan laki-laki lain, Zo, dibandingkan harus kehilangan karena kematian."
Ryan tergugu. Air matanya tanpa sadar ikut menetes seiring rasa takut kehilangan yang makin memenuhi rongga dadanya.
Sebenarnya Ryan pernah memeriksa kecocokan ginjalnya dengan milik Erin. Ia harap ginjalnya memiliki kecocokan jadi ia bisa menjadi pendonor bagi Erin. Tapi sayang, ternyata ginjal mereka tidak memiliki kecocokan sehingga Ryan gugur sebagai pendonor.
Zoya yang melihat sisi rapuh Ryan pun ikut meneteskan air mata. Tak peduli banyak pasang mata yang menatap heran pada mereka, mereka terus meneteskan air mata dalam diam.
'Seandainya aku bisa membantumu, Ryan. Pasti aku akan membantumu. Tapi ginjal ku pun tinggal satu. Karena kecelakaan yang menimpaku beberapa tahun yang lalu membuat salah satu ginjal ku pun rusak. Bila tidak, aku dengan senang hati akan mendonorkan salah satunya untukmu,' batin Zoya.
...***...
Insya Allah 2 bab lagi ending. Ditunggu dukungannya ya kakak-kakak sekalian. Apalagi othor sengaja buat 2 bab jadi satu bab, biar bab nya keliatan nggak banyak-banyak amat. Biar bacanya juga puas karena langsung banyak. Total hari ini update 4 bab biar cepat tamat. Tapi dijadikan 2 bab. Hehehe ...
__ADS_1
...HAPPY READING 😍😍😍...