Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
Nasi sudah jadi bubur


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, akhirnya mobil yang dikendarai Abidzar telah terparkir apik di tempat parkir Cafe Starla. Di saat bersamaan, mobil Mercedes Benz C-Class milik Tirta pun terparkir apik di sisi mobil Lamborghini Aventador milik Abidzar. Keduanya pun turun bersamaan. Ya, mereka telah saling mengkonfirmasi saat akan berangkat ke cafe tersebut agar bisa memperkirakan waktu sampai. Dan seperti dugaan keduanya, mobil mereka tiba bersamaan.


Tanpa banyak basa-basi, keduanya melangkahkan kakinya masuk ke dalam cafe. Di dalam, pelayan cafe langsung menyambut keduanya dan mempersilahkan duduk. Namun sebelum itu, Tirta lebih dahulu menelpon orang yang ditunggu kedatangannya.


"Kau sudah datang?" tanya Tirta tanpa basa-basi. Orang di seberang telepon terkejut dengan suara Tirta, namun ia ragu benarkah yang menghubunginya itu adalah Tirta, laki-laki yang siang tadi mendatanginya.


"Kau ... siapa?" tahta Ryan gugup.


Tirta berdecak sebal, kemudian menjawab ketus, "tak usah banyak tanya. Kau dimana? Sudah datang atau belum?" sentak Tirta kesal.


Ryan yang sedang berada di dalam sebuah mobil bersama Meylin pun tersentak kaget.


"Iya, iya, sebentar lagi kami sampai." Jawab Ryan gelagapan. Ryan benar-benar gugup saat ini. Apalagi aura Tirta sangat menakutkan menurutnya. Tanpa ia tahu, aslinya laki-laki itu begitu tengil dan jahil. Namun di saat tertentu dia pun bisa bersikap garang. Jadi jangan macam-macam dengan orang yang terlihat ramah dan tengil, sebab bila mereka sudah kesal, mereka bisa bersikap seperti singa yang kelaparan. Sama halnya seperti sifat orang pendiam yang bisa berubah buas bila ada yang mencoba macam-macam padanya.


"Jangan lama-lama kalau tidak mau menanggung akibatnya!" Ancam Tirta yang setelahnya langsung menutup panggilan itu.


Ryan mematung. Jantung Ryan berdegup kencang. Hingga suara Meylin menyadarkannya dari keterpakuannya.


"Yan, kamu kenapa?" tanya Meylin yang memang berniat menemani Ryan bertemu Abidzar. Ia pun sebenarnya khawatir Abidzar menuntut Ryan bahkan memenjarakannya. Lalu bagaimana dengan pernikahannya coba kalau Ryan ditahan? Hal inilah yang membuat Meylin mengambil keputusan untuk menemani Ryan. Bila perlu ia akan mengungkapkan kebusukan Erin yang tidak diketahui orang-orang. Yah, walaupun pada akhirnya sama saja ia membuka aibnya sendiri sebab setiap apa yang Erin lakukan, pasti dia selalu ada dan ikut mendukung.

__ADS_1


"Tadi, sepupu suami Erin menelpon untuk memastikan kedatangan kita. Ayo, kita segera berangkat ke sana sebelum masalah yang lebih besar terjadi." Tukas Ryan sambil menyalakan mobilnya kembali. Kurang dari 15 menit, akhirnya mereka telah tiba di cafe Starla. Mereka tak membutuhkan waktu lama sebab posisinya tadi sebenarnya dekat dengan Cafe Starla. Mereka sengaja tidak langsung ke sana sebab ingin melihat kesungguhan Abidzar dan Tirta mengajaknya bertemu. Dan ternyata mereka memang sungguh-sungguh ingin bertemu dengannya. Bukan hanya gertakan sambal membuat Ryan benar-benar gugup.


"Jangan gugup! Hadapi mereka dengan tenang. Kau memang salah, tapi Erin lah yang lebih salah di sini. Kau takkan berbuat sampai sejauh itu kalau bukan karena permintaan Erin. Lagipula sekarang kalian tidak memiliki hubungan apa-apa lagi jadi kau tak perlu khawatir lagi. Kalau perlu, kita segerakan pernikahan kita agar Mas Abi tidak mengusikmu kembali." Ujar Meylin sambil menggenggam tangan Ryan. Meylin sengaja memprovokasi mengenai pernikahan mereka sebab ia tahu senekat apa Erin. Ia hanya khawatir Erin menggagalkan rencana pernikahannya dan Ryan.


Ryan pun mengangguk dan berusaha untuk tenang. Walaupun tidak sepenuhnya, tapi setidaknya ia tidak terlalu gugup seperti awal tadi.


Memasuki cafe Starla, sama seperti kedatangan Abidzar dan Tirta tadi, Ryan dan Meylin pun disambut oleh pelayan saat masuk. Kemudian Ryan menanyakan keberadaan Abidzar melalui pelayan tersebut sebab ia tebak kalau laki-laki itu telah tiba lebih dahulu.


"Anda sudah reservasi atau tidak tuan, nona?" tanya sang pelayan saat melihat keduanya tampak celingukan.


"Ah, iya, saya mencari seseorang yang bernama Abidzar, apa ada yang telah mereservasi dengan nama tersebut?" taya Ryan.


"Oh, Anda tamu pak Abidzar. Kalau begitu, silahkan ikutin saya. Beliau sudah menunggu di ruang VVIP cafe ini." Ujar pelayan tersebut. Ryan mengangguk lalu mengikuti langkah pelayan tersebut hingga ke sebuah ruangan yang terlihat aesthetic mencerminkan kalau ruangan itu bukan untuk orang sembarangan. Ryan dan Meylin pun masuk setelah dipersilahkan.


Abidzar melirik Ryan tanpa mengatakan sepatah katapun. Ia tak mau beramah tamah dengan selingkuhan istrinya itu. Untuk apa juga, pikirnya. Hanya Tirta yang menyambut keduanya tapi dengan sikap biasa saja. Tidak ramah seperti biasanya.


"Malam. Silahkan duduk!" Sahut Tirta membuat Ryan makin panas dingin. Apalagi saat mendapati lirikan tajam Abidzar. Begitu pula Meylin. Dia yang tadinya tenang mendadak menegang kaku.


Tak lama kemudian, seorang pelayan masuk dengan meja berisi berbagai macam makanan pun minuman. Sepertinya Abidzar telah memesan makanan terlebih dahulu sebelum mereka tiba agar tidak membuang waktu lebih lama lagi dengan mereka. Setelah pelayan keluar, Tirta pun mempersilahkan Ryan dan Meylin makan dan minum terlebih dahulu. Tapi karena rasa gugup yang lebih mendominasi, mereka pun tak dapat menyantap makanan tersebut dengan nikmat. Tenggorokan mereka mendadak seakan tercekik. Bahkan untuk minum saja, mereka seakan kesulitan. Berbeda dengan Abidzar dan Tirta yang tetap bisa menyantap makanan dengan santai. Bersikap tak acuh pada keduanya membuat Ryan dan Merlyn kian kebingungan dengan sikap keduanya.

__ADS_1


Setelah melihat keduanya selesai menyantap makanan di depannya, Abidzar pun segera membuka pembicaraan.


"Tolong ceritakan semuanya mengenai hubunganmu dengan Erin tanpa ada yang ditutup-tutupi!" Tukas Abidzar dingin. Ia sudah menatap Ryan dengan tatapan intimidasi. Ryan yang langsung ditanyai to the point oleh Abidzar sontak menegang. Jantungnya bahkan telah terpompa begitu kencangnya.


"Ta-tapi ... "


"Tak ada tapi-tapian. Kau harus menceritakan segalanya tanpa ada kebohongan. Kecuali kau mau aku memenjarakanmu karena telah melakukan hubungan terlarang dengan istriku." Tegas Abidzar membuat nyali Ryan kian menciut.


"Ba-baiklah. Se-sebelumnya aku ingin meminta maaf padamu karena ... "


"Jangan bertele-tele!" Sentak Abidzar. Ia sedang diburu waktu saat ini. Ia sudah tak sabar berbagi selimut dengan Freya di rumah. Pillow talk sambil berpelukan, sungguh menyenangkan.


'Ck ... kenapa otakku malah melantur ke sana sih? Hayo Bi, fokus dulu dengan permasalahanmu agar kau bisa segera mengambil keputusan yang tepat.'


Ryan menelan ludah, kemudian mulai menceritakan awal mula hubungannya termasuk bagaimana ia memiliki seorang anak yang ada dalam asuhannya sekarang. Ia menceritakan segalanya. Tak ada yang ditutup-tutupi. Termasuk perbuatan kotornya yang melakukan hubungan terlarang dengan Erin padahal ia saat itu telah menikah dengan Abidzar.


Tangan Abidzar terkepal. Ingin rasanya ia menghajar Ryan dan menghabisinya. Bukan karena cemburu, tapi karena marah atas perbuatan tak bermoral keduanya. Andai Erin mau jujur, tentu saja ia akan membantunya dengan senang hati agar ia bisa bersatu dengan Ryan. Namun Erin justru lebih memilih jalan yang rumit ketimbang berbicara jujur. Tapi apa gunanya sekarang. Nasi telah menjadi bubur. Buburnya pun telah basi jadi sudah tak bisa dimakan lagi.


...***...

__ADS_1


Lanjut besok ya kak. Mata othor udah hampir 5 Watt. 🥱🥱🥱


...HAPPY READING 😍😍😍...


__ADS_2