
Awalnya Abidzar memutar rekamannya saat Ryan dan Erin bertemu. Tentu ia harus mengungkapkan sejak awal bagaimana bisa ia menaruh curiga pada Erin. Kalau ia langsung memutar rekaman saat pertemuannya dengan Ryan, bisa jadi orang tuanya mengira mungkin saja Ryan berbohong. Tapi bila suara Erin yang lebih dahulu mereka dengar, maka tak ada alasan lagi untuk kedua orang tuanya menolak kebenaran itu.
Dan benar saja, mata Abraham, Sagita, maupun Freya terbelalak saat mendengar suara Erin. Apalagi saat ia mengungkapkan tentang putra mereka. Berikut juga bagaimana ia sampai saat ini belum mengandung, semua itu karena Erin hanya ingin mengandung anak dari kekasihnya yang bernama Ryan itu.
Mendadak, Sagita memegang dadanya. Dadanya begitu sakit bagaikan dicengkeram tangan-tangan besar dan kasar. Begitu erat mencengkeram sampai rasanya nafasnya tercekat di tenggorokan. Ia tak menyangka, menantu yang ia sayangi bisa berbuat sejauh itu. Bahkan Erin juga meminta waktu pada kekasihnya sampai ia bisa mendapatkan harta dari Abidzar.
Ia paham mereka menikah tanpa adanya rasa cinta, tapi apakah harus sampai berbuat sejauh itu? Bahkan mereka masih menjalin hubungan hingga kini. Seolah putranya tak memiliki harga diri sama sekali di hadapan mereka berdua.
Bukan hanya Sagita yang syok, Abraham pun juga. Ia tak menyangka, ayah dan anak itu sama-sama memiliki sifat licik dan picik. Yang ada di pikiran mereka hanyalah harta, harta, dan harta.
"Ma, Mama nggak papa?" panggil Abidzar yang sudah berpindah tempat duduk di samping sang ibu yang kini tampak memegang dadanya yang sesak.
Sagita menggeleng, "Mama nggak papa. Mama hanya ... syok. Tidak menyangka Erin bisa berbuat sejauh itu."
"Jangankan Mama, aku pun tak habis pikir. Wanita yang hampir 3 tahun membersamaiku ternyata memiliki hati seperti iblis. Ini belum seberapa. Abi punya rekaman hasil pertemuan dengan Ryan. Abi meminta Ryan menjelaskan semuanya."
"Cepat putar rekaman itu. Papa tak sabar ingin mendengarnya."
"Papa benar. Ayo putar rekaman selanjutnya. Mama sudah tak apa-apa." Tukas Sagita yang ingin Abidzar melanjutkan memutar rekaman selanjutnya.
Abidzar pun mengangguk lalu memutar rekaman yang Tirta kirim semalam.
Lagi, ketiganya tampak syok. Rahang kedua orang tua Abidzar mengeras. Mereka benar-benar marah. Mereka merasa keluarga Erin telah benar-benar mempermainkan mereka. Tak pernah mereka duga kalau mereka akan masuk dalam permainan Arifin dan Erin.
__ADS_1
Arifin memang merencanakan ini semua, tapi Erin justru lebih berperan dalam mempermainkan hidup putranya. Selama menikah pun ternyata perempuan itu tetap menjalin hubungan dengan kekasih-kekasihnya secara diam-diam. Bahkan Erin membawa Freya masuk ke dalam kehidupan Abidzar sebenarnya bukan untuk mengandung anaknya, melainkan untuk menyakiti perempuan yang entah apa salahnya. Hanya karena cemburu banyak laki-laki yang menyukai Freya lantas membuatnya mendendam dan melakukan hal tak terduga. Bahkan ia juga tega membayar seseorang untuk menyiksa Freya selama di penjara agar Freya tak perlu pikir panjang untuk menerima penawarannya.
Sungguh, mereka tak bisa memaafkan perbuatan Erin. Ini sudah sangat keterlaluan. Mereka tak menyangka memiliki seorang menantu berhati iblis. Cantik ternyata tak jadi jaminan kalau hatinya pun cantik secantik wajahnya. Oleh sebab itu, kita dilarang melihat seseorang melalui covernya. Seperti Freya, dia memang mantan narapidana. Ia pernah melakukan kejahatan yang membuat seorang wanita harus kehilangan calon anaknya, tapi siapa duga, ia telah berubah dan jadi lebih baik sekarang. Hidayah telah datang padanya sehingga ia menyesali perbuatannya di masa lalu dan berusaha memperbaiki diri.
Bukan hanya Sagita dan Abraham yang syok. Freya pun juga sama. Terlebih saat tahu keburukan Erin padanya di masa lalu. Bukan hanya itu, tapi niat baik Erin padanya sejak dari dalam penjara hingga sekeluarnya dari sana. Sebenci itukah Erin padanya?
Padahal dirinya saja tak pernah lagi menaruh rasa benci ataupun ketidaksukaan padanya. Ia juga tidak lagi bersikap ketus seperti dulu. Ia berusaha bersikap baik demi menjalin hubungan baik dengan Erin. Tapi ternyata semua percuma. Rasa benci itu sepertinya telah begitu mengakar dalam hati Erin sehingga tak ada celah sedikitpun untuk berbaikan dengannya.
Abidzar yang paham kegelisahan dan kesedihan Freya lantas menggenggam tangannya erat. Freya lantas menoleh. Seulas senyum menenangkan Abidzar ukir untuk istrinya itu. Bibir Freya bergetar, tak mampu membalas senyuman itu. Suasana hatinya seketika memburuk setelah mendengar fakta itu.
"Bi," panggil Sagita dengan suara lemah. "Kalau keputusanmu menceraikan Erin telah mutlak, Mama tidak akan melarang mu lagi. Mama justru akan mendukungmu. Dia memang tidak pantas untukmu. Dia tak pantas menjadi menantu Mama. Perempuan sepertinya tak pantas dijadikan seorang istri. Perempuan itu terlalu jahat dan serakah. Jangankan dijadikan teman hidup, dijadikan teman biasa pun rasanya tak pantas. Uruslah perceraian kalian secepat mungkin. Setelahnya, resmikan pernikahan kalian di KUA. Setelah Freya melahirkan, barulah kita urus pesta pernikahan kalian." Ucap Sagita sambil mengulas senyum manis.
Mata Abidzar berbinar-binar mendengar perkataan ibunya. Begitu pula Freya, ia tak menyangka seorang wanita berkelas seperti Sagita menerimanya dengan tangan terbuka. Bahkan ingin membuat pesta pernikahannya tanpa memedulikan masa lalunya.
Tiba-tiba Freya teringat itu. Bagaimana kalau keluarga Abidzar dihina dan dicemooh karena menikahkan putra mereka dengan seorang mantan pembunuh seperti dirinya?
"Ma, sepertinya kita tidak perlu melakukan pesta deh. Yang penting sah saja secara hukum dan agama, itu aja sudah cukup kok " Ujar Freya tiba-tiba merasa risau membayangkan dirinya akan dihina karena masa lalunya.
Ia juga tak ingin merusak kebahagiaan keluarga ini karena para tamu pasti akan sibuk menggunjingnya yang mana hal tersebut sama saja dengan mempermalukan keluarga ini. Tidak. Ia tidak ingin hal itu terjadi. Mungkin kalau kejadian tersebut terjadi 10 tahun yang lalu, semua orang kemungkinan sudah melupakannya. Tapi ini tidak, kejadian tersebut bahkan belum genap 2 tahun, sudah barang tentu yang melihatnya masih mengingat jelas perbuatan buruknya itu. Apalagi yang mengenalnya.
Freya merasa tak sanggup bila harus berada di posisi itu. Apalagi sampai harus menyeret nama keluarga besar Abidzar. Terlalu banyak kekhawatiran-kekhawatiran yang menggelayuti benaknya. Yang padahal hal tersebut belum tentu terjadi.
"Kenapa seperti itu, sayang? Mas malah setuju lho dengan usulan Mama." Tukas Abidzar yang mendukung usulan Sagita.
__ADS_1
"Mas, aku hanya ... "
"Ekhem ... " Abraham berdeham membuat pasangan suami istri itu menoleh ke arah Abraham. Mereka baru ingat, tadi ada yang ingin disampaikan laki-laki paruh baya tersebut. "Sudah bisa Papa bicara?" tanya Abraham sambil menaikkan alisnya dengan senyum tipis di bibirnya.
"Oh, iya, Pa. Silahkan," ujar Abidzar.
"I-iya, Pa. Si-silahkan!" Timpal Freya gugup membuat Sagita dan Abraham terkekeh.
"Tak usah gugup gitu. Papa nggak marah kok," seloroh Abraham sambil tertawa kecil. "Ya udah, Papa lanjut bicara ya." Ketiga orang di ruangan itupun mengangguk. "Ini tentang ayah mertua kamu, Bi. Berkat bantuan teman kamu bernama Araav itu, akhirnya kecurangan Arifin selama ini terbongkar dan benar dia telah melakukan kecurangan dengan menggelapkan dana secara rutin selama bertahun-tahun ini tanpa sepengetahuan Papa. Pantas saja Papa merasa keuntungan perusahaan terkadang tidak sesuai. Bahkan pengeluaran pun terkadang terasa aneh. Dia memanipulasi data membuat papa kesulitan mencari tahunya. Tapi kini, semua bukti kejahatannya telah papa serahkan ke pihak kepolisian. Tapi sayang, saat Arifin akan dibekuk padahal saat itu baru ingin dijadikan saksi, tapi dia malah kabur." Tukas Abraham membuat ketiga orang tersebut terkejut.
"Jadi benar papa Arifin melakukan kecurangan. Lantas, bagaimana Pa kalau dia kabur?"
"Kau tenang saja, pihak kepolisian pasti akan segera menemukannya. Kita hanya tinggal menunggu akhir dari seorang Arifin. Papa benar-benar tidak menyangka, orang kepercayaan Papa bisa melakukan hal tersebut. Bukan hanya menggelapkan uang perusahaan, tapi juga menipu kita menggunakan anaknya. Sungguh terrrrlaaaluuuu." Ucap Abraham lagi. Tapi saat kalimat terakhir diucapkan, ia menggunakan nada bicara Rhoma Irama membuat anak, istri, dan menantunya tertawa terpingkal-pingkal.
"Ani, lihat Rhoma, dia mulai kumat," timpal Abidzar yang juga meniru gaya bicara Rhoma.
"Cukup Rhoma, cukupppp. Kau jangan kumat!" Balas Sagita membuat Freya yang sejak tadi menahan tawanya jadi tertawa terbahak-bahak. Abidzar merasa senang bisa melihat istrinya tertawa bahagia seperti itu.
Saat keempat orang itu sedang tertawa bahagia, tanpa mereka tahu, ada sepasang mata yang menatap benci kepada mereka. Dia adalah Erin. Dia baru saja datang, tepat saat Sagita bicara jadi ia tidak tahu mengenai pembicaraan keempat orang itu sebelumnya. Niat hati Erin yang ingin mendekati kedua mertuanya, justru membuat Erin muak. Ia pun segera membalikkan badannya pergi dari rumah itu tanpa ada yang mengetahuinya. Hanya penjaga rumah saja yang tahu mengenai kedatangan Erin. Karena ia tahu Erin merupakan menantu keluarga itu, penjaga pun tak melarang. Ia membiarkan saja Erin masuk ke dalam rumah.
Namun saat melihat Erin pergi kembali padahal baru saja masuk beberapa menit yang lalu membuat penjaga itu heran. Namun ia hanya bungkam, malas berpikir yang berat-berat. Mending ia mengeluarkan rokok dan menghisapnya ditemani secangkir kopi, ahhh nikmat. Itu yang ada dalam pikirannya.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 😍😍😍...