
"Eungh ... " terdengar suara lenguhan dari atas ranjang dimana Ana sedang terbaring dengan mata terpejam.
Raisa yang mendengar itupun bergegas bangkit dari sofa yang ada di dalam kamar itu dan menghampiri sang putri tercinta.
"Hana, Sayang, kau sudah bangun?" tanya Raisa lembut sambil mengusap kepala Ana. "Masih panas."
Ya, setelah Raisa berhasil mengganti pakaian Ana, suhu tubuh Ana tiba-tiba meninggi membuat Raisa panik. Ia lantas mengompres dahi Ana dengan handuk yang dicelupkan ke dalam air hangat.
"Ma-ma," cicit Ana pelan sambil memijat pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri. Ia lantas berusaha untuk bangun, tapi Raisa melarangnya.
"Berbaring saja. Kau sedang demam."' Ucap Raisa lembut.
"Ma, jam berapa ini?" tanya Ana sebab ia harus segera pulang. Pasti Bi Asih dan yang lainnya akan kebingungan mencari dirinya kalau ia tidak segera pulang.
"Ini sudah jam 7 malam, Na. Kenapa?"
"Astaghfirullah. Ma, aku harus segera pulang. Padahal tadi aku izin pergi tak lama. Satu sampai dua jam saja, tapi ternyata aku pergi lebih dari setengah hari," ucap Ana panik. Ia lantas menegakkan punggungnya dengan cepat membuat kepalanya tiba-tiba berdenyut nyeri. Penglihatannya terasa buram. Sepertinya efek kehujanan kali ini benar-benar parah. "Aaargh ... kepalaku," demam Ana sambil meringis kesakitan.
"Berbaring saja. Pikirkan kesehatanmu. Tinggallah di rumah saja, sayang. Apa kau tidak merindukan mama, hm? Baru saja mama bisa melihatmu lalu kau ingin meninggalkan mama lagi?"; tukas Raisa pelan dengan kaca-kaca di matanya.
"Ma, bukan begitu. Hana pun merindukan mama. Tapi ... Hana bekerja di rumah itu. Mereka pasti akan kebingungan dan mengkhawatirkan Hana bila Hana tidak segera pulang." Jelas Aja tak ingin ibunya salah paham dan merasa sedih.
"Kenapa tidak kau telepon saja? Bilang kau pulang ke rumah orang tuamu. Jangan pergi lagi, Sayang! Mama nggak tahu bagaimana ke depannya kalau kau menghilang lagi. Mama mohon, Nak, jangan tinggalkan mama lagi. Mama mohon," melas Raisa membuat Ana tak kuasa untuk menolak.
"Baiklah. Hana telepon ke rumah mbak Freya dulu," ujarnya mengalah.
Seperti dugaannya, di kediaman Abidzar dan Freya, tampak bi Asih tengah panik. Langit mulai menggelap, tapi Ana tak kunjung pulang. Padahal Ana mengatakan hanya akan pergi sebentar saja. Tapi mengapa hingga sekarang Ana belum juga pulang.
"Ana belum ada kabar juga, Bi?" tahta Freya pada Bi Asih yang sibuk mondar-mandir menunggu Ana. Bahkan ia telah berkali-kali mencoba menghubungi Ana, tapi gadis itu tak kunjung mengangkat panggilannya.
Bi Asih menggeleng, "belum , Non. Duh, kemana anak itu? Kenapa dia tiba-tiba menghilang seperti ini?" Gumam Bi Asih yang takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada Ana.
"Bibi tenang dulu, ya. Semoga aja dia baik-baik saja." Ujar Freya mencoba menenangkan Bi Asih. Freya pun sebenarnya mengkhawatirkan keadaan Ana, tapi ia berusaha bersikap tenang agar bi Asih tidak makin khawatir.
Tak lama kemudian, ponsel bi Asih pun berdering.
"Ana?" gumam Bi Asih saat melihat nama pemanggil di layar ponselnya adalah Ana. Freya pun mendekat, ikut melihat nama pemanggil itu. Bi Asih pun segera mengangkat panggilan itu karena khawatir pada keadaan Ana.
"Halo, assalamu'alaikum," ucap Ana sedikit serak.
"Ya, halo, wa'alaikumussalam. Halo Ana, kamu dimana? Kenapa belum pulang juga? Ini udah hampir malam lho?" cecar Bi Asih setelah meloadspeker panggilan itu agar Freya juga dapat ikut mendengarkan.
"Maaf, bi. Malam ini Ana tidak bisa pulang ... "
"Tidak bisa pulang? Memangnya apa yang terjadi? Dimana kamu sekarang? Apa perlu bibi minta izin non Freya supaya mengizinkan mang Sukri jemput kamu?" potong bi Asih.
"
__ADS_1
Aku nggak papa kok, bi. Cuma ... sedikit demam aja, tapi bibi nggak usah khawatir, aku di tempat yang aman kok."
"Demam? Kenapa kamu bisa tiba-tiba demam? Bukannya tadi kamu pas pergi dalam keadaan sehat-sehat aja? Dan sebenarnya kamu dimana? Iya aman, tapi dimana? Bilang yang jelas." Cecar Bi Asih takut Ana berada di tempat yang aneh-aneh.
"Halo ... " tiba-tiba terdengar suara orang lain di sambungan telepon itu membuat bi Asih melongo ke arah layar ponselnya.
"I-iya, halo. Ini siapa ya? Ana kemana? Kenapa teleponnya kamu yang jawab?" Cecar Bi Asih tak henti-henti.
"Oh ya, perkenalkan, saya Raisa, ibu Hana. Hana tidak bisa pulang karena sakit. Tadi siang menjelang sore dia pulang dalam keadaan hujan-hujanan lalu tiba-tiba pingsan. Akibat hujan-hujanan, Hana demam. Tapi bibi nggak perlu khawatir lagi. Saya ibu kandung Hana. Maaf ya Bi kalau putri saya membuat kalian cemas." Ucap Raisa yang mengambil alih ponsel Ana.
"Oh, ya ampun. Maaf ya nak kalau bibi tadi cerewet banget." Bi Asih terkekeh sendiri.
"Iya, bi. Nggak masalah. Aku sebagai seorang ibu justru bersyukur karena Hana ternyata berada di tempat yang aman dan dikelilingi orang-orang yang baik. Terima kasih ya Bi sudah mengkhawatirkan keadaan putri saya."
"Sama-sama, nak. Ana itu anak yang baik. Saya sudah menganggap Ana seperti putri saya sendiri." Ucap bi Asih lagi. Setelah sedikit berbincang-bincang, panggilan pun ditutup.
...***...
"Kamu makan dulu ya, Sayang. Setelah itu, minum obat." Ujar Raisa setelah makan malam Ana diantarkan.
Ana pun mengangguk. Lalu Raisa membantu Ana duduk sambil bersandar di kepala ranjang.
"Biar mama yang suapi." Ujar Raisa lagi saat Ana ingin mengambil mangkok bubur dan makan sendiri.
Ana pun menurut. Dia membuka mulut setiap Raisa menyodorkan sendok yang berisi bubur dan suwiran ayam. Setelah makan, Raisa juga membantu Ana meminum obatnya. Dari balik pintu, tampak Martin terus mengawasi interaksi kedua perempuan itu. Ia merasa lega akhirnya Ana kembali ke rumah. Meskipun ia penasaran apa alasan Ana kembali, tapi Martin mencoba menahan keingintahuannya. Bahkan untuk menampakkan dirinya saja, Martin tak berani. Ia khawatir Ana kembali kesal saat melihatnya.
"Sayang, maafin mama ya! Maafin mama yang udah mengecewakan kamu. Maafin mama yang tidak tahu isi hatimu sebenarnya. Maafkan Mama karena turut andil membuatmu terluka. Dan ... maafkan Mama karena ... Mama baru tahu bahwa kau sebenarnya mencintai Martin. Maafkan Mama. Beri tahu mama apa yang harus Mama lakukan agar mau mau memaafkan mama. Kasih tahu Mama, Sayang. Kalau perlu, mama bersedia bercerai dengan Martin asalkan kau bahagia dan mau kembali ke rumah ini."
Jeduar ...
Martin yang masih di balik pintu membulatkan matanya. Ia benar-benar terkejut dengan kata-kata yang Raisa lontarkan. Raisa ingin melepaskannya?
Hati Martin benar-benar hancur. Tapi Martin mengerti alasan Raisa. Bagaimanapun, Hana adalah putri kandungnya. Sudah tentu, Raisa akan mengutamakan anaknya dibandingkan dirinya yang hanya sebagai suami sekaligus ayah sambung Hana. Hati Martin bagai dihujam sembilu. Benar-benar perih.
Karena tak sanggup mendengar kalimat selanjutnya, Martin pun segera berlalu dari sana. Ia melangkah gontai menuju kamar yang setahun lebih ini dihuninya bersama Raisa. Sebenarnya ini adalah kamar tamu. Ia tak mungkin tinggal di kamar Raisa dan suami sebelumnya. Ia tak mau mengusik kenangan Raisa dan anak-anaknya dengan mendiang kakak angkatnya. Oleh sebab itu, ia menyarankan mereka tinggal di kamar tamu saja dan Raisa menyetujuinya.
"Apa aku akan segera pergi dari sini?" gumam Martin perih. Terlalu banyak kenangan yang ia ukir di kamar itu. Bukan hanya kenangan malam-malam indah yang mereka lali, tapi juga kenangan bagaimana Raisa mengungkapkan kesedihannya, kerinduannya pada Ana, kamar dimana keduanya saling berbagi keluh dan kesah. Martin menengadahkan kepalanya. Mencoba menghalau bulir-bulir bening yang meringsek keluar dari rongga matanya. Tapi sayang, laju bulir-bulir bening itu ternyata lebih kuat. Laki-laki yang tak pernah menangis itu akhirnya menumpahkan tangisannya. Isakan lirih keluar dari bibir tebal laki-laki itu. Ia tulus mencintai Raisa. Tapi bila Raisa lebih memilih putrinya, Martin bisa apa? Ia hanya bisa berusaha menerima dengan ikhlas. Semoga orang-orang yang ia cintai selalu bahagia meskipun tanpa dirinya kelak.
Back to kamar Ana.
Raisa tergugu dengan air mata berderai. Rasa takut kehilangan putrinya kembali membuatnya harus menekan ego dan memilih melepaskan Martin. Mungkin jodoh mereka sampai di situ saja, pikirnya. Meskipun ia tahu, meski mereka berpisah sekalipun, Ana dan Martin tak mungkin bersama lagi, tapi setidaknya, ia bisa menjauhkan sumber luka putrinya. Ia tak ingin melukai putrinya lagi. Biarkan ia terluka karena berpisah dengan laki-laki yang telah berhasil mengisi hatinya, asalkan ... putrinya bahagia.
"Ma ... " Ana menggenggam erat tangan Raisa yang juga menggenggamnya. "Mama bilang apa sih? Seharusnya Hana yang minta maaf karena keegoisan Hana membuat Mama bersedih dan sering sakit-sakitan. Maafin Hana," ucapnya. Lalu Ana menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. "Mama bilang apa sih tadi? Hana mencintai Om Martin?"
Ana terkekeh. Ia tak ingin membuat ibunya makin bersedih dengan fakta itu. Cukup dirinya dan Om Martin-nya yang tahu rahasia ini. Oh ya, termasuk Tirta. Cukup mereka bertiga. Toh, dirinya sudah sadar kalau rasa cintanya pada Martin telah lenyap.
Ia pun heran, semudah itu Tirta menggeser rasa yang lama terpendam untuk Martin dan digantikan dirinya. Kadang kala Ana berpikir, apakah yang ia rasakan selama ini bukanlah cinta, melainkan hanya rasa kagum karena Martin selalu ada untuknya sama seperti sang papa dahulu.
__ADS_1
"Siapa yang bilang Hana mencintai Om Martin?"
"Itu ... Mama baca di buku kamu. Kamu ada nulis Hana, simbol hati, Martin, kan artinya Hana cinta Martin."
Ana terkekeh, "ya ampun Ma, cuma hanya karena tulisan itu Mama ngira aku cinta sama Om Martin? Nggak lah, Ma. Masa' aku suka sama pria tua kayak Om, entar aku dikatain sugar baby dong." Ana mencebik sambil memasang ekspresi bergidik seolah ia memang tidak pernah memiliki perasaan itu pada sang ayah sambung.
"Terus itu?'
"Itu palingan iseng Hana aja. Hana aja udah lupa, Ma. Bisa jadi ada yang usilin Hana."
"Jadi ... beneran kamu nggak ada perasaan ... ekhem ... cinta ke Om Martin?" tanya Raisa lagi memastikan.
"Ya enggak lah, Ma. Mama kok nggak percayaan banget sih!" Ana memasang wajah cemberut. Pura-pura merajuk.
Raisa menghembuskan nafas lega. Lalu ia pun tersenyum lebar, "jadi, tolong katakan, apa alasan kamu pergi?"
Ana menarik nafas panjang, ia mencari kata-kata yang tepat agar mamanya tidak tahu alasan utamanya.
"Aku cuma sedih, mama nikah lagi. Awalnya aku merasa mama telah mengkhianati papa. Tapi lama-lama aku sadar, mama berhak bahagia. Mama membutuhkan seseorang yang bukan hanya bisa mendampingi mama, tapi menjaga dan melindungi, dan kini Hana yakin, Om Martin merupakan orang yang telat untuk melakukan semua itu," ucapnya tulus. "Maafkan Hana ya Ma karena telah bersikap kekanak-kanakan. Hana harap, Mama selalu bahagia. Mulai sekarang, jaga kesehatan Mama. Pokoknya, Hana nggak mau lagi dengar berita Mama sakit karena banyak pikiran atau mama malas makan. Kalau Mama memang sayang aku dan Heri, Mama harus selalu menjaga kesehatan. Hana harap umur Mama panjang. Aku ingin, Mama ada saat aku menikah nanti. Terus nanti bantu aku urus cucu-cucu Mama juga." Ucap Ana sambil tersenyum lebar.
"Menikah? Cucu? Memangnya kamu udah punya calon suami, Han? Kenapa nggak kamu bawa kemari? Kenalin sama Mama?" cecar Raisa antusias.
"Mama, iih, itu kan cuma berandai-andai aja." Ana mengerucutkan bibirnya membuat Raisa terkekeh. Dalam hati, ia merasa bahagia sekali. Akhirnya momen seperti ini bisa kembali lagi. Akhirnya anak perempuannya bisa kembali lagi ke rumah mereka.
"Sayang, mama mau tanya, kerjaan kamu emangnya apa? Kamu belum cerita. Selama ini emang kamu kerja apa?" Tanya Raisa yang memang penasaran dengan pekerjaan putrinya.
Ana menggaruk-garuk pelipisnya sambil tersenyum kikuk, "a-art, Ma. Hana bekerja sebagai art di rumah tuan Abidzar, pemilik Barokah Tour and Travel."
"Apa? Art? Ya ampun, Sayang. Kamu kok bekerja jadi art sih? Ada-ada aja kamu." Seru Raisa tak habis pikir. Sedangkan selama ini saja Ana tak pernah diberikan pekerjaan apapun di rumah. Semuanya dikerjakan pelayan, lalu tiba-tiba anaknya mengatakan ia bekerja sebagai art alias pelayan, jelas saja Raisa syok.
"Hehehe ... nggak papa kok, Ma. Lagian keluarga mereka baik. Hana juga nggak perlu repot-repot mikir tempat tinggal soalnya semua ditanggung. Dari makan, bahkan sampai pulsa pun ditanggung. Tuan Abidzar sama istrinya yang sekarang Freya itu baik banget. Bahkan Mbak Freya udah nganggap Hana seperti adik sendiri. Dia minta Hana panggil dia mbak. Pokoknya enak banget deh kerja sama mereka."
Taksa menghembuskan nafas panjang, "tapi mulai besok kamu berhenti ya? Terus lanjutkan kuliah kamu. Jangan kelamaan cuti, gimana kalau di DO, emang kamu nggak pusing ngulang kuliah dari awal."
Ana termenung sejenak. Sekelebat bayangan Melan menyuapi Tirta kembali lewat di benaknya. Bila ia masih tetap bekerja di rumah itu, bisa jadi nanti mereka akan bertemu lagi. Sedangkan Ana sedang berusaha untuk melupakan laki-laki itu. Ia tak ingin rasa cintanya kian membesar, sedangkan ia tahu, sepertinya Tirta telah jadian dengan Melan. Tak ada harapan lagi untuknya berjuang, pikirnya. Mungkin dengan berhenti bekerja di sana, ia bisa melupakan perasaannya pada laki-laki tersebut.
"Baik, Ma." Jawab Ana lirih. Raisa tahu, putrinya sedih harus berhenti dari sana, terlebih orang-orang di sana telah sangat baik padanya. Tapi tak mungkin juga ia membiarkan Ana terus bekerja sebagai art, sedangkan mereka saja termasuk keluarga mampu. Tentu Raisa menginginkan masa depan putrinya cerah dan bersinar.
"Baguslah. Besok mama akan temani kamu ke sana, bagaimana?"
Hana hanya bisa mengangguk pasrah.
'Semoga ini yang terbaik.' batinnya.
...***...
...HAPPY READING 😍😍😍...
__ADS_1