Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
Kekacauan


__ADS_3

"Lisa ... " Pekik Erin cemas saat tubuh Lisa tiba-tiba luruh ke lantai.


Erin lantas memangku kepala Lisa dan berusaha membangunkannya.


"Mas, Lisa ... " Tampak raut wajah khawatir di wajah Rana saat melihat Lisa pingsan. Edwin pun mendekat mencoba membangunkan Lisa. Apalagi sudah banyak orang yang menonton apa yang terjadi saat ini. Bila tidak bangun juga, Edwin berencana membawa Lisa pulang ke rumah mereka.


"Sa, bangun." Edwin mencoba membangunkan Lisa yang dibalas tatapan mencemooh dari Erin.


"Lisa, bangun!" Ucap Edwin sekali lagi, tapi Lisa masih saja memejamkan matanya. Lalu Edwin mengulurkan tangannya untuk menggendong Lisa. Namun baru saja tangan Edwin terulur, mata Lisa pun terbuka. Sorot mata penuh amarah ia arahkan pada Edwin. Ia tepis kasar tangan itu membuat Edwin pun menyerah untuk membantu dan segera berdiri.


"Sa, kamu tidak apa-apa?" tanya Erin tapi tak digubris Lisa sebab fokusnya kini hanya dengan mantan sahabatnya itu. Ya, mantan sahabat. Sebab mana ada sahabat yang merebut suami sahabatnya sendiri. Oleh sebab itu, ia pun memutuskan untuk tidak lagi menganggap Rana sebagai sahabatnya. Terserah dengan pertemanannya yang telah terjalin sekian tahun. Terserah. Yang ada di mata Lisa saat ini hanyalah kebencian, amarah, kekecewaan, dan juga dendam.


"Heh, dasar pelakor jahanamm! Puas kau merebut suamiku, hah? Puas." Teriak Lisa menggeram kesal. Saking besarnya suara Lisa sampai-sampai mengundang perhatian banyak pengunjung mall tersebut.


"Tutup mulutmu, Lisa!" Bentak Edwin membela Rana.


"Kau yang tutup mulutmu, Mas." Balas Lisa dengan mata membulat sempurna.

__ADS_1


"Lisa. Kau sudah berani melawanku, hah?" Sentak Edwin yang justru membuat Lisa terkekeh.


"Kenapa? Kau pikir aku takut padamu, hah? Apa karena selama ini aku diam, maka kau bisa menginjak-injak harga diriku? Begitu? Hei tuan Edwin yang terhormat, aku tidak sebodoh itu untuk selalu tunduk padamu." Teriak Lisa murka. Tak peduli kalau saat ini pertengkarannya sudah mengundang perhatian banyak orang. Tak sedikit pula yang merekam, Lisa tak peduli. Terlanjur basah, kepalang malu, sekalian ia permalukan semua. Ia hancur, mereka pun ikut hancur. Itu prinsip Lisa.


"Ayo pulang!" Edwin mencoba meraih tangan Lisa, hendak menyeretnya pulang, tapi Lisa menyentak tangan Edwin begitu saja hingga cekalannya terlepas.


"Tidak. Kenapa? Kau malu kebusukamu menjadi konsumsi publik? Iya?" Mata Lisa memicing. Lalu ia pun menyeringai. "Hey semuanya, dengarkan ini, lihatlah perempuan itu." Lisa menunjuk ke arah Rana yang wajahnya telah memerah karena malu. "Kalian tahu, nama perempuan itu adalah Rana. Rana Kurniasih. Dia ... adalah sahabatku. Kalian dengar, sahabatku. Aku ... aku sering berkeluh kesah dengannya. Mencurahkan isi hatiku terlebih saat sikap suamiku tiba-tiba berubah. Dia menasihati ku. Menguatkan ku. Dia bersikap seolah ia adalah sahabat terbaikku, padahal ... dia itu iblis. Dia pelakor. Dia ... diam-diam menikah dengan suamiku dan mengandung anaknya. Berhati-hatilah wahai para perempuan dengan perempuan sejenis dia? Dia itu iblis berhati malaikat. Pelakor jahanamm. Perebut suami orang. Ngakunya sahabat tapi pelakor. Bajingaan kau Rana." Teriak Lisa membuat semua orang menggunjingkan Rana.


"Tutup mulutmu, Lisa. Aku takkan melakukan ini kalau keluarga mu tidak keterlaluan padaku. Kau masih ingat bukan bagaimana ibumu itu menghinaku mandul, lalu apa yang kau lakukan? Kau diam saja. Tidak sedikitpun kau mencoba membelaku saat ibumu, sepupu-sepupumu, keluargamu mencemooh ku, menghinaku, mengatakan ku mandul. Padahal usia pernikahan kita sama. Kau pun belum hamil hingga sekarang, tapi tak ada yang mencecarmu. Tak ada yang merendahkan mu. Sekarang kau lihat, aku hamil. Aku hamil anak suamimu. Suamimu pun mengharapkan buah hati, tapi kau tak sanggup memberikannya. Dan lihat, sekarang aku hamil. Itu artinya aku tidaklah mandul. Aku berhasil membuktikan kalau aku bukanlah perempuan mandul. Kalian terlalu sombong. Tak pernah mau mengakui kekurangan kalian. Padahal bisa jadi kalian sendiri lah yang mandul, tapi orang lain yang dituntut untuk hamil. Dasar gila kalian. Sekarang kau lihat kan, AKU TIDAK MANDUL. Jadi katakan pada ibumu yang sombong itu, katakan padanya, AKU ... RANA KURNIASIH BUKAN PEREMPUAN MANDUL. KAU DENGAR ITU." Balas Rana tak kalah lantang.


Edwin yang tidak tinggal diam, mencoba melepaskan tangan Lisa dari rambut Rana. Namun ternyata cengkraman itu cukup kuat membuat Rana berteriak kesakitan.


"Lepaskan Rana, Lisa!" bentak Edwin.


Bukannya menurut, Lisa justru makin mengeratkan jambakannya. Lisa menarik rambut Rana sekuat tenaga membuat perempuan hamil itu berteriak sambil menangis. Pihak keamanan meminta Lisa melepaskan rambut Rana, tapi Lisa tak menggubrisnya sama sekali. Ia justru menarik rambut Rana sambil berjalan menuju eskalator.


"Mas, tolong Mas, sakit. Aduh, Lisa, lepaskan, brengsekkk. Huhuhu ... " Teriak Lisa. "Mas ... aduh ... Hua ... "

__ADS_1


"Lepaskan Rana, Lisa. Dia sedang hamil. Jangan berbuat gila, Lisa. Cepat lepaskan." Edwin mencoba menarik tangan Lisa agar melepaskan rambut Rana, tapi ternyata tidak semudah itu. Lisa yang kalap dan sedang dikuasai emosi menjadi kuat berkali-kali lipat. Ia tak peduli teriakan orang-orang yang mencemaskan Rana karena terseret sampai ke eskalator.


Kini mereka bertiga telah berada di atas eskalator. Eskalator terus bergerak turun. Edwin terus berupaya melepaskan tangan Lisa, Rana terus berteriak, dan Lisa justru terbahak-bahak.


"LISA, LEPASKAN KU BILANG!" Bentak Edwin benar-benar murka. Lisa terkesiap. Ia reflek melepaskan rambut Rana. Rana yang hampir jatuh pun menubruk tubuh Edwin. Edwin yang tak siap, kakinya pun tergelincir dan menabrak Lisa hingga membuat ketiganya terjatuh menggelinding dari atas eskalator hingga tergeletak di lantai.


Semua orang menjerit. Apalagi saat melihat darah berceceran membuat suasana mall jadi mencekam. Erin yang tadinya hendak mengejar Ryan dan Rio pun urung dan kini justru mematung. Dirinya terkesiap dengan bola mata membulat karena syok.


"Li-Lisa ... Ra-Rana ... " Tanpa sadar, air mata pun luruh. Tak pernah ia sangka, persahabatan mereka akan hancur dengan cara seperti ini.


Mall seketika ditutup untuk umum. Tak lama kemudian polisi pun datang berhamburan diiringi tim medis. Garis polisi dibentang. Erin yang merupakan salah satu saksi pun diminta keterangan. Namun karena terlalu syok, Erin tak mampu berujar apapun. Ia mencoba menghubungi Abidzar untuk meminta bantuan, tapi nomornya belum aktif. Ia pun mencoba menghubungi kedua orang tuanya, sama seperti Abidzar, nomor kedua orang tuanya pun tak aktif. Erin bingung. Ia frustasi sendiri. Ia pun mencoba menghubungi Meylin, tapi Meylin tidak mengangkat panggilannya sama sekali.


"Mengapa semua jadi seperti ini? Kemana semua orang? Kenapa di saat aku membutuhkan mereka, mereka semua justru menghilang? Rana, Lisa ... " Gumam Erin frustasi dari luar ruang UGD dimana Rana, Lisa, dan Edwin ditangani.


...***...


...HAPPY READING 😍😍😍...

__ADS_1


__ADS_2