
Melihat Freya yang tak kunjung bangun sontak saja membuat Abidzar khawatir. Ia yakin, istrinya tersebut tengah pingsan saat ini. Ia pun bergegas turun dari ranjang dan memakai pakaian sekenanya. Bahkan tanpa ia sadari, kemeja yang ia pakai, kancingnya tak ada yang benar pada tempatnya. Kepanikan membuat otaknya nge-blank. Hahaha ...
Setelahnya, Abidzar ingin memakaikan pakaian Freya. Namun tiba-tiba matanya membulat saat ia mengangkat pakaian Freya yang sudah compang camping karena dirobek paksa. Abidzar memukul kepalanya karena yakin telah menyakiti istrinya itu.
"Astaga, apa yang telah aku lakukan pada Freya? Bagaimana kalau dia dan calon anak kami kenapa-kenapa? Ya Allah, semoga mereka berdua baik-baik saja," gumam Abidzar melafazkan doa pada Sang Maha Pencipta.
Karena pakaian Freya sudah tak layak pakai lagi, Abidzar pun membuka lemari pakaian Erin dan mengambil beberapa potong pakaian yang tampaknya masih baru. Terserahlah Erin mau marah, yang penting ia harus segera membawa Freya ke rumah sakit.
Setelah selesai, ia pun segera menggendong Freya keluar dari dalam kamarnya menuju ke mobilnya.
"Bi, kau sudah sadar? Lalu, apa yang terjadi dengan Freya? Jangan bilang ini ulahmu?" cecar Sagita. Padahal ia sendiri sudah was-was ini akan terjadi, tapi masih saja ia ingin memverifikasi terlebih dahulu.
"Tirta, segera bersiap, kita ke rumah sakit segera," teriak Abidzar membuat Tirta yang sedang tidur ayam-ayam sontak berjingkat kaget. Ia pun segera meraih kunci mobil dan berlari terlebih dahulu untuk membukakan pintu belakang agar Abidzar bisa dengan mudah masuk ke dalam mobil.
"Mama ikut," teriak Sagita yang ikut tergopoh-gopoh mengejar langkah panjang Abidzar dan Tirta. Ia sudah tak peduli sama sekali dengan apa yang terjadi pada Erin. Baginya ini masih belum apa-apa dibandingkan dengan pengkhianatan yang dilakukan Erin selama ini.
"Kenapa loe ngendarai mobil kayak siput sih, Ta?" omel Abidzar sambil mengusap dahi Freya dan memijit lengannya berharap dengan begitu Freya bisa segera sadarkan diri.
Mendengar omelan Abidzar, Tirta pun berdecak, "loe bisa liat nggak sih, Nyet, liat tuh keluar, macet, macet, kayaknya ada mobil yang kebalik jadi macet," omel Tirta tak kalah kesal membuat Sagita geleng-geleng kepala sebab memang keduanya dari dulu selalu begitu. Kerap bertengkar, tapi hanya sebatas itu. Persahabatan mereka justru tetap erat dan tak pernah renggang.
"Loe ngatain gue monyet, Ta? Terus loe apaan? Sepupu monyet? Artinya loe juga monyet, begok!" omel Abidzar kesal.
"Salah loe sendiri ngomel nggak jelas, ngatain gue nyetir kayak siput. Mata punya, tapi nggak digunain, liat kanan kiri kek kenapa gue bisa nyetir lambat, eh malah nyerocos kayak emak-emak protes sembako naik."
"Tau dari mana emak-emak protes sembako naik ngomel kayak gue?" Entah kenapa perdebatan mereka kian ngelantur saja. Sagita sampai memijat pelipisnya yang pening karena perdebatan kedua orang itu.
"Ya taulah, emak gue juga suka gitu soalnya."
Sontak saja, tawa Sagita dan Abidzar pecah. Mereka sampai melupakan kalau keberadaan mereka di mobil itu untuk membawa Freya ke rumah sakit.
__ADS_1
"Ck ... berisik banget," ucap seseorang tiba-tiba membuat Sagita dan Abidzar sontak menghentikan tawa mereka.
"Sayang, kamu udah bangun?" Mata Abidzar seketika berbinar menyadari hal tersebut. Tapi dahinya mengernyit saat melihat Freya tak membuka matanya. "Sayang, kamu udah sadar atau suara kamu tadi cuma perasaan kami aja?"
"Mas berisik banget. Kepala aku makin pusing jadinya," ucap Freya lemah membuat Abidzar senang sekaligus merasa serba salah.
"Maaf." Ucap Abidzar sendu.
"Bi, kasi istri kamu minum dulu?" titah Sagita seraya menyodorkan botol botol air mineral yang tutupnya telah ia bukakan.
Abidzar pun menyambutnya dan segera membantu Freya duduk dan menyodorkannya ke mulut Freya yang matanya masih enggan dibuka.
"Udah," ucap Freya lemah. Abidzar pun kembali menyerahkan botol air minum tersebut kepada sang ibu. "Mas, kita mau kemana?"
"Kita ke rumah sakit, sayang. Mas khawatir sama kamu. Maafin Mas ya, kamu gini gara-gara perbuatan Mas." Ucapnya. Freya hanya mengangguk sebab ia memang merasa benar-benar lemah saat ini.
Tak lama kemudian, mereka pun tiba di rumah sakit. Abidzar dengan sigap menggendong Freya dan membaringkannya di atas brankar. Freya pun segera dibawa ke UGD untuk menjalani pemeriksaan. Abidzar menunggu dengan cemas sambil merapal doa dalam hati agar istri dan calon buah hati mereka baik-baik saja.
Dokter tersebut mengulas senyum, "istri bapak tidak kenapa-kenapa. Dia hanya kelelahan dan sedikit flek. Lain kali usahakan lebih berhati-hati ya Pak saat melakukan hubungan suami istri. Bila hal ini terjadi lagi, bukan tidak mungkin bisa membahayakan janin yang ada di dalam kandungan istri Anda. Beruntung kandungan istri Anda cukup kuat, mungkin karena sudah memasuki trimester kedua, tapi tetap bapak harus lebih hati-hati lagi. Lebih pelan dan lembut." Ujar dokter tersebut. Abidzar pun menghela nafas lega sambil mengangguk. Ia bersyukur Freya tidak kenapa-kenapa.
"Baik, dok. Terima kasih," ucap Abidzar. "Istri saya harus menjalani perawatan atau sudah dibolehkan pulang, dok?"
"Istri bapak boleh pulang setelah menghabiskan cairan infusnya. Namun untuk sementara istri bapak harus menjalani bed rest total hingga beberapa hari sampai kondisi tubuhnya benar-benar pulih. Termasuk hubungan suami istri ya, Pak." Dokter tersebut berbicara sambil tersenyum ramah.
Abidzar kembali mengangguk, " baik, dok. Sekali lagi, terima kasih."
Abidzar tengah duduk di kursi yang ada di samping brankar sang istri. Freya baru saja membuka matanya setelah tertidur sekitar satu jam lamanya.
"Sayang, kamu udah bangun?" Abidzar langsung berdiri memperhatikan wajah sang istri yang tidak sepucat tadi.
__ADS_1
Freya mengangguk, "mama dimana?" tanya Freya saat menyadari keberadaan ibu mertuanya tidak terlihat.
"Mama udah pulang duluan bareng Tirta. Tapi aku udah minta Pak Sukri entar ke sini jemput kita."
Freya mengangguk, kemudian kembali menatap wajah sang suami. Lalu ia terkekeh saat melihat kancing baju suaminya yang tampak berantakan.
"Kamu kenapa tiba-tiba ketawa sih, Sayang?" Tanya Abidzar dengan dahi berkerut.
"Baju kamu," Freya menunjuk ke arah baju Abidzar menggunakan dagunya.
"Kenapa baju aku?" Abidzar pun menurunkan pandangannya ke arah bajunya. Seketika ia membelalakkan saat melihat semua kancing bajunya masuk ke lubang yang salah.
Lalu Abidzar mengingat-ingat, pantas saja saat ia sibuk mondar-mandir mengurus administrasi istrinya, hampir setiap mata memandang dirinya kemudian tertawa. Ada juga yang bisik-bisik. Ternyata penyebabnya adalah kancing bajunya yang tampak kacau. Abidzar benar-benar malu. Tadi Mama dan sepupunya pun menertawakannya, tapi mereka tidak mengatakan apa-apa. Sepertinya mereka sengaja membiarkan saja.
"Pantas saja semua orang menertawakan ku. Dasar sepupu lucknut, bukannya ngasi tau, dia malah ikut nertawain aku. Mama juga." Abidzar berdecak kesal.
Setelah membenarkan kancing bajunya, Abidzar kembali duduk sambil menggenggam tangan Freya.
"Sayang, maafin aku ya. Gara-gara aku kamu jadi begini. Untung aja calon anak kita kuat, jadi dia nggak kenapa-kenapa," ujar Abidzar kembali meminta maaf.
Freya tersenyum sendu, "aku nggak papa kok, Mas. Semuanya juga bukan salah kamu sepenuhnya. Namanya juga dalam pengaruh obat."
Abidzar tersenyum lembut, "kamu memang istri yang baik. Aku bahagia memiliki kamu sebagai istriku, Sayang."
Sementara Abidzar dan Freya masih di rumah sakit, di rumahnya, Erin sedang membuat rencana. Rencana yang ia yakini akan membuat hancur Abidzar dan keluarganya. Ia benar-benar sakit hati diceraikan dan diabaikan begitu saja.
Ia yakin, setelah ini, hanya dalam hitungan detik saja, apa yang ia lakukan akan segera menuai hasil yang memuaskan.
Apa itu? Tunggu update selanjutnya. 😄😄😄
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 😍😍😍...