Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
Di kedai bakso


__ADS_3

Setelah 3 hari di rawat di rumah sakit, akhirnya hari ini Freya diizinkan pulang ke rumah, tapi dengan catatan tidak boleh banyak pikiran dan melakukan pekerjaan berat. Freya masih diminta untuk beristirahat sampai benar-benar pulih.


Sesuai rencana Sagita, Abidzar akan membawa Freya ke rumah kedua orang tuanya. Baik Erin maupun Freya belum mengetahui perihal ini. Biarlah mereka tahu dengan sendirinya nanti, pikir Abidzar.


"Mas, kita mau ke mana?" tanya Freya heran saat mobil yang dikendarai Abidzar bukannya melewati jalan yang biasa mereka lewati menuju rumah mereka.


Abidzar tersenyum kemudian menggenggam tangan kanan Freya membuat wanita yang semula memperhatikan jalan pun menoleh ke arahnya.


"Mulai sekarang kau akan tinggal di rumah mama. Ini permintaan Mama. Mama khawatir kecolongan seperti beberapa hari yang lalu. Kamu pingsan tanpa ada yang tahu." Ucap Abidzar sambil mengusap punggung tangan Freya. Desir-desir hangat memenuhi rongga dada Freya. Namun dengan cepat Freya tepis, 'mas Abi melakukan ini karena anak yang ada di dalam kandunganmu, Fre. Ingat, jangan cepat terbuai kalau kau tak mau terpuruk kemudian.' Freya terus mengingatkan dirinya dalam hati.


"Apa Erin setuju? Dan apa tidak merepotkan mama, Mas?" Sejujurnya Freya sedikit takut, cemas, sekaligus canggung. Ada perasaan was-was bercokol di benaknya. Ketakutan akan sebenarnya kedua orang tua Abidzar hanya berpura-pura menerimanya. Ia terlalu over thinking.


"Erin belum tahu. Nanti Mas akan jelaskan sepulang dari mengantarmu ke rumah mama." Ucap Abidzar diplomatis. "Dan perlu kau ingat, Mama tidak merasa direpotkan sama sekali. Sebaliknya mama sendiri yang menyarankan ini. Mama hanya khawatir dengan kondisi fisik dan psikismu, Fre. Dan satu lagi, kau tak perlu tegang begitu. Meskipun mama sedang terkejut dengan fakta pernikahan kita, tapi kini mama dan papa telah menerimamu sepenuhnya. Bahkan mereka berharap aku bisa mempertahankan mu. Begitu juga aku, Fre. Aku harap kau mau mempertimbangkan permintaan ku yang ingin mempertahankan dan memperjuangkan pernikahan kita. Aku jujur dan tulus mencintaimu. Aku mohon percayalah dan pertimbangan permintaan ku ini." Ucap Abidzar sungguh-sungguh.


Freya bergeming di tempatnya. Ia tak tahu harus menjawab apa dan bagaimana. Terlalu banyak yang harus ia pertimbangan. Karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, Freya sampai tak sadar kalau mobil yang Abidzar kendarai telah berhenti.


"Kau mau melamun sampai kapan?" Abidzar mencolek pipi Freya membuat perempuan itu mengerjapkan matanya saat sadar suaminya telah berada di luar mobil dan tengah membukakan pintu untuknya.


Tiba-tiba dahinya mengernyit, "katanya mau ke rumah Mama, tapi kok malah ... "


"Aku lapar. Kamu pasti juga 'kan? Ayo, kita makan dulu, setelahnya baru ke rumah mama. Aku pingin makan bakso mercon. Kata orang bakso mercon di sini enak. Ada menu mie ayam juga. Kamu mau?"


Mendengar kalimat bakso mercon dengan isian daging cincang plus cabe rawit merah yang super pedas membuat Freya tanpa sadar menelan ludahnya. Rasa pedasnya seakan telah memenuhi rongga mulutnya membuat Freya pun reflek mengangguk. Abidzar tersenyum, ternyata Freya pun menginginkan makanan yang sama. Untung saja sebelum pulang tadi, mereka sempat makan roti agar perutnya tidak terasa pedih karena tiba-tiba diisi dengan makanan super pedas.


Abidzar mengulurkan tangannya yang langsung disambut Freya. Ia membantu istri mudanya itu turun dari dalam mobil dan menggandengnya mesra masuk ke kedai bakso setelah mengunci mobilnya terlebih dahulu.

__ADS_1


Abidzar mempersilahkan Freya duduk di kursi yang ia siapkan. Setelahnya, ia menyusul duduk dan memesan bakso mercon sekaligus minumannya. Freya memilih jus alpukat, sedangkan Abidzar memesan es campur. Tak lupa ia meminta disediakan air putih juga.


Mereka menyantap bakso sambil berbincang. Raut wajah bahagia terlihat jelas di wajah keduanya. Mereka sudah seperti pasangan kekasih yang sedang dilanda gelombang asmara.


"Wah, ternyata dunia ini begitu sempit ya, Mas." Ujar seorang perempuan pada sang suami.


"Maksudmu, sayang?" tanya suaminya bingung.


"Lihat itu, dia adalah suami Erin, sedangkan perempuan itu istri mudanya." Suami perempuan itu tak mau ambil pusing, sebab menurutnya wajar bila suami memiliki istri lebih dari satu. Apalagi bila istri pertamanya memiliki kekurangan. "Kau mau apa, sayang?" tanya suaminya saat perempuan itu tengah mengarahkan kamera ke arah Freya dan Abidzar.


"Tentunya mengambil foto mereka lah, sayang." Jawabnya sambil tersenyum lebar. Setelah mengambil gambar, bisa langsung mengirimkan foto-foto tersebut kepada Erin. Ia yakin, Erin akan sangat marah setelah ini. "Sayang." Panggil perempuan itu sambil menyandarkan kepala di pundak sang laki-laki.


"Ya."


Sang suami lantas mengusap perut istrinya yang masih terlihat rata.


"Baiklah. Apapun untukmu dan anak kita, aku akan lakukan itu." Ucap sang laki-laki penuh kelembutan. Tak lupa ia menyematkan sebuah kecupan di puncak kepala sang istri membuat sang istri tersipu bahagia.


...***...


Acara makan bakso selesai. Setelah melakukan pembayaran, Abidzar kembali menggandeng tangan Freya keluar dari kedai. Saat tengah berjalan, tiba-tiba ada seorang anak laki-laki berlari dan menabrak kaki Freya. Freya reflek mundur selangkah, sedangkan anak kecil itu jatuh terduduk.


"Kamu nggak papa?" Tanya Abidzar panik. Freya menggeleng, lantas ia berjongkok menatap anak laki-laki yang wajahnya sedikit familiar yang kini ikut menatapnya.


"Kamu nggak apa-apa, sayang?" Ucap Freya lembut. Abidzar sampai terpana dengan sikap lembut Freya. Bukan tanpa alasan, selama ini yang ia lihat adalah Freya yang angkuh. Namun dengan dirinya di masa lalu, Freya cukup ramah. Tapi melihat sikap lembut keibuan, apalagi saat Freya membantu anak kecil itu berdiri sambil membersihkan kotoran yang menempel di celana dan telapak tangannya membuat dada Abidzar terasa hangat.

__ADS_1


"Ndak papa Tante." Jawab anak itu.


"Kamu sama siapa ke sini? Mama papa kamu mana?" Freya heran, mengapa anak sekecil ini bisa berkeliaran seorang diri, pikirnya.


"Papa ... " Mata anak kecil itu celingukan. "Itu ... "


Freya dan Abidzar menoleh. Ia melihat seorang laki-laki sedang berjalan dari meja kasir dengan setengah berlari.


"Rio ... " Panggil laki-laki itu.


"Papa." Ucap anak laki-laki bernama Rio itu. "Pa, tadi Lio jatuh telus tablak Tante ini." Ucap Rio sedikit cadel. Ayah Rio yang melihat keberadaan Abidzar sedikit membulatkan matanya. Namun segera ia mengubah kembali mimik mukanya terlihat tenang.


"Ah, maaf kalau begitu. Anda tidak apa-apa?" tanya ayah Rio.


"Tidak. Saya tidak apa-apa. Kalau begitu, saya permisi. Dah anak ganteng." Ucap Freya sambil mengusap puncak kepala Rio.


"Dah Tante cantik." Balas Rio ramah. Abidzar mengangguk ramah pada ayah Rio. Setelah itu, ia pun kembali menggandeng Freya keluar dari kedai bakso dan masuk ke dalam mobil. Dalam hitungan menit, mobil pun kembali membelah jalanan ibu kota menuju ke kediaman orang tua Abidzar.


Sementara itu, di kediaman Abidzar, Erin tampak menggeram setelah mendapatkan kiriman foto dari Rana. Ia memang masih mencintai kekasihnya, tapi ada rasa tak rela melihat kedekatan Abidzar dan Freya. Bukan ini yang ia inginkan. Bukan. Erin gelisah sendiri. Belum lagi memikirkan ancaman kekasihnya yang memberinya waktu 2 bulan untuk berpikir dan memilih.


"Aaargh ... kenapa hanya laki-laki yang boleh menikah dengan lebih dari satu perempuan? Mengapa perempuan tak boleh? Aku tidak ingin kehilangan dia, tapi aku juga tidak ingin kehilangan Mas Abi. Aku harus bagaimana?" Gumam Erin frustasi.


...***...


...HAPPY READING 😍😍😍...

__ADS_1


__ADS_2