
Semburat senja menghiasi langit sore itu. Semilir angin menerpa, menerbangkan helaian rambut para pelayat yang ikut menghantarkan kepergian Zoya menghadap ke haribaan ilahi.
Ryan terpaku dengan mata yang basah. Sebisa mungkin ia tahan bulir bening itu yang terus mendesak untuk keluar. Tapi nyatanya, kemampuannya tak setangguh itu. Bulir bening itu tetap saja berhasil mendesak sehingga membasahi sebagian wajahnya.
Terdengar isakan memilukan dari samping Ryan. Menyadarkan laki-laki itu dari keterpakuannya. Kini ... tugasnya bertambah. Ada sesosok makhluk tak berdosa yang tanggung jawabnya telah beralih pada dirinya.
Ya, dia adalah Zaya. Gadis kecil itu tampak begitu menyedihkan. Matanya bengkak. Wajahnya sembab. Hampir seluruh bagian wajahnya memerah. Sedari tadi, semenjak jenazah Zoya dipulangkan setelah melalui serangkaian operasi l, semenjak itu pula Zaya tak henti-hentinya menangis.
Siapa yang takkan menangis saat melihat wajah keluarga satu-satunya, wajah pelipur laranya, wajah perempuan yang telah mengandung, melahirkan, dan membesarkannya selama ini, wajah sang ibu yang bahkan bersedia merelakan jiwa dan raganya demi kebahagiaan buah hatinya, sudah terkubur di balik tanah merah. Pergi menghilang dan takkan pernah kembali lagi.
Gadis kecil itu begitu terpukul saat menyadari kalau ia telah kehilangan ibunya untuk selamanya. Gadis kecil itu, gadis yang masih sekecil itu, kini harus jadi yatim piatu di usianya yang masih terlalu dini.
Hati Ryan bagai diremas. Sesak, sakit, perih. Tak terbayangkan betapa hancur dan luluh lantaknya hati dan perasaan Zaya saat harus menerima kenyataan ibunya telah pergi untuk selama-lamanya.
Masih teringat tadi, sesaat setelah dokter menyatakan operasi transplantasi ginjal Erin berhasil, di saat bersamaan dokter pun mengabarkan kalau Zoya tengah benar-benar kritis. Ryan lantas dipersilahkan dokter untuk masuk agar dapat membimbing kepergian Zoya untuk selamanya.
Di dalam ruangan serba putih itu, Ryan menatap pilu Zoya yang masih sempat tersenyum manis. Senyumnya begitu tulus. Seolah ia benar-benar ikhlas meninggalkan dunianya untuk menghadap sang Pencipta. Lalu, tak lama terdengar suara dari monitor yang menandakan keadaan pasien mulai memburuk. Ryan pun gegas menggenggam tangan Zoya kemudian mendekatkan bibirnya seraya membimbing Zoya melafazkan dua kalimat syahadat. Kalimat itu pun meluncur dengan lancar. Tanpa hambatan. Lalu ... dalam hitungan detik, mata Zoya pun tertutup rapat dengan seulas senyum penuh ketulusan tercipta di bibirnya. Bersamaan itu pula terdengar nyaring suara monitor dengan garis lurus terpampang jelas di layar. Pertanda, Zoya akhirnya menyerah dengan kehidupannya dan memilih pergi menghadap sang illahi dengan penuh keikhlasan.
Ryan sampai tersungkur dan meraung. Ia tak menyangka wanita yang baru saja menjadi istrinya itu akhirnya pergi untuk selama-lamanya. Padahal mereka baru saja menikah. Baru hitungan detik, lalu kini ... mereka sudah harus terpisah selama-lamanya.
"Zaya, ikhlas ya, Nak. Jangan bersedih lagi! Ikhlaskan Mama. Mama pasti sedih kalau Zaya nangis terus kayak gini," ucap Ryan mencoba menenangkan Zaya. Sejujurnya tidak mudah untuk melakukannya sebab dirinya sendiri pun sebenarnya kesulitan untuk mengontrol dirinya yang juga ikut terluka. Tapi ia harus berusaha tegar. Zaya kini merupakan tanggung jawabnya. Ia tidak memiliki siapa-siapa lagi selain dirinya. Jadi sebisa mungkin ia bersikap tegar agar anak sambungnya itu bisa lebih tenang.
"Tapi Om, kalau Mama sudah tak ada, Zaya harus sama siapa? Mama pergi. Kenapa Mama pergi tinggalin Zaya, Om? Zaya sendirian. Zaya harus kemana? Zaya mau ikut Mama saja, Om. Zaya mau ikut Mama. Mama ... "
Ryan yang hanya sekedar teman dan baru saja menjadi suami Zoya saja merasa amat sangat teulrpukul, apalagi Zaya pikirnya. Ia tak dapat membendung kesedihannya. Ryan lantas memeluk erat Zaya dan membenamkan kepalanya di dadanya.
"Zaya nggak boleh ngomong gitu. Nanti Mama sedih."
"Kalau Mama sedih, kenapa Mama pergi ninggalin Zaya. Terus Zaya sama siapa?"
"Zaya ... lihat Om!" Ryan lantas menarik wajah Zaya agar menghadap dirinya. "Zaya lihat tadi kan Om telah menikahi Mama. Jadi artinya sekarang Zaya telah menjadi anak Om. Mulai sekarang sampai seterusnya Zaya akan tinggal sama Om. Zaya telah jadi anak Om. Kakak Rio. Zaya mau kan jadi anak Om? Tinggal sama Om?"
Zaya menatap lekat netra Ryan. Lalu kepalanya pun reflek mengangguk.
Ryan tersenyum.
"Sekarang, panggil Om dengan sebutan papa, bisa?"
Zaya terdiam. Bibirnya hendak membuka, tapi mengatup lagi. Seakan ragu untuk mengucap satu kata tersebut.
"Jangan ragu! Ayo panggil 'papa'!" titah Ryan lagi.
"P-Papa ... " ucap Zaya terbata.
__ADS_1
Ryan tersenyum kemudian kembali menarik Zaya ke dalam pelukannya. Setelahnya, ia mengalihkan pandangannya pada gundukan tanah merah yang bertabur bunga di hadapannya.
"Zoya, sesuai permintaanmu, aku akan menjaga Zaya dengan sebaik mungkin. Mulai saat ini, ia akan menjadi putriku. Akan aku jaga dan lindungi dia. Semoga dengan begini, kau bisa pergi dengan tenang. Berbahagialah. Semoga kau dipertemukan kembali dengan mendiang suamimu." Ucap Ryan seraya tersenyum. Semilir angin berhembus menerbangkan helaian rambut Ryan dan menerpa sebagian wajahnya. Terasa sejuk dan menenangkan. Dari kejauhan, Ryan tanpa sadar melihat sepasang insan berpakaian serba putih melambai ke arahnya. Mereka tersenyum. Ryan pun balas tersenyum. Lalu ... perlahan bayangan itu pun berlalu dan menghilang. Terbawa semilir angin.
...***...
"Apa? Yang benar?" seru Abidzar terkejut saat mendapat kabar dari salah seorang temannya yang merupakan dokter di rumah sakit dimana Erin dirawat.
"... "
"Baiklah. Terima kasih atas informasinya."
Klik ...
"Ada apa, Mas? Kenapa kayaknya Mas khawatir gitu?" Tanya Freya.
Mereka baru saja selesai makan malam dan sedang duduk berdua di gazebo kamar.
"Erin, dia dirawat di rumah sakit."
"Apa? Erin sakit apa?"
"Dia mengalami gagal ginjal. Dan siang tadi dia baru saja menjalani operasi transplantasi ginjal. Yang lebih mengejutkan, orang yang mendonorkan ginjal tersebut adalah wanita yang baru saja Ryan nikahi."
"Entahlah. Mas pun bingung."
"Tapi Mas, bukannya selepas operasi, pasien harus menjalani perawatan intensif. Apalagi itu operasi besar. Kalau ia masih menjalani masa tahanan, kasihan. Apa Mas tidak bisa melakukan sesuatu?"
"Melakukan sesuatu seperti apa?"
"Nggak usah pura-pura bodoh deh. Mas pasti paham kan apa maksudku?"
Abidzar tersenyum, "memangnya kau tak masalah?"
Freya menggeleng, "Insya Allah aku ikhlas. Kasihan Erin, Mas. Dia berhak mendapatkan kesempatan kedua."
Abidzar tersenyum makin lebar. Ia begitu bangga akan kebaikan hati istrinya itu. Istrinya kini benar-benar berubah menjadi pribadi yang sangat-sangat baik. Abidzar amat sangat bersyukur atas perubahan diri Freya. Ia harap, istrinya tetap memiliki kepribadian seperti ini. Tetap Istiqomah di jalan Illahi.
Keesokan harinya,
"Hai," sapa Abidzar pada Ryan yang sedang terduduk lemas di depan ruang perawatan Erin. Erin memang telah berhasil di operasi, tapi sampai saat ini ia belum sadarkan diri.
"Ah, Anda," ucap Ryan gugup saat melihat kedatangan Abidzar dan Freya. "Si-silahkan duduk!" Ucap Ryan.
__ADS_1
Laila yang melihat mantan menantunya itupun ikut gugup.
"Abi," cicit Laila.
"Apa kabar, Ma?" sapa Abidzar sambil menyalami Laila.
Laila tersenyum kaku. Apalagi saat mendengar Abidzar masih memanggilnya Mama.
"Kabar ma-ma, baik," jawab Laila gugup.
"Maaf ya, Ma, Ryan, kami baru tahu apa yang menimpa Erin. Kamu benar-benar menyesal baru mengetahui kalau ia sedang sakit parah."
"Kau tidak perlu meminta maaf. Mungkin ini salah satu jalan untuk Erin menggugurkan dosa-dosanya."
Abidzar tersenyum. Lalu menoleh ke arah Freya. Tak lama kemudian, Ryan mendapatkan telepon dari kantor polisi. Beberapa saat kemudian, Ryan pun kembali lagi.
"Pak Abi, apa kalian telah menebus Erin?" tanya Ryan setelah mendapatkan telepon.
Abidzar pun tersenyum, "itu permintaan istriku." Ucap Abidzar sambil menatap Freya.
"Benarkah? Terima kasih. Terima kasih banyak. Entah bagaimana aku bisa membalas baik budi kalian. Kalian benar-benar berhati mulia."
"Tak perlu terlalu berterima kasih. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Kalau kau lupa, Erin pun pernah membebaskanku dari penjara. Dan berkat bantuannya itu pula aku akhirnya menemukan kebahagiaanku. Dan kali ini aku ingin membalas budi baiknya. Aku harap, setelah ini Erin pun bisa menjemput bahagianya sama sepertiku," ucap Freya tulus.
Ryan dan Laila tak dapat membendung air matanya. Mereka amat sangat bersyukur dipertemukan orang sebaik Abidzar dan Freya. Padahal Erin pernah menipu, memfitnah, dan menyakiti keduanya. Tapi keduanya bukannya membalas kejahatan Erin dengan sebuah hukuman, mereka justru membebaskan Erin dari penjara. Sungguh, Laila dan Ryan merasa berhutang budi pada Abidzar dan Freya.
...***...
Kini Abidzar dan Freya sedang dalam perjalanan pulang dari rumah sakit. Saat melintasi sebuah sekolah dasar, tiba-tiba Abidzar meminta sopirnya menepi membuat Freya kebingungan.
"Mas mau ngapain?" tanya Freya heran.
Bukannya menjawab, Abidzar justru tersenyum dan turun begitu saja dari dalam mobil. Yang membuat Freya melongo adalah Abidzar menghampiri penjual jajanan anak-anak di sekitar sekolah itu satu persatu. Setelah beberapa saat, ia pun kembali dengan membawa beberapa kantong berisi jajanan anak-anak membuat Freya benar-benar speechless.
"Mas, mas beli apa?" tanya Freya dengan dahi yang mengernyit.
Abidzar tersenyum lebar. Lalu ia menunjukkan satu persatu beliannya. Ada papeda, crepes, sate kerang, sempol, dan aneka jajanan anak-anak lainnya. Bagaimana Freya tidak melongo sebab ini merupakan pertama kalinya ia melihat Abidzar bersikap aneh seperti ini. Membeli jajanan anak-anak, di pinggir jalan, benar-benar sesuatu yang tak terduga.
...***...
Ya ampun, mau end aja kok molor melulu. Hahahah ...
Bab terakhir besok. Sampai jumpa besok kak. 😂😂😂
__ADS_1
...HAPPY READING 😍😍😍...