
"Jadi pak Martin, apa yang bisa saya bantu? Apa gerangan Anda ingin bertemu dengan saya?" tanya Tirta to the point.
Martin menghela nafas panjang sebelum berbicara.
"Saya ingin menanyakan keberadaan Hana pada Anda."
"Hana?"
"Iya, Hana. Bisa beritahu saya dimana dia tinggal sekarang atau nomor kontaknya?" lanjut Martin bertanya.
"Hana mana ya? Saya tidak mengenal seseorang yang bernama Hana." Jawab Tirta dengan memasang raut wajah seolah memang tidak mengetahui apa-apa. Padahal dalam hati ia sudah bisa menebak kemana arah pertanyaan Martin. Tapi berhubung dia belum benar-benar yakin apalagi selama ini gadis yang ia kenal itu menggunakan nama Ana, jadi ia tak mau langsung menjawab seolah sudah benar-benar tau siapa gadis yang dimaksud Martin tersebut
Martin mendengkus dan menatap sinis Tirta sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Jangan berpura-pura bodoh. Atau kau sengaja ingin menyembunyikan Hana?" Tuding Martin dengan tatapan tajam. Sudah jelas-jelas ia melihat Tirta dengan Hana di tempat parkir gedung tempat dilangsungkannya konser girl band kesukaan Hana, tapi Tirta masih saja berkilah dan tidak mau mengakui, membuatnya kesal.
"Tapi aku berkata jujur, aku tidak mengenal Hana yang Anda maksud. Kenapa Anda malah nyolot?" Tirta pun tak kalah kesal. Tiba-tiba saja bertanya tentang Hana tanpa ada penjelasan sama sekali.
"Tapi saya melihat dengan jelas Anda dan Hana masuk ke dalam mobil Anda. Saat itu kalian pasti baru selesai menonton konser Black pink."
Tirta terdiam. Berarti Hana yang dimaksud Martin benar-benar Ana. Tapi apakah benar Ana adalah Hana? Atau mereka sekedar mirip?
"Tapi yang bersamaku saat itu bukan Hana yang Anda maksud."
"Jangan berbohong! Jelas-jelas saya melihat gadis yang bersama Anda itu adalah Hana."
"Kalaupun dia Hana, memangnya kau mau apa? Kau siapa tiba-tiba mengajak bertemu lalu mengatakan gadis yang bersamaku itu adalah Hana. Jangan-jangan kau salah satu anggota sindikat penculik dan penjual kaum perempuan."
Mata Martin seketika terbelalak saat ia dikatakan salah seorang anggota sindikat penculik dan penjual kaum perempuan.
"Jangan sembarang bicara! Aku bukan orang seperti itu," sentak Martin kesal sehingga mengundang atensi pengunjung yang lain.
"Maaf kak, kalau mau bertengkar jangan di sini!" tegur salah seorang pelayan yang kebetulan lewat di dekat Martin.
Martin mencoba mengontrol emosinya, "maaf," ucapnya. Pelayan itu pun segera pergi dari hadapan Martin.
"Kalau bukan, jelaskan padaku, siapa Anda? Ada kepentingan apa Anda mencari gadis bernama Hana itu? Dan asal Anda tahu, nama gadis yang bersamaku saat itu adalah Ana, bukan Hana. Bisa saja mereka sekedar mirip." Papar Tirta yang mulai bicara tenang kembali.
Martin menggeleng dengan tegas, "saya yakin dia Hana. Jangan berbohong! Mohon kerja samanya. Atau kalau memang dia bukan Hana, bisakah Anda mempertemukan kami? Ini benar-benar penting."
"Saya akan membantumu bila Anda jelaskan terlebih dulu duduk perkaranya. Siapa Anda? Dan apa hubungan Anda dengan gadis bernama Hana itu? Dan jelaskan, kenapa Anda ingin bertemu dengannya?" Tirta tentu saja tak mungkin mempertemukan mereka begitu saja tanpa alasan yang jelas. Ia tak mau niat membantunya justru jadi bumerang bagi keselamatan Ana.
Martin menghela nafas panjang, sebelum akhirnya menceritakan siapa dirinya.
"Saya Om dari Hana. Adik angkat mendiang ayah Hana. Ada sedikit permasalahan dalam keluarga kami yang akhirnya membuat Hana pergi. Saya ingin segera menemukan Hana sebab saat ini ibunya sedang terbaring sakit karena merindukan Hana. Hana telah meninggalkan rumah lebih dari satu tahun. Oleh sebab itu, saya mohon bantuan Anda untuk mempertemukan saya dengan Hana. Bila Anda tidak mempercayai saya, Anda boleh ikut serta. Atau bila Anda tak ingin membuat kesalahpahaman, kita bisa melakukannya seolah-olah tidak sengaja bertemu, bagaimana? Bisa Anda menolong saya bertemu dengan gadis yang mirip Hana tersebut? Bisa jadi dia memang Hana yang mengganti namanya menjadi Ana." Ucap Martin dengan sorot mata memelas.
Tirta menatap lekat netra Martin, berusaha mencari kebohongan dalam sorot matanya. Tapi Tirta tidak menemukannya.
Melihat ekspresi keraguan di wajah Tirta, Martin lantas mengeluarkan ponselnya. Kemudian ia mencari potret mereka saat mendiang ayah Hana masih hidup. Sudah sejak lama mereka tidak berfoto bersama-sama. Lebih tepatnya semenjak ayah Hana meninggal dan ibunya menikah lagi. Tapi ia memiliki foto berdua dengan Hana dan Tirta tak perlu melihat foto tersebut.
Kemudian Martin memperlihatkan foto mereka untuk meyakinkan Tirta kalau dia benar-benar mengenal gadis mirip Ana tersebut.
"Ini, ini adalah foto kami saat mendiang ayah Hana masih hidup."
Tirta pun menerima ponsel Martin dan menatap lekat potret keluarga yang tampak sangat bahagia itu. Tampak seorang wanita paruh baya sedang dalam rengkuhan sang suami dengan kepala bersandar di pundak. Di sebelahnya ada seorang pria yang ia yakini itu adalah Martin sedang merengkuh pundak gadis yang memang sangat mirip Ana. Sepertinya foto itu diambil saat mereka tengah berlibur bersama.
"Mereka adalah orang tua Hana dan gadis muda itu adalah Hana. Anda bisa melihat bukan, gadis yang bersama saya saat itu benar-benar mirip bahkan mungkin memang benar dia adalah Hana."
Tirta mengembalikan ponsel Martin.
__ADS_1
"Baiklah, saya akan membantu Anda. Saya akan mempertemukan Anda dengan Ana. Tapi saya minta, jangan memaksa bila dia tidak mau bertemu dengan Anda. Bila dia benar Hana, pasti ada alasan kuat mengapa ia sampai melarikan diri dari keluarganya. Dan Anda tentunya tidak mau kan dia kembali menghilang dan semakin menjauh dari keluarganya sendiri?" Tegas Tirta setelah menimbang beberapa saat.
Martin menghela nafas lega, kemudian mengangguk. Apapun itu, asal ia bisa kembali bertemu dengan Hana, akan ia lakukan.
...***...
Karena jam makan siang telah usai, mereka pun akhirnya berpisah. Namun baru saja Tirta masuk ke dalam mobilnya, tiba-tiba sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya.
"Mama? Tumben mama telepon jam segini. Pasti ada hal penting," gumamnya kemudian segera menarik ikon gagang telepon berwarna hijau ke atas.
"Halo, Ma. Assalamu'alaikum," ucap Tirta.
"Halo Ta, wa'alaikumussalam salam. Ta, gawat," ucap ma Tirta dengan nafas menderu.
"Mama kenapa? Apanya yang gawat? Mama tenang dulu. Tarik nafas, terus lepaskan," Tirta mengarahkan agar sang mama bisa bersikap tenang.
Menurut, mama Tirta pun menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya hingga beberapa kali.
"Sudah tenang?"
"Sudah," ucap Mama Tirta sambil menganggukkan kepalanya. Dia sampai lupa kalau mereka sedang berbicara lewat telepon jadi mana mungkin Tirta melihat anggukan kepalanya.
"Sekarang jelaskan, mama kenapa?" tanya Tirta saat sang mama telah tenang.
"Nenek, Ta, nenek, Nenek menghilang. Mama bingung, mama cari-cari nggak ketemu." Ucap mama Tirta membuat dahi Tirta berkerut. Kini kekhawatiran pun ikut menular padanya.
"Bagaimana bisa nenek menghilang, Ma? Coba Mama jelaskan secara runut supaya Tirta paham." Instruksinya.
"Mama sama Onah kan mau belanja bulanan di supermarket, tiba-tiba nenek bilang mau ikut. Sebenarnya mama udah nolak, tau sendiri, nenek udah mulai lupa jalan. Tapi nenek maksa, tau sendiri kan gimana kalau nenek udah berkehendak," ucap mama Tirta. Kemudian ia menarik nafas dalam-dalam kembali dan menghembuskannya, "jadi nenek ikutlah sama mama dan Onah ke supermarket. Tapi pas mama sibuk milih-milih, terus Onah ke toilet, nggak tau bagaimana, nenek tiba-tiba nggak ada di samping Mama. Padahal Mama udah bilang jangan kemana-mana. Ikutin Mama aja, tapi pas Onah balik lagi terus nanya nenek mana, baru deh Ma sadar kalau nenek menghilang. Mama udah cari-cari di sekitar supermarket, tapi nggak ada. Mama minta tolong sama sekuriti supermarket untuk bantu cariin nggak ketemu juga. Pas cek di cctv, ternyata nenek keluar ngikutin pengunjung yang lain. Aduh, Ta, gimana ini? Bagaimana kalau terjadi sesuatu sama nenek? Mama takut, Ta. Mama khawatir. Papa pasti bakal marah sama Mama karena nggak bisa jagain nenek dengan baik," ucap Mama Tirta sambil terisak. Ia benar-benar mencemaskan ibu mertuanya itu.
Tirta mengusap wajahnya kasar. Ia pun ikut khawatir saat ini. Ia pun mencemaskan bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada neneknya itu.
"Mama tenang dulu, oke. Kita berdoa saja nenek tidak kenapa-kenapa dan segera bisa kita temukan. Tirta akan segera ke sana dan bantu mencari. Atau kalau perlu, mama pulang dulu aja, biar Tirta yang lanjut mencari. Tirta nggak mau tiba-tiba asma mama kambuh karena mencemaskan nenek," ucap Tirta berusaha menenangkan sang mama.
"Mama tak perlu mencemaskan itu. Yang penting, mama berdoa saja semoga Tirta bisa dengan cepat menemukan nenek dan semoga nenek Nisa segera kembali dalam keadaan tanpa kurang satu apapun." Tukas Tirta lagi.
Mama Tirta menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya.
"Baiklah. Hati-hati ya, Ta. Kabarin mama segera kalau nenek sudah ditemukan," ujar mama Tirta. Setelah itu, mama Tirta pun segera menutup panggilan teleponnya. Ia harus segera pulang.
"Duh, iya, kita belum makan siang, Nah. Padahal tadi rencananya kita mau makan sama-sama. Perut saya lapar, tapi nggak selera makan karena mama nggak ada. Mana mama belum makan siang juga. Duh, gimana ini, Nah? Gimana kalau mama kelaparan? Mama bawa uang nggak ya? Eh, dompet mama kan ada sama saya, Nah? Ya Allah, Nah, gimana keadaan mama?" Gumam Mama Tirta cemas. Tubuhnya seketika melemas karena mengkhawatirkan keadaan sang ibu mertua.
"Ibu jangan khawatir, nenek pasti baik-baik saja. Semoga aja nenek aden ketemu orang baik yang mau membantu . Sebaiknya ibu makan dulu. Ingat, ibu punya masalah gastritis. Nggak boleh telat makan. Ini aja udah telat, jangan sampai gastritis ibu kambuh," tukas Bi Onah memperingatkan. Majikannya itu memang selain memiliki penyakit asma, juga memiliki masalah lambung, yaitu penyakit gastritis/tukak lambung.
"Kamu benar, Nah. Bagaimana pun, aku harus tetap makan. Aku nggak mau malah jadi makin membuat susah kalian," jawab ibu Tirta pelan.
"Ibu tidak pernah merepotkan kami kok. Ya udah, ibu mau makan apa?" Tanya Onah setelah meletakkan belanjaan mereka di mobil.
"Nggak usah jauh-jauh, Nah. Kita makan di rumah makan Padang itu saja," tunjuknya pada sebuah rumah makan Padang yang berada di kompleks pertokoan dimana supermarket berada.
Bi Onah mengangguk setuju. Mereka pun bergegas pergi ke rumah makan Padang tersebut.
...***...
Ana tampak baru keluar dari salah satu minimarket sambil menenteng belanjaan berupa diapers dan beberapa cemilan pesanan Freya. Setelah itu, ia menggantung belanjaannya di motor. Saat ia baru saja hendak menyalakan motor yang dipinjamnya dari Mang Sukri, ia melihat seorang nenek-nenek tampak kebingungan saat ingin menyeberang jalan. Ana yang tak tega lantas segera turun dari motor dan menarik kuncinya kembali. Ia simpan kunci itu di saku celana.
"Pak, titip motor saya sebentar ya. Ada belanjaannya itu. Saya mau ke sana. Kasian nenek itu kayaknya mau nyeberang, tapi jalanan sedikit ramai," ujarnya pada tukang parkir yang berjaga di sana.
"Iya, dek. Silahkan. Biar saya jaga belanjaannya. Insya Allah aman," ujar tukang parkir itu ramah. Ia pun kasihan dengan nenek tersebut. Mau membantu, ia sedang bertugas.
__ADS_1
Ana pun bergegas menyeberang jalan mendekati nenek tersebut.
"Nenek mau nyeberang?" tanya Ana pada sang nenek.
Nenek itu pun menoleh ke arah Ana, "iya. Tapi jalannya rame banget."
"Emang nenek mau kemana?"
"Nenek nyari menantu nenek. Tadi kami belanja di supermarket, tapi nenek salah ngikutin orang. Nenek kira dia menantu nenek, pas nyari lagi, nenek lupa jalan. Nenek baru ngeh pas orang itu naik bis kota. Haduh, nenek pusing jadinya. Jakarta sekarang beda banget. Banyak gedung-gedung tinggi, nenek jadi bingung," jelas nenek sambil menyeka keringatnya yang bercucuran. Cuaca siang itu cukup terik. Matahari pun tepat berada di atas kepala. Benar-benar panas.
"Nenek ingat alamat nenek dimana?" tanya Ana.
Sang nenek pun mengangguk dan menyebutkan alamatnya.
"Mau Ana antar? Tapi Ana naik motor. Nenek nggak papa baik motor?"
"Naik motor? Mau ... mau ... Nenek sudah lama nggak naik motor. Cucu nenek sukanya naik mobil mulu. Padahal enakan naik motor. Apalagi kalau lagi pacaran, dunia seakan milik berdua," ujar sang nenek sambil mesem-mesem membuat Ana membulatkan matanya. Si nenek ternyata sedang mengenang masa-masa pacarannya dulu. Adeh ... adeh ...
"Kalau begitu, yuk ikut Ana. Motor Ana ada di parkiran minimarket itu." Tunjuknya pada minimarket yang ada di seberang jalan.
Baru saja Ana menggandeng tangan sang nenek untuk menyebrang jalan, tiba-tiba perut nenek berbunyi.
"Aduh, si perut malu-maluin aja bunyi gede banget," ucapnya sambil menepuk perutnya sendiri membuat Ana terkekeh geli.
"Nenek laper?"
"Jujurly, nenek emang laperly. Belum makan siang. Padahal menantu nenek tadi janji mau ajak makan makanan ala Korea gitu, eh nggak jadi gara-gara terpisah," aku sang nenek sambil mengerucutkan bibirnya.
Ana terkekeh, kok ada nenek-nenek menggemaskan seperti ini sih? Mana kepinginannya unik, mau makan makanan Korea pula.
"Kok bisa kepingin makan makanan Korea, Nek?"
"Nenek kan suka nonton Drakor. Kalau nonton mereka makan tuh, kayaknya enak banget jadi nenek pingin," ujarnya sambil terkekeh.
"Astaga, nenek suka nonton Drakor? Wah, daebak! Tapi sayang, di sekitar sini nggak ada restoran Korea yang ada kedai bakso, nenek mau bakso?" tawar Ana.
"Ya nggak papalah, daripada nggak makan. Kasian cacing-cacing di perut nenek, udah pada demo," selorohnya sambil tertawa. Ana mau tak mau ikut tertawa.
Setibanya di kedai bakso, Ana pun segera memesan bakso sesuai keinginannya dan sang nenek.
Mata Ana membulat sebab si nenek memesan bakso super. Ana dibuat speechless dengan napsu makan sang nenek yang porsinya lebih besar darinya. Tapi Ana tidak berani berkomentar, tidak etis. Khawatir menyinggung perasaan si nenek.
"Eeekkkk ... " nenek bersendawa pertanda ia benar-benar kenyang. Ana mengulum senyum melihatnya.
"Makasih ya, Cantik, udah ngajak nenek makan."
"Iya, Nek. Sama-sama."
"By the way, anyway, busway, kamu udah punya pacar belum, Cantik?"
Ana yang baru menyelesaikan makannya lantas mengangkat wajah, "be-belum, Nek."
"Wah, bagus itu! Kalau begitu, nenek mau nembak kamu jadi pacar cucu Nenek, mau? Tenang aja, cucu nenek cakep kok. Pekerjaannya mapan, baik hati, dan tidak sombong, serta berbakti pada orang tua juga. Kamu pasti nggak bakal nyesel jadi pacar cucu Nenek. Kasian dia, kelamaan jomblo. Takutnya jadi jokar, jomblo karatan kalau kelamaan jomblo," ucap si nenek panjang kali lebar membuat Ana benar-benar ternganga dengan tingkah absurd si nenek.
'Ini gue lagi mimpi ketemu nenek gaul atau beneran sih? Aku beneran ditembak nenek-nenek untuk dijadiin pacar cucunya? Alamak, mimpi apa aku semalam ketemu nenek model kayak gini? Beruntung banget yang jadi cucunya punya nenek se'care ini sampai nggak punya pacar pun dikhawatirkan.'
"Kalau kamu nggak suka pacaran, langsung nikah aja, gimana? Kalau kamu bersedia, nenek akan segera menyiapkan acara lamarannya."
Eng ing eng ...
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 😍😍😍...