
Saat Ana dan Tirta hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba mata Ana bersirobok dengan netra seseorang yang dikenalnya. Ana sempat mematung sepersekian detik. Hingga saat ia mulai sadar, Ana pun bergegas masuk ke dalam mobil.
"Aak, cepetan pergi dari sini! Cepat!" Sontak saja Tirta menoleh dengan dahi berkerut saat Ana memintanya segera pergi dari sana.
"Kenapa buru-buru?" Tanya Tirta heran.
"Udah aak, buruan. Atau kalau nggak aku naik taksi aja," seru Ana kesal membuat Tirta mau tak mau menuruti keinginan Ana.
"Iya, iya, kamu jangan keluar. Ingat, hari sudah larut. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa di jalan," sahut Tirta sambil menghentikan pergerakan Ana yang ingin turun dari dalam mobil.
Dengan jantung berdegup kencang, Ana sesekali melirik ke belakang. Ke arah sosok yang sedang mencoba mendekati mobil mereka sambil berlarian. Jantung Ana kian berpacu dengan kencang saat jarak seseorang itu tinggal beberapa langkah lagi, tapi untungnya di saat bersamaan, mobil mulai bergerak membuat Ana akhirnya dapat bernafas dengan lega.
"Hana ... Hana ... Hana, berhenti!" teriak seseorang itu saat mobil yang Tirta kendarai mulai menjauh.
"Sial." Umpatnya sambil menendang udara karena tidak berhasil menghentikan kepergian Ana.
Setelah mobil yang Ana tumpangi menghilang dari hadapannya, seseorang itu pun segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Segera cari tahu pemilik mobil dengan plat B712TA!" Titahnya pada seseorang di balik telepon.
Setelah itu, ia pun segera menutup panggilan itu tanpa menunggu jawaban. Seseorang itu menghela nafas panjang, bertekad menemukan Ana sesegera mungkin.
Sementara itu, di dalam mobil, beberapa saat lalu Tirta baru menyadari ada seseorang yang tampaknya mengejar Ana. Tapi Ana sebaliknya, tampak menghindari seseorang tersebut. Ingin bertanya, tapi Tirta tidak ingin membuat Ana tidak nyaman padanya. Ia yakin, ada sesuatu yang Ana sembunyikan. Apa itu, Tirta pun tak tahu. Namun tiba-tiba ia ingat obrolan Tirta dan teman-temannya saat di cafe tempo lalu.
'Apa Ana kabur dari rumahnya?' Batin Tirta menduga-duga. 'Tapi kenapa? Apa alasannya?' Tirta makin penasaran dengan sosok gadis di sampingnya itu.
Wajah ceria Ana pun kini telah berganti mendung. Karena Ana yang sejak tadi diam, Tirta pun mencoba mencairkan suasana dengan menegurnya.
"Heh, kok ngelamun? Mikirin apa sih?"
__ADS_1
"Eh," Ana terkesiap saat Tirta menegurnya. "Ah, nggak mikir apa-apa sih. Cuma lagi kedinginan aja." Dusta Ana.
"Oh, kamu kedinginan? Bentar, aku atur AC-nya dulu." Tirta lantas mengatur pendingin udara di mobil. Ia juga mengambil jaket miliknya di belakang dan memberikannya pada Ana. "Pakai ini kalau kau masih kedinginan," ujar Tirta seraya mengulurkan jaket dengan tangan kirinya.
"Em ... makasih ya, akk." Ana pun menerimanya. Memang ia merasa sedikit kedinginan. Mungkin karena habis hujan jadi udara menjadi lebih dingin.
Tak lama kemudian, mobil yang Tirta kendarai berhenti tepat di tepi jalan. Ia bermaksud mengajak Anda makan bakso di kedai yang ada di pinggir jalan tersebut.
"Kamu nggak papa makan bakso di tempat seperti ini?" tanya Tirta setelah mobil berhenti.
"Bukannya seharusnya aku yang nanya ya, tuan eh maksudnya aak nggak papa makan bakso di tempat kayak gini?" Bukan tanpa alasan Ana bertanya, bukankah orang kaya biasanya enggan makan di emperan jalan seperti ini.
Tirta terkekeh, "kalau aku sih, dimana aja oke asal enak."
"Wah, yang bener? Langka lho orang kaya kayak anak tuh mau makan di tempat kayak gini. Pasti alasannya jorok lah, nggak higienis, tempatnya nggak nyaman, ada lah yang jadi alasan."
"Itu orang lain, bukan aku. Aku sama Abi itu sama. Padahal jualan di pinggir jalan tuh nggak semuanya jorok. Emang ada sih beberapa yang nggak menjaga kebersihan gitu. Kayak tempat cuci piringnya yang nggak bersih, makanannya terlalu terbuka, nggak ditutup gitu jadi debu-debu bertebaran sama lalat hinggap di makanan, tapi banyak juga yang benar-benar menjaga kebersihan. Kayak kedai ini, liat aja, air cuci piringnya di ganti secara berkala, nggak sampai butek gitu, tempatnya tertutup juga. Sampah berada pada tempatnya, jadi nggak ada lalat beterbangan. Dah ah, kok malah jadi bahas itu, buruan turun, entar keburu tutup. Ini udah larut banget soalnya." Tirta pun turun lebih dahulu dari dalam mobil.
"Kenapa senyum-senyum gitu? Aku orangnya romantis kan!" Tirta mengerlingkan sebelah matanya membuat Ana berdecak.
"Ge'ee sekali Anda," ejek Ana kemudian terkekeh.
Tirta mau tak mau ikut terkekeh. Kemudian mereka pun segera masuk ke dalam kedai dan memesan bakso sesuai selera mereka. Mereka lantas menikmati bakso sambil bercengkrama. Namun sepanjang mereka makan sampai mereka pulang, Ana tidak juga kunjung menceritakan siapa yang mengejarnya tadi. Ingin bertanya, tapi nanti dibilang kepo. Jadi Tirta memilih diam. Ia tahu, setiap orang memiliki privasi sendiri dan ia tak ingin ikut campur sebelum gadis itu sendiri yang meminta.
...***...
"Ma, bukannya hari ini Mas Abi ulang tahun ya?" ucap Freya tiba-tiba saat sedang menikmati cemilan di teras rumah.
"Astaghfirullah, kamu benar, Fre. Kok Mama bisa lupa sih?" Sagita menepuk jidatnya sendiri karena melupakan hari kelahiran putranya sendiri. Padahal biasanya dia lah yang paling ingat hari penting tersebut.
__ADS_1
"Freya juga baru ingat, Ma. Itupun nggak sengaja. Kalau Freya nggak buka facebooknya Mas Abi, Freya pasti nggak tahu." Sesalnya sebab ia benar-benar tidak tahu. Ia saja baru tahu saat melihat banyak teman-teman Abidzar mengirim ucapan selamat melalui wall akun Facebook-nya.
"Mau buat kue udah nggak sempat lagi." Ujar Sagita.
"Iya, atau kita beli aja Ma sebentar. Mumpung masih ada waktu. Masih ada 2 jam lagi sebelum Mas Abi pulang, cukup lah buat beli kue terus balik lagi."
"Tapi sayang, kamu kan sedang hamil besar, Mama khawatir ..."
"Freya baik-baik aja kok, Ma. Kita ke toko kue yang di ujung jalan sana aja. Nggak jauh. Paling banter 15 sampai 20 menit udah sampai."
"Ya udah deh, ayo. Kamu mau ganti baju atau ..." Karena di rumah, Freya pun hanya mengenakan daster yang cukup besar.
"Kayak gini aja deh, Ma. Hehehe ... Repot ganti baju, entar keburu Mas Abi pulang."
"Kamu benar, yang penting masih tetap cantik kok. Hahaha ... " Sagita lantas menggandeng Freya menuju mobilnya dan dalam hitungan menit, mobil Sagita pun telah ikut bergabung di jalanan dengan mobil lainnya. Karena hari belum terlalu sore, jalanan pun tidak terlalu ramai. Sehingga hanya dalam hitungan menit, mobil yang Sagita kendarai pun telah tiba di toko kue yang Freya maksud.
"Duh, hp mama kayaknya tinggal di mobil. Kamu pilih aja dulu kuenya ya, Fre. Mama mau ambil hp, mau telepon papa biar langsung mampir ke rumah kalian sepulang kerja," ujar Sagita saat menemani Freya memilih kue.
Freya lantas mengangguk, mengiyakan.
Namun setelah bermenit-menit memilih kue, Sagita tak kunjung kembali membuat Freya heran. Setelah membayar kue yang dipesannya, Freya pun segera menuju mobil Sagita. Freya pun segera membuka pintu mobil untuk melihat ke dalamnya, dan betapa terkejutnya Freya saat melihat ada seorang perempuan bermasker yang menodongkan pisau ke leher Sagita. Tangan Sagita tampak terikat dan mulutnya disumpal membuatnya tak bisa berbicara padanya. Sagita tampak meringis ketakutan membuat wajah Freya memucat seketika. Sedangkan di bangku kemudi, tampak seorang laki-laki yang juga mengenakan masker telah bersiap untuk menjalankan mobilnya.
"Cepat masuk!" titah perempuan yang suaranya seperti tak asing di telinga.
Sagita menggeleng, membuat Freya ragu untuk ikut masuk.
"Cepat masuk atau dia aku habisi sekarang juga!" titah perempuan itu lagi.
Mau tak mau, Freya pun terpaksa menurut sebab keselamatan ibu mertuanya jadi taruhannya.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 😍😍😍...