
Beberapa saat sebelumnya di kediaman Abidzar.
Erin tampak melamun, memikirkan cara bagaimana untuk membuat Abidzar kembali ke pelukannya. Apalagi semenjak kehadiran Freya, Abidzar tak lagi menyentuhnya. Dirinya yang haus belaian tentu saja merasa kesal. Apalagi Ryan juga sudah benar-benar memutuskan komunikasi dengannya. Meskipun nomornya masih sama, tapi Ryan tak pernah sekalipun menghubunginya atau merespon saat dirinya menghubungi mantan kekasihnya itu.
Erin menyandarkan kepalanya di sandaran ranjang sambil menggigit ujung kukunya. Kebiasaan yang sering ia lakukan saat sedang berpikir serius. Sudah lama, semenjak pertengkarannya di malam hari tempo lalu, semenjak itu juga Abidzar tidak pernah lagi tidur di rumah. Bagaimana hati Erin tak kesal, Abidzar kini benar-benar mengabaikannya dan hanya memedulikan Freya. Apalagi mengingat bagaimana Freya tertawa bahagia dengan Abidzar dan kedua orang tuanya, membuat hati Erin kian kesal dan marah.
"Semua gara-gara jalaang itu!" geram Erin dengan gigi bergemeletuk. Bola matanya berputar, ia terus memikirkan cara agar Abidzar kembali ke pelukannya.
Seketika Erin menyeringai. Sebuah ide pun terlintas di otaknya.
"Bukankah ini sudah seminggu setelah aku melepaskan kontrasepsi, artinya aku udah bisa melakukannya dong. Ah, kalau begitu aku akan melakukan sesuatu agar Mas Abi kembali ke pelukanku." Ujarnya sambil menyeringai.
Lalu ia turun dari atas ranjang dan mematut dirinya di depan cermin.
"Ke salon dulu ah biar makin cantik. Sekalian beli baju yang errr ... seksihhh supaya Mas Abi klepek-klepek," gumamnya sambil terkikik geli.
Angannya telah menerawang, melanglang buana, membayangkan yang iya-iya dengan Abidzar.
Lalu ia pun segera bersiap. Namun sebelum pergi, ia pergi menemui bi Asih terlebih dahulu.
"Bi ... Bi Asih ... Bi Asih ... " Erin berteriak seraya menuruni tangga satu persatu.
"Iya, Nya," sahut Bi Asih sambil tergopoh-gopoh.
"Ck ... lama sekali sih?" decak Erin kesal.
"Maaf Nya, tadi saya dari toilet," ujar bi Asih.
"Ya sudah. Bi, siang nanti masak makanan kesukaan Mas Abi. Pokoknya harus istimewa. Pokoknya sebelum aku pulang, semuanya telah siap, bibi mengerti!" Tegas Erin.
"Baik, Nya," jawab Bi Asih sekenanya.
Setelah memberikan perintah, Erin pun gegas pergi ke tempat tujuannya. Dua jam kemudian, Erin telah kembali dengan wajah berseri-seri. Tak lupa sebuah paper bag toko pakaian dalam kenamaan berada dalam genggamannya. Sebelum naik ke lantai atas, Erin lebih dahulu memastikan persiapan telah sempurna. Setelahnya, baru ia naik ke lantai atas sambil menghubungi suaminya. Bak gayung bersambut, Abidzar menyambut ajakan makan siangnya.
__ADS_1
Dengan hati riang, Erin pun gegas berganti pakaian menggunakan g-string super seksi yang baru dibelinya. Ia berputar-putar di depan cermin, mematut dirinya yang tampak begitu cantik dan seksi menggunakan lingerie model g-string tersebut. Setelahnya ia membalut tubuhnya menggunakan kimono satin yang cantik untuk memberikan kejutan saat puncaknya nanti.
Sebelum turun kembali ke lantai bawah, Erin meraih sebuah botol kecil dan menggenggamnya. Erin menyeringai membayangkan rencananya kali ini akan berhasil.
Di lantai bawah, setelah semuanya beres, Erin meminta Bi Asih, Ana, dan Mina pergi ke paviliun. Ia tak mau momen kebersamaannya dengan Abidzar terganggu. Jadi ia meminta mereka semua menjauh dari rumah utama.
Tak lama kemudian, yang Erin tunggu-tunggu akhirnya datang. Siapa lagi kalau bukan Abidzar. Tampak Erin telah berdiri di depan teras rumah saat melihat mobil Abidzar memasuki pekarangan rumah mereka. Erin tak henti-hentinya tersenyum berharap apa yang ia lakukan dapat meluluhkan hati Abidzar yang sempat membeku karena kesalahannya.
"Mas Abi," sambut Erin ceria.
Erin tak sungkan-sungkan langsung menghambur diri memeluk Abidzar. Tapi reaksi tak biasa ia dapatkan. Apalagi kalau bukan penolakan. Gemuruh di dada Erin seketika menggelegak. Namun sebisa mungkin ia tahan agar tujuannya tidak gagal.
"Mas, kamu kenapa mendorong aku sih? Mas sekarang benar-benar berubah semenjak kedatangan Freya." Ucapnya dengan wajah sendu.
"Kau mengundangku kemari hanya untuk melihatmu bersandiwara atau makan siang?" Ucap Abidzar dingin membuat Erin mengerjap tak menyangka akan mengalami respon tak terduga seperti ini. Dan apa kata Abidzar tadi, melihatnya bersandiwara? Apa maksudnya? Erin sibuk menerka-nerka dalam hati sebenarnya kenapa suaminya ini?
Tapi sebisa mungkin, ia memasang wajah semanis mungkin. Biarlah ia mengalah dengan sikap dingin suaminya berharap ia dapat kembali memenangkan hati suaminya.
"Maaf, aku nggak bermaksud begitu. Ya sudah, ayo Mas, aku sudah siapin semua." Ujar Erin dengan senyum manis tak lekang dari bibirnya. Namun Abidzar tetap bersikap dingin dan datar. Tak ada sapaan apalagi senyuman. Hati Abidzar telah mati untuk Erin membuatnya begitu muak setiap kali melihat perempuan itu.
Erin dengan sigap melayani Abidzar. Sesuatu yang tak biasa ia lakukan. Sebab selama ini Abidzar biasa mengambil makanannya sendiri. Berbeda bila ia bersama Freya. Freya selalu melayaninya dengan baik. Padahal ia sudah menolaknya, tapi Freya kekeuh mengambilkan makanan untuk dirinya. Abidzar pun membiarkan saja apa yang ingin dilakukan Freya. Mungkin itu caranya menunjukkan baktinya sebagai seorang istri, ingin melayani suami dengan sepenuh hati.
Abidzar tersenyum sinis. Saat segalanya telah terlambat, Erin baru berusaha untuk melayaninya? Sungguh bodoh. Saat kesempatan terbentang lebar, Erin justru mengabaikannya.
Erin tersenyum senang saat Abidzar membiarkannya melayaninya. Erin tersenyum sambil menyelipkan rambutnya ke balik telinga. Berharap gerakannya ini dapat menggoda Abidzar. Tapi Abidzar justru makan dengan diam tanpa memedulikan sekitar. Jelas saja, Erin merasa marah. Tapi sayang, ia tak bisa meluapkannya saat ini.
"Bagaimana, Mas? Enak?" tanya Erin dengan senyum terkembang manis.
Tapi Abidzar tak menanggapi pertanyaan Erin sama sekali membuat perempuan itu menghentikan makannya dengan wajah sendu.
Abidzar pun sebenarnya telah kehilangan selera makannya. Lantas ia pun menghentikan makannya yang padahal baru berkurang sepertiga piring saja.
Melihat itu, jelas Erin gelagapan sebab campuran obat tadi ia tuangkan di dalam sup, sedangkan sup itu baru dimakan Abidzar beberapa suap saja.
__ADS_1
"Mas, kenapa tidak Mas habiskan? Apa masakanku kurang enak?" tanyanya gelagapan.
"Cukup. Ada yang ingin aku bicarakan sekarang. Penting. Selesaikan makanmu. Aku tunggu di ruang tamu." Tukas Abidzar seraya berdiri dan beranjak dari tempat duduknya.
Mendengar kata-kata itu mendadak membuat Erin panas dingin. Jantungnya dag dig dug. Tubuhnya berkeringat dingin. Perasaan was-was meraja membuat Erin pun ikut kehilangan selera makannya.
"Mas Abi mau bilang apa ya? Sikapnya juga kok makin menjadi-jadi. Masa' cuma karena hal sepele hari itu Mas Abi jadi berubah begini? Ini pasti ulah perempuan sialan itu. Dia pasti sudah mempengaruhi Mas Abi agar menjauhiku bahkan membenciku. Sialan kau brengsekkk. Tunggu saja pembalasanku." Desisnya seraya melangkahkan kaki menuju ruang tamu. Tak lupa ia menyiapkan secangkir kopi yang telah ia bubuhi dengan obat yang ia selipkan di lemari dapur.
"Mas, ini silahkan diminum," ujar Erin seraya meletakkan secangkir kopi di depan Abidzar. Tapi Abidzar yang telah mati rasa, tak menggubrisnya sama sekali. Dada Erin kian panas karena perlakuan Abidzar yang benar-benar berubah. Dulu, biarpun Abidzar tak pernah mengatakan cinta padanya, tapi Abidzar selalu memperlakukannya dengan baik dan lemah lembut. Tapi sekarang benar-benar berbeda.
"Mas mau bicara apa?" tanya Erin lembut setelah ia duduk sambil bertopang kaki. Kimono satin yang panjangnya beberapa senti di atas paha membuat paha Erin kian terekspose. Erin sengaja melakukan itu berharap Abidzar tergoda. Walaupun obat yang ia makan jumlahnya sedikit, ia harap tetap bekerja dengan baik sehingga membuatnya bernapsu saat melihat tubuh moleknya. Ia bahkan sedikit melonggarkan ikatan kimononya sehingga aset kembarnya sedikit mencuat keluar.
"Aku tidak akan basa-basi. Aku ingin kita bercerai." Ucap Abidzar tegas, datar, dan dingin membuat Erin terlonjak dari sofa yang didudukinya.
"APA?" Pekik Erin terkejut dengan mata membulat.
"Tak perlu teriak. Aku yakin telinga mu belum tuli, tapi aku akan ulangi sekali lagi kalau aku ingin kita bercerai. Titik."
"Nggak, nggak, Mas jangan sembarangan ngomong. Mas pasti bercanda 'kan? Mas nggak serius. Jangan main-main, Mas. Aku anggap apa yang kau ucapkan itu hanya main-main atau gertakan." Erin tidak terima dengan keputusan Abidzar dan menolaknya.
"Aku serius, Rin. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita karena itu aku memilih bercerai."
"Kenapa? Kenapa, Mas? Kenapa? Semenjak ada Freya, kau berubah. Kau pun menjauhiku, menghindari ku, tapi aku masih terima asal kau tetap mempertahankan aku sebagai istrimu, tapi kenapa kau tiba-tiba ingin menceraikan aku? Apa salahku, Mas? Apa? Apa karena kata-kata ku pada Freya saat itu? Atau karena aku memfitnahnya waktu itu? Tapi haruskah kau menghukumku dengan menceraikanku? Atau ini karena hasutan jalaaang itu? Ah, ya, aku yakin, ini karena hasutan wanita jalaaang itu, iya 'kan?" murka Erin yang tidak terima Abidzar menceraikannya. Ia menyalahkan Freya atas apa yang Abidzar lakukan padanya.
"Ini tidak ada hubungannya dengan Freya sama sekali. Tidak. Justru kaulah faktor utamanya. Berhenti berlagak sok polos dan sok paling tersakiti. Dan berhenti menghina Freya jalaang karena terbukti ia bukan jalaang seperti ucapanmu. Perlu aku ingatkan kalau akulah laki-laki pertama yang menyentuhnya, hah?" Bentak Abidzar yang juga sudah berdiri. Tapi tiba-tiba kepalanya pusing. Tubuhnya juga mulai memanas entah mengapa. Tapi sebisa mungkin ia mengontrol dirinya dan tetap berdiri tegap.
"Apa Mas bilang? Akulah faktor utamanya? Jelaskan apa salahku, Mas? Jangan mengada-ada. Jangan memfitnahku yang tidak-tidak demi membela perempuan kotor itu!"
"BERHENTI MENGATAKAN FREYA PEREMPUAN KOTOR, SIALAN!!!"
Plakkk ...
Wajah Erin terlempar ke samping. Ia sampai terduduk di sofa dengan wajah syok. Untuk pertama kalinya, Abidzar menamparnya. Bagaimana ia tidak syok?
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 😍😍😍...